Editor Gadungan, Winda, dan Impian yang Terpaksa Dikubur

14 comments
Cerpen ini tadinya saya niatkan masuk ke buku Fragmen Penghancur Diri Sendiri. Saat proses membaca ulang dan menyunting, saya tiba-tiba menemukan beberapa alasan untuk membuangnya. Saya agak lupa apa saja alasannya waktu itu dan cuma dua yang sanggup saya ingat: 1) Kisah mengobrol tentang tulis-menulis di kereta komuter sudah ada di cerpen Bagaimana Sebuah Cerpen Dibuat—yang kini sudah saya hapus dari blog ini dan hanya tersedia di buku digital, 2) Sekalipun temanya berputar di dunia kepenulisan, tapi cerita yang membahas teknis kepenulisan terlalu banyak sepertinya membosankan di mata pembaca. 

Seandainya ketika membaca nanti kamu bisa menemukan bagian-bagian buruknya (yang mungkin menjadi alasan kenapa cerpen itu tak layak diikutsertakan ke dalam buku, lebih-lebih dijual), silakan tulis di kolom komentar. Namun, jika kamu malah menyukainya dan menganggapnya bagus, saya kira ada yang salah dengan penilaian saya terhadap karya sendiri. 



-- 

“Jadi editor enggak segampang itu,” ujar Winda sekitar tiga tahun silam. 

Adityo sedang asyik rebahan di kamarnya dan tak mengerti kenapa dari sekian banyak pikiran yang mondar-mandir justru perkataan itulah yang muncul terus-menerus di kepalanya. Lebih anehnya lagi, hari itu telah jauh berlalu dan Adityo masih saja sepakat dengan kalimat Winda. Mungkin karena sampai saat ini Adityo belum becus menyunting tulisan. Jangankan menjadi editor bagi orang lain, buat diri sendiri saja dia kerap tidak tegaan. Adityo termasuk manusia yang tidak enakan dan takut melukai hati penulisnya setiap kali mengomentari tulisan orang lain, padahal sebelumnya dia merupakan manusia yang jujur dan ceplas-ceplos. Adityo berubah begini tentu ada sebabnya. Semua ini terjadi pada tiga tahun silam, tepatnya satu hari sebelum Winda berkata bahwa jadi editor itu enggak gampang. 


“Kamu tahu apa kesalahan paling fatal dari komentarmu itu, Dit?” tanya Winda kepada Adityo ketika mereka sedang menunggu kereta komuter di jalur 6, Stasiun Tanah Abang. 

Sore itu mereka baru saja pulang meliput acara bloger di sekitaran Sudirman. Sekelarnya acara, Winda katanya lagi kepengin makan tomyam kelapa di daerah Sudimara (sebagai pengingat, Sudirman dan Sudimara itu berbeda wilayah meskipun namanya sekilas mirip) dan mengajak Adityo. Berhubung Adityo tadi datang rada telat dan tak sempat menyantap makan siang yang disediakan panitia, dia pun cuma bisa manut. Untuk itulah mereka sekarang berada di Stasiun Tanah Abang dan berbicara tentang dunia blog sembari menanti kedatangan kereta. 

Adityo mengawali obrolan dengan curahan hati atas rasa bersalah yang dia lakukan semalam. Malam itu Adityo habis jalan-jalan ke blog seseorang, sebut saja namanya Akbar. Di tulisan terbarunya itu, Akbar sedang membuat cerita bersambung dan sudah memasuki bagian ketiga. Adityo pun mencoba mengikutinya dari awal. Sewaktu membaca kisah pertamanya, Adityo langsung enggak sreg. Banyak kesalahan ketik, komedinya buruk sekali, isinya banyak dialog kurang penting, dan plotnya pun tidak jelas arahnya. Anehnya, Adityo berusaha memaksakan diri untuk menyelesaikannya. 

Kala itulah Adityo mengetik komentar yang berisikan kritik mengenai isi ceritanya. Di akhir komentar itu, dia menambahkan kata ‘semangat’ agar Akbar bisa menerima masukan orang lain dan terus belajar menulis. Namun pada pagi harinya ketika Adityo ingin mengecek komentar balasan, cerita bersambung itu lenyap dari blognya. Akbar malah bikin tulisan baru yang menyindir-nyindir Adityo: Jadi orang jangan sok editor! 


“Hei, Dit, tolong jawab pertanyaanku. Ini penting, tahu!” ujar Winda. 

Adityo entah kenapa bingung kalau ditanya tentang kesalahan begitu. Winda adalah seorang teman yang merangkap sebagai mentor menulisnya, tapi seolah-olah saat ini dia seperti sedang ditanya oleh pacarnya setiap kali habis berbuat kesalahan yang tidak dia sadari. 

“Aku komentarnya terlalu blak-blakan. Enggak menyampaikannya dengan halus. Intinya, kalimatku itu enggak persuasif sama sekali.” 

“Nah, berarti kamu sadar dong, kata ‘semangat’ di komentar itu enggak ada artinya?” 

Adityo enggak tahu harus menanggapi pertanyaan itu dengan kata-kata, sehingga cuma memberi anggukan. 

“Orang yang habis jatuh, enggak akan bisa langsung bangkit cuma dengan kata semangat, Dit. Kamu harus lihat-lihat orangnya dulu sebelum berkomentar.” 

“Aku kan sedang mencoba sepertimu yang bisa mengkritik dengan baik dan jujur.” 

