Permainan Virtual dan Jessica

13 comments
Perasaan bersalah karena pernah menghina teman sekelas—yang kini telah tiada—semakin menerbangkan ingatan saya jauh ke masa lampau. Lima bulan sebelum melontarkan makian enggak punya otak, ternyata saya juga pernah mencemooh pacar sendiri dengan sebutan alay. Memang, lagi-lagi ini hanya kesalahan remeh, tapi entah mengapa saya berusaha menelusuri mantan saya itu dan pengin meminta maaf kepadanya. Habis bagaimana, ya? Saya rasa dia pacar tercantik yang pernah saya miliki sejauh ini. Rasa penasaran buat mencari tahu kabar tentangnya muncul secara spontan. 

Selain cantik, bagi saya dia juga teramat berbeda. Ya, kami berbeda agama. Walaupun saya sudah tak ingat apakah dia beragama Kristen, Katolik, Hindu, atau Buddha, yang jelas di ingatan saya masih menempel bahwa dia beretnis Cina. Tapi bukan hal semacam itulah yang sebenarnya meninggalkan kesan di hati saya. Perasaan cinta itu muncul karena pertemuan kami di dunia maya yang justru berubah jadi kenyataan. Hal yang akhir-akhir ini sering saya hindari rupanya memiliki nilai istimewa bagi seorang Yoga pada masa lalu. 



Di layar tampak seorang karakter perempuan berprofesi penyihir yang bernama Kagome sedang kewalahan melawan Raja Monyet (bos dari monster berlevel 60) di Lembah Naga, suatu tempat tersembunyi pada permainan virtual Soul Savior. Di Lembah Naga itu sebetulnya juga terdapat karakter bernama Spectre13 yang sedang saya mainkan. Tapi berhubung karakter saya seorang ninja yang memiliki jurus menghilang, Kagome tidak menyadari keberadaan karakter tersebut. 

Mengalahkan monster yang berlevel sama di permainan ini, lebih-lebih ia merupakan bos, memang terlalu sulit jika dilakukan sendirian. Para karakter di gim mesti bekerja sama untuk mengeroyok monster supaya mereka lebih cepat mati. Maka, saya pun berinisiatif menolongnya menggunakan jurus-jurus cakaran sekalian mengetes teknik spesial yang baru saja saya dapatkan. 

Jenis jurus yang dimiliki setiap karakter tentu berbeda-beda berdasarkan profesi masing-masing. Kebanyakan teknik penyihir bisa dilakukan dari jarak yang agak jauh, sedangkan ninja harus dari jarak dekat. Semakin dekat jarak serangnya, luka yang diterima musuh akan semakin besar. Meski begitu, daya serangnya tetap memiliki kekuatan yang hampir seragam. Yang membedakan serangannya tergantung berapa kali senjata itu berhasil ditempa. Lalu, karakter yang belum menjalankan misi-misi khusus di level 60 tidak akan pernah bisa membuka jurus baru. Bagi karakter yang sudah menuntaskan misi khusus tersebut, setiap kali naik tujuh level ia akan mendapatkan jurus spesial—yang serangannya jelas lebih kuat. 




Setelah saya dan Kagome menyerang Raja Monyet secara bertubi-tubi, akhirnya ia mati dan keluarlah barang langka: Segel Raja Monyet. Barang-barang yang terjatuh dari monster selepas mereka tewas otomatis akan terambil oleh karakter yang paling banyak menghajar musuh. Berhubung level Spectre13 berada sembilan level di atas Kagome, berarti sayalah yang memperoleh Segel Raja Monyet itu. 

“Yah, bukan aku yang dapat,” katanya. 

“Ini ambil aja,” ujar Spectre13 melempar barang itu dari kotak peralatannya. 

“Wah, makasih banget. Berarti habis ini aku tinggal cari sembilan lagi.” 

“Loh, ini misi kamu lagi membunuh si monyet atau baru mengumpulkan segel-segelnya, sih? Kalau masih mencari segel, kenapa enggak beli di pasar aja? Banyak kok yang jual.” 

“Aku enggak punya duit sebanyak itu.” 

