Disalin dari halaman terakhir jurnal harian milik Agil Febrian.



--

Belakangan ini aku berada di kondisi mental yang gawat banget. Efek dari batin yang menderita berlebihan selama pandemi, sering kali di kepalaku terlintas pikiran lebih baik mampus aja ketimbang hidup dalam rasa cemas yang tak berujung ini. Aku pun mulai memikirkan berbagai cara untuk melenyapkan diri.

Dari sekian banyak pikiran yang keterlaluan buruk itu, aku entah mengapa jadi teringat dengan salah satu kepingan buku kumpulan esai dan aforisme karya Arthur Schopenhauer yang membahas tentang bunuh diri. Aku lantas iseng menerjemahkan secara asal dan mencoba menulis ulangnya, sehingga beginilah kira-kira yang dia coba sampaikan:

Secara umum akan ditemukan situasi di mana teror kehidupan datang untuk melebihi teror kematian seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya. Tapi, teror kematian menawarkan perlawanan yang cukup besar: mereka berdiri tegap bagaikan seorang penjaga di pintu gerbang.

Mungkin tak ada satu pun manusia yang ingin menyudahi hidupnya sendiri jika tujuannya murni negatif, untuk menghentikan eksistensinya secara tiba-tiba. Meski begitu, ada suatu hal positif di dalamnya juga: penghancuran tubuh. Ini merupakan suatu pencegahan, sebab tubuh adalah bentuk fenomenal dari keinginan untuk hidup.

Perlawanan dengan penjaga itu bagaikan sebuah peraturan, bagaimanapun, tidak sesulit kelihatannya bagi kita jika sudi menengoknya dari kejauhan: alasannya adalah pertentangan antara penderitaan batin dan fisik. Karena ketika kita berada dalam rasa sakit fisik yang hebat atau kronis, kita tidak lagi peduli dengan semua masalah lain; yang kita khawatirkan cuma pulih. 

Dengan cara yang sama, penderitaan batin yang hebat membuat kita tidak dapat merasakan kesakitan fisik; kita malah membencinya. Memang, jika itu harus melebihi yang lainnya pasti akan menjadi gangguan berguna, suatu interval dalam penderitaan batin. Inilah yang membuat bunuh diri terasa lebih mudah: karena rasa sakit fisik yang terkait dengannya telah kehilangan semua signifikansi di mata seseorang yang mengalami penderitaan batin yang berlebihan.

*

Pandanganku pribadi dalam tulisan itu, mengapa ada sebagian manusia yang berpikir lebih baik mati aja ketimbang meneruskan hidup, sebab dia berpikir ataupun merasa kalau bunuh diri itu sakitnya paling cuma sebentar, setelahnya dia bisa tenang selamanya. Dia tak perlu lagi merasakan gangguan kecemasan, tak perlu takut menghadapi masa depan yang sekilas tampak suram, tak perlu memikirkan keadaan negaranya yang bobrok, tak usah melihat kejahatan-kejahatan di seluruh dunia ini, dan tentunya dapat terbebas dari penderitaan yang selama ini dia rasakan.

Jika ada seseorang yang hidupnya terlalu sering dirundung kesialan, bukankah dia mulai berpikir bahwa hidup tak lagi layak untuk dijalani? Apakah seandainya dia mencoba bertahan, pada kemudian hari keadaannya itu bisa berubah lebih baik? Bagaimana kalau di depan sana yang menantinya adalah keburukan belaka? Lantas, hidup gunanya buat apa lagi?

Namun, sebagai orang yang sejak kecil mendapat didikan agama tentang bunuh diri itu dosa, kita hidup enggak cuma di dunia ini (masih ada akhirat), apa pun yang kita perbuat di sini bakal dipertanggungjawabkan kelak; tentu ada suatu pencegahan dari dalam diriku.

Sebagaimana yang sering diucapkan oleh orang-orang taat beragama maupun yang tercantum di kitab suci, kita ini mesti percaya sama Tuhan bahwa Dia tak akan membebani seseorang, melainkan yang sesuai dengan kesanggupannya.

