Diterjemahkan sesuka hati dari cerpen Etgar Keret berjudul 'Monkey Say, Monkey Do' yang terhimpun dalam buku The Girl on the Fridge. Gambar saya ambil dari Pixabay.

--



“Pisang,” pintanya.

Aku tidak mau.

“Ayo, Sayang. Tunjukkan kepada pria baik bagaimana kau memakan pisang.” 

Biarkan pria baik yang makan pisang. Aku sudah selesai dengan ini, untuk selamanya.

“Maaf, Dr. Gonen, tapi ini sama sekali tak dapat diterima. Menyeret saya jauh-jauh dari Sydney hanya untuk menyaksikan ia duduk di sana, di kandangnya dengan mata terpejam, mengangkat bahu. Waktu saya sangat berharga, kau tahu, dan saya tidak akan menyia-nyiakannya dengan satu alasan dan la—”

“Maaf, Profesor Strum, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Sepertinya ia mungkin kesal dengan semua keributan ini. Ia tak terbiasa dengan orang asing. Jika kau bersedia menunggu di luar selama beberapa menit, aku tahu aku bisa membuatnya merespons.”

Jangan terlalu yakin, Sayang. Jangan terlalu yakin.

“Lima menit,” ujarnya, dan aku mendengarnya berjalan pergi. “Lima menit.” Pintu menutup, dan kunci berputar.

“Tolong, Sayang,” katanya, membelai buluku. “Bicaralah kepada pria itu, tunjukkan kepadanya betapa pintarnya engkau.”

Tangannya menyentuh bolaku sekarang, dan penisku mulai menegang. Tapi aku tidak membuka mataku.

“Sungguh, Sayang,” katanya dan terus membelai. “Lakukan ini untukku. Kalau tidak, mereka akan menutup proyek...”

Hening.

“... lalu kita enggak akan bisa tetap bersama lagi.”

Jadi kami tidak akan bersama. Aku mendapatkan harga diriku, bukan? Belaiannya datang lebih cepat sekarang. Rasanya begitu enak. Tapi aku tidak membuka mataku, tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak memberinya apa pun.

“Lima menit sudah habis, Dr. Gonen,” terdengar suara dari balik pintu yang terkunci. Aku membuka mataku hanya sedikit. Dia memperhatikan, berhenti membelai, dan mendekatkan wajahnya.

“Jika itu yang kau inginkan, itulah yang akan kau dapatkan,” bisiknya. Dia melepas jepit rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai. Jatuh ke bahunya. Dia mengusap jari-jarinya. Dia wanita yang menarik.

“Ada banyak profesor di sekeliling sini yang menyukai sebuah kesempatan untuk melihat kepalamu terbuka dan melihat ke dalam otakmu,” katanya. “Aku selesai denganmu. Mulai sekarang, kau milik mereka semua.”

“Dr. Gonen,” terdengar suara dari luar lagi, dan ada sentakan pada pegangan pintu yang terkunci.

“Profesor Strum,” bisiknya melalui pintu dan memutar kunci. “Tolong, panggil aku Yael.”

Sebelum dia membuka pintu, dia membuka kancing atas blusnya.

“Yael,” mengulang suara itu dari sisi lain pintu.

Bibirnya bergerak, dengan diam-diam, tapi aku bisa mendengarnya.

“Monyet goblok,” katanya.
Read More
“Kamu kena gangguan psikosomatik?”

Pesan via WhatsApp itu datang dari Firda Susanti setelah saya curhat tentang gejala-gejala yang tengah saya alami. Peristiwa itu terjadi sekitar dua minggu lalu, sewaktu saya merasa cemas yang amat berlebihan. Hampir setiap hari saya pasti bangun tidur dengan kepala berat, kondisi kaos lepek lantaran keringat dingin, sekujur tubuh pegal-pegal, dan sering bermimpi buruk. Saya juga sulit berkonsentrasi saat membaca buku ataupun menulis cerita.



Saya masih belum bisa menjawab pesan Firda, sebab pertanyaan dia tiba-tiba bikin saya merasa deja vu. Sekitar empat tahun silam, saya juga pernah mendapatkan pertanyaan tersebut dari teman yang berkuliah di Jurusan Kedokteran. Saya menerima pertanyaan yang begitu mirip selepas mengobrol bersama Dara Agusti mengenai penyakit yang terasa janggal di tubuh. Kala itu, kepala bagian belakang hingga leher saya suka terasa berat dan sakit, lalu terkadang sampai mual, padahal kondisi tubuh saya sepertinya baik-baik saja.

Saat Dara tahu bahwa saya lagi banyak masalah dan justru memendamnya sendirian, dia bilang itulah yang memicu kesehatan mental saya terganggu. Kepala saya katanya terlalu tegang karena menumpuk banyak beban pikiran. Dia lalu menjelaskan kalau fisik saya mungkin baik-baik saja atau cuma sakit ringan, tapi karena psikisnya bermasalah, saya seolah-olah merasakan tubuh lagi sakit parah.

“Tapi kalau mau lebih pasti, coba langsung periksa ke dokter, Yog,” ujarnya.

Saya akhirnya mengunjungi klinik di dekat rumah dan hasilnya sama percis dengan yang Dara bilang. Tubuh saya sesungguhnya sehat. Sayangnya, pikiran dan mental saya yang sakit ini menimbulkan gejala psikosomatik. Jika tak salah ingat, itulah pertama kalinya saya mengetahui tentang gejala psikosomatik yang bisa membuat tubuh sehat jadi tampak sakit, bahkan memperparah penyakit yang mulanya cuma ringan.

Ketika itu, saya memang lagi stres, terpuruk, dan depresi karena terpicu oleh persoalan-persoalan hidup yang bagi saya teramat krusial. Saya putus asa dan kehilangan harapan sampai-sampai menarik diri dari lingkungan. Sekitar dua bulan lebih saya hanya mengurung diri di kamar, meratapi dan menyesali pilihan hidup, serta berharap bisa mengulang waktu ke momen sebelum segalanya menjadi pelik.


Kondisi empat tahun lalu itu rupanya agak serupa dengan apa yang terjadi belakangan ini. Saya sudah terlalu lama tak keluar rumah dan lebih sering mengurung diri di kamar sejak pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) supaya mencegah penyebaran virus Corona. Meskipun saya hanya berdiam diri di rumah, lalu sekalinya keluar rumah dalam keadaan mendesak selalu mengenakan masker, dan setelahnya langsung mencuci tangan dengan sabun, tetap saja saya masih kesulitan mengurangi rasa cemas di dalam diri.

Setiap kali membaca maupun mendengar berita tentang jumlah pasien Corona yang bertambah—khususnya di Jakarta, saya otomatis merasa takut. Belum lagi ditambah kekhawatiran akan kondisi keuangan yang kian memprihatinkan. Intinya, saya stres akibat kelamaan di rumah dan kurang hiburan. Mungkin hal itulah yang mengakibatkan saya jadi sering bermimpi buruk akhir-akhir ini.

“Jadi kalau habis dari luar rumah terus mendadak batuk atau tenggorokan rasanya enggak enak tuh termasuk psikosomatik, ya? Itu akibat dari rasa cemas yang berlebihan? Soalnya tubuh saya juga langsung normal lagi, sih. Tapi ini betulan wajar kan, Fir? Saya masalahnya juga susah produktif nih.”

“Aku rasa hal itu wajar dalam kondisi pandemi begini, Yog. Siapa sih yang enggak cemas ketika kehidupannya berubah drastis? Soal produktif, menurutku pelan-pelan aja, jangan memaksakan diri. Aku awal-awal juga pernah kayak begitu, kok. Mimpinya sering aneh-aneh. Mungkin enggak separah kamu yang sampai kaosnya lepek karena keringat dingin. Alhamdulillah sih keadaanku sekarang juga membaik.”

Belum sempat saya menanggapinya, dia sudah membalas lagi, “Yang terpenting sih jangan kebanyakan mikirin yang aneh-aneh, supaya kesehatan mental kamu tetap terjaga.”