“Iya, tapi enggak sembarangan juga. Pastikan dulu orangnya itu menyukai kritik. Yang paling fatal dari kesalahanmu, sih, karena dia baru belajar menulis. Dia mana siap kamu kasih komentar kayak begitu.” 

“Lah, aku juga lagi belajar, Win. Aku siap-siap aja tuh kamu caci-maki tulisannya.” 

“Beda, Bodoh. Aku komentar keras setiap mengoreksi tulisanmu karena kamu udah memercayakanku sebagai mentor menulis ataupun editor. Lagi pula, kita udah saling kenal. Kamu sama si Akbar itu kan sama-sama orang asing.” 

Winda bilang, saat memberi kritik itu mesti lihat-lihat lagi konteksnya. Jangan samakan orang yang sudah menulis satu tahun atau lebih dengan orang yang baru saja memulai. Kalau belum akrab-akrab banget, belum pernah ketemu, enggak usahlah komentar pedas dan sok tahu. Yang udah kenal baik aja masih bisa sakit hati pas dikritik, bagaimana dengan orang baru? Apalagi komentar dalam bentuk teks kerap kali bikin salah paham. 

Adityo pun berterima kasih kepada Winda karena sudah mau menegurnya. Adityo berupaya agar ke depannya dapat lebih berhati-hati ketika berkomentar. 

Terdengar suara khas klakson kereta dari agak kejauhan, sebuah tanda ketika kereta akan memasuki stasiun. Sewaktu kereta berhenti, para penumpang yang di dalam langsung bergegas keluar. Sebagian orang yang di luar ternyata berusaha menerobos masuk saat itu juga. 

Adityo masih tak mengerti sama orang-orang yang enggak sabaran seperti itu, padahal prioritasnya jelas-jelas penumpang yang mau turun. Keterlaluan sekali menyerobot antrean cuma karena ingin mendapatkan tempat duduk. Mereka berdua pun menunda melangkah sampai semua begundal itu naik. Lebih baik mereka berdua berdiri daripada berbuat tolol kayak orang-orang itu. 

Mereka tidak mengobrol sepatah kata pun selama di kereta. Jarak mereka pun sedikit terpisah. Posisi Winda berada sedikit menyerong di depannya. Adityo lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana kirinya, memasang penyuara kuping, dan memutar lagu The Trees and The Wild yang berjudul Malino

Ketika lagu berganti menjadi Empati Tamako (masih dari grup musik yang sama), Adityo melihat seorang pria bertopi hitam berusia sekitar tiga puluhan awal mendekati Winda dari sebelah kiri. Adityo berusaha memperhatikan orang itu dan menaruh curiga lantaran wajahnya terlihat mesum. Jangan-jangan dia itu pria cabul yang punya fetisisme sama cewek berjilbab dan gemar mencari korbannya di KRL? 

Dugaan Adityo itu ternyata benar, sebab tangan kanan orang itu bergerak perlahan-lahan ke arah bokong Winda. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mengetahui kalau posisi tangannya aman. Pria itu kayaknya bermaksud menyentuh atau mengelusnya seakan-akan perbuatannya tersebut tidak disengaja. Pria bertopi itu kini berusaha menunggu goncangan kereta agar aksinya berjalan mulus. 

Sebelum tindakan itu terjadi, Adityo berdeham. Pria itu mencari dari mana datangnya suara. Mata mereka pun akhirnya bertemu. Adityo segera memelototi pria itu. Tatapannya seolah-olah berkata: Berani kau sentuh dia, kuhantam kau sampai mati! 

Pria itu langsung menyimpan tangannya ke saku sweternya dan bergeser menjauh. Tak lama, pria itu pun turun di Stasiun Pondok Ranji. Mungkin ingin mencari korban lain. 


Adityo tak ingin menceritakan hal itu kepada Winda. Dia takut seandainya Winda nanti trauma naik kereta komuter lagi. Diam-diam dia hanya bisa mendoakan semoga Winda bisa tetap aman. Tak ada lagi manusia berengsek yang berniat melecehkannya. 

Sekitar sepuluh menit kemudian, pengeras suara mewartakan kalau kereta sebentar lagi akan tiba di Stasiun Sudimara. Mereka berdua segera bergegas turun. Begitu keluar stasiun dan sedang menunggu angkot berwarna putih yang menuju Warung Tomyam Kelapa, Winda tiba-tiba bilang, “Kemarin kalau enggak salah aku juga sempat lihat komentar kamu di salah satu blog. Kamu di situ mengoreksi penggunaan ‘di’ sama tipo.” 

“Terus kenapa?” 

“Penting banget apa hal itu buatmu? Kayak orang kurang kerjaan, tahu.” 

“Habisan mataku gatal setiap kali lihat tipo, Win. Selain jadi penulis, niatnya, sih, aku juga mau jadi editor.” 

“Jadi editor enggak segampang itu, wahai Adityo Pratomo-temanku-yang-setiap-kali-dikasih-tahu-suka-ngeyel.” 

“Tapi yang kayak begitu kerjaan editor kan, Win?” 

“Bukan, itu mah tugas proofreader.” 

Adityo selama ini menganggap yang mengoreksi kesalahan ketik dan tata bahasa itu editor. 

Anjing, malu betul rasanya. 


