Saya terkadang benci perayaan, tapi hari ini saya ingin bersyukur atas dua tahun WIRDY—sebuah grup yang saya cetuskan secara iseng-iseng. Mengingat prestasi saya dalam suatu hubungan percintaan sering berjalan kurang baik, yakni paling lama pacaran cuma sampai satu setengah tahun. Entah mengapa saya merasa bahagia bisa bertahan atau mempertahankan grup ini selama dua tahun. Ternyata saya ini setia, ya?

Meskipun banyak yang bilang kalau Gemini itu tidak setia dalam sebuah hubungan. Toh, nggak semua Gemini seperti itu. Kita memang nggak boleh pukul rata begitu saja. Kandasnya hubungan percintaan saya yang dulu-dulu itu, sesungguhnya juga bukan ulah saya.

Sejujurnya saya bingung, ini saya Gemini gadungan atau gimana, sih? Habisnya yang selingkuh atau memilih pergi demi orang lain itu justru pasangan saya. Mungkin Gemini sejati (yang konon betul-betul bajingan) akan tertawa kalau membaca cerita saya barusan yang malah jadi korban. Bisa juga dia akan bilang kepada saya, “Gemini macam apa kamu ini? Pindah zodiak aja sana!”

Oleh karena itu, jangan semudah itu menilai Gemini. Mudah percaya kok sama zodiak, percaya itu kepada Tuhan dong. Allahu Akbar! (lalu gimana yang ateis?)

Terlepas dari segala citra buruk Gemini yang pernah saya dengar itu, suatu hari saya sempat membaca salah satu kelebihannya: Gemini mampu memikirkan ide brilian untuk berbagai proyek. Saya pun merenungi hal itu. Apakah saya termasuk? Saya akhirnya mulai menengok beberapa kejadian ke belakang.




*

Dua tahun silam, ketika saya, Darma, Icha, dan Wulan sedang akrab-akrabnya di blog dan Twitter, saya mengajak mereka untuk bikin grup. Biar lebih mudah komunikasinya, pikir saya kala itu. Namun begitu grup Line terbuat dan kami mulai berinteraksi, beberapa hari setelahnya saya kepikiran hal lain. Saya nggak pengin grup itu hanya buat ngobrol-ngobrol kurang jelas. Saya ajak mereka untuk diskusi soal dunia blog atau menulis agar lebih berfaedah. Syukurnya, mereka langsung setuju. Saya pun mulai menamai grup itu: WIDY. Namanya saya bikin dari inisial kami berempat.

Sekitar sebulan kemudian, kami bikin proyekan cerbung (cerita bersambung). Sayangnya, proyek itu terhenti karena beberapa alasan, padahal kami sudah membuatnya hingga 12 bagian dan hampir tamat. Sumpah, saya sebetulnya merasa sedih karena nggak bisa menyelesaikan apa yang telah dimulai. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, saya merasa bahagia sebab dapat menyatukan isi kepala empat orang yang tentunya berbeda-beda. Menurut saya, itu bukan hal yang gampang.

Sehabis proyek itu berhenti, grup kami ternyata juga ikut-ikutan mandek. Mungkin saat itu memang butuh yang namanya vakum. Entah untuk menyelesaikan urusan masing-masing ataupun introspeksi. Lucunya, baru mau kembali meramaikan dunia blog, grup kami kembali bermasalah. Saya waktu itu bercandain Icha kelewat batas dan dia sampai keluar grup.

Awalnya saya mengira dia hanya cari perhatian, tapi lama-lama saya resah dan merasa bertanggung jawab. Saya tanyakan baik-baik dengan meneleponnya. Ternyata, saya sudah melukai hati seorang teman tanpa kesadaran. Saya pun minta maaf kepadanya. Tapi dia sudah telanjur kecewa dan marah atas sikap saya sebelumnya.

Ketika itu saya otomatis jadi ikut marah. Saya tidak marah kepada Icha, melainkan kepada diri sendiri. Betapa bodohnya saya yang tidak bisa memahami keadaan anggota grup. Saya gagal menjadi seorang penggagas grup. Lalu saya pun emosi dan menyuruh sisa anggota (Darma dan Wulan) biar sekalian keluar dari grup. Saya mungkin tidak cocok bikin grup-grup begini segala. Apalagi jadi seorang pemimpin.

Bagusnya, Darma dan Wulan tidak memilih keluar. Mereka diam saja mendengar ocehan saya. Saya mengeluhkan betapa susahnya untuk cocok dalam berteman. Saya pikir, grup ini yang paling sesuai untuk saya. Setelah Icha keluar dari grup, saya merasa hal itu tidak sama lagi. Kenapa saya malah merusak grup yang dulu pernah saya cetuskan ini?

Rasanya saya perlu introspeksi diri dan merenung. Setelah bisa berdamai dengan diri sendiri, barulah saya banyak sadar. Mungkin memang saya yang menggagas grup itu, tapi bukan berarti saya egois dan merasa jadi pemimpin. Kalau bercanda di grup, saya akan lebih memperhatikan situasi dan kondisi. Tidak semua hal yang kita maksud bercandaan, dapat selamanya ditertawakan. Bisa saja malah menoreh luka. Terus dalam mengusulkan ide-ide, saya perlu lebih banyak musyawarah. Bagaimanapun juga, mereka itu bukan anak buah. Mereka sahabat saya.

Beberapa hari setelahnya, Icha pun mengontak saya dan gantian minta maaf atas sikapnya. Saya merasa bahagia kalau masalah kemarin tidak berakhir buruk. Ia pun saya masukkan kembali dalam grup. Ya, dalam setiap grup pasti ada kendalanya. Hubungan pertemanan memang tidak selalu berjalan mulus sebagaimana bodi mobil baru. Yang terpenting setelahnya kami bisa kembali baikan, berhasil bangkit, dan merekrut anggota baru: Robby.