Entah atas dasar kasihan atau memang berhati baik, saya pun membelikan Kagome sisa segel yang dia butuhkan, dan setelahnya juga ikut menemaninya menumpas 20 Raja Monyet—misi berikutnya. 

Sejujurnya, saat itu saya sudah sadar bahwa banyak lelaki bajingan yang memainkan karakter perempuan buat menipu para cowok polos. Lantas, mengapa saya tetap menolongnya? Apakah saya juga termasuk cowok lugu? Bisa jadi. Bagusnya, keluguan saya bisa berbuah manis sebab orang yang memainkan karakter itu seorang perempuan tulen. Dari mana saya tahu? 

Dia menambahkan saya sebagai teman di permainan itu agar sewaktu online status kami sama-sama terlihat dan bisa saling berkirim pesan. Dua minggu setelah saya menolongnya, saya masih rutin mengobrol di kolom pesan yang tersedia serta membasmi monster bersama Kagome. Singkatnya, kami menjadi dekat sampai-sampai berani menanyakan hal yang pribadi seperti nama panggilan asli, umur, sekolah, kelas, dan domisili. 

“Aku boleh minta Facebook kamu?” tanya Jessica (nama aslinya) begitu mengetahui saya main warnet di dekat Binus. 

“Facebook kamu aja sini, nanti aku yang add.” 

Jessica ternyata tidak memakai nama asli di Facebook. Dia menggunakan nama Cina yang sulit sekali dihafal maupun dilafalkan buat seorang remaja. Contohnya, Xiǎo Yù Quó (saya betulan sudah lupa, jadi ini cuma contoh asal). Saya tak punya pilihan lain selain memberikan nama lengkap saya. Masalahnya, memberikan Facebook saya kepada orang asing yang mulanya cuma kenal dari gim mirip seperti sedang berjudi. Probabilitas kalau Jessica jelek atau malahan seorang penipu sama saja seperti kekalahan. Saat remaja saya sangat benci kalah. Alhamdulillah, ketakutan itu terbayar oleh parasnya yang imut dan bikin saya berkata dalam hati, Cakep banget ya Allah, gue pengin jadi pacarnya

Doa iseng itu bisa-bisanya terkabul pada tiga hari kemudian. Ini bermula dari ledekan Jessica, “Kamu kok di foto kelihatan pendek, ya?” Saya pun menyebutkan tinggi badan saya yang ketika itu palingan cuma menyentuh 163 cm. Dia membalas saya dengan emoji tertawa. “Masa tinggi kamu kalah sama cewek? Aku aja 165.” 

“Aku enggak percaya. Coba buktiin langsung dong.” 

“Ini kamu lagi ngajakin aku ketemuan?” 

Mampus. Mampus. Mampus. Ketika itu saya enggak bisa menjawab pertanyaannya dengan cepat. Saya takut kalau mengadakan pertemuan justru akan merusak kedekatan kami yang sebelumnya telah terjalin dengan baik. Atau dengan kata lain, saya takut sikap Jessica bakalan berubah setelah melihat saya secara langsung. 

“Kok enggak jawab? Kalau kamu emang mau ketemu, nanti hari Jumat sepulang sekolah kita main bareng di warnet Emporium Syahdan aja, gimana?” 

Sembari mengenang pertemuan kami hari itu, yang belakangan diketahui menjadi perjumpaan pertama dan terakhir kami, saya malah jadi ingin menulis surat untuk Jessica. 


Ucapan kamu ternyata benar bahwa kamu lebih tinggi daripada saya, Jes. Anehnya, kamu enggak merasa malu punya pacar yang lebih pendek. Tak ada sedikit pun keberatan darimu. Ketakutan saya terhadapmu yang mungkin akan merasa jijik atau benci kala kita berjumpa itu cuma sebatas rasa cemas berlebihan. Karena yang kamu pedulikan katanya saya orangnya baik, terlepas dari bagaimana penampilan saya. Apa kamu masih ingat pakaian apa yang saya kenakan pada hari itu? Kaos Skater merah bergambar dingdong dan celana denim biru muda. Jika boleh jujur, itu satu-satunya pakaian terbaik yang saya miliki. Saya enggak kepengin mendapatkan impresi buruk darimu saat pertemuan pertama. Sementara itu, kamu sendiri justru cuma memakai kaos kuning pucat bergambar panda yang sablonnya sudah memudar dan celana pendek cokelat. Penampilan yang sederhana sekali. 

