Surga di Telapak Kakimu

41 comments
Bertabur buih air mata yang terluka. 
Belati itu belati tebar pedih tebar perih. 
Berbunga-bunga ketika lihatmu ada. 
Menari-nari merintih redam sedih redam sedih. 

sumber: pixabay

*** 

Bulan Desember kemarin, gue sempat mengadakan give away tentang ibu. Anehnya, sampai tanggal 29 Desember 2016 belum ada satu pun yang berpartisipasi. Padahal deadline tanggal 31 Desember 2016. Tinggal dua hari lagi. Kan kacau!

Sepi amat ini dah nggak ada yang mau ikut. Kenapa, sih? Terlalu kecepetan dan gak sempet nulis? Apa lagi pada sibuk mempersiapkan tahun baruan?

Setelah mendengarkan saran dari beberapa teman untuk memperpanjang batas waktunya. Ya udah, akhirnya gue pun mengubahnya menjadi tanggal 6 Januari 2017. Eh, pas tanggal 30 dan 31 baru deh beberapa orang mulai pada ngasih tautan tulisan mereka ke gue. Parah! Kini, deadline itu udah berakhir, maka gue mulai mendata siapa aja yang ikut meramaikan. Setelah dihitung-hitung, ternyata lumayan banyak yang ikutan GA gue. Ehehe. Sungguh, ini di luar ekspektasi gue. Makasih banget ya buat kalian.

Inilah bloger-bloger keren yang meramaikan give away gue:

Robby Haryanto: Surat dari Ibu
Ahmad Rosyid: Curhatan tentang Ibu
Faranggi Eka: Mimpi Malam Jani

Fandhy Achmad: Tugasku Belum Usai
Gustyanita: Ibu

Karina Rahmania: Susah Puitis
Tari Artika: Hadiah untuk Ibu

Bahkan, ada yang nulisnya di Wattpad, entah gue gak tau siapa nama aslinya. Kalau nama akun Twitter-nya, sih, @Pilaa5SOS: Shout Out

***

Sambil membaca tulisan-tulisan mereka, gue mendengarkan beberapa lagu tentang ibu. Salah satunya ialah Tarintih (Barasuara).

Lagu itu diambil dari kata “tarian” dan “rintihan”, yang kemudian dijadikan satu: Tarintih. Sebuah lagu yang menceritakan tentang seorang ibu dari sudut pandang si anak. Anak itu sadar akan banyaknya kesalahan yang telah ia lakukan, tetapi ia masih berharap dan terus bertanya-tanya mengenai surga—yang katanya berada di telapak kaki ibu. Penyesalan dan pertanyaan itu tergambar jelas di bagian liriknya yang ini:

“Terlambatkah sudah, surga di telapak kakimu?”

Tarian dan rintihan ini adalah analogi dari perasaan senang dan sedih. Ya, hidup akan selalu begitu. Ketika kita sedang bersenang-senang; entah itu menghabiskan waktu untuk hobi, bermain bersama teman, atau pacaran, kita sering kali melupakan sosok ibu. Kita benar-benar terlarut di dalam kesenangan duniawi. Sudah tengah malam, tetapi kita masih keluyuran. Di kala itulah seorang ibu pasti akan cemas menanti-nanti anaknya pulang. 

“Sudah larut malam begini, kenapa si anak belum juga sampai rumah? Ditelepon dan di-SMS gak direspons. Di mana dia sekarang? Apa dia udah makan?”

Seorang ibu tentunya akan khawatir dan berpikiran seperti itu.

Lalu, di saat kita bersedih karena teman yang mengecewakan, putus sama pacar, atau merasa letih akan kehidupan. Barulah kita mulai merintih serta mengadu kepada ibu. Namun, seorang ibu tidaklah marah meski kita sering mengabaikannya. Ibu senantiasa memberikan perlindungan dan rasa nyaman. Seburuk apa pun yang telah kita perbuat, ibu akan tetap memaafkan dan membalasnya dengan kebaikan.

Mendengarkan lagu itu sambil membayangkan wajah ibu dan juga segala pengorbanan yang telah beliau lakukan ke gue tuh bener-bener bikin merinding.