Nah, yang menjadi pertanyaanku, anggaplah orang itu telah berusaha sanggup dan sekuat mungkin, husnuzan kepada Tuhan, menemukan alasan untuk bertahan; sedangkan di sisi lain, bagaimana kalau orang-orang di sekitarnya yang justru menambah beban itu? Mereka-mereka ini, termasuk keluarganya sendiri, kurang paham sama kesehatan mental? Bukannya membuat si penderita lebih baik, cukup dengan mendengarkan permasalahannya tanpa menghakimi, melainkan memberikan ujaran-ujaran ataupun khotbah-khotbah sampah yang justru memperparah penderitaannya? Bagaimana kalau dia jadi semakin membenci dirinya sendiri? Dia pun sulit percaya lagi sama orang lain. Dunia terasa sangat jahat baginya. Tak ada yang membutuhkannya lagi.

Padahal, jauh di lubuk hatinya, dia hanya ingin hidup seperti orang-orang normal pada umumnya. Dia juga ingin kehadirannya diterima selayaknya manusia lain. Tidak dipandang sebagai sampah atau manusia gagal yang tak berguna. Sampai-sampai batinnya menjerit. Sehingga dia harus mengurung diri demi memulihkan segala sakit (meliputi fisik, pikiran, dan hati) pada dirinya itu.

Lalu, dalam kesendiriannya itu dia akhirnya bisa menangis demi batinnya terasa lebih plong. Hingga dia berhenti menangis. Sialnya, rasa terkutuk dalam dirinya itu masih belum lenyap juga. Sampai dia mulai menangis lagi. Sampai dia berhenti menangis karena kelewat lelah dan ketiduran.

Setelah terbangun, dia merasa sedikit bersyukur sama Tuhan yang alangkah hebatnya menciptakan alam mimpi. Semacam dunia paralel yang memberikannya pelarian sementara. Meskipun teramat singkat, dia di sana disuguhkan kegembiraan yang nyaris mustahil bisa diperoleh di kenyataan. Yang seakan-akan membuatnya percaya bahwa hidup masih pantas dijalani. 

Walaupun dia cenderung pesimis lantaran membaca tulisan Schopenhauer, tak ingin banyak berharap tentang ini dan itu, barangkali suatu hari kelak kebahagiaan di dalam mimpinya itu berpindah ke dunia yang baginya terasa jahanam ini.

Aku sesungguhnya sedang menulis tentang apa dan siapa? Apakah ini fiksi atau nyata? Apakah tentang orang lain atau diriku sendiri? Apakah ini catatan bunuh diri, jurnal harian untuk menyembuhkan diri, atau semacam curahan hati orang nelangsa cenderung depresi yang kerap dianggap sepele?

Apa pun itu, aku ingin saat ini ada seorang perempuan berparas manis yang bisa memeluk dan menenangkanku seraya berkata, “Aku tahu bertambahnya umur itu sering menjengkelkan. Apalagi jika hidupmu pada usia 27 ini masih terasa memble. Namun, aku berharap dengan kehadiranku di sini, aku bisa sedikit mengubah cara pandangmu dalam melihat dunia, lalu kamu bersedia menjalani hidup lebih lama lagi.”
Read More
Bermula dari seseorang di Twitter yang bikin utas tentang mengeset ulang budaya Indonesia dengan menampilkan berbagai video lawas—di antaranya terdapat iklan Tory Cheese Cracker dan permen Milkita, video hoaks manusia yang dikutuk jadi ikan pari, video lip sync Sinta dan Jojo, serta Briptu Norman, dan acara MTV musik; saya pun terpicu untuk menonton salah satu klip video yang dia bagikan, yakni Project Pop – Bukan Superstar.

Berhubung durasi maksimal video di Twitter hanya 2 menit 20 detik, saya tentu harus melihat keseluruhan klip video tersebut di Youtube. Selama menontonnya, saya baru sadar sudah lama sekali tidak mendengarkan musik Project Pop. Mungkin banyaknya referensi musik dari luar negeri telah membuat saya lupa dengan lagu-lagu di negara sendiri. Sekalinya mendengarkan, paling-paling tak jauh dari Efek Rumah Kaca, The Trees and The Wild, Jirapah, Melancholic Bitch, dan My Violaine Morning. 