Biarpun sederhana, celana pendek di atas lutut yang kamu pakai itu membuat kaki mulusmu terlihat panjang sekali, Jes. Saya pun jadi minder dan ingin protes, mengapa dari dulu sampai sekarang saya tidak memiliki tubuh yang tinggi? Setidaknya, saya mencoba bersyukur bisa bertambah tinggi sejak hari itu. Terakhir kali saya mengukur tinggi badan saat lagi tes penerimaan kerja—yang pada akhirnya gagal—kalau tidak salah angkanya menyentuh 168 cm. Berdasarkan teori tentang perempuan yang pertumbuhannya lebih cepat ketimbang laki-laki, lalu setelahnya mulai melambat dan akhirnya terbalap, sepertinya saya sekarang lebih tinggi daripada kamu atau mungkin sejajar. Tapi, masa bodohlah dengan tinggi badan. Persetan pula dengan penampilan. 

Bicara soal penampilan, karaktermu di permainan itu hanya mengenakan pakaian, aksesoris, senjata, dan peralatan lain yang bisa didapatkan secara gratis dari gimnya. Berbeda dengan saya yang masih cukup modal untuk membeli voucer senilai 100-200 ribu. Itu pun saya harus menabung uang jajan sekolah selama sebulan. 

Kamu sempat bilang, baru kali itu ada orang yang rela menolongmu membasmi monster tanpa menaruh curiga, bahkan mau berteman tanpa pandang bulu. Selama bermain gim itu dari level 1-60, konon kamu sering dicap hode (sebutan buat cowok yang memainkan karakter cewek) oleh orang-orang di gim. Seingat saya, kamu pun sempat berujar begini: “Aku sedih kenapa orang-orang yang levelnya tinggi cuma mau berteman sama yang segolongan. Terus mereka juga suka memandang rendah orang yang levelnya payah, apalagi yang bajunya gratisan kayak aku.” Intinya, kamu saat itu bingung mengapa permainan yang harusnya dirancang untuk bersenang-senang, malah berubah menjadi ajang pamer yang mungkin bisa menerbitkan kesedihan bagi para pemula. 

Kamu yang terlihat biasa-biasa saja cenderung miskin di gim, sebetulnya anak orang tajir kan, Jes? Saya masih ingat dengan jelas bahwa setiap kali saya lagi kehabisan pulsa dan tak bisa membalas SMS-mu, kamu langsung menelepon saya atau membelikan saya pulsa demi bisa tetap berkomunikasi. Kenapa kamu berbuat sejauh itu? Sebenarnya kita masih bisa bersua kembali di warnet seperti sebelumnya kan, Jes? 

Sialnya, kondisimu yang sudah kelas 3 SMP itu menghalanginya. Orang tuamu memperhatikanmu dengan amat ketat. Mereka menyuruhmu fokus belajar dan melarangmu keluyuran agar memperoleh nilai tinggi dalam Ujian Nasional yang tinggal sebulan lagi, sehingga nanti kamu bisa masuk ke SMA favorit sekaligus membahagiakan orang tua. Walaupun demikian, kamu masih tetap mencuri-curi waktu buat menyalakan komputer dan memainkan gim itu demi bisa bertemu dengan saya di dunia maya. Katamu, berburu monster bersama di gim sudah mewakilkan pertemuan kita. Kamu sungguh baik, Jes. Kebaikan saya di gim sebelumnya pun rasanya tidak seberapa jika dibandingkan dengan balasanmu yang berkali-kali lipat. Apalagi balasan saya selanjutnya malah menghina ketikanmu di SMS yang mendadak alay. 