Kondisi angkot yang mereka naiki terbilang sepi. Sebelum mereka berdua naik, cuma ada dua orang: satu supir dan satu penumpang di sebelahnya. Tapi hal itu ada bagusnya. Mereka pun bisa melanjutkan obrolan di dalam angkot tanpa merasa risih. Berkat obrolan bersama Winda, akhirnya Adityo jadi belajar satu hal: editor dan penyelaras akhir itu berbeda. Di dalam hatinya, Adityo sampai memberi julukan kepada dirinya sendiri: Sang Penulis Gadungan yang Baru Sedikit Wawasan, tapi Banyak Sok Tahunya. 

Ketika Adityo lagi mengutuk diri sendiri di dalam hati atas ketidaktahuan dalam urusan tulis-menulis, Winda entah mengapa malah memujinya, bahwa mata Adityo memang cukup awas sewaktu membaca tulisan. Nanti Winda mau meminta tolong kepadanya supaya mengoreksi tulisan-tulisannya, khususnya tulisan untuk klien dan lomba. Jadi, mereka bisa saling mengomentari tulisan masing-masing. 

Mantap, simbiosis mutalisme telah terjalin. Hal itu pun lumayan mengobati kekesalan Adityo terhadap diri sendiri. 

Selain itu, Winda memberikan Adityo saran agar besok-besok mengurangi, atau kalau perlu menghilangkan kebiasaan mengoreksi salah ketik di kolom komentar blog orang lain. Enggak usah repot-repot membetulkan penggunaan “di” kata depan dan awalan yang sering tertukar. 

Kalau kamu memang pengin memberi tahu tentang kekeliruan itu, kata Winda, kenapa enggak buat tulisan khusus di blog sendiri aja? Daripada harus kasih tahu mereka satu per satu. 

Ide Winda boleh juga, pikir Adityo. 


Jika tak salah ingat, sekarang ini Adityo sudah tak pernah lagi mengomentari hal-hal seperti itu. Dia tidak mau sok editor (eh, proofreader) lagi. Setiap kali menemukan orang-orang di sekitar yang senang membetulkan kesalahan pada tulisan orang lain, Adityo cuma bisa menyengir sebab mereka mengingatkan kepada dirinya yang dulu, sang editor gadungan. 

Sebelumnya, Adityo berpikir hal yang semacam itu sudah kelewatan. Rupanya masih ada yang lebih konyol dari kelakukannya itu, yakni orang-orang yang sudah bermaksud mengoreksi tata bahasa orang lain, tetapi dirinya sendiri masih keliru. 

Sebulan yang lalu, Budi—salah satu kenalannya di Twitter—membuat twit yang terdapat kata ‘menyejahterakan’. Lalu, ada seseorang yang tiba-tiba menyambar twitnya, bermaksud mengoreksi kalimat Budi, “Itu ‘mensejahterakan’ kali yang bener!” 

Budi membalas, “Sebelum berkomentar, kamu mending cek KBBI lagi, Kak.” 

Tak lama sehabis itu, Budi bikin twit baru sebuah gambar hasil screenshot—yang menjelaskan bahwa si pengoreksi tadi langsung memblokir Budi. 

Mungkin orang itu lupa kalau kata dasar berawalan K, P, S, dan T yang huruf keduanya vokal, akan menjadi lebur setelah mendapatkan imbuhan me-. Jika huruf keduanya konsonan, barulah kata itu tidak berubah. Syukurlah Adityo langsung paham saat pertama kali melihat contohnya di sebuah artikel. Kata “kurung” huruf K-nya lebur dan menjadi ‘mengurung’, bukan ‘mengkurung’; sedangkan “kritik” huruf K-nya tetap ada dan menjadi ‘mengkritik’, bukan ‘mengritik’. Kentara betul perbedaannya. 

Adityo pun berpikir kejadian itu mirip sebagaimana seorang murid di perguruan kungfu yang baru menguasai suatu jurus serangan maut tanpa memperhatikan teknik penting lainnya, tapi anehnya langsung ingin pamer dan menantang orang-orang berkelahi. Sehabis bertarung malahan dia yang akhirnya babak belur dan kalah. 


Sesampainya mereka di Warung Tomyam Kelapa, Winda dan Adityo terkejut mendapati warungnya tutup. 

“Yah, ada apa nih tumben tutup begini?” ujar Winda. 

“Jangan tanya sama aku. Tanya pemiliknya dong, Win, kan kamu punya kontaknya. Lagian, kamu tadi pas mau ke sini enggak tanya-tanya dulu sama pemiliknya?” 

Winda menggeleng dan cengengesan. 

“Cerdas banget.” 

Winda tertawa lagi, lantas meminta maaf. 

“Terus sekarang mau balik lagi? Tapi kita udah jauh-jauh ke sini, masa enggak jadi makan?” 

Winda menjawab dengan ajakan makan di sebuah warung bakso yang masih di dekat-dekat situ. 

Selebihnya, tak ada pembicaraan yang penting kecuali mereka sama-sama berjanji untuk menerbitkan buku (entah kumpulan cerpen, novel, atau novelet) paling lambat satu tahun kemudian. Mereka sepakat untuk saling kritik atas naskah tersebut sebelum dikirimkan ke penerbit ataupun diterbitkan mandiri. 


Tiga tahun telah berlalu dan Adityo masih saja takut untuk menulis buku pertamanya. Mungkin karena dia menggeluti dunia ini lebih mendalam, sehingga mulai menemukan banyak kecacatan dalam tulisannya selama tiga tahun itu. Misalnya, terlalu bertele-tele dalam bercerita. Sepertinya bagian ini hal yang paling kentara setiap kali dia mengevaluasi tulisan-tulisannya sendiri. Jumlah kata yang mestinya dapat ditulis sebanyak satu atau dua kalimat, bisa-bisanya malah dibuat menjadi satu paragraf. 

