Apresiasi

10 comments
“Apa arti dari apresiasi? Begitu pentingkah untuk dimengerti? Jangan lihat ini sebagai konfrontasi, gunakanlah sebagai inspirasi.” –lirik ThirteenJkt, Sombong, Angkuh, dan Arogan



--

Suatu malam, saat badan sudah rebah dan mata telah memejam tapi kantuk tidak kunjung datang, di kepala saya terlintas pikiran begini: mungkin dihujat habis-habisan seperti Putri Marino terasa lebih menggembirakan daripada enggak ada yang peduli sama puisi bikinan saya. Anggaplah saya seorang masokhis alias senang ketika disakiti. Saya tak peduli dengan penilaian semacam itu. Yang jelas, respons seburuk apa pun masih terasa jauh lebih baik ketimbang diabaikan.

Jadi, jika saya pikir ulang, keputusan untuk menerbitkan himpunan puisi itu secara digital dan membagikannya gratis, serta berjanji tidak akan merangkai sajak lagi, kayaknya merupakan pilihan yang tepat buat diri saya. Saya kira, seandainya saya masih bersikeras membuat sajak, saya pasti hanya akan memaksakan diri, bahkan mempermalukan diri sendiri. 

Sekarang sudah memasuki Februari 2020. Terbukti tidak ada kabar lagi dari majalah sastra yang saya kirimkan saat Desember lalu. Saya cuma sempat menerima informasi bahwa naskah puisi saya telah mereka terima. Itu pun kejadiannya dua hari setelah saya membagikan kumpulan sajak Disforia Pengusik Kenangan. Setidaknya, itu terasa mendingan daripada media daring yang selalu menolak puisi-puisi saya tanpa sekali pun mengucapkan, “Maaf, puisimu belum layak atau cocok untuk kami muat.” 

Mungkin sampai seterusnya enggak akan ada yang sudi membayar sebagus apa pun puisi ciptaan saya. Yang saya heran, mengapa kepercayaan diri buat mengirimkan puisi-puisi saya ke media tersebut bisa-bisanya tumbuh lantaran pada masa silam ada salah seorang kawan yang bilang, “Eh, aku tadi baca puisimu di blog. Bagus, Yog. Kamu enggak coba kirim ke koran atau ada niat buat diterbitkan jadi buku?” 

Kala itu, jumlah puisi yang saya bikin baru sekitar belasan. Mustahil untuk menjadikannya buku. Saat menampilkan puisi di blog juga sebenarnya cuma hasil iseng-iseng sebab terpicu sehabis membaca kumpulan puisi Joko Pinurbo. Ternyata keisengan itu justru ada yang suka. Mendapatkan pujian dari teman, lebih-lebih dia berjenis kelamin perempuan, tentu membuat saya pengin merangkai sajak yang lebih keren. 

Saya lantas mencoba berlatih lagi sekalian memperbanyak tulisan berjenis puisi di Tumblr. Selain minder, sikap ini (memilih Tumblr sebagai media latihan daripada blogspot) saya ambil karena beberapa pembaca di blog akbaryoga lebih menyukai curahan hati saya. Ini era sewaktu saya belum belajar lebih dalam tentang penulisan fiksi. Kebanyakan bloger kalau tidak salah juga masih getol mengisahkan kesehariannya. Mereka belum terpapar godaan AdSense, job review, dan tetek bengek lainnya. Bloger di sekitar masih jarang yang kepikiran untuk mengubah konten blog gado-gado menjadi bertema khusus—lazimnya berbentuk kuliner, perjalanan, tutorial, keuangan, dan fesyen.

Satu atau dua tahun kemudian, ketika pemerintah memblokir Tumblr buat pertama kalinya, hingga saya terpaksa memindahkan sebagian puisi di sana ke blog ini, respons yang saya terima di komentar kian berkurang. Jika tak salah ingat, bahkan ada 2-3 pembaca yang terus terang mengeluh, “Gue main ke blog ini karena pengin baca curhatannya. Kok isi blog ini malah berubah jadi puisi melulu?” 

