Ada banyak cara untuk mencintai Indonesia, di antaranya: membeli dan menggunakan produk dalam negeri; bangga menggunakan bahasa Indonesia; berkunjung ke tempat-tempat wisata di Indonesia sekaligus merawat lingkungannya; melestarikan budaya-budaya di Indonesia, jangan sampai negara lain mengklaimnya; dan lain-lain.

Selain yang barusan saya sebutkan, Bank Indonesia saat ini sedang mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai Indonesia dengan cara lain, yakni membuat kampanye “Cinta Rupiah”. Ya, tentu saja kita bisa mencintai Indonesia lewat mata uangnya.

Sayangnya, masih ada beberapa orang yang kurang peduli terhadap rupiah, dan mungkin akan muncul berbagai pertanyaan tentang kampanye itu: “Untuk apa kita mencintai rupiah?”, “Apakah itu penting?”, “Manfaatnya untuk saya apa?”, dan seterusnya.

Selama ini yang kita tahu rupiah hanyalah mata uang, alat pembayaran, atau nilai tukar. Jadi, dengan menggunakannya saja mungkin kita sudah otomatis mencintai rupiah. Namun kalau saya coba mengubah sudut pandangnya, ternyata ada hal lain yang bisa saya temukan. Setelah saya rangkum, ada tiga manfaat dari mencintai rupiah:



1. Menguatkan Nilai Tukar Rupiah 

Kalau melihat nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing saat ini, rasanya sungguh memprihatinkan. Bisa kita lihat sekarang satu dolar sudah mencapai angka 13 ribu. Nah, supaya nilai rupiah tidak merosot lagi, rasanya kita perlu mencintai rupiah dengan cara menggunakan mata uang rupiah dalam setiap transaksinya.



Kebetulan, saya mantan mahasiswa Jurusan Ekonomi dan pernah mendapatkan mata kuliah Perekonomian Internasional. Kala itu, dosen saya menjelaskan kenapa nilai tukar rupiah akhir-akhir ini semakin turun dan bagaimana cara untuk menaikkannya? Beliau bilang, bangsa Indonesia saat ini terlalu banyak impor barang, bahkan beras pun impor.

Padahal, Indonesia termasuk negara agraris. Semestinya pertanian di Indonesia bisa dibenahi dan menghasilkan beras dari negara sendiri. Kemudian agar nilai tukar rupiah menguat, kita harus bisa mengurangi impor dan menaikkan ekspor. Untuk mengimpor barang, mungkin biasanya yang digunakan dalam bertransaksi ialah mengikuti mata uang negara yang menjual produknya. Sedangkan dalam ekspor, negara asinglah yang menggunakan mata uang Indonesia, yaitu rupiah.

Namun, transaksi dalam negeri pun konon masih ada yang memakai dolar atau mata uang asing lainnya. Ini jelas menyalahi aturan, sebab berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, pemerintah menetapkan kewajiban penggunaan rupiah di wilayah Indonesia.

Saya pun entah mengapa jadi teringat lagu anak tentang cinta rupiah.


Aku cinta rupiah, biar dolar di mana-mana
Aku suka rupiah, karena aku anak Indonesia
Aku cinta rupiah, biar dolar merajarela
Aku suka rupiah, karena aku tinggal di Indonesia

Lalu, saya juga jadi kepikiran tentang uang recehan (pecahan logam 100, 200, 500, 1.000) yang tergeletak di jalanan. Kenapa uang itu dibuang? Kalaupun uang itu terjatuh, kenapa tidak diambil lagi? Meskipun saya tahu itu jumlahnya tidak seberapa. Namun, itu tetap mata uang Indonesia dan masih laku, kan? Jika recehan itu dikumpulkan, toh nantinya juga akan banyak. Kita semestinya tetap mencintai rupiah dari nominal terkecilnya.



Kesimpulannya: nilai rupiah akan stabil dan cenderung menguat jika kita selalu mencintai rupiah dan bertransaksi menggunakan rupiah.

2. Mengenang Jasa Pahlawan

Sewaktu cetakan uang baru mulai beredar, yang pertama kali saya perhatikan adalah gambar pahlawannya. Sejujurnya, banyak wajah-wajah pahlawan pada cetakan uang baru itu yang sebelumnya tidak saya kenal. Terus saya sempat berpikir, buat apa segala cetak uang baru, sih? Apalagi saya pernah disangka bayar parkir pakai uang dua ribuan palsu oleh tukang parkirnya. Padahal, itu uang edisi terbaru dan tukang parkirnya yang mungkin belum mendapatkan informasi tersebut.