“Lima hari lalu pikiran saya justru pernah liar banget, Fir. Gara-gara diare (ini kayaknya kebanyakan makan sambal kacang), terus malah jadi melebar ke mana-mana. Mulai dari berasumsi kalau saya keracunan makanan, tifus, sampai ada teman yang bilang itu salah satu gejala Corona.” Di akhir kalimat, saya menambahkan emoji tertawa yang keluar air mata sebanyak tiga buah.

“Eh, seriusan? Terus kamu sempat ke dokter? Sekarang udah sembuh, kan?”

Dalam situasi pandemi begini jelas bikin saya takut untuk datang ke rumah sakit ataupun klinik. Mengingat kondisi tubuh saya yang lagi lemah, seandainya nekat datang bisa-bisa malah terpapar virus lainnya. Maka, saya memilih untuk memperbanyak minum air putih agar terhindar dari dehidrasi, dan memperbanyak istirahat di rumah demi mencari aman. Syukurlah sekarang juga sudah pulih, kecuali perasaan ganjil setiap bangun tidur.

Mendengar cerita saya barusan, Firda lantas memberi tahu saya tentang Halodoc. Salah satu layanan kesehatan online yang dapat diakses melalui aplikasi maupun web. Mereka menyediakan berbagai artikel mengenai kesehatan dan penyakit. Selain itu, mereka juga menjual aneka obat dan vitamin, terdapat fitur untuk mencari rumah sakit yang ingin dikunjungi dan membuat janji dengan dokter, serta dapat berkonsultasi dengan dokternya (baik itu dokter umum maupun spesialis) hanya lewat chat.



“Berhubung kondisinya lagi pandemi begini, menurutku pelayanan di Halodoc membantu banget, sih,” kata Firda. “Kemarinan aku juga habis tanya-tanya soal keluhanku di sana tuh. Dokternya bilang, mungkin aku kena gejala psikosomatik. Karena aku kan sempat kurang tidur, kecapekan, dan stres. Beliau akhirnya kasih aku beberapa saran seputar kesehatan, dan menyuruh aku konsumsi salah satu vitamin gitu buat membantu pemulihan.”

Saya lalu mengucapkan terima kasih atas informasi itu.

Sebagaimana yang sudah saya ketahui tapi kadang-kadang suka terlupa, Firda menjelaskan ulang tentang kebanyakan penyakit yang bermula dari pikiran. Jika pikiran kita buruk, otomatis kondisi tubuh bakal ikutan memburuk. Kata Firda, belakangan ini dia sebisa mungkin menghindari berita tentang virus, lalu membisukan kata-kata yang terkait dengan wabah di media sosialnya. Dengan begitu, pikirannya mulai jernih kembali. Kalau untuk menyiasati rasa jenuhnya saat berdiam diri di rumah, dia menghibur diri dengan menggambar, menonton film, dan main gim.

“Kayaknya saya perlu menulis jurnal lagi nih biar energi negatifnya pada kebuang. Atau minimal curhat sama orang deh. Hitung-hitung latihan menulis biar bisa lancar lagi cerita di blog.”

“Nah, bisa juga tuh. Cara orang kan beda-beda, jadi sesuaikan aja sama diri kamu.”

Dia menutup pembicaraan itu dengan mendoakan saya, “Pokoknya sehat-sehat terus ya, Yog.” Saya mengamininya dan gantian mendoakannya dalam hati.


Hari ini, saya sudah jauh lebih baik ketimbang dua minggu lalu. Berkat mengobrol sama Firda dan beberapa kawan, kecemasan di dalam diri saya semakin berkurang. Saya tak pernah lagi bermimpi buruk, apalagi terbangun dengan kaos basah yang dipenuhi keringat dingin. Saya juga mulai kembali menulis jurnal di buku catatan. Siapa sangka, kegiatan menulis dan curhat ini masih sangat ampuh sebagai terapi saya dalam menyembuhkan psikis yang lagi kacau. Mudah-mudahan sih saya bisa terus mempertahankan kondisi baik ini. Akhir kata, semoga teman-teman sekalian juga sehat sentosa dan bisa merawat kesehatan mentalnya agar tetap baik-baik aja.

--

Gambar saya ambil dari Pixabay dan Halodoc.
Read More
Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam sebuah sayembara menulis yang berujung tak memperoleh satu pun hadiah alias gagal.



--
Kau pertama kali melihat sosok itu secara nyata di kamar indekosmu tepat setelah empat puluh hari kematian kakekmu. Ia berwujud seperti seorang pertapa yang telah berusia ratusan—atau mungkin ribuan—tahun. Ia memelihara jenggot lebat berwarna putih dan panjangnya sampai menutupi leher bagian depan. Ia juga mengenakan pakaian berbentuk jubah, celana, dan sorban serba putih. Melihat penampilannya yang memancarkan aura berbeda, kau menyimpulkan ia bukanlah seorang manusia. Mungkinkah ia sesosok jin? Namun, bagaimana caranya kau kini tiba-tiba dapat melihat makhluk gaib? Sejak kecil hingga kini berusia 23 tahun, seingatmu kau tak pernah sekali pun melihat hantu dan sejenisnya. 

Mulanya, sosok itu cuma mendatangimu lewat mimpi dalam beberapa hari terakhir setiap kali kau ketiduran dan lupa menunaikan salat Isya, sebelum akhirnya ia memperkenalkan diri sebagai sosok yang akan menjagamu. Yang membuatmu heran, mengapa waktu saat kau terbangun itu selalu sama? Setiap pukul 02.15. Jika tak salah ingat, itu adalah waktu kakekmu mengembuskan napas terakhirnya. Kau pun berpikir, apakah semua ini ada hubungannya dengan Kakek? 


Dua hari sebelum kakekmu wafat, percisnya ketika kau sedang istirahat makan siang di kantin kantor, ibumu menelepon dan menyuruhmu balik ke kampung, Ponorogo, Jawa Timur. Ibumu berkata, anak maupun cucu dari kakekmu sudah hadir semuanya, kecuali dirimu seorang. Kau lalu menjelaskan bahwa tidak bisa pulang karena tak mungkin meminta cuti secara dadakan. Lagi pula, jatah cutimu tersisa dua hari lagi. Kau sengaja menyisakannya buat bulan Desember nanti jika ada hal-hal darurat sebelum tahun berganti dan memperoleh jatah cuti baru. 

“Heru, Ibu mohon pulanglah, Nak,” ujar ibumu di telepon dengan suara sendu. “Apakah kamu tak ingin melihat saat-saat terakhir kakekmu?” 

Kau bingung mesti menjawab pertanyaan itu dengan kalimat apa lagi. Kau merasa hubungan dengan kakekmu tidaklah dekat. Kenangan kalian hanya sedikit sewaktu kau masih bocah. Kau bahkan sudah lima tahun tidak kembali ke kampung selepas lulus sekolah dan sibuk bekerja di Jakarta. Seingatmu, terakhir kali kau berjumpa dengan Kakek ialah saat kelas dua SMA, percisnya ketika Mbak Rina—salah satu sepupumu—menikah. Mau tidak mau, kalian harus pulang sekeluarga demi menghadiri pesta perkawinannya. Syukurlah saat itu kau juga sedang liburan sekolah. 

Sesampainya di kampung, kau terkejut mendapati kakekmu yang sudah tak bisa bergerak maupun berbicara. Mulutnya hanya dapat mengeluarkan suara erangan ataupun geraman sebab terkena penyakit strok. Selama ini kau sudah tahu kabarnya sedang sakit lewat telepon dari pamanmu, tapi tak pernah paham akan detailnya. Rupanya, penyakit itu telah menggerogoti tubuh kakekmu yang mulanya gempal, lantas berubah kurus. 

Sebagai anak sulung dari kakekmu dan juga masih tinggal di rumah yang sama, pamanmu yang selama ini bertugas merawatnya. Dia bilang, kakekmu selama dua bulan terakhir ini cuma bisa berbaring di tempat tidur. Buang air kecil maupun besar di kasur. Mau tak mau, suka tidak suka, dia mesti rela membersihkannya. Kau memuji ketangguhannya dalam hati, sebab kau sendiri tak kuat mencium aroma pesing dan busuk tersebut. Jadi, kau berusaha menjaga jarak dengannya dan memilih memperhatikannya dari kejauhan. 