Itu jelas menandakan bahwa mayoritas pembaca blog ini kurang menyukai tulisan saya yang berbentuk puisi. Setelah himpunan puisi saya ditolak berkali-kali oleh beberapa media, mestinya sih saya juga sadar diri, lalu memilih pensiun. Bukan malah tetap berkepala batu sampai akhir 2019. Saya sungguh tak mengerti, apa yang membuat saya mengotot begitu? Barangkali pujian dari teman yang pertama kali berkesan di hati saya itu masih menempel, sehingga saya percaya kalau puisi saya kelak bakal mendapatkan tempat di luaran sana.

Saya masih tak menyangka pernah senaif itu. Namun, kedelai sudah menjadi kecap. Saya tak perlu menyesali kegelapannya. Ketololan yang telah terjadi kemarin, biarkan saja menjadi bahan tertawaan buat masa sekarang.

Meski demikian, toh saya bisa tetap gembira setiap kali mengingat ada sedikit pembaca yang bersedia mengomentari puisi bikinan saya. Memang, puisi saya tidak akan mungkin sampai, apalagi dapat menyentuh hati para pensyair hebat yang karya-karyanya bertengger di berbagai media serta memperoleh penghargaan sastra. Tapi, bukankah saya memahami kalau respons para pembaca blog ini juga memiliki nilai lebih di hati saya? 

Dari beberapa apresiasi pembaca terhadap sajak saya, entah mengapa ingin saya kumpulkan di sini sebagiannya buat mengenang bahwa pada masanya saya pernah menciptakan sesuatu hal yang biasa-biasa saja, malahan cenderung ampas, tetapi mereka mau menghargainya setulus hati. 


Andika Machmud 

Puisinya gila, keren! Saya paling suka puisinya tentang resolusi itu. Kata-katanya itu loh, ngena banget. Yang awalnya masih mengejar-ngejar resolusi, terus jadi bosan, mau lagi tapi pikirannya kayaknya ini enggak bisa deh, akhirnya jadi: ya sudahlah. Terus “Arti Tahun Baru” juga gila. Kalau kata bloger biasanya, “Nice, Gan.” 


Riandy Satria Putra 

Dari ketiga sajak yang ditulis, saya paling suka sama “Medusa” dan “Tidak Tahu Malu”. Kalau yang model pertama, rasanya sudah sering lihat dan baca. Saya kurang suka (secara pribadi) model yang begitu. Tapi Medusa, walaupun ditulis dengan model seperti cerpen, tapi makna plus sastranya dapat banget, Mas. Ah, seperti itulah. Saya kurang bisa mengungkapkan kalimat-kalimat yang pas dengan perasaan saya. Kalau yang “Tidak Tahu Malu”, rima di bait kedua memang agak maksa, tapi masih tetap bagus, kok. Maknanya pas gitu. Pas buat orang-orang yang berkarya hanya untuk uang, bukan untuk ruang. 


Fanny F. Nila

Dari ketiganya, aku suka “Medusa”. Puisi naratif ya kamu bilang? Mungkin karena seperti bercerita itu, makanya aku jadi suka. Tulisan kamu bagus-bagus kok, Yog. Pilihan katanya juga variatif. Enggak terlalu berat untuk dicerna. Jadi yang baca bisa menikmati maksud tulisannya. Enggak tau ya kalau orang-orang yang memang ahli beranggapan gimana. Tapi buat pembaca biasa kayak aku sih, yang begini bikin aku belajar kata-kata baru, dan enggak susah untuk memahami puisinya. 


Gigip Andreas 

Dulu, setiap Yoga Akbar nulis puisi di blognya, saya sering bingung mau komentar apa (kadang-kadang malah iseng bikin puisi asal di kolom komentar). Sekarang, ketika dia nulis puisi, saya tetap bingung mau komentar apa. Bedanya, kali ini ditambah perasaan iri. Tailaso! Ini salah satu puisi Yoga yang saya jadikan bahan bedah ketika belajar memilih kata, memainkan rima, dan membuat makna yang berlapis-lapis—meski saya aplikasikan di prosa karena sampai sekarang belum becus-becus bikin puisi: https://ketikyoga.wordpress.com/2019/01/11/lima-fragmen-penghancur-diri-sendiri/


Zahrah Nida 

Amarah, kebengisan, muak, dan sedihnya dapat. Lebih menyayat hati ketimbang beberapa yang beredar sekenanya di media sosial. Saya membayangkan apabila narasi ini digaungkan dalam ruangan DPR, atau setidaknya saat demo dilaksanakan. 