Jadilah saat itu juga saya spontan mendengarkan seluruh lagu Project Pop yang terdapat di Youtube. Dari daftar lagu yang saya nikmati itu, ternyata ada beberapa lagu yang sewaktu didengarkan malah memunculkan kisah-kisah masa lalu. Meskipun saya sadar banyak cerita tak penting karena sebagian besarnya adalah memori tolol dari masa SMP, saya tetap ingin menuliskannya satu per satu.





Bukan Superstar 



Yang pertama kali muncul di kepala adalah serial komedi Abdel dan Temon Bukan Superstar. Jika tak salah ingat, acara ini tayang pada saat saya kelas dua SMP (2008). Tokoh Temon yang sering sekali menjadi bahan tertawaan dan bernasib apes seakan-akan tak jauh berbeda dengan kondisi saya kala itu. Kalau Temon kerap diledek karena giginya yang tonggos dan kurang ganteng, sementara saya lantaran bertubuh paling pendek dan kurus di kelas. Beberapa teman sekelas gemar berkata kepada saya: ada anak SD nyasar dan belum pantas masuk SMP. Lalu, setiap kali upacara pastilah saya yang berdiri paling depan. Belum lagi kadang-kadang teman yang di belakang suka menjaili saya dengan menyentil kuping atau menarik (semacam menjambak dengan agak pelan) beberapa helai rambut yang tidak tertutup topi. 

Setiap kali saya ingin membalas perlakuan mereka, ada rasa takut yang selalu menghalanginya. Ini semua karena saya tak pernah bisa lupa dengan kejadian jahanam saat kelas satu. Jadi, suatu kali saya pernah muak banget ditindas (biasanya ditoyor kepala) dan berusaha melawan salah seorang teman sekelas yang hobi mengusik. Dia terkejut mendapati saya yang gantian memukul kepalanya, kemudian tiba-tiba mengancam saya, “Awas lu nanti sepulang sekolah!” 

Saya tak ambil pusing ancaman tersebut dan berniat pulang sekolah seperti biasanya tanpa harus kabur. Lagi pula hari itu jadwal saya piket. Tak mungkin dia rela menunggu saya cuma buat membalas hal remeh, yang memang sepantasnya dibalas karena dia jahil duluan. Singkat cerita, sekelarnya piket dan saya ingin menuruni tangga (kelas saya berada di lantai 3), tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang menjinjing kerah seragam saya hingga kaki saya tidak menapak tanah. Saya juga tak bisa melihat sosoknya. Dia segera membawa saya ke depan toilet cowok. Di sana, ada teman sekelas yang tadi mengancam saya. Saya pun langsung mengerti apa yang bakal terjadi. 

Saya sudah tak begitu ingat apa saja yang terjadi hari itu selain kepala saya ditempeleng terus-menerus sampai rasanya pengin nangis (saya menahan air mata sebisa mungkin karena tak ingin dipecundangi lebih dari ini). Orang yang menjinjing saya adalah kakak kelas yang tubuhnya tinggi dan besar. Saya tak akan bisa menang melawannya. Saya cuma bisa pasrah. Hari itu, saya akhirnya belajar satu hal, bahwa dengan sejumlah uang siswa tajir bisa membayar kakak kelasnya untuk merundung seseorang yang kere dan lemah seperti saya.

Selain perisakan, saya memang tak akan pernah bisa membuang rasa minder ketika berada di antara mereka—kalangan elite. Ada beberapa pertemanan di sana yang termasuk pilih-pilih berdasarkan kasta. Dari uang saku sekolah saja kami berbeda jauh. Saya dapat jatah dari orang tua sehari 7.000, sedangkan beberapa dari mereka tujuh kali lipatnya alias 50 ribu. Dengan kondisi itu, saya terpaksa menutup diri. Mungkin karena itulah teman akrab saya hanya segelintir.