Sehabis mengenang hal menyedihkan itu, akhirnya kau pun berkata, “Nanti sore aku kabari lagi ya, Bu. Habis ini aku coba izin cuti sama bos. Semoga saja boleh.” 

Ibumu langsung mengucapkan doa semoga nanti dapat kabar baik darimu, mengucapkan terima kasih, dan menutup teleponnya. 


Dengan memberikan alasan bahwa kakekmu sakit parah dan baru saja menerima telepon dari ibumu, kau mendapatkan izin cuti dan diperbolehkan pulang dua jam lebih awal dari jam pulang kantor yang sebenarnya. Begitu tiba di indekos, kau pun segera berbenah. Kau memesan tiket bus ekspres—Pahala Kencana—melalui aplikasi di ponsel, lalu menuju Terminal Kampung Rambutan dengan menaiki ojek daring. Berhubung saat ini belum memasuki jam pulang kantor, kondisi lalu lintas masih termasuk lancar dan kau pun bisa sampai tepat waktu. 

Dari beberapa tempat duduk di bus yang masih kosong, kau bingung mengapa memilih menempati kursi di sebelah kiri bagian agak tengah, percisnya berjarak dua-tiga bangku dari letak roda bagian belakang. Mungkin karena alam bawah sadarmu menerapkan perkataan Agus—salah seorang teman kantor yang gemar naik bus. Posisi duduk di situ katanya nyaman dan bisa menghindari rasa mual. Kalaupun tempat duduk itu penuh, sebisa mungkin jangan duduk di kursi yang pas di bawahnya roda. Kepalamu nanti akan mudah pusing ketika bus terguncang. Kau memang termasuk orang yang gampang mabuk kala naik transportasi umum, kecuali kereta. Tapi, apakah kau betul-betul meyakini omongan Agus tersebut? Apa boleh buat, kau sudah telanjur duduk dan terlalu malas untuk pindah-pindah lagi. 

Tepat pada pukul empat sore bus pun berangkat meninggalkan Jakarta menuju Ponorogo. Selama di perjalanan itu kau lebih banyak tertidur karena sebelumnya telah menenggak dua butir Antimo. Kau memang berjaga-jaga agar tidak mabuk kendaraan meskipun telah menerapkan metode dari Agus. 

Kau sempat terbangun saat matahari menyemburkan semburat oranye dan langit perlahan-lahan berganti gelap. Namun, tak lama matamu langsung terpejam lagi lantaran efek obat yang masih terasa kuat. Kau kemudian kembali mendusin saat langit sudah semakin pekat dan kau merasa udara dari AC itu terlalu dingin bagi tubuhmu, menembus sweter dan kaos yang kaukenakan. Tapi yang sebenarnya terjadi, kau terbangun karena sebuah mimpi aneh. 

Kau bermimpi sedang berlatih pencak silat bersama beberapa kawan yang kau kenal. Pakaian kalian semuanya serba hitam, kecuali guru yang mengajarkannya, yakni seorang kakek-kakek berjubah putih. Kau berlatih tanding dengan salah seorang temanmu, lalu akhirnya terkena pukulan maut darinya hingga terjungkal. Saat kau hendak bangkit, kau terkejut mendapati kakek itu tiba-tiba berada di sebelahmu dan mengatakan, “Sebentar lagi waktunya akan tiba. Kau harus segera menguasai jurus-jurus itu.”

Kau tak ingin memikirkan mimpi tersebut, lebih-lebih menafsirkan apa maksud kalimat kakek itu, dan memilih mengecek arloji di pergelangan tangan kananmu. Waktu menunjukkan pukul 02.15. Tak disangka, bus telah bergerak sekitar 10 jam. Jika mengacu pada estimasi perjalanan yang kau lihat di jadwal bus itu, kau akan tiba di Terminal Seloaji, Ponorogo, sekitar dua jam lagi. 


Begitu tiba di Terminal Seloaji, kau memilih naik ojek menuju rumah kakekmu di Jalan Raya Ngrandu ketimbang meminta jemput salah seorang keluarga. Kau tak enak membangunkan mereka pagi-pagi buta begini. 

Kau memandangi kiri dan kanan jalan. Sudah lama sekali kau tidak melihat pemandangan menyegarkan mata begini. Jarak dari satu rumah ke rumah yang lain betul-betul berjauhan karena dipisahkan oleh kebun ataupun sawah. Sangat berbeda dengan kondisi perumahan di Jakarta yang berdempet-dempetan. Setelah puas memandanginya, kau mengamati peta di ponselmu. Motor yang kau tumpangi saat ini sedang melintas di Jalan Urip Sumoharjo. Tujuanmu masih cukup jauh dan lurus terus hingga Sumoroto, sebelum nantinya belok ke arah Jalan Raya Ngrandu. Berdasarkan petunjuk di peta, jika di depan nanti kau belok kiri, kau akan sampai di Alun-Alun Ponorogo. Itu adalah sebuah tempat yang pernah menjadi momen menggembirakan bersama kakekmu belasan tahun silam. 

Pada suatu sore menjelang bulan Suro, di Alun-Alun Ponorogo terdapat Festival Reog. Kau saat itu sedang liburan sekolah dan diajak pulang kampung oleh orang tuamu. Kakekmu lalu mengajakmu pergi ke sana dengan naik sepeda ontel untuk menyaksikannya. Berhubung kala itu kau masih terlalu kecil, kau tidak banyak mengingat dan kurang paham dengan segala pertunjukan tersebut. Kau saat itu hanya bisa menikmati irama musik yang dihasilkan dari perpaduan suara gendang, kenong, kempul, angklung, dan sompret. Bebunyian itu membuatmu menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan ke kanan. 

Di tengah-tengah acara itu, kau bertanya kepada Kakek, “Topeng sebesar itu beratnya berapa, Kek?” 

Kakekmu menjawab bisa mencapai 50-60 kg. Dua kali lipat dari berat badanmu saat itu. Kau terpukau mendengarnya. Kau bahkan semakin takjub ketika mengetahui topeng reog sebesar itu cara memakainya cukup dengan digigit. Gigimu pun seketika langsung mengilu sewaktu mengenang bagian yang satu itu. 

Kau lalu menelusuri kembali ingatan masa kecilmu bersama Kakek. Sepulang dari Alun-Alun Ponorogo, kakekmu lantas mengajakmu mampir ke Pasar Sumoroto buat menyantap sate gule di warungnya Pak Seno.



Hawa dingin keparat menjelang waktu azan Subuh ini membuat perutmu lapar seketika. Kau pun teringat bahwa belum makan apa-apa sejak menaiki bus. Kau jadi ingin mengisi perutmu dengan sate gule. Apakah rasanya tetap mantap sebagaimana kau menikmatinya ketika bocah? Kau lalu meminta kepada tukang ojek itu nanti singgah dulu di sana. 

Sayangnya, tukang ojek itu langsung menanggapi kalau warungnya baru buka nanti pukul tujuh. Kau mencoba memastikannya dengan mencari informasi tersebut di internet. Ternyata perkataannya benar. Warung itu buka dari pukul 7 pagi sampai pukul 12 malam. 

Sialan, kau mengumpat dalam hati. Entah dapat mendengar suara hatimu atau berusaha mengobati kekecewaanmu, tukang ojek itu menyarankanmu untuk makan di Warung Nasi Tiwol Mbok Kus saja. Katanya, warung itu buka selama 24 jam. Kau pun langsung mengiyakannya dan mengajak dia makan bersama. Pendek cerita, kau sudah kenyang dan tiba di rumah kakekmu. 

Merasa lelah dalam perjalanan dan tak puas tidur dalam posisi duduk selama di bus, tentu membuatmu ingin lekas-lekas merebahkan diri ke kasur. Namun, kau kini mesti menyalami orang tua maupun saudara-saudaramu di ruang tengah yang sedang duduk-duduk menyarap pisang goreng dan minum kopi ataupun teh. Baguslah tidak semua orang berada di sana. Kau jadi tak perlu banyak berbasa-basi.