Einid Shandy 

Wah, “Semburat Kuning Museum Kenangan” ini bagus sekali tulisannya. Kok bisa-bisanya bikin museum kenangan di kepala dan dengan tiket masuk mahal yang ternyata dari angka pertemuan dan perpisahan. Anyway, aku suka gaya bahasa kamu. Referensi bacaannya apa aja sih? 


Dian Hendrianto 

Dia sempat membacakan puisi “Jika Kau Mencintai Orang Lain” di Instagram. Sayangnya, video itu sudah diarsipkan atau dihapus. Biarpun begitu, saya tetap gembira karena Dian bisa-bisanya khilaf membacakan puisi saya sekalian membagikannya kepada orang lain, sehingga mendadak ada beberapa orang yang penasaran dan bertanya lebih lanjut mengenai puisi saya lainnya. 


Terkait himpunan sajak Disforia Pengusik Kenangan 

A Dreamer, bloger yang beralamat di adreamers-journey.blogspot.com (saya enggak tahu namanya) 

Saya enggak tau apa-apa tentang persajakan atau apa pun yang berbaur puisi, tapi saya suka tulisan-tulisan yang di bagian “Hidup, Maut, dan Kepenulisan”.


Gustyanita Pratiwi 

Walaupun gue belum bermaksud menginterpretasikan makna puisinya lebih dalam, tapi sejauh yang gue baca semalam, kalau dilihat dari pilihan katanya, gue suka sama yang judulnya “Tidak Enak”, “Potret Manusia Digital”, “Warna Puisi”, dan “Mendengarkan Mono”. Karena gue suka pilihan kata yang justru rimanya enggak sama dengan bunyinya di akhir. Di keempat judul puisi itu, diksinya bagus, banyak, dan enak pas diucapkan. 


Anonim atau sebut saja Bunga atau Rani 

Ada seorang perempuan yang sudah saya lupa namanya (saya punya kelemahan buat mengingat nama seseorang yang kurang akrab), mengirimkan komentar via WhatsApp ke nomor lama saya. Sebetulnya saya masih bingung, dia tahu nomor saya dari mana? Saya bukan tipe orang yang gemar menyebarluaskan nomor ponsel ke khalayak. Apakah dia pernah memenangkan giveaway di blog ini? Pernah membeli buku-buku bekas yang saya jual murah? Pernah membeli buku digital Fragmen Penghancur Diri Sendiri? Pernah bertanya perihal templat blog? Atau kami pernah berjumpa di suatu acara bloger? 

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan barusan, dia terpikat dengan puisi saya yang berjudul “Topeng” dan kira-kira bilang begini:

Kata-katamu itu biasa banget dan mudah dipahami ketimbang puisi yang biasanya aku sukai. Tapi, enggak tahu kenapa aku suka sama ide topeng yang menyembunyikan perasaan “aku tidak mencintaimu lagi”. Puisi kamu yang ini mewakilkanku banget. Orang yang memang udah enggak sayang lagi sama pacarnya, kenapa sih enggak langsung berkata jujur? Kenapa harus pakai topeng dan pura-pura masih sayang, padahal diam-diam lagi berusaha mencari-cari kesalahan pasangannya biar segera putus? Lebih parahnya lagi, gimana kalau dia emang udah punya cadangan? Larik penutupnya, Kau lupa membawanya saat pergi, itu terasa sangat menohok buatku. Makasih ya, Yoga, sudah menulis ini. 

Ini puisi Topeng yang dia maksud: 

Apakah topeng selalu bermakna kepalsuan? 
Mungkinkah wajah manis 
yang kutatap pada dirimu 
sebetulnya tidak ada? 