Mulanya ketikan kamu normal dan tampak wajar, terus mengapa teks yang tadinya normal itu tiba-tiba kamu padukan dengan angka dan huruf kapital yang berada di tengah, Jes? Mungkin kamu hanya bercanda atau mencoba ikut-ikutan tren yang mungkin pada saat itu terlihat keren. Bodohnya, lantaran perkara remeh itu justru menjadikan sikap saya yang hangat kepadamu itu berubah dingin. Mungkin dulu saya merasa malu ketika diejek teman sekelas karena ketahuan punya pacar yang alay. Mau bagaimana lagi, sejak bersekolah di SMP favorit hingga menduduki tingkat SMK, di kepala saya telah terpatri bahwa alay itu merupakan suatu kehinaan. Sampai-sampai statusnya lebih buruk dari para bajingan tengik yang gemar meledek nama orang tua. 

Sadar bahwa perkataan sekaligus hinaan saya tidak mempan buat menyadarkanmu tentang teks yang bikin mata sakit itu, saya akhirnya mencari-cari alasan buat menyudahi hubungan kita yang baru berjalan dalam hitungan minggu—tidak sampai sebulan. Perbedaan agama merupakan alasan paling manjur yang bisa saya pilih. Lalu, kenapa kamu juga menerimanya begitu saja? Apa kamu berusaha sok tegar saat itu? Atau orang tuamu sebetulnya melarangmu pacaran dan lebih baik mementingkan UN? Saya tak tahu kesedihan apa yang kamu tanggung dulu, Jes. Saya cuma bisa meminta maaf. 

Saya yang sekarang pun masih tak habis pikir dengan keputusan diri saya dulu. Rasanya goblok banget alasan itu dilempar oleh anak remaja SMK kelas satu. Saat itu kan saya pasti belum memusingkan perkara rumit hubungan ke depannya bakal bagaimana. Akankah salah satunya mengalah dan rela pindah agama atas nama cinta? Tak mungkin gagasan semacam itu ada di kepala remaja belasan tahun. 

Terlepas dari urusan itu, apa kamu masih mengingat hal lucu setelah kita putus, Jes? 

Satu setengah bulan berikutnya, tepatnya ketika kamu sudah beres mengikuti UN dan lagi menikmati liburan sekolah, kita kembali bertemu di dunia virtual sewaktu sedang berburu monster di Menara Kegelapan. Kita sama-sama sudah meraih level 80-an. Pertahanan dan serangan monsternya semakin kuat. Demi bisa menaikkan level karakter itu rasanya sangat sulit, mungkin butuh 7 jam membasmi monster secara nonstop supaya bisa naik satu level.

Saya tak tahu apa saja yang telah kamu lewatkan setelah kita putus. Kalau saya sendiri sudah jarang memainkan gim itu. Saya hanya memainkannya ketika ada sisa uang saku dan kebetulan lagi jenuh main PlayStation di rumah. Makanya saya cukup terkejut melihat wujud karaktermu yang berubah keren. Kira-kira karakter kamu telah menghabiskan voucer di gim lebih banyak dari kepunyaan saya. 

Kala itulah kamu berusaha menyapa saya dan saya canggung bukan main. Meskipun malu, saya mau tak mau harus merespons panggilanmu, “Hai juga, Kagome.” Kamu kemudian mengirimi saya pesan yang tidak bisa dilihat karakter lainnya, “Kenapa kamu hapus aku dari daftar pertemanan, Yog? Putus hubungan bukan berarti berhenti berteman di game, kan?” 

“Maaf, Jes. Kayaknya waktu itu aku salah hapus,” ujar saya berbohong. 

Muncul permintaan pertemanan darimu yang tak bisa saya tolak. Kamu pun bercerita kini sudah bisa berteman akrab dengan karakter lain, bahkan juga lagi dekat sama cowok lain. Membaca pesanmu itu, saya langsung cemburu banget, Jes. Kok bisa ya, saya melepas begitu saja perempuan selucu kamu? Memang, sih, pacaran bukan hanya melihat dari fisiknya, tapi saya bilang begitu karena kamu benar-benar perempuan yang baik. 