Suatu hari ketika sedang membaca ulang draf tulisan, Adityo pernah sadar untuk menyunting 500 kata menjadi 150-200 kata demi keefektifan kalimat. Tapi ujung-ujungnya, dia masih berusaha mempertahankannya menjadi 400 kata. Rasa tidak tegaan ini menjengkelkan sekali baginya. Dia seharusnya bisa lebih keras dan kejam kepada diri sendiri. Bukan malah lembek seperti beras pulen yang kebanyakan air saat dimasak. Mungkin sampai saat ini dia memang belum pantas menjadi seorang editor, dan lebih cocok sebagai penyelaras akhir yang cuma bisa memeriksa kesalahan ketik. 

Berbeda dengan Adityo, Winda justru telah membanting setir menjadi selebritas di Instagram. Adityo tak pernah berani menanyakan apakah keinginan bikin buku itu masih tersimpan di hatinya. Dua tahun belakangan ini mereka hampir tidak pernah bertemu maupun mengobrol lagi. Mereka bahkan sudah tak seakrab dulu lagi. 

Sialan, umpat Adityo sewaktu mengenang kebersamaan mereka dulu. Dia membatin, sedih juga ternyata kehilangan teman diskusi sekaligus mentor menulis. 

Kini, Adityo tak punya pilihan lain selain belajar sendiri. Mau bagaimana lagi, selama ini tak banyak orang yang mau mengomentari, lebih-lebih mengkritik tulisannya. Dari sedikit itu saja, sejauh ini dia baru percaya sama penilaian tiga orang. Winda Khaerani yang sempat dia ceritakan saat kilas balik itu, dan dua lainnya: Gia Agustian dan Adis Wahyudi. 

Adityo tiba-tiba teringat kalau Gia pernah bilang begini kepadanya: 

“Ada tiga macam penulis: 1) Penulis yang berkembang berkat pujian, dia semakin terpacu melatih gaya berceritanya karena ada semacam tekanan dari karya sebelumnya; 2) Penulis yang berkembang karena kritikan, dia ingin gantian membalas hinaan mereka dengan karya bagus; dan 3) Penulis yang cenderung masa bodoh sama pendapat orang lain, tapi memiliki etos kerja yang tinggi. Yang nomor tiga ini termasuk langka. Saya sih yakin kamu itu tipe yang kedua, Dit.” 


Adityo hanya bisa sepakat dengannya. Jelas tidak mungkin dia berkembang karena pujian. Pujian yang ada malah berubah menjadi ujian bagi dirinya. Membuat orang terlena dan akhirnya menghancurkan. Walaupun tadinya dia sempat ingin protes bahwa dirinya ingin menjadi yang nomor tiga dan berharap termasuk orang spesial, tapi beberapa detik kemudian dia langsung sadar diri karena selama ini masih gemar menunda-nunda. Sampai kapan pun dia mungkin enggak akan bisa menjadi penulis yang nomor tiga karena semangatnya mudah pudar dan tak bisa cuek atas pendapat orang lain. 

Untuk membuktikan pendapat Gia benar kalau dirinya memang penulis yang tumbuh berkat kritikan, Adityo pun terkenang kejadian tiga tahun lalu, tepatnya saat Ahmad Rifai—salah seorang kawannya—mengajaknya bergabung ke suatu majalah daring. 

Adityo girang bukan main mendapat tawaran seperti itu dan lekas memberi tahu hal itu kepada Winda. Sebagai teman seperjuangan, Winda pun memujinya keren dan bertanya mau mengisi rubrik apa. Mulanya, Adityo bilang ingin belajar menulis fiksi, tapi Winda langsung mencegahnya dengan berkata, “Mending jangan deh, Dit. Enggak segampang itu menulis cerpen di majalah. Enggak sebebas di blog sebab ada batasan kata. Target pembaca majalah itu setahuku dewasa muda, bukan remaja lagi.” 

“Gitu, ya? Ya udah, kalau cerpen susah, aku bikinnya puisi.” 

“Gila, itu malah lebih susah lagi. Cari yang lain lagi coba kalau buat permulaan.” 

Adityo bingung kenapa Winda justru melarang-larangnya, lalu menanyakan alasannya. 

“Aku dulu juga sempat gabung di majalah itu. Percaya deh, mending sementara ini kamu belajar bikin esai atau ulasan sebelum terjun ke fiksi.” 

Adityo akhirnya memilih rubrik musik karena juga ingin belajar mengulas. Tidak sampai seminggu bergabung, dia langsung menyetor tulisan pertamanya sebagai pembuktian diri kalau bisa bekerja cepat. Adityo membuat ulasan album baru Efek Rumah Kaca, Sinestesia

Yang tak Adityo sangka, tulisannya itu mendapat banyak koreksi dari tim redaksi. Dari mulai diksi yang biasa saja, sampai gaya tulisan yang terlalu kaku. Saking banyaknya kesalahan, Adityo pun sampai dimaki-maki di bagian akhir. Kata mereka, cara menutup tulisannya buruk banget. Enggak memberikan kesan sama sekali kepada pembaca. Coba rajin-rajin baca Tesaurus biar kata-katanya enggak mentok sebatas itu. Bahkan salah satu editornya bilang begini: Kamu tuh sebenarnya bisa menulis enggak, sih? Yang kamu tulis ini tuh sampah! 