Lirik “tapi kenyataan aku bukan siapa-siapa” amatlah mewakilkan perasaan saya selama bersekolah di sana. Meski begitu, lirik lanjutannya “kuingin engkau mencintaiku apa adanya” secara tak langsung menjadi harapan saya yang terkabul pada kelas tiga. Setelah kenaikan kelas, saya merasa kondisinya mulai berubah perlahan-lahan. Perundungan terhadap saya menurun drastis. Mental saya juga sudah ditempa jadi lebih kuat untuk selalu melawan para penindas itu. Sebagian teman yang awalnya meremehkan (mereka tak pernah melakukan kekerasan fisik, tapi tatapan dan ucapannya tampak selalu mengejek) pun mulai menghargai saya yang ternyata bisa berprestasi—sewaktu Try Out persiapan UN saya masuk ke kelas favorit tiga kali berturut-turut. Mungkin nilai-nilai saya akhirnya mampu membungkam mereka. Mungkin mereka juga mulai bisa mencintai keadaan saya dan mau berteman tanpa memandang kelas sosial.

Ku bukan superstar, kaya dan terkenal. Ku bukan saudagar yang punya banyak kapal. Ku bukan bangsawan, ku bukan priayi. Aku hanyalah orang yang ingin dicintai. 


Pacarku Superstar 



Barangkali ini kisah lanjutan dari lagu Bukan Superstar. Bedanya, ini tentang menaksir perempuan, tepatnya seorang kakak kelas. Berhubung keadaan saya ketika SMP sudah tergambar jelas dari kisah sebelumnya, maka lirik “hanya tak mudah bagi diriku untuk ikuti gaya hidupnya. Semua orang suka padanya, berat rasanya” benar-benar cocok buat saya yang bisa-bisanya menaksir cewek manis, pintar, dan kaya—yang jelas-jelas jadi primadona sekolah. 

Walaupun saat itu saya belum memiliki Facebook untuk bisa memperhatikan kehidupannya dari jauh (biasanya para penggemar mencari tahu kabar idolanya lewat internet), tapi cukup dengan tak sengaja melihat dia sepulang sekolah dijemput menggunakan mobil sedan sudah bisa menjelaskan segalanya. Saya tak punya pilihan lain selain sadar diri.

Mengenang terlalu banyak momen nelangsa zaman SMP rasanya kurang patut bagi diri saya sekarang. Seakan-akan saya ini seorang retrofili. Jadi, alangkah baiknya saya mengingat hal-hal yang belum lama terjadi saja tentang menggemari sesosok idola. Tapi, idola yang saya maksud bukan seperti Tsubasa Honda, Lalisa Manoban, Charita Utami, Mary Elizabeth Winstead, dan sebagainya. Dia ini termasuk orang biasa yang sesungguhnya masih bisa saya raih. 

Dia berada jauh di sana, dan aku di rumah... memandang kagum pada dirinya dalam InstaStory

Sekitar sembilan bulan silam saya pernah rutin menonton InstaStory seorang gadis aduhai. Tak perlu munafik kalau saya mengaguminya berdasarkan parasnya yang jelita. Namun, saya terpesona karena dia juga berprestasi di bidang kesukaan saya. Siapa sangka kekaguman itu semakin bertumbuh sejak dia mengucapkan terima kasih atas kalimat dukungan saya pada hari dia terpilih sebagai None Jakarta. Lebih-lebih kami kebetulan juga pernah berjumpa dua kali di suatu kafe.

Persoalannya, saya sering merasa kurang percaya diri sewaktu mendekati gadis yang kelas sosialnya berbeda. Biarpun keadaan saya sudah lebih baik dari zaman SMP, tapi tetap saja tampak jelas perbedaan di antara kami. Anggaplah dia ketika memesan menu di kafe tidak perlu berpikir lama dan fokus saja dengan makanan ataupun minuman yang ingin disantap; sedangkan saya mesti menyesuaikan isi dompet, belum lagi nanti ada momen di mana saya perlu menghitung PPN, membandingkan dengan makanan pinggiran jalan, dan seterusnya.