Kakekmu masih tertidur sangat pulas di kamarnya saat kau tengok. Beberapa sepupumu sepertinya juga belum bangun atau malas beranjak dari kamar yang pintunya tertutup. Kau kemudian masuk ke kamar orang tuamu dan mendapati adikmu yang juga masih terlelap. Kau pun kini rebahan di sampingnya. 

Kau ketiduran selama tiga jam, lalu terbangun saat mendengar suara orang-orang membaca surah Yasin. Kau terkejut dengan hal itu. Apakah ini memang sudah tanda-tanda kakekmu sebentar lagi akan meninggal? Kau lalu mendatangi kamar kakekmu. Sebagian keluargamu—termasuk kedua orang tuamu—sedang duduk memegang buku Yasin dan merapalkan ayat-ayat. Mereka membacanya secara berganti-gantian. Proses itu berlangsung terus-menerus hingga jeda makan siang. Sesudahnya, pembacaan surah Yasin berlanjut kembali hingga hari berubah malam dan kian pekat. Pada pukul 12 malam, napas kakekmu sudah semakin berat. 

Sejak tadi kau memilih tidak ikutan membaca Yasin karena kemampuan mengajimu masih kurang lancar. Kau cuma bisa memperhatikan kakekmu dari dekat pintu. Saat kau menatap wajah kakekmu, mata kalian akhirnya bertemu. Sorot matanya sangatlah dingin dan menusukmu tajam. Matanya itu seakan-akan berkata kepadamu: Kemarilah cucuku. 

Kau terlalu takut untuk menghampirinya. Dia pun tiba-tiba menggeram keras. Beberapa orang di sekitarnya, termasuk ibumu, terperanjat. Sadar bahwa kau yang menyebabkan kakekmu mengerang seperti itu, ibumu lalu menyuruhmu untuk berada di samping Kakek. Kau tak punya pilihan lain selain mendekatinya dan duduk di samping tempat tidurnya. 

Dari jarak sedekat itu, bau pesing dan kecut tentu saja langsung meninju-ninju hidungmu. Tapi, kau saat ini seperti bisa mencium sesuatu yang lain. Seolah-olah kau dapat menghirup aroma kematian. Apakah kematiannya memang sudah dekat? 

Ini pertama kalinya kau menyaksikan proses sakratulmaut. Kakekmu mulai megap-megap. Kau tak kuat melihatnya seperti itu sehingga memilih untuk menunduk. Saat itulah sekonyong-konyong tangan kiri kakekmu dapat bergerak, lalu mengusap-usap rambutmu. Kau jelas kaget kakekmu bisa tiba-tiba bergerak, padahal sebelum-sebelumnya cuma mampu menggeram. Beberapa orang di ruangan itu juga sama terkejutnya sampai mengucapkan astagfirullah berulang-ulang kali. Selepas hal itu terjadi, kakekmu tersenyum dan tampak lega. Kini desah napasnya mulai semakin jarang. Sekitar satu setengah jam kemudian, tepatnya pada pukul 02.15, kakekmu mengembuskan napas terakhirnya. 


Apakah ketika tangan kakekmu mengusap-usap rambutmu pada saat-saat terakhirnya itu adalah proses mentransfer energi atau semacam kekuatan gaib? Dia memberikanmu sebuah warisan berupa jin pelindung berwujud kakek pertapa? Tapi, apa yang membuatmu dipilih olehnya? Dari tiga orang anak dan tujuh orang cucu, mengapa harus dirimu yang memperolehnya? Tak ingin menebak-nebak, kau lalu memutuskan memberanikan diri untuk bertanya kepada sosok kakek pertapa itu. Dia membenarkan segala asumsimu sebelumnya. 

“Tapi, kenapa aku yang dipilih oleh kakek?” ujarmu. 

“Bukan dia yang memilihmu, melainkan aku.” 

“Bagaimana mungkin? Sejak kapan kau memilihku?” 

Kakek itu tertawa. “Karena kau telah berhasil melewati ujiannya.” 

“Ujian apa?” 

Kakek pertapa itu tidak menjawab sepatah kata pun. Ia lantas memberi tahu jawaban itu lewat sebuah perjalanan gaib yang menyerupai sebuah mimpi. 

Ada suatu kejadian saat kau kelas 2 SMA, sepulangnya dari kampung begitu mengetahui kakekmu sakit strok, yang sempat terlupa olehmu. Begitu merapikan barang-barang dan mengeluarkan pakaian kotor, di dalam tas ibumu tahu-tahu terdapat salah satu keris berwarna emas milik kakekmu. Kalian sekeluarga bingung mengapa keris tersebut bisa berada di sana. Walaupun kalian memahami kalau Kakek mengoleksi banyak keris, lantas siapa yang menaruhnya ke dalam situ ketika dia sendiri tak dapat menggerakkan tubuhnya? Jika tak salah ingat, berbagai benda pusaka milik kakekmu telah tersimpan rapi di ruangan khususnya. Sudah lama sekali tak pernah diutak-atik, kecuali untuk dibersihkan dan dimandikan kembang tujuh rupa oleh pamanmu setiap malam satu Suro. Apakah keris itu pamanmu yang menaruhnya, atau bisa pindah sendiri dari tempatnya semula? 

Ibumu pun segera menelepon pamanmu buat mengonfirmasikan hal itu. Pamanmu menjawab tak tahu apa-apa. Ibumu tak punya pilihan lain selain menyimpannya di lemari pakaian paling atas. 

Empat jam kemudian, bibimu yang tinggal di Bogor menelepon. Dia mengatakan hal yang sama bahwa di tasnya terdapat sebuah keris berwarna emas. Mulanya, kalian tak ingin berpikir yang aneh-aneh. Tapi begitu selama satu minggu ayah dan adikmu tiba-tiba demam, lalu ibumu juga merasa ada tanda-tanda mau sakit, ibumu menyimpulkan kalau keris itulah penyebabnya. Ibumu terus menelepon ke bibimu, yang rupanya juga mengalami hal ganjil. Mereka sekeluarga mengalami demam dan diare. Rupanya kondisi mereka jauh lebih buruk daripada keluargamu. Saat itulah ibumu berniat mengembalikan keris itu ke kampung pada keesokan harinya. Anehnya, keris itu tiba-tiba lenyap dengan sendirinya. Begitu pula ketika ibumu bertanya kepada bibimu. 

“Saat itu, hanya kaulah yang tidak terpengaruh oleh keris itu,” ujar si kakek pertapa sembari mengelus-elus jenggotnya.

Kau baru ingat. Kala itu tubuhmu memang baik-baik saja, bahkan merasa sangat sehat. 

“Kau tidak sakit sebagaimana keluargamu. Sejak itu, kau sudah dipilih olehku,” katanya lagi. 

Kau tak mampu berkata-kata. 


Kau terbangun dengan kaos lepek karena keringat dingin. Kau membatin, sial, aku mimpi buruk lagi. Kau menoleh ke arah jam dinding dan waktu menunjukkan pukul 02.15. Kau pun bertanya-tanya, hal ganjil itu kenapa terjadi lagi? Kau mengalihkan pandanganmu ke sekitar dan mendapati sosok kakek pertapa itu di pojokan kamar indekosmu. Jadi, semua itu benar adanya? Kakek pertapa itu bukanlah mimpi belaka? Maka, mulai malam itu, kau betul-betul membenci kakekmu yang memberikan kekuatannya lewat usapan di kepala. Kau lantas merenung, seandainya saat itu aku tidak datang menjenguk Kakek di saat-saat terakhirnya, apakah aku tidak perlu mendapatkan perlindungan dari sesosok kakek pertapa? Namun, bagaimana kalau kau memang ditakdirkan untuk menerima warisan itu? Saking lelahnya memikirkan hal yang sulit dipahami oleh nalar, kau pun berusaha tidur lagi dan berharap semua yang terjadi hanyalah ilusi.