Ia hanya bopeng yang kaurias dengan topeng. 
Ia hanya kepedihan yang kaututupi dengan senyum. 
Ia hanya rasa sepat yang bersembunyi di belakang ranum. 

Jadi, apakah puisi ini juga sebuah topeng? 
Karena ia tidak bisa langsung berkata jujur: 
“Aku tidak mencintaimu lagi.” 

Tapi, topeng yang puisi ini pakai 
mungkin adalah milikmu. 
Kau lupa membawanya saat pergi. 

/2018 

--

Gambar diambil dari: https://pixabay.com/photos/thank-you-neon-lights-neon-362164/

PS: Bagi siapa pun yang nama dan komentarnya tertera di sini, saya minta maaf kalau tidak izin terlebih dahulu. Maaf juga karena kalimatnya saya modifikasi sedikit supaya lebih enak dibaca. Seandainya ada yang merasa keberatan, kamu bisa meminta saya buat menghapusnya. Selebihnya, saya ucapkan terima kasih. Buat kawan-kawan yang juga pernah mengapresiasi tulisan-tulisan saya di blog ini (terutama yang memberi kritik dan saran) tapi namanya tidak disebut, saya juga minta maaf dan berterima kasih. Saya tak mungkin menampilkan semuanya di sini. Nanti dianggap haus akan pujian lagi, padahal kan cuma lagi butuh afeksi.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

10 comments

  1. Kayak yang dulu pernah gue bilang, gue lebih suka dikritik ketimbang dipuji. Dan salah satu kekhawatirannya adalah jangan sampai dia memuji bukan dari hati melainkan karena memang hanya ingin bikin gue terbang terus lupa diri dan duaaarrrr. Ngerti kan maksud gue, Yog? Ya udah kalau gak ngerti. Wkwkwk. Namun sebagai orang yang tidak begitu mengerti puisi dan sajak dan sejenisnya, puisi lo lebih gampang gue cerna. Udah sih gitu aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagian sulitnya memang membedakan mana kalimat murni dari hati dan hasil menjilat. Ini gue pajang buat menghibur diri sendiri aja, toh ke depannya udah enggak bikin puisi lagi.

      Paham, Man. Haha.

      Delete
  2. Adakan nulis puisi bareng kalo ada org lain yg berminat nulis puisi juga. Org yg terlibat di hal yg sama, terlebih karena kesepakatan dalam membuat, lebih mudah berkomentar murni. Apalagi dalam ajakan itu kan gak ada hadiah2an yg jadi pemicu bersaing yg kadang terselip ego lebih hebat.

    Bukan ttg gak ada yg mau mengapresiasi atau pasar gak dapat diciptakan sih ini. Namun org emang lagi gak pernah nyari puisi lagi. Udh jarang bgt yg mau baca. Tugas sekolah juga udh jarang yg disuruh berpuisi. Kalo memang yakin mau terus berpuisi ya harga matinya itu sabar. Karna paling hanya 1 2 org saja yg akan sangat tertarik.

    Gitu dah kayaknya. Saya juga gak beneran tau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya, minat buat diri sendiri aja udah hilang, apalagi ngajak orang. Haha. Cuma di era memfiksikan kayaknya saya bisa santai latihan menulis puisi terus dapat kritik. Seingat saya, dulu saya sendiri yang paling sering bikin puisi, soalnya yang lainnya pada buat cerpen maupun fiksi kilat.

      Iya sih, jika saya lihat-lihat memang para pencinta puisi aja yang masih menikmatinya. Selain karena bingung memahami tulisan jenis itu, mungkin bukan selera bacaannya. Sepertinya mulai tahun ini saya juga memutuskan enggak akan beli buku puisi lagi. Biar semakin gampang menepati janji berhenti bikin sajak.