Selain itu, saya menduga usia kami terpaut agak jauh. Dia kira-kira seumuran dengan adik saya—beda lima tahun. Hingga akhirnya asumsi itu bertambah jelas sewaktu salah seorang kawan memberi tahu saya kayaknya dia baru lulus SMA. Saya kala itu, sih, sempat merasa cuek sama umurnya, bahkan pernah nekat mengucapkan selamat ulang tahun via pesan salah satu media sosial.

Jika hari itu dia membalas pesan saya, diam-diam saya berjanji kepada diri sendiri supaya tidak minder-minder lagi ke depannya. Peduli setan dengan rentang usia yang beda jauh, Farsya manisnya memukau dan saya suka. Yang terpenting dia juga sudah 17 tahun ke atas. Ini hal yang normal, kan?

Sialnya, dia tidak membalas ucapan saya. Mungkin balasan “terima kasih” pada hari kemenangannya itu cuma basa-basi. Kalau direnungkan, ternyata kejadian ini terasa lebih bangsat ketimbang kisah saya ketika SMP yang langsung mundur seribu langkah sebelum berjuang. Saya harusnya mafhum, memang enggak mungkin seorang biasa bisa mendekati seorang superstar. Baguslah saya telah berhenti mengaguminya sejak 2020. Terus, mengapa saya menuliskan cerita ini? Oh, tentu hanya untuk mengenang kegagalan diri sendiri yang menakjubkan. 


Dangdut is the Music of My Country 



Siapa tidak mengakui perbedaan, tidak pernah diajari di sekolahan. Semua orang macam-macam diciptakan, cakep atau jelek semua punya perasaan

Kalau ngaku ngerti tentang persatuan, mengapa adu domba mudah dilakukan? Kenapa semua mudah hilang kesabaran? Kenapa semua mudah diprovokasikan? 

Lirik barusan terasa cocok bagi para pengguna Twitter yang doyan ribut-ribut. Apalagi ingatan saya menolak lupa mengenai mbak-mbak yang merasa cakep dan seenak jidat mengejek lawan debatnya, “Mending lu diem, jelek.” Apakah dia kehabisan cara buat memenangkan perdebatan, sampai-sampai harus menghina fisik lawannya? Memiliki paras cantik dan punya pengikut banyak (khususnya para cowok yang selalu membelanya) seolah-olah membuatnya berkuasa di dunia maya. 

Tapi, masa bodohlah soal itu, saya mending lebih fokus dengan lirik yang ini: Apakah yang dapat menyatukan kita? Salah satunya dengan musik. Dangdut is the music of my country

Saat lirik itu dinyanyikan, saya lantas terkenang masa SMP lainnya, tepatnya ketika saya dan beberapa teman di rumah bisa menonton konser Project Pop secara langsung dan gratis untuk pertama kalinya di Lapangan Pasir, Senayan.

Berawal dari ketidaksengajaan kami sehabis joging pagi di Gelora Bung Karno, Bayu—salah satu kawan saya—mengajak kami ke Lapangan Pasir untuk melihat orang-orang yang lagi main sepak bola. Sebelum direnovasi seperti sekarang, dulu di area Senayan terdapat empat lapangan (dua untuk voli, dua untuk sepak bola) yang beralaskan pasir, sehingga kami dan mungkin beberapa masyarakat menyebutnya Lapangan Pasir.

Di tengah perjalanan, saya seperti mendengar salah satu lagu Project Pop dan bertanya kepada kawan yang lain apakah mereka juga mendengarnya. Alih-alih menjawab, salah satu teman saya malah berteriak, “Eh, ada panggung noh di Lapangan Pasir!” seraya berlari menuju ke sana. Sadar bahwa ada konser yang tengah berlangsung, kami semua pun bergegas menghampiri area panggung, lalu setibanya di sana segera ikutan bernyanyi dan joget bersama. 