Sejak Robby bergabung, otomatis grup ini membutuhkan nama baru. Namun, kalau ditambahin R di belakang dan jadi WIDYR pasti nggak enak dibaca. Melafalkannya pun susah. Oleh karena itu, terpilihlah nama WIRDY. Setelah muncul dengan nama baru, akhirnya kami mulai mengeluarkan proyekan lagi. Bahkan pada awal tahun 2017, kami juga sempat membuat karya berbentuk buku-el. Walaupun karya kami itu masih banyak kekurangan. Setidaknya buat pemula seperti kami ini, kami sudah berani memulai. Kami tentunya bisa belajar dan bertumbuh dari situ. Kami nanti akan memperbaikinya di karya yang selanjutnya.

Setelah menuliskan perjalanan grup barusan, berarti kesimpulan saya akan Gemini yang mempunyai ide brilian dalam bikin proyekan ada benarnya. WIRDY adalah ide terhebat yang pernah saya buat. Ehe. Setelah berjalan selama dua tahun ini, saya jadi ingin menuliskan kesan dan pesan untuk grup WIRDY.

*

Kesan

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebersamaannya selama dua tahun ini. Berkat grup ini, saya belajar memahami banyak perbedaan. Meskipun usia kami tidak sama, tapi berteman tidak harus dengan yang seumuran, kan? Walaupun kami tinggal di kota yang berbeda, tapi jarak tidak menghalangi kami untuk tetap berteman. Toh, kami tetap Indonesia. Bhinneka tunggal ika.
Mantap, apakah sudah sok nasionalis?

Selain hal itu, saya pun banyak berkembang dalam ngeblog. Saya jadi lebih berani dalam melempar ide-ide untuk sebuah tulisan. Saya juga semakin percaya diri dalam menulis fiksi. Terbukti dalam beberapa kali proyekan, ketika yang lain menuliskan curhatan, saya malah berbeda sendiri. Saya bikin cerpen. Tanpa adanya grup ini, mungkin saya akan menulis yang begitu-begitu saja. Curhat melulu dan bumbu komedinya mesum. Sekarang, saya lebih berani untuk bereksperimen. Mencoba berbagai macam gaya menulis itu menyenangkan sekali. Ah, saya juga ingin mengucapkan terima kasih untuk mereka satu per satu. 

1. Untuk Wulan, terima kasih sudah mengajarkan saya untuk mengolah sebuah aib menjadi sebuah kisah yang bisa ditertawakan oleh pembaca. Entah kenapa, hal ini mengingatkan kepada saya untuk menulis dan bercerita apa adanya. Nggak harus terbebani untuk selalu menuliskan yang bermanfaat atau menginspirasi pembaca. Lagian, menghibur orang lain juga sebuah manfaat, kan?

2. Untuk Icha, terima kasih atas ulasan film-filmnya. Berkat tulisanmu saya jadi punya banyak referensi. Lalu, saya juga belajar dari gaya menulismu. Untuk menulis apa yang memang kita suka atau cintai, tanpa peduli komentar negatif orang lain yang sok tahu dalam menilai.

3. Untuk Robby, terima kasih karena menjadi yang termuda di grup ini. Semangat menulismu itu patut dicontoh. Secara nggak langsung sudah mengajarkan saya betapa pentingnya berkarya sejak dini.

4. Untuk Darma, terima kasih karena sudah menuntut ilmu ke luar negeri. Kalau bukan karenamu yang sedang belajar ke Turki, mungkin grup ini tidak memiliki pencapaian bisa go international. Halah. Oke serius, saya jadi belajar untuk lebih melampaui batas dan berani mengambil risiko.


Pesan

Yang namanya perselisihan dalam setiap kelompok memang selalu ada. Namun, hal seperti itu bukanlah penghalang untuk terus bersatu. Kami pasti sanggup menghadapinya. Kalau ada apa-apa yang pengin disampaikan, ya omongin. Berkomunikasilah untuk merespons masalah itu, jujurlah apa adanya, lalu mencari jalan keluar bersama, dan seterusnya, dan sebagainya.

Santai aja dalam mengusulkan ide proyek. Kalau ada ide yang pengin disampaikan, lebih baik segera lempar ke grup. Tidak perlu menunggu saya. Mungkin sebagai penggagas memang harus lebih aktif. Tapi ingatlah satu hal: WIRDY itu berlima. Jadi, nggak usah sungkan dan malu-malu. Terus kalau memang belum bisa ikut proyekan, nggak perlu lagi merasa nggak enakan. Jangan memaksakan diri. Utamakan dulu yang menjadi prioritas hidup. Menulislah karena ingin~

Semoga kami bisa lebih kompak lagi ke depannya. Apa pun yang terjadi nanti dengan grup ini, semoga kami bisa tetap bersahabat. Kapan-kapan kami berlima mungkin perlu kopi darat. Pertemuan yang awalnya maya ini, semoga bisa dijadikan nyata. Aamiin. Dan terakhir, teruslah berkarya (khususnya menulis) apa pun mediumnya.

--

Tulisan Robby bisa baca di: Teman yang Jauh Jaraknya
Icha: Kami Bukan One Direction
Wulan: Blognya tidak aktif lagi.
Darma: Lagi sibuk mengikuti pelajaran di Turki dan nggak bisa ikutan, katanya.

O iya, baru-baru ini saya dapat singkatan WIRDY yang baru selain inisial nama kami: write, inspire, read, dreamer, young. Apakah cocok untuk menggambarkan grup ini?