      Delete
  3. Sebenarnya saya mau ngomen ini dari kemaren-kemaren tapi takut mas bloggernya tersinggung akhirnya diam aja, gak jadi komen. Tapi saya kepikiran akhirnya komen juga. Saya pribadi sangat menyayangkan kenapa mas bloggernya memutuskan untuk berhenti menulis puisi, bukankah yang paling penting di dunia ini adalah diri kita sendiri? Selama mas nya senang dengan hal itu kenapa harus berhenti. Spesifically, saya gak tau masalahnya mungkin sudah melalui banyak pertimbangan, tapi yang saya tangkap dari tulisan ini, mungkin masnya kecewa karena tulisannya belum dimuat disebuah majalah sastra, jika memang salah satunya adalah itu just fuck it, you don't need that, balik lagi selama masnya suka kenapa harus berhenti. Mungkin terdengar mudah kalau cuman ngomong doang, yaa di dunia ini yang paling enak memang ngomong sih dimana saya cuman cerita dan situ yang dengerin. Saya jadi ingat tulisannya Fiersa Besari dia pernah nulis gini "Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah itu di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa". Saya gak bermaksud apa-apa, apalagi menggurui TIDAK beneran deh, jangan tersinggung. Saya mau bercerita tentang perjuangan saya mencintai diri sendiri berikut dengan segala kekurangan yang ada didalamnya walaupun belum sepenuhnya berhasil. Duluu banget saya adalah manusia paling minderan di bumi, saya underestimate diri saya selama bertahun-tahun tanpa memberi kesempatan untuk berkembang, baru aja mau mulai sesuatu positif hal yang terlintas diotak saya adalah " Ihh.. ngapain pasti gagal lu,jangan kepedean deh, eh lu belum pantas" saya juga pernah menyerah terhadap mimpi dan hidup saya memutuskan kontak dengan semua orang, duduk disudut ruangan menikmati rasa frustasi sambil menyalah-nyalahkan diri saya. Sampai akhirnya saya sadar, ternyata didunia ini tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan kita sendiri. Orang-orang gak akan peduli. Tentang tulisan-tulisan mas blogger yang diabaikan orang-orang ya bodo amat selama masnya suka berpuisi kenapa berhenti? Trus masalah ada yang komen kenapa isinya puisi semua di blog ini, kenapa harus peduli? This is yours, terserah tuan rumah mau menulis apapun yang dia suka, selama itu bukan tulisan2 porno ya kenapa harus dipikirin? Balik lagi apakah tujuan membuat blog ini untuk kesenangan orang atau diri sendiri, pun dengan menulis puisi untuk apa harus berpura2. Saya gak tau ngomong apaan dah tapi intinya kalau mas bloggernya suka berpuisi ya lanjutkan, jangan pikirkan orang lain, yang paling penting adalah diri kita sendiri, itu bukan selfish ya tapi selflove berapa banyak para tokoh terkenal menyuruh kita untuk mencintai diri sendiri. SELFLOVE. Semoga saja tidak tersinggung karena sungguh niat saya bukan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertama-tama, saya bukan orang yang gampang tersinggung dalam soal tulisan, Kak. Kapan-kapan santai aja kalau mau komentar lagi.

      Ada 2-3 teman yang juga menyayangkan keputusan saya itu. Masalahnya, saya sendiri betulan sudah yakin bahwa puisi bukanlah bidang saya. Sekeras apa pun saya berlatih, saya akan terus menjadi medioker--bahkan mungkin belum pantas disebut demikian. Memang, menulis puisi itu buat mengekspresikan diri. Buat alternatif ketika bosan sama jenis tulisan esai dan cerpen. Bisa juga untuk memikat perempuan. Kirim ke gebetan atau pacar, misalnya. Pokoknya ada banyak hal baik saat saya bikin puisi. Namun, tetap ada hal-hal buruk yang justru terasa menghancurkan sewaktu saya coba pertahankan. Bohong kalau tujuan menulis puisinya cuma ditujukan untuk diri sendiri. Setidaknya pasti ada sedikit hasrat agar dibaca orang lain. Keinginan saya juga mulai tumbuh supaya menghasilkan uang dari sana. Tapi terlepas dari penolakan-penolakan itu, semakin saya mendalami dan membaca banyak jenis puisi, tentu sulit menghilangkan rasa minder. Nah, saya langsung paham di situ kalau jalan ini tak akan membawa saya ke mana pun.