2019

--

Gambar diambil dari: https://pixabay.com/photos/man-child-baby-grandfather-grandpa-3552247/
https://tongseng-dan-sate-gule-kambing-ponorogo.business.site/
Read More
Cerpen ini tadinya saya niatkan masuk ke buku Fragmen Penghancur Diri Sendiri. Saat proses membaca ulang dan menyunting, saya tiba-tiba menemukan beberapa alasan untuk membuangnya. Saya agak lupa apa saja alasannya waktu itu dan cuma dua yang sanggup saya ingat: 1) Kisah mengobrol tentang tulis-menulis di kereta komuter sudah ada di cerpen Bagaimana Sebuah Cerpen Dibuat—yang kini sudah saya hapus dari blog ini dan hanya tersedia di buku digital, 2) Sekalipun temanya berputar di dunia kepenulisan, tapi cerita yang membahas teknis kepenulisan terlalu banyak sepertinya membosankan di mata pembaca. 

Seandainya ketika membaca nanti kamu bisa menemukan bagian-bagian buruknya (yang mungkin menjadi alasan kenapa cerpen itu tak layak diikutsertakan ke dalam buku, lebih-lebih dijual), silakan tulis di kolom komentar. Namun, jika kamu malah menyukainya dan menganggapnya bagus, saya kira ada yang salah dengan penilaian saya terhadap karya sendiri. 



-- 

“Jadi editor enggak segampang itu,” ujar Winda sekitar tiga tahun silam. 

Adityo sedang asyik rebahan di kamarnya dan tak mengerti kenapa dari sekian banyak pikiran yang mondar-mandir justru perkataan itulah yang muncul terus-menerus di kepalanya. Lebih anehnya lagi, hari itu telah jauh berlalu dan Adityo masih saja sepakat dengan kalimat Winda. Mungkin karena sampai saat ini Adityo belum becus menyunting tulisan. Jangankan menjadi editor bagi orang lain, buat diri sendiri saja dia kerap tidak tegaan. Adityo termasuk manusia yang tidak enakan dan takut melukai hati penulisnya setiap kali mengomentari tulisan orang lain, padahal sebelumnya dia merupakan manusia yang jujur dan ceplas-ceplos. Adityo berubah begini tentu ada sebabnya. Semua ini terjadi pada tiga tahun silam, tepatnya satu hari sebelum Winda berkata bahwa jadi editor itu enggak gampang. 


“Kamu tahu apa kesalahan paling fatal dari komentarmu itu, Dit?” tanya Winda kepada Adityo ketika mereka sedang menunggu kereta komuter di jalur 6, Stasiun Tanah Abang. 

Sore itu mereka baru saja pulang meliput acara bloger di sekitaran Sudirman. Sekelarnya acara, Winda katanya lagi kepengin makan tomyam kelapa di daerah Sudimara (sebagai pengingat, Sudirman dan Sudimara itu berbeda wilayah meskipun namanya sekilas mirip) dan mengajak Adityo. Berhubung Adityo tadi datang rada telat dan tak sempat menyantap makan siang yang disediakan panitia, dia pun cuma bisa manut. Untuk itulah mereka sekarang berada di Stasiun Tanah Abang dan berbicara tentang dunia blog sembari menanti kedatangan kereta. 

Adityo mengawali obrolan dengan curahan hati atas rasa bersalah yang dia lakukan semalam. Malam itu Adityo habis jalan-jalan ke blog seseorang, sebut saja namanya Akbar. Di tulisan terbarunya itu, Akbar sedang membuat cerita bersambung dan sudah memasuki bagian ketiga. Adityo pun mencoba mengikutinya dari awal. Sewaktu membaca kisah pertamanya, Adityo langsung enggak sreg. Banyak kesalahan ketik, komedinya buruk sekali, isinya banyak dialog kurang penting, dan plotnya pun tidak jelas arahnya. Anehnya, Adityo berusaha memaksakan diri untuk menyelesaikannya. 

Kala itulah Adityo mengetik komentar yang berisikan kritik mengenai isi ceritanya. Di akhir komentar itu, dia menambahkan kata ‘semangat’ agar Akbar bisa menerima masukan orang lain dan terus belajar menulis. Namun pada pagi harinya ketika Adityo ingin mengecek komentar balasan, cerita bersambung itu lenyap dari blognya. Akbar malah bikin tulisan baru yang menyindir-nyindir Adityo: Jadi orang jangan sok editor! 


“Hei, Dit, tolong jawab pertanyaanku. Ini penting, tahu!” ujar Winda. 

Adityo entah kenapa bingung kalau ditanya tentang kesalahan begitu. Winda adalah seorang teman yang merangkap sebagai mentor menulisnya, tapi seolah-olah saat ini dia seperti sedang ditanya oleh pacarnya setiap kali habis berbuat kesalahan yang tidak dia sadari. 

“Aku komentarnya terlalu blak-blakan. Enggak menyampaikannya dengan halus. Intinya, kalimatku itu enggak persuasif sama sekali.” 

“Nah, berarti kamu sadar dong, kata ‘semangat’ di komentar itu enggak ada artinya?” 

Adityo enggak tahu harus menanggapi pertanyaan itu dengan kata-kata, sehingga cuma memberi anggukan. 

“Orang yang habis jatuh, enggak akan bisa langsung bangkit cuma dengan kata semangat, Dit. Kamu harus lihat-lihat orangnya dulu sebelum berkomentar.” 

“Aku kan sedang mencoba sepertimu yang bisa mengkritik dengan baik dan jujur.” 

“Iya, tapi enggak sembarangan juga. Pastikan dulu orangnya itu menyukai kritik. Yang paling fatal dari kesalahanmu, sih, karena dia baru belajar menulis. Dia mana siap kamu kasih komentar kayak begitu.” 

“Lah, aku juga lagi belajar, Win. Aku siap-siap aja tuh kamu caci-maki tulisannya.” 

“Beda, Bodoh. Aku komentar keras setiap mengoreksi tulisanmu karena kamu udah memercayakanku sebagai mentor menulis ataupun editor. Lagi pula, kita udah saling kenal. Kamu sama si Akbar itu kan sama-sama orang asing.” 

Winda bilang, saat memberi kritik itu mesti lihat-lihat lagi konteksnya. Jangan samakan orang yang sudah menulis satu tahun atau lebih dengan orang yang baru saja memulai. Kalau belum akrab-akrab banget, belum pernah ketemu, enggak usahlah komentar pedas dan sok tahu. Yang udah kenal baik aja masih bisa sakit hati pas dikritik, bagaimana dengan orang baru? Apalagi komentar dalam bentuk teks kerap kali bikin salah paham. 

Adityo pun berterima kasih kepada Winda karena sudah mau menegurnya. Adityo berupaya agar ke depannya dapat lebih berhati-hati ketika berkomentar. 

Terdengar suara khas klakson kereta dari agak kejauhan, sebuah tanda ketika kereta akan memasuki stasiun. Sewaktu kereta berhenti, para penumpang yang di dalam langsung bergegas keluar. Sebagian orang yang di luar ternyata berusaha menerobos masuk saat itu juga. 

Adityo masih tak mengerti sama orang-orang yang enggak sabaran seperti itu, padahal prioritasnya jelas-jelas penumpang yang mau turun. Keterlaluan sekali menyerobot antrean cuma karena ingin mendapatkan tempat duduk. Mereka berdua pun menunda melangkah sampai semua begundal itu naik. Lebih baik mereka berdua berdiri daripada berbuat tolol kayak orang-orang itu. 

Mereka tidak mengobrol sepatah kata pun selama di kereta. Jarak mereka pun sedikit terpisah. Posisi Winda berada sedikit menyerong di depannya. Adityo lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana kirinya, memasang penyuara kuping, dan memutar lagu The Trees and The Wild yang berjudul Malino

Ketika lagu berganti menjadi Empati Tamako (masih dari grup musik yang sama), Adityo melihat seorang pria bertopi hitam berusia sekitar tiga puluhan awal mendekati Winda dari sebelah kiri. Adityo berusaha memperhatikan orang itu dan menaruh curiga lantaran wajahnya terlihat mesum. Jangan-jangan dia itu pria cabul yang punya fetisisme sama cewek berjilbab dan gemar mencari korbannya di KRL? 

Dugaan Adityo itu ternyata benar, sebab tangan kanan orang itu bergerak perlahan-lahan ke arah bokong Winda. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mengetahui kalau posisi tangannya aman. Pria itu kayaknya bermaksud menyentuh atau mengelusnya seakan-akan perbuatannya tersebut tidak disengaja. Pria bertopi itu kini berusaha menunggu goncangan kereta agar aksinya berjalan mulus. 