Ibu telah memberikan dan melakukan banyak hal kepada gue, sedangkan gue sendiri hanyalah seorang anak yang suka ngeyel setiap dibilangin atau dinasihatin. Apalagi ketika beliau menyuruh gue membeli terigu, gula, atau mecin ke warung, gue biasanya nggak langsung berangkat. Gue malah sering banget jawab, “Nanti”; “Ntar dulu, ah”; atau “Ahelah, Sadam (adik gue) aja kenapa?”.

Gue sadar diri kalo belum jadi anak yang baik. Namun, masih bolehkah gue untuk berharap maaf darinya? Sudah terlalu banyak dosa gue. Sejujurnya, gue juga merasa kalau sampai saat ini belum bisa membahagiakannya. Apalagi membuatnya bangga. Lalu, apakah surga itu masih layak gue huni? Gue masih terus memikirkannya.

Kalian ngerasa begitu gak, sih?

Jadi, masih pantaskah kita mendapatkan surga?

Pikirkan sendiri!

Mumpung belum terlambat, mari kita mulai untuk lebih menghormati dan menyayangi seorang ibu. Bagi yang ibunya sudah meninggal, mari doakan beliau dan menjadi anak yang saleh atau saleha. Karena amalan yang tidak akan putus salah satunya, yaitu: doa anak yang saleh.

PS: Adakah tautan kalian yang belum gue tulis? Tolong koreksi di kolom komentar, yak. Dan sepertinya, gue umuminnya tanggal 10 aja deh. Masih bingung nih milih-milih siapa pemenangnya. Kalau kalian suka sama tulisan siapa?

Sekali lagi makasih buat yang udah ikutan!

--

"Mama was my greatest teacher, a teacher of compassion, love and fearlessness. If love is sweet as flower, then my mother is that sweet flower of love." - Stevie Wonder.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

41 comments

  1. *Mata berair*
    Siapa yang naruh bawang disini?

    Nggak ding, serius ah.
    Surga rasanya jadi jauh kalo dipikir-pikir lagi, padahal harusnya surga itu deket kan letaknya di telapak kaki ibu. Padahal kita sendiri yang bikin surganya menjauh gara-gara nggak mau nurut ibu, suka ngebantah, dll yang bikin ibu sakit hati :(
    Yah semoga nggak terlambat, dan surganya masih belum terlalu jauh jadi masih bisa kekejar.

    Btw komen pertama dapet apa nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ada bawang. Adanya wortel. :(
      Iya, ya. Surga jadi menjauh akibat ulah kita sendiri. :')

      Dapet selamat dan kunjungan balik! Hahaha.

      Delete
    2. Klo wortel ingetnya heru arya nih

      Delete
  2. *numpang nyanyi sambil nangis

    waktu papa pergi ke tempat tinggi
    tinggalkan mama berjuang seorang diri
    lewati tiap hari mengusir sepi
    walaupun sedih tapi kau simpan dalam hati

    kau rawat kami anakmu terkasih
    didik dengan sabar sampai berhasil
    bekerja tiap hari jakarta bekasi
    sungguh kasihmu tak pernah berakhir

    ku tahu tak gampang untuk berjuang
    papa tak tinggalkanmu dengan banyak uang
    terpaksa kau bekerja larut baru pulang

    i’m proud of you mom ku cuma bisa bilang
    " thank you mom you know i really love you
    you may not always be tempatku mengadu
    tapi tanpamu takkan ku maju
    namamu ada di setiap langkahku"

    kau yang terbaik di dunia ini
    kau beriku kasih yang abadi
    you’re my only mature lady, you’re my mama

    T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu lagu siapa, Put? Kok tulisan ini jadi makin sedih karena komentar ini. Huwaaaaa. :')

      Delete
  3. Buset. Ngomongin dosa ke ibu mah banyak banget pasti. Salah satunya nonton stand up festival 2015. Itu hasil ngebohong orang tua anjis! Bilangnya les, eh malah ke Senayan. :((

    Kalau lagu soal ibu, lagu yang paling sering gue denger akhir-akhir ini Sekuat Hatimu-nya Last Child. Wahaha, bener-bener buka folder lama, nih. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Jadi gak usah diomongin. Tulis aja di blog! :D
      Parah banget bilangnya les. Duh, Nak. Jangan bohong, it nggak baik. Mending berdusta saja. :|