Apa kamu masih ingat kebaikanmu yang lain? Sehabis kita bertukar cerita, kamu masih memberikan saya hadiah aksesoris di gim berbentuk kacamata renang yang jika dinominalkan seharga 30 ribu. Kamu bilang, kamu bingung mau menggunakan uang sisa belanja di gim itu buat apa lagi, sebab pakaian dan aksesorismu sudah terasa lengkap. Saat kelas satu SMK, uang 30 ribu merupakan uang jajan saya dalam tiga hari. Biarpun kamu orang tajir, saya pikir uang segitu juga penting buat kebutuhanmu sendiri. Kenapa kamu malah memberikannya kepada saya secara cuma-cuma? Saya ini kan mantan yang enggak tahu diuntung, Jes. Untuk apa kamu masih berbuat baik kepada saya? Apa karena saya ini pacar pertama kamu? Sumpah, kebaikan hatimu dulu itu bikin saya semakin menyesal ketika mengingatnya lagi sekarang. 

Tapi yang lebih saya sesali saat ini adalah, kenapa saya enggak punya satu pun foto bareng kamu? Bahkan sekadar foto karakter kita lagi berduaan di permainan virtual itu pun enggak ada sama sekali. Terus, kenapa saya juga selalu gagal melacak namamu? Nama yang kamu berikan kepada saya hari itu sungguh nama asli, kan?

Awalnya, saya mencari namamu di daftar pertemanan Facebook, lalu tak ada hasil. Mungkin kamu telah menghapus saya dari daftar pertemanan atau kamu menutup akunmu. Apa pun itu, saya tak ingin cepat menyerah. Saya mencoba mencarimu di Twitter dan Instagram, tapi hasilnya tetap nihil. Saya kembali mengetik namamu di Google dan tak ada satu pun petunjuk tentangmu. Baiklah, kali ini saya terpaksa memilih pasrah. 

Sewaktu melakukan perbuatan yang tampak dungu dan sia-sia ini, saya sungguh enggak bermaksud mengusik kehidupanmu, apalagi memilih kembali—cinta beda agama terasa mustahil buat saya hari ini. Saya cuma pengin tahu kabarmu sekarang ini bagaimana. Saya sih berusaha mendoakan yang baik-baik buatmu. Sebagaimana tujuan awal saya menulis surat, saya ingin mengucapkan permintaan maaf atas kalimat saya pada jauh-jauh hari, yakni bilang kamu alay. Selain itu, saya juga sungguh ingin berterima kasih kepadamu. Berkat kamu yang mau menerima saya apa adanya, saya jadi punya pengalaman memiliki pacar yang kelas sosialnya berbeda. Lebih-lebih kamu sudah mewarnai masa remaja saya yang mungkin terasa monoton. 

Waktu telah bergeser sekitar sembilan tahunan sejak hari itu. Mengingat dulu saya ternyata pernah memiliki kepercayaan diri yang tinggi karena berani memacari orang tajir, bahkan mengejekmu alay, Jes, mungkin sekarang nasib maupun problem kehidupan sedang gantian meledek saya. Setiap kali saya sedang memandangi diri di cermin, saya kerap merasa orang seperti saya yang banyak gagalnya ini akan kesulitan buat menjalin hubungan dengan orang berkelas sepertimu lagi, Jes. Jangankan menjadi pacar, berteman saja saya kadang merasa sungkan. 

Kemarinan saya sempat melakukan pendekatan kepada salah seorang gadis manis dari golongan atas sepertimu, Jes. Belum apa-apa saya sudah merasa gagal begitu mendengar ucapan-ucapan jahat kawannya yang bikin saya minder, dan entah mengapa membuat saya malas mencoba cari pasangan lagi sebelum kondisi membaik. Terlebih saat mendapati perangai gadis itu yang perubahannya kentara jelas (mungkin dia termakan omongan teman-temannya). Seolah-olah fakta itu langsung mengempiskan rasa percaya diri saya. Jadi, apakah orang-orang dari golongan atas memang tak akan pernah terjangkau lagi buat diri saya, Jes? 