Sebelum tindakan itu terjadi, Adityo berdeham. Pria itu mencari dari mana datangnya suara. Mata mereka pun akhirnya bertemu. Adityo segera memelototi pria itu. Tatapannya seolah-olah berkata: Berani kau sentuh dia, kuhantam kau sampai mati! 

Pria itu langsung menyimpan tangannya ke saku sweternya dan bergeser menjauh. Tak lama, pria itu pun turun di Stasiun Pondok Ranji. Mungkin ingin mencari korban lain. 


Adityo tak ingin menceritakan hal itu kepada Winda. Dia takut seandainya Winda nanti trauma naik kereta komuter lagi. Diam-diam dia hanya bisa mendoakan semoga Winda bisa tetap aman. Tak ada lagi manusia berengsek yang berniat melecehkannya. 

Sekitar sepuluh menit kemudian, pengeras suara mewartakan kalau kereta sebentar lagi akan tiba di Stasiun Sudimara. Mereka berdua segera bergegas turun. Begitu keluar stasiun dan sedang menunggu angkot berwarna putih yang menuju Warung Tomyam Kelapa, Winda tiba-tiba bilang, “Kemarin kalau enggak salah aku juga sempat lihat komentar kamu di salah satu blog. Kamu di situ mengoreksi penggunaan ‘di’ sama tipo.” 

“Terus kenapa?” 

“Penting banget apa hal itu buatmu? Kayak orang kurang kerjaan, tahu.” 

“Habisan mataku gatal setiap kali lihat tipo, Win. Selain jadi penulis, niatnya, sih, aku juga mau jadi editor.” 

“Jadi editor enggak segampang itu, wahai Adityo Pratomo-temanku-yang-setiap-kali-dikasih-tahu-suka-ngeyel.” 

“Tapi yang kayak begitu kerjaan editor kan, Win?” 

“Bukan, itu mah tugas proofreader.” 

Adityo selama ini menganggap yang mengoreksi kesalahan ketik dan tata bahasa itu editor. 

Anjing, malu betul rasanya. 


Kondisi angkot yang mereka naiki terbilang sepi. Sebelum mereka berdua naik, cuma ada dua orang: satu supir dan satu penumpang di sebelahnya. Tapi hal itu ada bagusnya. Mereka pun bisa melanjutkan obrolan di dalam angkot tanpa merasa risih. Berkat obrolan bersama Winda, akhirnya Adityo jadi belajar satu hal: editor dan penyelaras akhir itu berbeda. Di dalam hatinya, Adityo sampai memberi julukan kepada dirinya sendiri: Sang Penulis Gadungan yang Baru Sedikit Wawasan, tapi Banyak Sok Tahunya. 

Ketika Adityo lagi mengutuk diri sendiri di dalam hati atas ketidaktahuan dalam urusan tulis-menulis, Winda entah mengapa malah memujinya, bahwa mata Adityo memang cukup awas sewaktu membaca tulisan. Nanti Winda mau meminta tolong kepadanya supaya mengoreksi tulisan-tulisannya, khususnya tulisan untuk klien dan lomba. Jadi, mereka bisa saling mengomentari tulisan masing-masing. 

Mantap, simbiosis mutalisme telah terjalin. Hal itu pun lumayan mengobati kekesalan Adityo terhadap diri sendiri. 

Selain itu, Winda memberikan Adityo saran agar besok-besok mengurangi, atau kalau perlu menghilangkan kebiasaan mengoreksi salah ketik di kolom komentar blog orang lain. Enggak usah repot-repot membetulkan penggunaan “di” kata depan dan awalan yang sering tertukar. 

Kalau kamu memang pengin memberi tahu tentang kekeliruan itu, kata Winda, kenapa enggak buat tulisan khusus di blog sendiri aja? Daripada harus kasih tahu mereka satu per satu. 

Ide Winda boleh juga, pikir Adityo. 


Jika tak salah ingat, sekarang ini Adityo sudah tak pernah lagi mengomentari hal-hal seperti itu. Dia tidak mau sok editor (eh, proofreader) lagi. Setiap kali menemukan orang-orang di sekitar yang senang membetulkan kesalahan pada tulisan orang lain, Adityo cuma bisa menyengir sebab mereka mengingatkan kepada dirinya yang dulu, sang editor gadungan. 

Sebelumnya, Adityo berpikir hal yang semacam itu sudah kelewatan. Rupanya masih ada yang lebih konyol dari kelakukannya itu, yakni orang-orang yang sudah bermaksud mengoreksi tata bahasa orang lain, tetapi dirinya sendiri masih keliru. 

Sebulan yang lalu, Budi—salah satu kenalannya di Twitter—membuat twit yang terdapat kata ‘menyejahterakan’. Lalu, ada seseorang yang tiba-tiba menyambar twitnya, bermaksud mengoreksi kalimat Budi, “Itu ‘mensejahterakan’ kali yang bener!” 

Budi membalas, “Sebelum berkomentar, kamu mending cek KBBI lagi, Kak.” 

Tak lama sehabis itu, Budi bikin twit baru sebuah gambar hasil screenshot—yang menjelaskan bahwa si pengoreksi tadi langsung memblokir Budi. 

Mungkin orang itu lupa kalau kata dasar berawalan K, P, S, dan T yang huruf keduanya vokal, akan menjadi lebur setelah mendapatkan imbuhan me-. Jika huruf keduanya konsonan, barulah kata itu tidak berubah. Syukurlah Adityo langsung paham saat pertama kali melihat contohnya di sebuah artikel. Kata “kurung” huruf K-nya lebur dan menjadi ‘mengurung’, bukan ‘mengkurung’; sedangkan “kritik” huruf K-nya tetap ada dan menjadi ‘mengkritik’, bukan ‘mengritik’. Kentara betul perbedaannya. 

Adityo pun berpikir kejadian itu mirip sebagaimana seorang murid di perguruan kungfu yang baru menguasai suatu jurus serangan maut tanpa memperhatikan teknik penting lainnya, tapi anehnya langsung ingin pamer dan menantang orang-orang berkelahi. Sehabis bertarung malahan dia yang akhirnya babak belur dan kalah. 


Sesampainya mereka di Warung Tomyam Kelapa, Winda dan Adityo terkejut mendapati warungnya tutup. 

“Yah, ada apa nih tumben tutup begini?” ujar Winda. 

“Jangan tanya sama aku. Tanya pemiliknya dong, Win, kan kamu punya kontaknya. Lagian, kamu tadi pas mau ke sini enggak tanya-tanya dulu sama pemiliknya?” 

Winda menggeleng dan cengengesan. 

“Cerdas banget.” 

Winda tertawa lagi, lantas meminta maaf. 

“Terus sekarang mau balik lagi? Tapi kita udah jauh-jauh ke sini, masa enggak jadi makan?” 

Winda menjawab dengan ajakan makan di sebuah warung bakso yang masih di dekat-dekat situ. 

Selebihnya, tak ada pembicaraan yang penting kecuali mereka sama-sama berjanji untuk menerbitkan buku (entah kumpulan cerpen, novel, atau novelet) paling lambat satu tahun kemudian. Mereka sepakat untuk saling kritik atas naskah tersebut sebelum dikirimkan ke penerbit ataupun diterbitkan mandiri. 


Tiga tahun telah berlalu dan Adityo masih saja takut untuk menulis buku pertamanya. Mungkin karena dia menggeluti dunia ini lebih mendalam, sehingga mulai menemukan banyak kecacatan dalam tulisannya selama tiga tahun itu. Misalnya, terlalu bertele-tele dalam bercerita. Sepertinya bagian ini hal yang paling kentara setiap kali dia mengevaluasi tulisan-tulisannya sendiri. Jumlah kata yang mestinya dapat ditulis sebanyak satu atau dua kalimat, bisa-bisanya malah dibuat menjadi satu paragraf. 