Berbeda dengan kawan di sekolah, teman-teman di rumah yang merangkap tetangga bisa dibilang sangat mengasyikkan. Ini bukan berarti tak ada kata-kataan di antara kami, melainkan saling mencela merupakan hal yang wajar bagi kami. Karena kami melakukannya sebagai tanda keakraban. Bukan ada perasaan ingin berkuasa sebagaimana yang terjadi di SMP saya. Sekalipun ada tetangga yang tergolong tajir, rasanya pun tak ada sekat yang memisahkan pertemanan kami. Susah maupun senang tetap kami lewati bersama. Misalnya, saat kami habis main bola di Senayan dan terlalu letih untuk berjalan kaki, mestinya kan kami naik angkot di Palmerah, terus turun di dekat rumah. Tapi yang akhirnya terjadi: kami mencegat mobil pikap dan memilih mengompreng. Sebab kami sadar kalau ada beberapa kawan yang uangnya tak cukup buat membayar ongkosnya maupun yang benar-benar kehabisan uang. 

Lantas, bagaimana dengan teman yang punya duit lebih? Kenapa dia tidak mengongkosi teman yang lain? Saya tak tahu apakah kami dulu setolol itu, lebih senang mengompreng karena gratis dan terasa menantang, atau alasan entah apa. Namun, seingat saya si orang tajir itulah yang kelak menggunakan uangnya buat mentraktir kami es teh dan Chuba balado. Itulah masa-masa menyenangkan yang tak akan pernah bisa luput dari ingatan. Masa di mana hari ini kami bertengkar, lalu besok tiba-tiba sudah baikan lagi.

-- 

Gambar saya comot dari Pixabay.
Read More

Kau berada di sebuah kafe di Cikini. Kau hanya memesan segelas es teh leci dan roti bakar cokelat. Kau harus membayar seharga lima puluh ribu untuk dua menu tersebut. Kau bingung, mengapa harga minuman itu bisa dua kali lipat lebih mahal dibanding makanan yang kaupesan? Harga semua menu di kafe ini terlalu mewah bagimu. Jika kau ingin membandingkannya dengan warkop favoritmu, semahal-mahalnya tak lebih dari setengah harga yang kaubayar saat ini.

Namun, jika dipikir-pikir lagi, uang lima puluh ribu itu sudah termasuk pajaknya. Bisa dibilang kau juga menyewa pemakaian satu gelas, satu sedotan, satu sendok, satu garpu, serta satu piring. Tanpa harus repot-repot mencucinya. Ditambah lagi penggunaan satu meja dan dua bangku kecil yang saat ini kautempati.

Selain itu, kau dapat menikmati internet gratis karena sang pramusaji sempat memberikanmu potongan kertas kecil yang bertuliskan kata sandi wifi. Kau juga dapat berlama-lama di sini. Masih ada sembilan jam lagi sebelum kafe ini tutup. Ada pendingin ruangan yang membuatmu tidak kegerahan. Terdapat sinar putih lampu yang menerangi setiap sudut ruangan, sehingga kau bisa melihat dengan jelas perempuan manis berambut sebahu yang memakai kacamata berbingkai bulat, yang duduknya tak jauh darimu.



Apakah harga lima puluh ribu itu sebanding dengan semua yang kau peroleh? Khususnya tentang kesempatanmu mengajak gadis jelita itu berkenalan dan mengobrol, sampai-sampai pada tiga jam berikutnya kau berhasil mendapatkan kontaknya? 

--

PS: Foto di atas hanya contoh dari latihan saya menggambar pakai aplikasi AutoDesk. Bukan potret perempuan di cerita fiksi yang terburu-buru dibikin ini.
Read More
Kawan saya, Hawadis, memilih rehat membuka Twitter karena muak dengan keributannya dan baru saja membuat tulisan tentang hal itu. Sebagai pengguna aplikasi berlogo burung biru yang termasuk aktif, saya pun cukup sering berada di posisinya. Saya juga sempat menuliskan keluhan-keluhan hingga menjadi utas—yang tiba-tiba saya batalkan dan lebih baik memendamnya di catatan, sebab berpikir kalau ujaran saya tak penting buat dibaca oleh khalayak. Saat mengingat blog ini belum ada tulisan baru lagi, saya kira tak ada salahnya buat membongkar catatan itu, kemudian mengeditnya demi menyesuaikan pembahasan kali ini. Jadi, inilah hasil penyuntingan dari twit-twit tak penting saya.