Berhubung kamu enggak mungkin membaca surat ini, Jes, izinkan saya menutupnya dengan membayangkan kamu memberi jawaban begini buat menghibur diri: “Masih ada kemungkinannya, kok. Lewat kebaikan dan ketulusanmu kayak di game dulu itu pasti suatu hari bisa menjangkau orang yang kamu suka. Bukan berarti aku menyuruh kamu cari pacar dari game lagi kayak masa remaja, tapi kamu pasti paham sama apa yang aku maksud. Apa perlu aku jelasin lagi? Sewaktu kamu menolongku mengalahkan Raja Monyet, kamu enggak ada niat lain selain membantu aku, kan? Kamu enggak berpikir aku itu aslinya cewek atau cowok, enggak peduli apakah ada manfaat dari menolong orang asing di game. Lagian, kalau kamu merasa enggak bisa menjangkaunya karena faktor ekonomi, bukannya kamu masih bisa memperbaiki kondisi finansialmu? Bangkit dari kegagalan-kegagalanmu? Selama kamu belum menyerah, pasti masih ada jalan, kan? Jadi, jangan gampang minder begitu, Mantanku Sayang.”

--

Gambar saya ambil dari: https://pixabay.com/photos/children-win-success-video-game-593313/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

13 comments

  1. Aishh ak ngakak banget pas baca ada lelaki bajingan yang mengaku ngaku jadi wanita polos di gim hhha, itu kampret banget sih. Wahh sering banget main gim online yang multi server dan bisa main bareng sama orang asli dari daerah lain, tapi serunya di kamu bisa ketemuan yak sama orang itu. Kalo ak gak ketemuan, tapi syukurlah dari sekian banyak yang kukenal di gim asli semua dan ga ada lekaki bajingan yang mengaku ngaku wanita tapi berjakun. Aman

    Wahhh soal wanita itu apakah sampai sekarang masih belum ketemu nih?, ak jadi ikut penasaran sama cewenya hehe. Tapi setidaknya masih bisa bersamanya dan pernah ketemu juga toh, waktu seminggu udah lumayan lama sih menurutku. Kalo kek gitu ak selalu ingat bahwa, " Tak perlu menyesali semua yang telah terjadi. Yang baik akan jadi pengalaman, sedangkan yang buruk akan jadi pelajaran."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukurlah kamu yang belum pernah tertipu akun "hode". Karena saya sendiri pernah jadi lelaki bajingan yang pura-pura jadi perempuan buat menipu cowok-cowok polos di gim. Hahaha.

      Delete
  2. Aaaaaaaaaaaaaa aku tersentuh sama kalimat-kalimat terakhir untuk Mantanmu Tersayang, aaaa :)
    Ada sedih yang tersisa, ada bahagia yang masih tersirat. Semua itu hidup dalam kenangan dan angan yang lalu. Semangat untuk terus mencari kalau sekiranya radar hati masih bernyawa untuk terus dicari, tentunya juga terapkan dalam doa supaya Semesta juga ikut membantu perihal mengejar jodoh yang masih belum tahu siapakah di depan sana. Kalau di kulik kisah lalu kok rasanya sedih-sedih lucu yaaa.

    Btw pada jaman Alay itu, mengirim tulisan sms dengan di sela satu angka ditegah huruf, aku juga ikut ngejalanin itu lhoo hehehe. Berarti kita masih di generasi yang sama ya yoga? Baik yaa berarti si mantanmu sayang yang bernama jessica itu ya, kalau dia suka kalau dia merasa tertarik, hatinya tergerak untuk menolong tanpa embel-embel pamrih. Di jaman itu, jaman smp menuju sma atau bahkan di jaman sma, aku cuma punya ketulusan hati aja untuk setia sama satu pria tapi hatiku di obrak-abrik sampai seringkali patah hati hanya karena satu pria itu lagi itu lagi. Duh, perempuan kalau masih usia muda memang perasaannya murni rasa jujur dan tulus ya, sementara pria masih cenderung memiliki rasa kekanak-kanakan. Menurutmu itu benar gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya enggak mencarinya sejauh pikiranmu bilang mau mengejar jodoh itu, Na. Murni keisengan semata. Mungkin waktu hujan deras malam itu saya lagi kesepian dan kangen teman mengobrol seasyik Jessica.

      Saya bersyukur pas SMP enggak punya HP. Melihat teman di sekitar yang sering diledek alay secara membabi buta, kayaknya bikin saya malas mencoba-coba mengetik kombinasi antara huruf dan angka begitu. Emang kita seumuran deh.