Suatu hari ketika sedang membaca ulang draf tulisan, Adityo pernah sadar untuk menyunting 500 kata menjadi 150-200 kata demi keefektifan kalimat. Tapi ujung-ujungnya, dia masih berusaha mempertahankannya menjadi 400 kata. Rasa tidak tegaan ini menjengkelkan sekali baginya. Dia seharusnya bisa lebih keras dan kejam kepada diri sendiri. Bukan malah lembek seperti beras pulen yang kebanyakan air saat dimasak. Mungkin sampai saat ini dia memang belum pantas menjadi seorang editor, dan lebih cocok sebagai penyelaras akhir yang cuma bisa memeriksa kesalahan ketik. 

Berbeda dengan Adityo, Winda justru telah membanting setir menjadi selebritas di Instagram. Adityo tak pernah berani menanyakan apakah keinginan bikin buku itu masih tersimpan di hatinya. Dua tahun belakangan ini mereka hampir tidak pernah bertemu maupun mengobrol lagi. Mereka bahkan sudah tak seakrab dulu lagi. 

Sialan, umpat Adityo sewaktu mengenang kebersamaan mereka dulu. Dia membatin, sedih juga ternyata kehilangan teman diskusi sekaligus mentor menulis. 

Kini, Adityo tak punya pilihan lain selain belajar sendiri. Mau bagaimana lagi, selama ini tak banyak orang yang mau mengomentari, lebih-lebih mengkritik tulisannya. Dari sedikit itu saja, sejauh ini dia baru percaya sama penilaian tiga orang. Winda Khaerani yang sempat dia ceritakan saat kilas balik itu, dan dua lainnya: Gia Agustian dan Adis Wahyudi. 

Adityo tiba-tiba teringat kalau Gia pernah bilang begini kepadanya: 

“Ada tiga macam penulis: 1) Penulis yang berkembang berkat pujian, dia semakin terpacu melatih gaya berceritanya karena ada semacam tekanan dari karya sebelumnya; 2) Penulis yang berkembang karena kritikan, dia ingin gantian membalas hinaan mereka dengan karya bagus; dan 3) Penulis yang cenderung masa bodoh sama pendapat orang lain, tapi memiliki etos kerja yang tinggi. Yang nomor tiga ini termasuk langka. Saya sih yakin kamu itu tipe yang kedua, Dit.” 


Adityo hanya bisa sepakat dengannya. Jelas tidak mungkin dia berkembang karena pujian. Pujian yang ada malah berubah menjadi ujian bagi dirinya. Membuat orang terlena dan akhirnya menghancurkan. Walaupun tadinya dia sempat ingin protes bahwa dirinya ingin menjadi yang nomor tiga dan berharap termasuk orang spesial, tapi beberapa detik kemudian dia langsung sadar diri karena selama ini masih gemar menunda-nunda. Sampai kapan pun dia mungkin enggak akan bisa menjadi penulis yang nomor tiga karena semangatnya mudah pudar dan tak bisa cuek atas pendapat orang lain. 

Untuk membuktikan pendapat Gia benar kalau dirinya memang penulis yang tumbuh berkat kritikan, Adityo pun terkenang kejadian tiga tahun lalu, tepatnya saat Ahmad Rifai—salah seorang kawannya—mengajaknya bergabung ke suatu majalah daring. 

Adityo girang bukan main mendapat tawaran seperti itu dan lekas memberi tahu hal itu kepada Winda. Sebagai teman seperjuangan, Winda pun memujinya keren dan bertanya mau mengisi rubrik apa. Mulanya, Adityo bilang ingin belajar menulis fiksi, tapi Winda langsung mencegahnya dengan berkata, “Mending jangan deh, Dit. Enggak segampang itu menulis cerpen di majalah. Enggak sebebas di blog sebab ada batasan kata. Target pembaca majalah itu setahuku dewasa muda, bukan remaja lagi.” 

“Gitu, ya? Ya udah, kalau cerpen susah, aku bikinnya puisi.” 

“Gila, itu malah lebih susah lagi. Cari yang lain lagi coba kalau buat permulaan.” 

Adityo bingung kenapa Winda justru melarang-larangnya, lalu menanyakan alasannya. 

“Aku dulu juga sempat gabung di majalah itu. Percaya deh, mending sementara ini kamu belajar bikin esai atau ulasan sebelum terjun ke fiksi.” 

Adityo akhirnya memilih rubrik musik karena juga ingin belajar mengulas. Tidak sampai seminggu bergabung, dia langsung menyetor tulisan pertamanya sebagai pembuktian diri kalau bisa bekerja cepat. Adityo membuat ulasan album baru Efek Rumah Kaca, Sinestesia

Yang tak Adityo sangka, tulisannya itu mendapat banyak koreksi dari tim redaksi. Dari mulai diksi yang biasa saja, sampai gaya tulisan yang terlalu kaku. Saking banyaknya kesalahan, Adityo pun sampai dimaki-maki di bagian akhir. Kata mereka, cara menutup tulisannya buruk banget. Enggak memberikan kesan sama sekali kepada pembaca. Coba rajin-rajin baca Tesaurus biar kata-katanya enggak mentok sebatas itu. Bahkan salah satu editornya bilang begini: Kamu tuh sebenarnya bisa menulis enggak, sih? Yang kamu tulis ini tuh sampah! 

Adityo teramat marah saat membaca komentar para editornya. Sama marahnya seperti seekor laron yang sayapnya putus, sehingga tidak dapat terbang lagi. Adityo sedih bukan main tulisannya dibilang sampah. Sama sedihnya seperti membaca berita tentang Jalur Gaza, Palestina. 

Adityo betul-betul tak mengerti kenapa kritik mereka sangat menusuk dan pedas. Dia di situ statusnya padahal masih anak baru. Dia cuma berusaha bantu-bantu sekalian belajar dunia kepenulisan. Dia sampai-sampai bertanya dalam hati, bukankah majalah ini juga proyek sukarela? Dia pun tak dibayar andaikan tulisannya berhasil terbit. 

Adityo lantas teringat komentar Winda mengenai komentar yang harus memperhatikan konteksnya, tapi kenapa kini perlakuan mereka sampai segitunya terhadap anak baru? 

Adityo pun mencurahkan kejengkelannya kepada Winda sekalian meminta pendapat atas tulisannya. Respons yang dia dapat darinya: “Majalah kan punya standarnya sendiri, Dit. Mungkin tulisanmu belum memenuhi standar mereka. Tapi, jujur aja ya, Dit. Tulisanmu itu memang kaku dan jelek banget. Beda sama tulisanmu di blog yang menurutku lebih asyik. Kamu pas menulis itu terbebani apa, sih? Santai aja kayak biasanya. Jangan terbebani kata-kata baku. Toh, kata baku enggak mesti kaku, kok.” 

Kalau Winda juga sudah bilang begitu, apa boleh buat. Dia pun membaca ulang tulisannya dan menerima masukan-masukan dari mereka. Setelah membuang ego dan berusaha keras melihat keburukan tulisan sendiri, ternyata yang mereka katakan itu ada benarnya. Keesokan harinya Adityo pun langsung main ke Blok M Square demi mencari buku tesaurus yang murah. 

Adityo belum berani untuk menyetorkan tulisannya lagi. Dia mau latihan menjadi editor untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Kalau biasanya cuma 1-2 kali membaca ulang dan mengedit tulisan, semenjak mendapat kritik itu dia berusaha melakukan penyuntingan lebih dari tiga kali. Tiga minggu kemudian barulah dia membuang ketakutannya, membuat tulisan baru, dan siap dicaci-maki kembali. 

Rupanya, tulisan barunya itu hanya ada sedikit koreksi dari editornya. Editor yang waktu itu mengatakan tulisannya sampah pun secara tidak langsung malah memuji, “Nah, begini dong kalau menulis. Jauh lebih baik dari yang kemarin.” 

Bibir Adityo spontan tersenyum saat membacanya. 


“Gimana rasanya bergabung ke proyek majalah itu, Dit?” tanya Winda dua bulan berikutnya ketika mereka berjumpa kembali di salah satu acara bloger. 

Meskipun sampai majalah itu tutup enggak ada satu pun tulisannya yang berhasil tembus, dan dia jadi tak bisa memasukkannya sebagai portofolio, Adityo menjawab senang bergabung bersama mereka dalam waktu sesingkat itu. Waktu itu, tulisannya memang belum termasuk prioritas bagi majalah itu dan masih menunggu giliran terbit yang sialnya mendapat antrean paling buncit. 