      Wehehe. Itu juga enak lagunya! :D

      Delete
  4. Njiirr kok aku jadi nelangsa pas baca ini tulisan, apalagi tadi sempat ditanya ibu kenapa seminggu ini gak ngasih kabar ke beliau. Jadi serba salah, dan jika dipikirkan kembali "Kenapa aku jadi cuek begini?" :l

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan nelangsa dong. Nelbebek aja. Apaan! :(

      Cobalah untuk berkomunikasi. Barangkali ibumu emang lagi kangen kamu, Mas Fan. :D

      Delete
  5. Duh aku kebanyakan ngebercandain mama, tapi mama juga gitu :( *lah nyalahin balik* moga aku dan kita semua bisa sama-sama membahagiakan ortu masing-masing (secara terus menerus, bukan cuma satu dua moment aja)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesama perempuan enak ya bisa saling bercanda. Aku mau bercanda gimana, Teh? Pasti disangka beneran. :(

      Aamiin. Yoeh! Gak hanya momen tertentu aja, yak.

      Delete
  6. Gue ga bisa berkata - kata deh.. Rasanya pengen mendem kepala di bak pasir kalo inget kelakuan gua yang selalu bikin emak gua sebel. Sering banget beda pendapat sama beliau.

    Makin besar malah makin songong :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa harus bak pasir? Bak mandi lebih seger. Iya, semakin tua kadang belagu. :))

      Delete
    2. Bak pasir...aku jadi inget bunga kucing

      Delete
  7. Semoga dapet iPhone 7 ya yg ikutan giveaway.. :')

    ReplyDelete
  8. Klo ga salah gue baru baca giveawaynya malah batu januari yog, wakkakak
    Desember gue ngga tau
    Wah asyik nih gue nyelip diantara blogger2 kece...#duh tetinba panas dingin, tulisannya oada bagus2 amat ya #padahal baru baca judul, tar ah, gue samperin atu2

    Ngomongin lagu kok tarintih malah gue mikirnya klithih hohooo,, kebanyakan nonton berita patroli

    Byptw keliatan sih emang kamu anaknya ngeyelan yog wakakak #kaboorr

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, parah nih Mbak Nita sibuk banget sampai gak tau info GA dari gue. Ehehe. :p
      Gak pernah nonton berita patroli lagi. Sukanya nonton One Piece. :(

      Wakaka. Emang ngeyelan, kok. Sadar diri. :)

      Delete
  9. Di playlist aplikasi pemutar musik di handphone gue, ada lagu Ibu yang dinyanyikan oleh Abah Iwan Fals. Dan ketika lagu itu terputar, gue selalu berhenti sejenak untuk menyerapi dan merenung sampai lagu itu berganti dengan lagu lainnya.

    Abah Iwan memang benar. Ibu adalah segalanya, apapun yang kita perpuat taakan mampu membalas kasih sayang ibu kepada kita.

    "Ketika anak sakit, ibu pasti berdoa agar beliau aja yang sakit. Tapi ketika ibu sudah tua dan sakit, anak-anak nya akan berkata kepada Tuhan, kita semua sudah ikhlas kalau mau diambil silahkan saja" perkataan encing gue saat nenek gue sakit yang masih gue inget.


    Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
    Lewati rintangan, untuk aku, anakmu
    Ibu ku sayang masih terus berjalan
    Walau tapak kaki. Penuh darah, penuh nanah

    Seperti udara kasih yang engkau berikan
    Dengan apa membalas ..... ?

    Tak mampu ku membalas.... Ibu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap banget itu lagunya Bang Iwan! Gue juga suka banget. :)
      Duh, kok jadi gitu, sih? Komenmu bikin merinding dan sedih, Nap. :')

      Delete
  10. Oh ok yaaa gitu nama gw ngak disebut
    OK BYE

    ReplyDelete
  11. kalimat openingnya bikin ngakak bang! *ngakak guling-guling*

    tp kebawah-kebawah, tulisanmu bikin baper T,T, gara-gara kangen ibuk *anak rantau*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagian yang mana? Bukannya itu lagu?

      Sabar ya, Nak. :')

      Delete
    2. ini bang yg habis lirik lagu
      "Bulan Desember kemarin, gue sempat mengadakan give away tentang ibu. Anehnya, sampai tanggal 29 Desember 2016 belum ada satu pun yang berpartisipasi. Padahal deadline tanggal 31 Desember 2016. Tinggal dua hari lagi. Kan kacau!"