Adityo teramat marah saat membaca komentar para editornya. Sama marahnya seperti seekor laron yang sayapnya putus, sehingga tidak dapat terbang lagi. Adityo sedih bukan main tulisannya dibilang sampah. Sama sedihnya seperti membaca berita tentang Jalur Gaza, Palestina. 

Adityo betul-betul tak mengerti kenapa kritik mereka sangat menusuk dan pedas. Dia di situ statusnya padahal masih anak baru. Dia cuma berusaha bantu-bantu sekalian belajar dunia kepenulisan. Dia sampai-sampai bertanya dalam hati, bukankah majalah ini juga proyek sukarela? Dia pun tak dibayar andaikan tulisannya berhasil terbit. 

Adityo lantas teringat komentar Winda mengenai komentar yang harus memperhatikan konteksnya, tapi kenapa kini perlakuan mereka sampai segitunya terhadap anak baru? 

Adityo pun mencurahkan kejengkelannya kepada Winda sekalian meminta pendapat atas tulisannya. Respons yang dia dapat darinya: “Majalah kan punya standarnya sendiri, Dit. Mungkin tulisanmu belum memenuhi standar mereka. Tapi, jujur aja ya, Dit. Tulisanmu itu memang kaku dan jelek banget. Beda sama tulisanmu di blog yang menurutku lebih asyik. Kamu pas menulis itu terbebani apa, sih? Santai aja kayak biasanya. Jangan terbebani kata-kata baku. Toh, kata baku enggak mesti kaku, kok.” 

Kalau Winda juga sudah bilang begitu, apa boleh buat. Dia pun membaca ulang tulisannya dan menerima masukan-masukan dari mereka. Setelah membuang ego dan berusaha keras melihat keburukan tulisan sendiri, ternyata yang mereka katakan itu ada benarnya. Keesokan harinya Adityo pun langsung main ke Blok M Square demi mencari buku tesaurus yang murah. 

Adityo belum berani untuk menyetorkan tulisannya lagi. Dia mau latihan menjadi editor untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Kalau biasanya cuma 1-2 kali membaca ulang dan mengedit tulisan, semenjak mendapat kritik itu dia berusaha melakukan penyuntingan lebih dari tiga kali. Tiga minggu kemudian barulah dia membuang ketakutannya, membuat tulisan baru, dan siap dicaci-maki kembali. 

Rupanya, tulisan barunya itu hanya ada sedikit koreksi dari editornya. Editor yang waktu itu mengatakan tulisannya sampah pun secara tidak langsung malah memuji, “Nah, begini dong kalau menulis. Jauh lebih baik dari yang kemarin.” 

Bibir Adityo spontan tersenyum saat membacanya. 


“Gimana rasanya bergabung ke proyek majalah itu, Dit?” tanya Winda dua bulan berikutnya ketika mereka berjumpa kembali di salah satu acara bloger. 

Meskipun sampai majalah itu tutup enggak ada satu pun tulisannya yang berhasil tembus, dan dia jadi tak bisa memasukkannya sebagai portofolio, Adityo menjawab senang bergabung bersama mereka dalam waktu sesingkat itu. Waktu itu, tulisannya memang belum termasuk prioritas bagi majalah itu dan masih menunggu giliran terbit yang sialnya mendapat antrean paling buncit. 

“Yah, sayang banget dong, Dit.” 

“Aku sekarang udah enggak terlalu peduli, Win. Yang penting ada ilmu yang bisa kucuri dari mereka.” 

Adityo mengatakan kalimat barusan dengan sungguh-sungguh. Dia kini juga semakin paham bahwa kritik yang kelihatannya jahat itu niatnya pasti baik: memperbaiki kualitas tulisannya. 

Berkat kritik-kritik itu, Adityo pun berharap mental dia ke depannya bisa lebih tahan banting. Mungkin nanti dia enggak akan kaget lagi jika mendapatkan komentar pedas. Dia justru kegirangan. 

“Terus kamu masih tetap mau ngelanjutin rencana bikin buku setelah kejadian ini?” 

“Aku sih mau belajar lagi, Win. Kayaknya belum siap buat sekarang ini. Masih cemen banget ternyata,” ujarnya, lalu mentertawakan diri sendiri. “Kalau kamu sendiri?” 

“Aku juga masih takut buat bikin buku sendiri, Dit. Sampai sekarang baru sebatas antologi. Beraninya cuma pas keroyokan sama teman-teman.” 

“Kenapa alasannya?” 

Winda bilang kalau menulis bareng-bareng itu suka maupun dukanya bisa ditanggung bersama. Makanya dia berani. Tapi itu jelas soal lain. Alasan dia belum bikin buku sebenarnya karena buku mediumnya telah berbeda ketimbang blog. Jika tulisan di blog pembaca bisa mengaksesnya cuma dengan sedikit kuota. Walaupun tulisannya jelek dan bikin enggak puas, kemungkinan terburuknya palingan pengunjung itu malas mampir lagi. Itu pun masih enak karena komentar buruk yang masuk bisa dihapus seandainya kita enggak suka. Sedangkan tulisan yang sudah jadi buku, pembacanya pasti akan berbuat lebih kejam sebab mereka membayar. Terus ketika kecewa banget sama isinya, mereka pasti memberikan bintang satu di Goodreads. Membuat ulasan yang isinya ejekan, bahkan mengajak kawan-kawannya jangan membeli buku itu. 

“Omong-omong, sampai kapan kita bisa benar-benar siap bikin buku, ya?” tanya Winda. 