      Wah, turut berduka membaca pengalaman pahitmu. Yang penting sekarang udah terlewati, syukur-syukur bisa tersembuhkan sepenuhnya. Soal cowok yang memiliki sifat kekanak-kanakan kayaknya ada perlunya sih, terlepas dari bagian buruk-buruknya. Misalnya, imajinasi anak-anak tuh bikin membahagiakan, terus hasrat belajarnya masih tinggi, belum ternodai rasa takut akan kegagalan.

      Delete
  3. Dalam banget mas.
    Bikin saya teringat akan mantan yang tak bisa lagi kuraih, meski aku sudah berusaha melakukan yang terbaik.

    Atau mungkinkah usahaku itu masih kurang keras?
    Ntahlah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak tahu saya, Mas. Yang paling tahu diri Mas Rudi ya jelas dirimu sendiri. Kalau yakin dia jodohnya, ya coba aja usaha lagi secara maksimal. Sekiranya ragu, tinggalkan aja. Begitu kan pesan orang-orang terdahulu?

      Delete
  4. Anjinglah, lagi melo baca ini jadi ikutan sedih.

    ReplyDelete
  5. Ahhh perkenalan dari dunia game dan berakhir di kisah nyata memang berat sekali untuk dilepaskan, kerasa banget pas maen ayodance dulu 201.. -an lupa. Bisa kenal dari game dan ada rasa ingin memiliki dan hilang tanpa kabar, dan kembali lagi tetapi dengan suasana dan rasa yang berbeda. Hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, Ayo Dance. Saya juga sempat main dulu tuh pas SMP, tapi culun banget kemampuannya. Terus berhenti. Merasa enggak cocok juga main begituan. Wahaha.

      Delete
  6. wih ini permainan masa lalu yang menceritakan seperti pengalaman pribadi aja mas haha kocak juga bacanya

    ReplyDelete
  7. Abis baca ini, aku jd penasaran Ama game online nyaaa hahahahaha.. kok kayaknya seru sih. Blm prnh coba main game yg bisa multi player gitu.

    Kadang aku heran, ada orang zaman skr yg ga punya medsos samasekali. Di cari di manapun ga ketemu, sampe google jg menyerah :D. Ada yaaaa yg begitu. Salut aja sih.. temenku yg model kayak itu cm 1. Ga pgn pake medsos apapun. Ga tau deh alasannya apa. Kalo ditanya jwbnya jg , 'ga pengen aja'. Padahal kalo dibilang cantik, bangettt. Pinter, cm memang rada nyentrik dikit :D.

    Kalo baca kisahmu, ini bikin aku keinget Ama 1 cowo zaman SMU, yg pernah aku taksir, dan aku tau dia jg suka ma aku, cuma blm berani nembak aja. :D. Tp memang ga jodoh, dan sialnya, dia ga mau deketin aku LG hanya karenaaaa dia shock aku beli parfum seharga sejuta keatas -_-. Besoknya aku lgs dikirimin surat yg intinya dia ngerasa ga selevel Ama aku yg gampang aja ngeluarin uang utk beli hal ga penting. Jd ga mungkin hub kami berlanjut. abis baca suratnya, mewek Doong aku dikelas hahahaha.. duuh malu sih kalo diinget skr. Tapi beda nya, aku jd temen baik ma dia pas kuliah , walopun skr jauh LG Krn sama2 udh nikah.

    Cuma dulu aku jd sempet terlalu nahan diri kalo pacaran Ama cowo yg aku tau ga terlalu banyak uangnya. Bukan kenapa2, tp aku ga pgn ngerasain ditolak lagi hanya Krn masalah duit. Itu memang sensitif yaaa. Padahal kalo buatku pribadi Yog, ga ptg cowo itu duitnya dikit, asal dia mau rajin usaha. Aku slalu percaya nasib bisa berubah asal orangnya rajin. Tp kalo males, bakalan susah utk maju ..

    Eh btw, zamanku kuliah aku sempet loh alay gitu hahahahah. Tp agak beda dikit. Nulis campur aduknya bukan angka dan hurup, tapi hUrUF bEsaR dAN KecIL wkwkwkwkwk. Masih mendingan lah yaaaa, masih gampang dibaca :p. #dikeplakYoga

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.