      Delete
    3. Woalah. Itu toh. Wahaha. Itu karena kesel gitu nulisnya. XD

      Delete
  12. Di tulisan semelankolis ini masih sempet-sempetny nyempilin quote dari filsuf. Yogs! Bahahahahaha.

    Yoga seleranya gitu ya, lagunya yang judulnya bikin bertanya-tanya isi lagunya apa. Termasuk yang Tarintih ini. Eh taunya tentang ibu :")

    Menolak komen soal Ibu, soalnya pasti bakal ngerasa berdosa bangeeet. Aku kayak ansos di rumahku sendiriiiii :((((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Filsuf siapa? Sebut nama!

      Ehehe. Namanya juga selera. Enak tapi musiknya, Cha. Meskipun awalnya bikin bingung. Yang penting gak menolak job review aja. Sayang kan itu rezeki. :')

      Delete
  13. Sama yog! saya juga suka sama lagu2nya Barasuara. Trmasuk sama Terintih itu. Tpi saya baru tahu Tarintih itu maksudnya apa pas habis baca tulisan ini. Lagu ini memang menceritakan tentang seorang Ibu.

    Bdw, saya juga baru ingat klo Tagline blog ini juga ada di judul lagunya Barasuara. "Mengunci ingatan" itu juga gak kalah keren! Kyaknya relate deh sama blog ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe. Mantap, Rey! Barasuara emang kece, sih. :D

      Woahaha. Baru engeh, ya? Nanti kapan-kapan gue jadiin tulisan deh. :)

      Delete
  14. Pertamax. Gue nggak tau mau komen apa Yog... semoga semua ibu dari anak-anak yg komen disini pada sehat ibunya semua! Yuk bahagiain org tua dengan cara kita masing2..
    Lah gue absurd. Yaa gue cuma komen biar jadi penanda blogwalking aja sih Yog. Biar nggak jadi silent rider hehe.

    So sorry.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin... RT @arul dagul : semoga semua ibu dari anak-anak yg komen disini pada sehat ibunya semua!

      Delete
    2. Aamiin ya, Rabb. Yuk, bahagiain~ :)

      Nggak apa-apa jadi silent reader pun, Rul. :D

      Delete
  15. Yahhh telat tau ada give away :((

    Yog, you make my day sad. Abis diceramahin ibu, baca beginian. Jadi galau kan...

    Btw, tulisannya Adibah noh. Ngeselin! Ngakak malah gue bacanya. HAHAHA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaahh. :(

      Nggak bermaksud, sih. Gue nulis cuma buat renungan diri sendiri gitu tadinya. Dia mah emang selalu ngeselin. Entah ketemu ataupun di tulisan.

      Delete
  16. UMUMKAN SEKARANG!! SUDAH TANGGAL SEPULUH. GAMAO TAUU!!

    ReplyDelete
  17. Maaf Yog, gue gak ikutan. Alasannya....ahsudahlah. Lu pasti gak mau tau..

    Gue jadi sadar diri, kalau kita sering kali lupa sama Ibu pas lagi senang2 atau main sama tmn :((

    Sedih juga kalau inget gue sering melanggar perintah beliau buat gak pulang malem.
    Tapi alhamdulillah sih, masih diberi kesempatan buat memperbaiki. sekarang udh mulai nahan diri buat pulang larut malam.
    Semoga bisa lebih baik lagi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok suuzan gitu, sih? Ya udah, udah kelar juga. Gak apa-apa gak ikutan. :))

      Alhamdulillah. Semoga, ya! Aamiin.

      Delete
  18. Kalo udah nulis soal ibu gini pasti sedih euy. Semacho apapun cowok, pasti mewek juga kalo inget kesalahan2 yg udah dilakuin ke ibunya.

    Yang paling ngena sih emang pas kita asik di luar, nongkrong sama temen, lupa waktu sampe tengah malem, padahal ibu di rumah nungguin. :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cowok juga punya perasaan. Dia bakalan nangis kalau udah berhubungan sama kesalahannya kepada seorang ibu. :')

      Iya, rela nahan ngantuk demi mastiin anaknya udah sampai rumah.

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan.
Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.