“Sampai kiamat mungkin, Win.” 

Mereka pun tertawa serentak. 


Adityo berpikir, apakah saat itu mereka sedang mentertawakan lelucon garing miliknya? Dia pikir bukan. Mereka tampaknya mentertawakan hal lain. Salah satunya mungkin tawa untuk mengejek pilihan mereka sendiri, kenapa memilih menjadi penulis yang sulitnya minta ampun ini. Lebih-lebih harus belajar seumur hidup demi bisa membuat karya yang bagus. Apakah mereka belum sadar kalau bayaran menulis itu, khususnya di Indonesia, sangat kurang layak? Barangkali karena mereka sudah telanjur cinta dunia tulis-menulis. 

Namun, seperti yang Adityo ketahui, Winda akhirnya mengubah haluannya itu. Dia mencari siasat dengan menjadi selebritas di Instagram agar tetap bertahan hidup. Blognya dia rombak habis-habisan. Dari yang mulanya fiksi, kini berevolusi menjadi serba-serbi tata rias wajah atau alat kecantikan. Adityo jelas tidak punya banyak pengikut seperti Winda. Sejujurnya, dia juga tidak cocok mengikuti jalan alternatif itu. Tidak mungkin kan Adityo berdandan? Dia seorang laki-laki tulen. 

Biarpun dia merasa masih bisa menjual tampang dan foto-foto OOTD (Outfit of the Day) sebagaimana para selebritas pria di luaran sana, tapi bisa saja di mata orang lain dia tak menarik alias parasnya tidak laku. Adityo membayangkan kala dirinya baru mengunggah satu foto OOTD, yang ada pengikutnya bakalan muntah melihatnya berpose dan memberi komentar begini, “Enggak usah sok ganteng lu, Bangsat! Najis gue ngelihat lu!” 

Adityo sudah tidak punya pilihan lain. Tidak ada jalan untuk mundur dan berhenti menulis. Dia harus terus maju, sekalipun garis finisnya tidak akan pernah kelihatan. Konyolnya, di balik betapa rumitnya proses menulis itu, orang-orang yang belum terjun langsung ke dunia tulis-menulis biasanya selalu menganggap hal itu gampang. Apalagi mereka yang sampai meremehkan bahasa Indonesia. Mereka dengan percaya dirinya bilang bahwa menulis bukanlah suatu keterampilan. 

Adityo memiliki tiga kata andalan untuk menanggapi orang-orang semacam itu: Banyak bacot, Anjing! 

Mengapa dia sampai sekesal itu? Mungkin karena Adityo betul-betul belajar menulis dari tahun 2015 tapi masih merasa belum becus sampai hari ini. Ketika dia mencoba mencari tahu dan bertanya kenapa menulis tidak termasuk keterampilan, salah satu dari mereka menjawab: semua orang bisa menulis. 

Jawaban yang sungguh aduhai. 

Baiklah, silakan kalian semua menulis. Biar aku yang jadi pembacanya. 

Adityo berkata seperti itu di dalam hatinya bermaksud menantang orang-orang yang songong. Seandainya dia kelak menemukan tulisan yang busuknya keterlaluan, dia tak akan segan-segan buat mengejeknya. 

Terbukti kini dia bisa menyaksikan sendiri akan fenomena belakangan ini di Twitter. Banyak orang yang rajin bikin thread atau utas. Ramai pula yang mengikutinya. Mereka seakan-akan menganggap dirinya hebat dan jago menyusun cerita lantaran banyak memperoleh respons. 

Adityo sebetulnya ingin berhenti peduli akan utas-utas yang mayoritas sampah tersebut. Tapi, kadang-kadang bisa jadi hiburan juga. Terlepas dari jeleknya mereka merangkai kata, Adityo sempat merasa heran, kenapa kebanyakan pembuatnya bilang kalau ceritanya itu nyata? Jelas-jelas dari cara mereka menyusun kalimat, sudah kelihatan palsunya. Sementara itu, Adityo yang sudah memberikan label fiksi di beberapa tulisan, lalu masih banyak pembaca yang menganggap kisah-kisahnya itu murni seratus persen pengalamannya sendiri. Manusia memang ada-ada saja. Yang asli dibilang palsu, yang palsu dianggap asli. Kalau boleh mengaku, Adityo kerap mencampuradukkan kenyataan dan fiksi di setiap cerpen-cerpennya. Masa bodoh pembaca mau menganggapnya bagaimana. Dia hanya ingin belajar menulis yang dapat membuat pembaca terlarut dalam cerita-ceritanya tanpa peduli apakah itu sungguh-sungguh terjadi. 

Adityo juga bingung, kenapa fiksi dan nonfiksi terkadang menjadi permasalahan bagi pembaca? Toh, apa pun bentuk tulisannya, kalau bagus mah bagus saja. Sayangnya, dia masih belum pantas bilang begitu karena tulisannya sendiri termasuk jelek. Setidaknya, dia termasuk orang yang sadar diri. Ketimbang mereka yang bangga mendapatkan ribuan retwit, padahal sebagian besar gaya berceritanya tidak lebih bagus dari seonggok tai tikus. 


Seusainya Adityo mengenang momen menggembirakan bersama Winda dan merenungi dunia kepenulisan, dia lantas membuka laptop dan mencatat hal-hal barusan ke perangkat lunak pengolah kata. Syukur-syukur nanti catatannya itu bisa diolah menjadi sebuah cerpen. Tapi dia sih enggak mau berharap banyak. Dia juga tak yakin kalau nanti ada pembaca yang tertarik dengan ceritanya. Apalagi kalau cerpen busuk itu dibuka dengan sebuah dialog, “Jadi editor enggak segampang itu.”


