Setiap bloger biasanya akan bingung kalau ditanya, “Apa momen terbaikmu kala ngeblog?”

sumber: Pixabay (kemudian diedit sesuai kebutuhan)

Gue sendiri masih bingung dan merenungkan apa momen terbaik itu. Biasanya para bloger akan menjawab tentang pencapaian-pencapaian mereka selama ngeblog. Baik itu blognya yang dibukukan penerbit mayor, menang lomba ngeblog berhadiah uang atau produk senilai jutaan, atau bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Sedangkan, gue sendiri nggak pernah mendapatkan semua itu.

Tulisan di blog gue nggak pernah dijadikan buku. Belum ada penerbit yang nawarin, sih. Halah. Lagian, tulisan di blog ini, kan, kebanyakan curhatan nggak jelas. Parahnya lagi banyak yang menyerempet ke hal-hal pornografi. Jadi, menerbitkan buku dari blog itu belumlah bisa tercapai.

Lalu ketika mengikuti lomba blog, gue seperti terbiasa dengan yang namanya kekalahan. Gue sudah berusaha menulis dengan maksimal, tapi tetap saja berbuah sia-sia. Syukurnya, gue nggak pernah kenal lelah ataupun menyerah. Hingga akhirnya, pada suatu hari gue sempat merasakan juara kedua ketika mengulas karya Haris Firmansyah. Meskipun itu hanya sebatas give away atau kuis kecil-kecilan dari temen bloger, setidaknya gue bisa dikatakan menjadi pemenang. Atau mungkin jatah menang gue memang baru sampai level give away, bukan untuk lomba besar berhadiah jutaan.

Kemudian, soal traveling gratis ke luar negeri apalagi. Gue belum pernah melangkahkan kaki untuk keluar dari Pulau Jawa ini. Kayaknya diundang jalan-jalan gratis juga masih sebatas area Jabodetabek deh. Gue masih cemen untuk mencapai hal itu. Haha.

Terus apa dong pencapaian gue, ya? Sebenarnya kalau berbicara soal pencapaian gue saat ngeblog, itu mah banyak banget. Pertama kali mendapatkan job review, bagi gue itu termasuk pencapaian. Ada tulisan yang muncul di halaman pertama Google, itu juga sebuah pencapaian. Bisa punya grup kecil—bernama WIRDY—untuk berbagi tentang ngeblog atau kepenulisan (bahkan biasanya juga berbagi suka maupun duka), dan ternyata kami juga bisa membuat e-book, itu pun merupakan pencapaian. Terus gue juga pernah mendapatkan pacar dari blog... eh, apakah hal itu bisa disebut pencapaian? MUAHAHA YEKALI WOY!

Namun, itu semua bukanlah momen terbaik saat ngeblog. Momen terbaik gue ngeblog justru awalnya terjadi pada saat blog gue nggak ada tulisan baru lagi. Hmm, jadi waktu itu gue sempat vakum ngeblog sekitar 3 bulanan. Kala itu, gue banyak banget mengalami masalah dalam hidup. Gue entah kenapa bisa berpikir kalau penderitaan dalam hidup itu seolah-olah nggak ada habisnya. Yang bodohnya lagi, semangat hidup mulai meredup, hilang arah dan tujuan, dan pupus harapan.


Entah kenapa gue bisa-bisanya terpuruk dan depresi. Gue pada waktu itu merasakan yang namanya titik terendah dalam hidup. Itu terjadi sekitar setahun yang lalu. Gue bahkan udah nggak peduli tentang blog. Sebab, gue nggak ngerti apa gunanya menulis di blog ini lagi. Gue berpikir, kalau curhatan sampah kayaknya nggak layak untuk dibaca. Nggak ada manfaatnya deh bagi pembaca.

Ternyata, pemikiran gue itu salah fatal.