      Saya bukan pembaca Fiersa, tapi saya juga mengerti soal menulis merupakan terapi jiwa bagi diri sendiri. Saya pun punya jurnal yang berguna untuk membuang pikiran-pikiran jahat di kepala.

      Selain karena belum mendapatkan tempat di luaran sana, menulis puisi sejujurnya sulit bikin saya gembira. Saya lebih senang membuat cerita. Jadi, daripada saya menghabiskan energi untuk membagi fokus ke puisi, saya lebih ingin memaksimalkannya dalam kategori prosa.

      Semoga kamu puas dengan jawaban dan pilihan saya. Semoga bisa menikmati tulisan saya selain puisi. Terima kasih banyak sudah peduli dengan tulisan saya dan mau komentar panjang.

      Delete
  4. Semakin hari blog emang udah berkurang peminatnya. Gue juga ngerasain momen2 terbaik ngeblog beberapa tahun belakangan, asli cukup seru, sampai kepikiran buat nerbitin buku saat ada beberapa orang yang memuji, sampai ada yang ngajak nulis juga kalau tidak salah. Dan itu jadi salah satu apresiasi buat gue sendiri.

    Kalau soal puisi atau buku-buku lain, kayaknya emang agak susah sekarang-sekarang ini, kalaupun ada ya kayaknya karena jumlah angka followers sosmed si penulisnya (nulis gini sesuai fakta aja sih, gak bisa dipungkiri kalo penerbit juga gak mau buang-buang modal buat barang jualan yang jualannya gak tau bakalan laku atau enggak).

    O ya, soal video gue di IG, itu diarsipin sih. Kayak gak tau aja gimana rajinnya gue arsip-post ulang-arsip lagi (hal apapun). Gak konsisten emang, tapi bodo amat. Haha

    Tapi, biasanya tergantung mood sih, ada postingan lama yang tiba-tiba dimunculin lagi, atau tiba-tiba post-nya cuma 50 doang. Ya, sepeti biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mana orang-orang yang dulu memuji udah enggak pernah baca blog lagi. Haha. Keinginan nerbitin buku secara digital aja ini gue ketunda dua tahun. Terus yang minat enggak seberapa. XD

      Iya, mereka realistis juga, Yan. Masa iya nerbitin buku yang enggak bisa bikin balik modal. Selain jadi selebritas, kayaknya perlu jadi pemenang sayembara menulis baru bakal dilirik.

      Makanya gue menduga antara dihapus dan diarsipkan video baca puisi itu. Gue jarang banget taruh di arsip, seringnya langsung hapus. Bisa ya orang-orang sisain sampai 50. Malah ada yang sampai 0. Pos gue hampir 500, bakal capek kalau mau diarsipkan ke angka puluhan.

      Delete
  5. Sbnrnya puisi yg bagus itu yg seperti apa sih? Apa semakin rumit pilihan katanya, makin pusing dicerna, itu artinya bagus :D?

    Aku jujurnya g terlalu suka puisi, tp tetep aku baca hanya Krn untuk nambah knowledge dan kosa kata. Walopun lagi2, puisi yg terlalu berat malah bikin aku ngantuk dan ga dpt feel nya Yog. Boro2 dibaca sampe abis, yg ada nyerah tengah jalan.

    Beda pas baca puisi kamu :D. Yg kalo dibaca, ga bikin otakku mumet ngartiinnya :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pendapat orang pasti beda-beda soal ukuran bagusnya. Ada yang bilang, bagus ketika puisinya memiliki makna berlapis. Yang jelas membutuhkan proses berpikir hingga lahirlah susunan kata seperti itu. Saya sendiri bingung sih buat menjelaskan perihal puisi ini (kemampuan saya payah), tapi lumayan bisa memutuskan bagus atau enggak sewaktu baca. Itulah alasan kenapa saya menyeret nama Putri di awal tentang banyak orang yang mengejek puisi dia. Karena saya pun termasuk ke bagian yang bilang puisi dia jelek.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.