2018

--

Gambar diambil dari: https://pixabay.com/photos/live-your-dream-motivation-incentive-2045928/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

14 comments

  1. Gue juga dulu sempat mengira kalau Purwakarta dan Purwokerto itu satu tempat yang sama. Hahaha.

    Eh gue jadi malu deh baca tulisan lo ini, Yog, soalnya pernah juga ada di posisi merasa lebih tau dari yang lain soal mana yang bener/baku kalau nulis. Untung cepet sadar haha. Terus gue juga berkali-kali kehilangan semangat buat bikin novel lagi. Kadang semangatnya ada, idenya yang entah di mana. Oh iya, soal penghasilan penulis yang kurang menjanjikan itu, gue rasa gue akan lebih mementingkan kepuasan setelah berhasil menerbitkan novel sendiri daripada harus mikirin sisi materinya. Buat gue enggak ada yang lebih bikin bahagia ketika berhasil melakukan sesuatu atas dasar senang, suka, bahagia.

    Udah ah, gue kan jarang komentar panjang di blog orang ya, dan ini udah panjang banget. Kayaknya ini komentar terpanjang selama gue blogwalking.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentar saya sudah terwakili oleh Firman. Cuma mau menambahkan dua hal, (1) Mantap betul ini Adityo Pratomo! dan (2) cowok tulen sebetulnya bisa dandan, lo.*

      *kalau tampangnya setampan personel BTS memang.

      Delete
    2. Firman: Gue juga termasuk kalau itu mah. Gue malu banget sih, itu kentara jelas tulisannya buat ngatain diri sendiri. Hahaha.

      Stok ide dan draf sih alhamdulillah termasuk banyak, tapi fokus sama satu hal dan menulis sampai rampung yang bikin susahnya. Suram.

      Iya, rasa lega telah berhasil menyelesaikan sesuatu itu kayak enggak bisa dinilai dengan uang. Bikin girang banget. Beberapa orang bilang juga duit termasuk bonus aja. Tapi sebagian orang pasti pengin realistis juga. Ada keinginan dibayar sepadan atas kerja kerasnya. Haha.

      Gigip: Jenis dandanannya gimana? Betulan merias wajah kayak perempuan? Yang terpikirkan di kepala gue paling-paling kayak vokalis band metal kalau cowok dandan.

      Delete
    3. Oke, sampai sini gue asumsikan Gigip dan Yoga belum pernah liat foto gue habis dandan. Hahahaha

      Delete
  2. Wkkkk, ngebaca ini jadi semacam kayak sentilan , tetiba gw ngerasa mirip sama Adityo deh gegara dulu sering blak-blakan ngeproofreaderin tulisan orang di blog yang banyak typo atau blom ngeh pemisahan antara di sebagai awalan atau di yang merujuk kata tempat, jadi pend malu gw, tobat ah ahah #padahal gw sejujurnya baru tau istilah penyelaras akhir alias proofreader ya abis baca tulisanmu ini yog, hahaaa

    Eh tapi yah, gw pun sama juga kayak adityo, yaitu masih suka ga tega mangkas kalimat2 ga penting dlm tulisan sendiri. Masiiiih tetep aja mertahanin banyak kalimat, jadi tiap paragrafnya tuh tulisan gw sering kliatan penuh...tapi klo soal nyunting tulisan sendiri gw bukan 3-4 kali lg, bisa puluhan kali biar kata uda dipublish dan kadang masih kerasa jelek juga, anehnya gw tetep pede nulis hahaaa...

    Gw pun kadang sama jg kayak adityo yaitu perkara masih suka kzl tiap dikritik pedes ama orang yg ga dikenal2 bgt, jadi kyk beras pulen yg kena aer jadinya hati langsung ambyar deh misal dapet kata2 pedes haha, tapi ga yang langsung kayak adityo juga yang lantas bikin tulisan baru sambil ngehapus tulisan lama yang kena kritikan itu sih, paling ngedumelnya dalam ati tok sambil ke depan mikir berubah ke arah yang lebih baik walaupun susah.

    Oh ya, adityo juga mirip si yoga tuh...yoga akbar solihin yang kadang kejam ama diri sendiri bab kepenulisan, tinggal nyari windanya aja deh, siapa kiranya sosok winda yang kini berubah menjadi selebgram kheuseus beauty atau tutorial make up...

    Tapi klo liat di cerpennya, keknya berkat si winda yang bak mentor dan selalu asyik diajak diskusi ini, bisa jadi tuh timbul benih2 suka antara si adityo ama si windanya #laaaah knp gw malah jadi menduga2 gini ya, lah itu buktinya pas si winda mau dijadiin korban kemesuman orang di kereta, si adityo sampe melototin orangnya segala...sampe ngedoain agar pas naek kereta lg, winda ga ketemu orang kek gitu lagi...xixixi

    Tapi gw juga suka heran sih, knapa ya pas kereta berhenti orang yang ga sabaran itu justru yang mau masuk, tungguin bentar kek orang yang mau turun.. jadinya kan ga ada acara saling bertumburan, #eh hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, enggak apa-apa, Mbak. Kata motivator di luaran sana kan learning by doing. Toh, percaya diri memang penting. Jadi terus berlatih aja, sedikit-sedikit pasti ada progresnya.