“Yah, sayang banget dong, Dit.” 

“Aku sekarang udah enggak terlalu peduli, Win. Yang penting ada ilmu yang bisa kucuri dari mereka.” 

Adityo mengatakan kalimat barusan dengan sungguh-sungguh. Dia kini juga semakin paham bahwa kritik yang kelihatannya jahat itu niatnya pasti baik: memperbaiki kualitas tulisannya. 

Berkat kritik-kritik itu, Adityo pun berharap mental dia ke depannya bisa lebih tahan banting. Mungkin nanti dia enggak akan kaget lagi jika mendapatkan komentar pedas. Dia justru kegirangan. 

“Terus kamu masih tetap mau ngelanjutin rencana bikin buku setelah kejadian ini?” 

“Aku sih mau belajar lagi, Win. Kayaknya belum siap buat sekarang ini. Masih cemen banget ternyata,” ujarnya, lalu mentertawakan diri sendiri. “Kalau kamu sendiri?” 

“Aku juga masih takut buat bikin buku sendiri, Dit. Sampai sekarang baru sebatas antologi. Beraninya cuma pas keroyokan sama teman-teman.” 

“Kenapa alasannya?” 

Winda bilang kalau menulis bareng-bareng itu suka maupun dukanya bisa ditanggung bersama. Makanya dia berani. Tapi itu jelas soal lain. Alasan dia belum bikin buku sebenarnya karena buku mediumnya telah berbeda ketimbang blog. Jika tulisan di blog pembaca bisa mengaksesnya cuma dengan sedikit kuota. Walaupun tulisannya jelek dan bikin enggak puas, kemungkinan terburuknya palingan pengunjung itu malas mampir lagi. Itu pun masih enak karena komentar buruk yang masuk bisa dihapus seandainya kita enggak suka. Sedangkan tulisan yang sudah jadi buku, pembacanya pasti akan berbuat lebih kejam sebab mereka membayar. Terus ketika kecewa banget sama isinya, mereka pasti memberikan bintang satu di Goodreads. Membuat ulasan yang isinya ejekan, bahkan mengajak kawan-kawannya jangan membeli buku itu. 

“Omong-omong, sampai kapan kita bisa benar-benar siap bikin buku, ya?” tanya Winda. 

“Sampai kiamat mungkin, Win.” 

Mereka pun tertawa serentak. 


Adityo berpikir, apakah saat itu mereka sedang mentertawakan lelucon garing miliknya? Dia pikir bukan. Mereka tampaknya mentertawakan hal lain. Salah satunya mungkin tawa untuk mengejek pilihan mereka sendiri, kenapa memilih menjadi penulis yang sulitnya minta ampun ini. Lebih-lebih harus belajar seumur hidup demi bisa membuat karya yang bagus. Apakah mereka belum sadar kalau bayaran menulis itu, khususnya di Indonesia, sangat kurang layak? Barangkali karena mereka sudah telanjur cinta dunia tulis-menulis. 

Namun, seperti yang Adityo ketahui, Winda akhirnya mengubah haluannya itu. Dia mencari siasat dengan menjadi selebritas di Instagram agar tetap bertahan hidup. Blognya dia rombak habis-habisan. Dari yang mulanya fiksi, kini berevolusi menjadi serba-serbi tata rias wajah atau alat kecantikan. Adityo jelas tidak punya banyak pengikut seperti Winda. Sejujurnya, dia juga tidak cocok mengikuti jalan alternatif itu. Tidak mungkin kan Adityo berdandan? Dia seorang laki-laki tulen. 

Biarpun dia merasa masih bisa menjual tampang dan foto-foto OOTD (Outfit of the Day) sebagaimana para selebritas pria di luaran sana, tapi bisa saja di mata orang lain dia tak menarik alias parasnya tidak laku. Adityo membayangkan kala dirinya baru mengunggah satu foto OOTD, yang ada pengikutnya bakalan muntah melihatnya berpose dan memberi komentar begini, “Enggak usah sok ganteng lu, Bangsat! Najis gue ngelihat lu!” 

Adityo sudah tidak punya pilihan lain. Tidak ada jalan untuk mundur dan berhenti menulis. Dia harus terus maju, sekalipun garis finisnya tidak akan pernah kelihatan. Konyolnya, di balik betapa rumitnya proses menulis itu, orang-orang yang belum terjun langsung ke dunia tulis-menulis biasanya selalu menganggap hal itu gampang. Apalagi mereka yang sampai meremehkan bahasa Indonesia. Mereka dengan percaya dirinya bilang bahwa menulis bukanlah suatu keterampilan. 

Adityo memiliki tiga kata andalan untuk menanggapi orang-orang semacam itu: Banyak bacot, Anjing! 

Mengapa dia sampai sekesal itu? Mungkin karena Adityo betul-betul belajar menulis dari tahun 2015 tapi masih merasa belum becus sampai hari ini. Ketika dia mencoba mencari tahu dan bertanya kenapa menulis tidak termasuk keterampilan, salah satu dari mereka menjawab: semua orang bisa menulis. 

Jawaban yang sungguh aduhai. 

Baiklah, silakan kalian semua menulis. Biar aku yang jadi pembacanya. 

Adityo berkata seperti itu di dalam hatinya bermaksud menantang orang-orang yang songong. Seandainya dia kelak menemukan tulisan yang busuknya keterlaluan, dia tak akan segan-segan buat mengejeknya. 

Terbukti kini dia bisa menyaksikan sendiri akan fenomena belakangan ini di Twitter. Banyak orang yang rajin bikin thread atau utas. Ramai pula yang mengikutinya. Mereka seakan-akan menganggap dirinya hebat dan jago menyusun cerita lantaran banyak memperoleh respons. 

Adityo sebetulnya ingin berhenti peduli akan utas-utas yang mayoritas sampah tersebut. Tapi, kadang-kadang bisa jadi hiburan juga. Terlepas dari jeleknya mereka merangkai kata, Adityo sempat merasa heran, kenapa kebanyakan pembuatnya bilang kalau ceritanya itu nyata? Jelas-jelas dari cara mereka menyusun kalimat, sudah kelihatan palsunya. Sementara itu, Adityo yang sudah memberikan label fiksi di beberapa tulisan, lalu masih banyak pembaca yang menganggap kisah-kisahnya itu murni seratus persen pengalamannya sendiri. Manusia memang ada-ada saja. Yang asli dibilang palsu, yang palsu dianggap asli. Kalau boleh mengaku, Adityo kerap mencampuradukkan kenyataan dan fiksi di setiap cerpen-cerpennya. Masa bodoh pembaca mau menganggapnya bagaimana. Dia hanya ingin belajar menulis yang dapat membuat pembaca terlarut dalam cerita-ceritanya tanpa peduli apakah itu sungguh-sungguh terjadi. 

Adityo juga bingung, kenapa fiksi dan nonfiksi terkadang menjadi permasalahan bagi pembaca? Toh, apa pun bentuk tulisannya, kalau bagus mah bagus saja. Sayangnya, dia masih belum pantas bilang begitu karena tulisannya sendiri termasuk jelek. Setidaknya, dia termasuk orang yang sadar diri. Ketimbang mereka yang bangga mendapatkan ribuan retwit, padahal sebagian besar gaya berceritanya tidak lebih bagus dari seonggok tai tikus. 


Seusainya Adityo mengenang momen menggembirakan bersama Winda dan merenungi dunia kepenulisan, dia lantas membuka laptop dan mencatat hal-hal barusan ke perangkat lunak pengolah kata. Syukur-syukur nanti catatannya itu bisa diolah menjadi sebuah cerpen. Tapi dia sih enggak mau berharap banyak. Dia juga tak yakin kalau nanti ada pembaca yang tertarik dengan ceritanya. Apalagi kalau cerpen busuk itu dibuka dengan sebuah dialog, “Jadi editor enggak segampang itu.”


2018

--

Gambar diambil dari: https://pixabay.com/photos/live-your-dream-motivation-incentive-2045928/
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home