Tapi, lama-lama pemikiran dan pemahaman saya bergeser mengenai duit baru. Saya jadi ingat dulu pernah mencari tahu tentang pahlawan yang terpampang di rupiah keluaran terbaru. Bisa saya ambil contoh dari uang Rp50.000. Dulu, saya tidak tahu siapa itu I Gusti Ngurah Rai. Saya palingan cuma menebak kalau beliau adalah pahlawan asal Bali dari namanya. Tapi setelahnya saya coba mencari tahu lebih lanjut.


I Gusti Ngurah Rai adalah pahlawan Indonesia asal Bali yang meninggal dalam usia cukup muda, yaitu 29 tahun. I Gusti Ngurah Rai memiliki pasukan yang bernama pasukan “Ciung Wanara” yang melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama “Puputan Margarana” atau pertempuran penghabisan di sebuah marga. Namanya kemudian diabadikan menjadi bandara di Bali, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.

Begitu pun yang saya terapkan saat ini pada uang baru. Awalnya, saya cuma tahu Juanda itu nama stasiun di dekat Gambir, Jakarta Pusat. Saya memang menduga itu nama pahlawan. Sayangnya, saya cuma tahu sebatas itu. Saya pun tidak tahu bagaimana wajahnya. Berkat uang baru inilah saya jadi mengenalnya. Dan, saya merasa malu karena baru tahu nama lengkapnya: Ir. H. Juanda Kartawijaya.

Tidak ingin bertambah malu, saya memutuskan untuk mencari informasi tambahan tentangnya. Beliau adalah Perdana Menteri Indonesia kesepuluh. Setelah itu, beliau menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I. Kini, namanya diabadikan sebagai nama lapangan terbang di Surabaya, Bandara Djuanda. Lalu nama hutan raya di Bandung pun diambil dari namanya, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.

Jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, menurut saya mencintai rupiah memang terbukti bisa mengenang sosok para pahlawan Indonesia.

3. Mempelajari Budaya dan Daerah di Indonesia

Hal ini hampir sama dengan yang saya lakukan kala mencari informasi tentang para pahlawan yang tercetak gambarnya di rupiah. Beberapa tahun silam, saya sedang iseng memandangi gambar perahu layar di pecahan uang kertas Rp100. Namun, nama yang tertera adalah Perahu Pinisi, bukan Perahu Layar.



Karena didorong oleh rasa penasaran, saya pun tiba-tiba mulai mengumpulkan informasi tentang Perahu Pinisi dari berbagai artikel. Jadi, Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari suku Bugis dan suku Makasar di Sulawesi Selatan. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga layar di ujung depan, dua di tengah, dan dua di belakang.

Kemudian, yang paling unik dari Perahu Pinisi ini adalah proses pembuatannya. Konon, proses pembuatan perahu itu tanpa menggunakan catatan ataupun gambar. Tidak ada catatan seperti perhitungan ukuran, tidak ada desain perahu, dan tidak ada hal detail lainnya yang direkam ke dalam bentuk tulisan ataupun visual. Semua pengetahuan yang dimiliki itu tersimpan di kepala pemimpinnya (biasa disebut punggawa) dan diturunkan selama beratus-ratus tahun kepada penerusnya hanya lewat lisan.

Awalnya, saya tidak tahu apa-apa soal Perahu Pinisi itu. Berkat gambar-gambar yang ada di rupiah (selain gambar pahlawan), barulah saya bisa sekalian belajar dengan mencari tahu budaya tersebut. Jadi, kalau saya pikir-pikir lagi, ternyata rupiah bisa untuk sekalian mempelajari budaya dan daerah yang ada di Indonesia. Seperti yang ada di uang keluaran terbaru. Saya ambil contoh di uang Rp100.000, terdapat 2 gambar di belakang: Tari Topeng Betawi dan Raja Ampat.