      Enggak usah dicari si Winda mah. Belum tentu ada di kenyataan. XD

      Perihal sikap melindungi Winda dari orang cabul bukannya udah jadi tugas seorang teman, ya? Siapa sih yang rela teman baiknya dilecehkan? Konteks melindungi enggak ke pacar aja, sih. Hahaha. Tapi pembaca pun bebas berasumsi ke arah sana.

      Delete
  3. Saya gak berani ngomentarin apa2 kalo soal kepenulisan, tidak layak berkomentar.

    Ngomongin winda, tadinya saya pikir ketika adityo dan winda sudah jarang komunikasi, adityo nya merasa kehilangan dan baru sadar kalau ternyata dia suka winda. Ftv banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, boleh-boleh aja sih berpikir ke sana. Sayangnya, di tulisan ini enggak dijelaskan lebih jauh, dia cuma kangen bisa diskusi bareng.

      Delete
  4. Seumur-umur ngeblog, saya kayaknya belum pernah berkomentar masalah "di" digunakan sebagai imbuhan atau kata depan, sih. Ya karena saya sendiri, jujur, kadang masih bingung. Hahaha. Seringnya paling ngomentari masalah typo. Dan bener memang, kalau dipikir-pikir, sok iye banget ini gue. Diri sendiri aja masih belepotan nulis, malah sok-sokan ngomentari hal receh macam ini di tulisan orang lain. Hedeh...

    Yang saya inget dan menurut saya agak ngganggu tadi di bagian njelasin peleburan KTSP terus langsung ke warung tomyam, apa ya? Tadi sempet membatin : eh, tadi paragraf sebelum ini apa ya, kok tiba-tiba warung tom yam tutup. *aduh, komentar saya sok iye ini sepertinya--ampun, Yog...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak apa-apa juga, sih. Biasanya pasti pernah komentar masalah tipo ketika di tulisan yang kamu baca tumben banyak kesalahan ketik dibanding sebelumnya.

      Bagian KTSP sesungguhnya apa banget, segala masuk ke cerpen. Makanya saya bilang di awwl tulisan, kenapa cerita ini enggak layak masuk ke buku.

      Sebetulnya saya malas menjelaskan tulisan yang udah terbit, tapi daripada pembaca bingung, ya saya jawab aja.

      Itu sesungguhnya kan mereka lagi di angkot menuju warung tomyam. Mereka mengobrol bahas tulisan. Si protagonis merasa malu dengan kelakuannya yang sok editor itu, terus dia teringat kejadian lain yang ujungnya mempermasalahkan KTSP.

      Mungkin transisinya kurang halus, ya? Tiba-tiba sampai aja, mana tutup pula. Ini kisah memang banyak enggak jelasnya. Cuma jika boleh kasih bocoran, itu semacam metafora, Wis. Berkaitan dengan impian mereka bikin buku. Tujuannya mau jadi penulis, setelah dijalani justru ada kondisi yang memaksa buat menggeser impian. Mirip kayak tujuan makan tomyam, eh malah jadinya bakso. Mereka terpaksa mengubah rencana yang penting enggak kelaparan.

      Mungkin hal kayak begitu enggak ketangkap di benak pembaca, ya? Hahaha. Masih payah saya untuk menyelundupkan makna.

      Delete
  5. gue enggak bisa relate sama tokoh Adityo ini. karena sampai sekarang, belum pernah melakukan hal seperti itu. hahah
    lah, gue nya aja masih susah mempraktekkannya, masa udah sotoy.
    paling, cuma sama temen deket doang. itu pun sambil becanda. untuk urusan tanda baca aja.
    pusing juga soalnya kalo enggak ada tanda koma di tulisannya. padahal cuma baca, tapi berasa ngos-ngosan pas baca. hahah

    cerpen ini alur ceritanya, maju-mundur gitu kan ya, Yog?
    sejauh ini, yang gue tangkep sih gitu.
    hehe
    maapkeun kalo salah

    ini udah masuk cerpen yang keberapa yang lu tulis, Yog?
    sampai sekarang, mau nulis cerpen rasanya males banget uy gue.
    kayaknya harus nyoba lagi buat nulis cerpen. meskipun nanti hasilnya bakalan ampas banget sih. ehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ceritanya kilas balik gitu karena terpicu perkataan seseorang.

      Enggak pernah berhitung, sih. Mungkin puluhan ya. Tapi kayaknya belum lebih dari 60 totalnya. Ampas atau enggaknya tergantung penilaian pembaca. Cerpen yang gue anggap busuk aja pernah dibilang bermanfaat sama salah seorang pembaca.

      Delete
  6. Jadi sok editor ini kadang penyakitku. Kebiasaan membetulkan tulisan murid-murid akhirnya kebawa pas baca tulisan di blog atau medsos. Padahal ya enggak perlu dibetulkan banget.

    Editor yang asyik sih menurutku bisa memuji dan mengkritik dalam satu frame. Beruntung kemarin dapat editor di StXXXX mbaknya asyik sih. Kalau membetulkan dan mengoreksi selalu habis memberi keunggulan tulisan. Padahal yang harus dikoreksi ya banyak sekali. Dan, tipo adalah koreksi utama.

    Iya, penulis yang bodo amat adalah penulis langka. Yang enggak baperan, baik dipuji maupun dikiritik yang penting nulis dan nulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bisa memberi tahu mana yang baik dan buruk dalam tulisannya.

      Kapan ya bisa semasa bodoh itu?

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.