Setiap kali menemukan orang ribut-ribut di Twitter, di dalam benak saya tak jarang muncul pertanyaan begini: kenapa sih hal yang diributkan kok itu-itu melulu? Tiga hal yang kerap saya temukan dalam perdebatan: 1) cara makan bubur diaduk dan tidak diaduk; 2) boleh atau tidaknya mengucapkan selamat Natal bagi orang Islam; 3) tetek bengek pernikahan. 

Untuk yang pertama, mungkin itu lucu-lucuan semata, sedangkan yang kedua kembali ke pilihan tiap individu, dan pada bagian yang terakhir inilah Haw mempermasalahkan mengapa hal pribadi semacam itu diperdebatkan secara umum di Twitter, padahal kan prinsip atau pilihan mereka itu juga enggak akan berdampak sama orang banyak (sebenarnya ini mirip seperti nomor dua). Sewaktu membaca bagian itu, saya jadi sadar bahwa perdebatan mengenai pernikahan ini memang selalu diulang-ulang setiap tahunnya. Sejak 2016 hingga saat ini, dalam setiap tahunnya entah mengapa saya pasti menemukan perdebatan tersebut. 

Yang pertama kali muncul kala saya menggali ingatan di kepala ialah tentang menikah dengan anggaran kecil. Mulanya, ada salah seorang perempuan yang terpicu oleh biaya pernikahan murah di bawah dua juta ala orang-orang penyuka taaruf. Dia yang mungkin termasuk golongan kelas menengah ke atas langsung tak sudi kalau diajak menikah hanya dengan modal segitu. Dia berujar bahwa orang tuanya telah membiayai hidup dan pendidikannya sampai sarjana, masa iya nanti resepsi pernikahannya kayak acara selamatan atau tahlilan? Intinya, enggak level dong, ah. 

Dia lantas mentertawakan, mengutuk, serta memberi kuliah singkat jika mau menikah tuh harus mapan terlebih dahulu. Seperti sudah punya rumah sendiri, gaji minimal sekian, memiliki perencanaan keuangan buat masa depan, dst. Mayoritas pengikutnya tentu sepakat dan ikut-ikutan mengejek pilihan orang yang menikah dengan biaya ala kadarnya itu. 

Pertanyaan saya: setelah itu apa? Apakah setiap orang harus mengikuti standarnya? Berhenti membuat rencana pernikahan dengan biaya seminimal mungkin? Bukankah pada akhirnya akan tetap ada pasangan-pasangan yang menikah berdasarkan prinsipnya masing-masing? Masih tetap ada yang nekat menikah walaupun sadar kondisinya kere tapi sudah telanjur cinta? Terlepas dari mereka nantinya bercerai atau bagaimana, ya itu persoalan lain, kan? 

Lagi pula, setahu saya sih orang-orang yang mereka cerca pilihan menikahnya itu punya target tersendiri. Yang mereka sasar jelas bukan mbak-mbak kelas menengah ataupun perempuan lain yang tak sependapat dengan golongannya. Anehnya, mengapa hal semacam ini bisa terulang lagi dan lagi sebagaimana proses deja vu? Dugaan saya: barangkali karena ada beberapa orang yang ingin pernyataannya mendapatkan validasi dari netizen di Twitter. Mendapatkan banyak retwit mungkin menjadi suatu kenikmatan tersendiri.

Pertanyaan saya selanjutnya: mengapa orang-orang tersebut justru memuja-muja pilihan Suhay Salim yang menikah tanpa menggelar resepsi? Apakah karena Suhay seorang pesohor yang ujaran maupun tindakannya sudah pasti benar dan pantas dicontoh? Bukankah itu jadinya standar ganda? Jika memang tujuan Suhay adalah mengalihkan anggaran resepsi yang besar itu dipakai untuk berbulan madu ataupun biaya kehidupan pada hari esok, lalu netizen bisa sepakat; tapi kenapa kalau mas-mas berjenggot penyuka taaruf yang mengeluarkan opini itu pandangan mereka jadi berbeda, bahkan mencaci maki? 

