Aku lagi mengawasi seorang laki-laki dari balik pintu kamarnya (atau bisa dibilang mengintip). Tidak jelas apa yang sebenarnya ia lakukan dari tadi. Yang kuperhatikan ia cuma duduk di depan laptop. Entah ia sedang menulis sambil mendengarkan lagu—karena sebuah earphone terpasang di kedua telinganya—,atau sedang menonton film.

Mencoba mengira-ngira apa yang sedang dikerjakannya rasanya seru juga. Tapi sayang, aku tidak bisa mendengar suara apa-apa dari laptop itu. Satu-satunya suara yang terdengar di kamar ini ialah kipas angin yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempatku mengintip. Kipas angin itu membuat matanya merem-melek menahan kantuk. Ia membenamkan wajahnya di telapak tangan seraya mengusapnya ke atas dan ke bawah.

Ia mendengus kesal. Kemudian ia jambak-jambak rambutnya sendiri. Mungkin pikirannya sedang kacau. Ia mencopot earphone itu dari telinga maupun laptop, lalu melemparkannya ke kasur. Tak lama setelah itu, ia juga merebahkan dirinya ke kasur. Tampaknya ia sedang frustrasi.
Read More
“Tidak menulis sehari akan membuatmu sakit, tidak menulis seminggu akan membuatmu gila.”

Kalimat dari A. S. Laksana itu membuat gue merenung. Apa iya sekarang gue udah gila? Udah seminggu lebih nggak nulis apa-apa gini. Iya, betul. Udah seminggu blog ini nggak ada tulisan. Bukan cuma tulisan di blog aja, sih, tapi tulisan kayak tugas kuliah, atau tulisan di tembok WC pake tipe-x “Yoga was here” juga enggak.

Gue nggak begitu ngerti, kepala gue ini lagi kenapa. Tapi kok rasanya di dalamnya lagi kacau banget. Awalnya, semua ide ngumpul di kepala dan gue biarin gitu aja. Gak kayak biasanya yang langsung catet di notes hape atau post it.
Read More
Pernah gak kalian melihat hantu terus merinding sampai rasanya pengin teriak dan nangis, tapi akhirnya malah diem dan gak bisa berbuat apa-apa?

Boleh dijawab, boleh enggak. Tapi yang penting jangan gantungin aku selama berhari-hari dengan alasan, “Aku lagi fokus UN, nanti aja jawabnya.”

Kalo gue pernah, dulu pas masih kecil. Gue agak lupa pas umur berapa, seingat gue kayaknya pas masih kelas 1 atau 2 SD. Awalnya, gue lagi jagain Sadam (adik gue, saat itu umur dia baru sekitar 2-3 tahunan) di kamar karena gantiin tugas Nyokap yang mau mandi sore dan salat Magrib.

Saat sedang asyik mengajak dia bercanda, tiba-tiba Sadam menangis kencang. Gue nggak tau apa yang salah dengan bercandaan gue. Gue bertanya, “Kenapa, kok nangis?”

Dia tidak menjawab dan tangisannya pun semakin keras. Saat gue sekilas mengalihkan pandangan, gue melihat Nyokap lagi berdiri salat Magrib di sebelah kasur di pojokan kamar. Tapi setau gue Nyokap masih berada di kamar mandi. Setelah gue lihat lagi, rupanya itu bukan Nyokap. Itu adalah hantu bungkus—atau yang lebih dikenal pocong. Gue hanya bisa menutupi muka dengan bantal karena gak bisa teriak ataupun menangis.

Kali ini, gue merasakan hal yang sama. Namun, gue bukan melihat hantu lagi. Gue baru saja melihat video ini.
Read More
Wuih, udah bulan April aja. Udah ganti domain baru pula. Ehehe. Oke, maaf kalo pamer. Hari ini adalah Sabtu pertama di bulan April. Ng... nanti malam Mingguan ke mana nih, ya? Sejujurnya, udah lama gue nggak keluar rumah di malam Minggu. Seingat gue, terakhir malam Mingguan itu pas tanggal 19 Maret 2016. Yaelah, Yog! Belum ada sebulan aja udah ngeluh lama.

Gue masih ingat dengan jelas tentang malam itu. Di mana gue malam Mingguan untuk menghadiri acara Malam Puisi Jakarta.

***

“Parkirnya tolong agak pinggiran ya, Mas. Ini buat jalan soalnya,” kata pemilik kafe kepada gue yang sepertinya parkir tidak rapi. “Maaf nih sebelumnya.”

“Oh, iya-iya, Bang.” Gue tersenyum dan langsung menggeser motor. Setelah sudah memarkirkan motor dengan benar, gue pun masuk ke dalam Jung Coffee, tempat diselenggarakannya Malam Puisi Jakarta. Karena masih banyak meja yang kosong, gue memilih meja yang posisinya menghadap ke tempat pembacaan puisi.

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home