Saat berhenti ngeblog itulah, para pembaca di blog ini berkomentar dan menanyakan tulisan baru. Yang lebih nggak gue sangka lagi, ada beberapa email yang masuk dan menanyakan kenapa gue nggak pernah kelihatan lagi di dunia maya. Salah satu dari email itu, isinya panjang dan membuat gue termenung lama. Dia mengatakan suka sama foto-foto gue di Instagram. Dia menanti tulisan gue yang katanya dapat menginspirasi dirinya. Walaupun dia nggak pernah komentar lagi di blog gue, dia mengatakan selalu membaca tulisan-tulisan gue. Kemudian, dia juga pengin bertemu sama gue. Sumpah, gue nggak menyangka itu.

Gue selama ini udah goblok banget. Ketika gue meragukan diri sendiri, lalu malah ada orang lain yang merasa kalau diri gue bisa bermanfaat untuk orang lain. Meskipun cuma berbentuk tulisan, dan itu pun kebanyakan sebuah curhatan. Namun, dia menyukainya dan terhibur setiap membaca blog gue. Padahal banyak tulisan lain yang lebih menarik dan lucu. Gue langsung speechless.

Gue merasa cahaya kehidupan yang sempat redup itu, sepertinya dapat kembali menyala. Kegelapan yang selama ini telah menggerogoti harus segera hilang, dan kemudian menjadi terang. Gue pengin memperbaiki hidup yang selama ini telah gue sia-siakan. Terus menurut gue, cara paling gampangnya adalah melakukan hal yang gue suka, yaitu menulis atau ngeblog lagi.

Sayangnya, yang namanya memulai kembali itu nggak mudah. Saat udah lama nggak nulis, gue pun nggak tau mau nulis apa untuk permulaan. Baru nulis satu kalimat, rasanya kaku banget. Kemudian, gue pun iseng bacain twit-twit lama dengan kata kunci “nulis”, sampai akhirnya menemukan twit ini:



Baiklah. Gue harus memulai dari hal yang sederhana. Nggak apa deh tulisan jelek, yang penting nanti bisa diedit. Setidaknya, ada hal yang bisa gue lakukan untuk sebuah perubahan. Harus bisa kembali menulis. Kembali ngeblog.

Gue jadi mengingat kutipan Ernest Hemingway, “Forget your personal tragedy. Good writer always come back. Always.



Ketika vakum ngeblog karena ada beberapa masalah dan depresi. Gue justru lupa akan manfaat dari menulis yang merupakan terapi jiwa. Energi negatif itu semuanya berkumpul di kepala dan nggak pernah dituangkan ke media lagi. Gue nge-blank akibat overthinking. Sampah-sampah di kepala yang seharusnya dibuang dari kemarin-kemarin, tapi malah dipendam terus. Akhirnya, sampah itu pun membusuk dan membuat semuanya kacau.

Setelah itu, gue merenung lama. Gue nggak seperti diri gue yang sebelumnya. Betapa curhat itu penting banget bagi diri gue. Mungkin bentuknya emang curhatan. Namun, kalau bisa mengemasnya dengan baik, tulisan itu pun bisa ada yang suka dan menikmatinya. Lagian, setiap tulisan selalu ada penikmatnya sendiri. Gue benar-benar lupa kalau menulis juga bermanfaat untuk diri gue sendiri. Justru diri sendiri dululah yang seharusnya mulai menyukainya. Kalau diri sendiri aja nggak suka sama tulisan itu, gimana pembacanya ya, kan?

Lalu gue fokus menuliskan semua yang ada di kepala tanpa berpikir apa-apa. Gue nggak nyangka malah jadi tulisan sepanjang ini. Gue sudah berhasil ngeblog lagi. Gue berhasil mengalahkan diri gue sendiri. Ternyata, meragukan diri sendiri dan menganggap diri sendiri nggak berguna itu sungguh menyedihkan. Gue nggak mau mengulanginya. Gue ke depannya mau bisa terus ngeblog.

Jadi, itulah momen terbaik gue selama ngeblog. Bisa seperti yang Ernest Hemingway maksud. Bisa selalu kembali menulis apa pun yang terjadi dalam hidup.





“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke-6 tahun Warung Blogger