Akhir-akhir ini, gue lagi keranjingan membaca tulisan sendiri beberapa tahun ke belakang. Saat membacanya, perasaan gue pun otomatis menjadi campur aduk. Kalau baca tulisan 2012-2013, tentu saja bikin ngakak dan jijik sendiri karena tulisannya masih kacau dan membuat gue bergumam, “Ya Allah, ini beneran gue yang nulis?”. Merasa nggak percaya kalau tulisan gue saat ini sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan tulisan pada tahun itu.

Lalu, ketika membaca tulisan tahun 2014, gue merasa kalau gaya gue sok-sok motivator yang sangat berusaha memberikan nasihat kepada pembacanya. Mirisnya, pada tahun itu sedikit banget dan jarang yang komen di blog gue. Alias cuma segelintir manusia yang baca. Terus itu gue ngasih nasihat ke siapa dong? Bangkai curut!

Pada tahun 2015, gue mulai terpengaruh dan belajar untuk menulis komedi. Ya, meskipun komedi-komedi di tulisan gue itu kayaknya garing banget. Sekalipun lucu, palingan yang jokes mesum. Sampai-sampai gue malah jadi keterusan untuk memakai cara itu. Gue merasa nggak kreatif sama sekali. Berniat menghibur orang, tapi caranya kok gitu-gitu aja? Menyedihkan.

Barulah pada tahun 2016, terutama setelah mengganti nama domain dan blog menjadi: akbaryoga(com) - Mengunci Ingatan. Gue mulai menulis apa aja yang memang ada di kepala. Yang penting keresahan dan pesan gue dapat tersampaikan. Kalau ada bumbu komedi yang bisa gue selipkan di tulisan itu syukur, nggak ada juga gak jadi masalah. Toh, nggak semua orang butuh tulisan lucu. Bisa aja dia lebih butuh tutorial. Tutorial menulis lucu dengan estetika yang diremehkan, misalnya.

sumber asli: pixabay yang kemudian ditambahin teks olehku

Masih terus menikmati tulisan-tulisan gue sendiri yang bikin diri ini semakin nggak keruan. Sampai akhirnya, gue menemukan puisi ini:


Di bawah putih berkelip
Ada kenangan yang terselip
Duduk berdua di meja kotak
Membuat hati semakin retak

Sedih dan pedih seolah-olah membentak
Marah dan ingin memberontak
Namun, di depanku ada botol-botol air suci
Yang kuharap bisa mengobati benci

Lama tidak bertemu
Kenapa masih ada api di matamu?
Yang membakar habis bahagiaku
Sampai lidah ini pun kaku

Kita mulai terjebak canggung
Entah bingung atau takut tersinggung
Yang pasti aku tidak begitu peduli
Apalagi memilih kembali

Pamulang, 15 Februari 2015

***

Gue masih nggak tau harus memberikan judul apa yang pantas untuk puisi itu. Apalagi judul untuk tulisan ini. Saat jari gue terus menekan tuts di laptop dan terketik kalimat ini, gue masih saja kepikiran akan judulnya. Namun, tetap nggak ketemu juga judul yang cocok. Yang gue tau, kayaknya gue nggak perlu mendefinisikan puisinya. Puisi itu bisa kalian artikan sendiri maknanya. Dalam seni kan setiap orang mendeskripsikannya berbeda. Hehe. Yang pasti itu memang menyangkut masa lalu dan gue malas untuk membahasnya. Gue cukup membaca kenangan itu di tengah hujan deras pada malam Minggu ini sambil mendengarkan lagu Endah n Rhesa “Untuk Dikenang (Jikustik cover)”.

Barisan puisi ini, adalah yang aku punya
Mungkin akan kaulupakan atau untuk dikenang

Tulisan dariku ini, mencoba mengabadikan
Mungkin akan kaulupakan atau untuk dikenang

Gue pun secara tidak sengaja menemukan judul itu ketika membaca ulang tulisan ini. Jadi, judul tulisan ini adalah....