Aku masih tidak menyangka bisa mengeluarkan air mata sewaktu mendengar Oki, seorang kakak sekaligus saudara kandungku satu-satunya, termasuk korban yang tewas saat Bus Yanti Grup masuk jurang pada tahun 2009. Sejujurnya, aku tidak dekat dengan kakakku. Usia kami terpaut lumayan jauh, tiga belas tahun. Sebagaimana kakak-beradik laki-laki yang biasanya sering bertengkar, kami malah tidak pernah. Setidaknya, begitulah yang terekam di ingatanku. Lagi pula, aku memang tidak memiliki banyak kenangan bersamanya.

Kakakku meninggalkan rumah atau merantau entah ke mana begitu dirinya lulus SMK pada usia delapan belas. Kakak pun jarang di rumah ketika kami masih tinggal satu atap. Sampai hari kematiannya itu, ia bahkan belum pernah sekali pun kembali ke rumah orang tua dan bertemu aku lagi.

Soal selama ini ia pernah mengirimkan uang kepada orang tua atau tidak, itu bukan urusanku. Aku juga tidak mau menanyakan hal itu kepada Ayah dan Ibu, apalagi bertanya tentang kabar Kakak. Aku bahkan sempat lupa kalau diriku ini punya seorang kakak. Satu-satunya momen singkat yang berkesan dan mampu kugali dari memori itu saat kematiannya hanya ketika aku dulu senang memboncengnya naik sepeda setiap hari Minggu. 

sumber gambar: https://pixabay.com/id/anak-sepeda-bersepeda-abendstimmung-2062707/
Read More
Tahun ini sepertinya akan menjadi tahun pertama saya mengalami kesulitan mengakses internet ketika menggunakan laptop. Apakah saya lagi bikin resolusi mengurangi membuka media sosial, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku? Sayangnya bukan. Apakah karena saya mulai bekerja di hutan? Tentu saja tidak mungkin. Menjalani program guru relawan dan mengajar di daerah-daerah pelosok? Maaf, saya belum semulia itu. Lantas apa? Kamu sebenarnya enggak perlu berpikir jauh-jauh, sebab hal ini sangatlah sepele. Apa lagi kalau bukan karena tidak memiliki kuota?

Silakan mengumpat sesukanya.

Tapi sebelum kata anjing, bangsat, berengsek, kampret, kunyuk, setan, sialan, dan sejenisnya itu keluar; saya ingin menjelaskan bahwa ini semata-mata terjadi bukan karena saya bokek—walaupun kenyataannya hampir bisa dibilang begitu. Ini terjadi lantaran pada tanggal 28 Desember 2018, Bolt—provider yang saya gunakan sekitar empat tahunan ini—resmi menutup layanannya. 

sumber PNG Bolt: http://www.chodirin.or.id/ lalu saya modifikasi sesuka hati


Mundur seminggu sebelum Bolt mengumumkan informasi itu, pada malam hari saya sedang menemani Farhan, salah seorang kawan sekaligus tetangga, menyusun skripsi di Kafe Datocar yang lokasinya tidak jauh dari rumah kami. Ketika ia lagi fokus menggarap naskahnya itu, saya terlihat seperti orang tolol yang enggak tahu harus melakukan apa. Seolah-olah ada peraturan tertulis di jidat Farhan: Saya tidak boleh mengajaknya mengobrol. Saya perlu menyibukkan diri sendiri.

Sialnya, saya malah lupa membawa buku bacaan pada malam itu. Jadi satu-satunya penyelamat saya hanyalah ponsel. Baru saja saya ingin internetan, ternyata paketnya malah habis. Syukurlah kafe itu menyediakan Wi-Fi. Sebagaimana Wi-Fi kafe yang banyak pemakainya, kecepatannya pun ala kadarnya. Tidak sampai sepuluh menit saya menaruh kembali ponsel itu ke meja.

Di tengah kebingungan mencari cara supaya enggak jenuh, saya lalu teringat dengan kebiasaan bikin catatan di tempat makan. Akhirnya saya mengambil ponsel itu lagi, membuka aplikasi Notes, dan mulai mengarang cerita.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home