*

Sehabis mengetahui manfaat dari mencintai rupiah, rasanya kita juga perlu merawat rupiah itu agar fisiknya tidak cepat rusak. Sejauh ini, kita pasti pernah menemukan uang yang lecek, kumal, ataupun robek dan diberikan selotip bening. Menyimpan dan menggunakan uang yang kondisinya buruk seperti itu pasti bikin malas, kan? Untuk mencegah rusaknya uang kertas itu, kita perlu merawatnya dengan 5 cara:

Jangan Dilipat

Saya pernah melihat ibu-ibu yang suka menggunakan dompet kecil sebagai tempat menyimpan uang. Karena ukuran uang yang lebih besar dari dompetnya, tentu saja uang itu perlu dilipat-lipat terlebih dahulu agar muat. Jika dilakukan terus-menerus, hal itu kelak bisa merusak uangnya. Nah, untuk menyiasati itu, lebih baik uangnya kita simpan ke dalam dompet yang lebih besar atau lebar agar rupiah tersebut tidak terlipat-lipat.

Jangan Diremas

Saat menerima uang kembalian sehabis berbelanja, biasanya kita menerima uang yang keadaannya tidak dalam keadaan bagus. Apalagi jika belanja di pedagang-pedagang kecil yang sering menyimpan uangnya di kantong. Terkadang, kita juga jadi ikut-ikutan menerima uangnya dengan langsung masukin kantong. Uang itu pasti tidak sengaja kita kuwel-kuwel atau remas. Sama seperti tadi, lebih baik uangnya kita masukkan ke dompet.

Jangan Dibasahi

Ibu saya pernah beberapa kali menemukan uang di dalam kantong celana saya ketika mencuci. Syukur saja uangnya tidak robek. Tapi tetap saja, uang itu pun basah dan mesti saya keringkan. Walaupun bahan yang digunakan untuk membuat uang itu bisa kuat terhadap air. Namun, itu tetap uang kertas dan kalau keseringan dibasahi tentu saja dapat rusak, bahkan sobek. Jadi, sebelum mencuci pakaian-pakaian kotor itu, sebaiknya kita periksa lagi apakah ada uang yang tertinggal di kantong.

Jangan Dicoret

Saya pernah beberapa kali menemukan uang yang dicoret-coret. Baik itu berupa nomor telepon, misalnya Agus 085789101112; wajah pahlawan yang dicoret atau dibikin seram; kutipan bijak; dan sebagainya. Padahal, banyak cara untuk berkenalan tanpa perlu mencoret-coret rupiah. Apalagi zaman sekarang media sosial sudah semakin banyak. Tapi, kenapa masih ada yang menuliskan nomor teleponnya di uang kertas? Begitu juga dengan yang bikin karya seni. Bagus, sih, menyalurkan kreativitasnya. Namun, bukankah ada tempat lain yang lebih sesuai? Bukankah bisa bikin karya seni di tembok (mural), bisa melukis di kanvas, dan bisa juga desain di aplikasi CorelDraw atau Photoshop?

Jangan Distepler

Sewaktu SD, saya pernah menerima uang THR yang keadaannya distepler. Lima lembar seribuan dijadikan satu. Mungkin maksud tetangga saya itu agar mudah ketika memberikan uang kepada anak-anak. Misalnya, tiap anak dibagikan rata Rp5.000. Jadi, ia menyiapkannya dari awal: 5 lembar uang seribu yang kemudian distepler dan berjumlah lima ribu. Sehingga nanti tidak perlu menghitungnya lagi saat memberikan kepada anak-anak yang bersilaturahmi ke rumahnya.

Namun, uang yang distepler itu tentunya akan meninggalkan lubang begitu steplernya kita buka. Lama-kelamaan, lubangnya mungkin akan membesar. Oleh karena itu, lebih baik cari alat lain seperti penjepit yang lebih ramah kertas dan tidak merusak rupiah.

*
Apakah mencintai rupiah itu penting? Jawabannya: tentu saja penting, sebab ini termasuk bagian dari mencintai Indonesia. Seperti yang saya ketik di awal tulisan, ada begitu banyak cara untuk mencintai Indonesia. Lewat tulisan ini, maka saya bisa memulainya dari mencintai mata uangnya. Saya ingin tulisan ini bisa jadi pengingat untuk diri saya sendiri agar bisa terus mencintai rupiah. Ya, syukur-syukur bisa juga mengingatkan dan bermanfaat untuk orang lain supaya lebih merawat rupiah. Aamiin.