Mungkin kabar-kabar yang pernah beredar dan masuk ke telinga kita tentang mereka itu buruk, sebab di antara mereka ada yang punya kegemaran mengoleksi istri sampai empat alias berpoligami, sehingga memunculkan asumsi kalau anggaran pernikahan minim dari mereka itu tentu saja suatu bukti bahwa mereka miskin. Tapi, apakah mereka sudah melihat keadaan pria-pria itu secara langsung? Toh, siapa yang tahu isi hati setiap manusia? Bisa jadi memang ada yang niatnya adalah ibadah, lalu memegang teguh prinsip “apa yang berlebihan itu tidak baik”, jadi tak perlu memboroskan biaya resepsi. Uangnya juga mereka tabung buat biaya-biaya tak terduga pada masa mendatang? Walaupun kelas sosial mereka berbeda, tapi bukankah tujuannya itu tak jauh berbeda seperti pendapat si Suhay? 

Jika memang masalah utamanya adalah stigma buruk tentang poligami, bisa juga kan si penganut prinsip “apa yang berlebihan itu tidak baik” sama berlakunya dalam dia mencari pasangan? Satu istri sudah cukup, banyak-banyak malah nanti tak bisa bersikap adil dan bikin repot. Berhubung saya benci banget dengan sikap menggeneralisasi, saya jelas tak mau ikutan menyamaratakan mereka. Memang, saya akui ada orang-orang bobrok semacam itu—yang punya istri lebih dari satu dan tujuannya jelas mengacu pada hawa nafsu—di sekitaran saya. Namun, salah satu abangnya teman saya yang sudah mapan dan berusia 40-an (konon usia ini masa puber kedua dan lagi genit-genitnya sama daun muda) masih tetap beristri satu. Bagi saya, itu sudah cukup membuktikan bahwa masih ada kok beberapa orang yang menerapkan taaruf dan ke depannya tidak neko-neko. 

Sayangnya, kita terlalu cepat dan mudah menilai. Memandang buruk manusia yang gagasannya berseberangan tanpa mau melihat sudut pandang lain. Sekalipun itu jatuhnya urusan pribadi dan hak mereka, pokoknya mah hantam terus karena yang benar cuma golongan kami. Konyolnya, apa yang barusan saya tulis ini menunjukkan bahwa saya juga tergolong manusia berstandar ganda.

Seingat saya, saya waktu itu sempat meledek kaum “Indonesia Tanpa Pacaran”. Saya yang membenci keributan, ternyata pernah menjadi seseorang yang bikin kegaduhan pula di Twitter. Saya pun tak akan pernah lupa dengan kicauan-kicauan saya yang mengejek para bloger penggemar arisan blog (saling gantian berkunjung dan berkomentar basa-basi) yang penuh kepalsuan itu, yang mencari pengikut bukan buat berteman melainkan menggenapkan syarat menjadi buzzer—minimalnya memiliki 1.000 pengikut. Ini masih terekam jelas jejak digitalnya di tulisan: Burung Berkicau

Meskipun begitu, saya kini bisa lebih mengontrol diri sejak tulisan itu diterbitkan. Hawa kebencian dan sifat sinis di dalam diri saya perlahan-lahan berkurang. Saya rupanya jadi lebih kalem sewaktu melihat twit yang opininya kelewat tolol. Saya enggak gampang terpicu lagi seperti sebelumnya. Selama mereka enggak merugikan orang lain, ya udahlah, buat apa ikutan ribut? Apa untungnya buat saya? Seandainya saya sudah bersikap masa bodoh, tapi twit-twit yang enggak saya sukai itu masih tetap nongol di lini masa, saya juga tinggal pilih bisukan atau blokir. Selesai, kan? Enggak usah buang-buang energi terlalu banyak di platform itu. Seumpama saya benar-benar kepengin meracau, ya mendingan diolah jadi tulisan blog yang lebih rapi dan tampak elegan.

Demi mengingatkan diri sendiri pada kemudian hari untuk bersikap lebih santai ketika menemukan pertikaian, saya akan menjadikan lirik lagu Digimon versi bahasa Indonesia sebagai mantra pengingat: “Hal yang bukan urusanmu, lebih baik lupakan saja. Tidak ada waktu untuk bermain-main.”

--

Gambar saya ambil dari jualo.com
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home