Semacam Ejekan dan Penghormatan buat Penyair

penyair yang baik adalah penyair yang mati. mereka telah terbebas dari dosa. mereka bukan penjaga gerbang di pintu masuk menuju ruang yang mempertemukan penulis awam dengan pembacanya. untuk apa mereka jadi satpam yang melarang-larang pengunjung masuk ke semesta fiksi alternatif? apakah untuk berjumpa dengan penulis baru harus dikenakan tarif? enggak mesti uang, pakai tubuh juga boleh, kok, kata si penyair cabul terkekeh-kekeh kepada perempuan yang mereka anggap aduhai. tak jarang dari mereka justru menawarkan produk sendiri sekalian menciptakan kanon. pembaca mereka bisa banyak sebab si penjaga gerbang telah merampas apa yang semestinya jadi milik kita.




angkat jari tengahmu tinggi-tinggi untuk masteng bau tengik yang berkata puisi-puisi di internet adalah dosa besar bagi kesusastraan. platform digital cuma merusak, ujarnya, padahal sajak-sajak yang tak muat di koran juga ia pamerkan di blog. oh, mungkin penulis sok hebat itu lagi pura-pura goblok. setelah betah terlalu lama menduduki singgasana, raja itu keluar istana dan menginjak beraknya sendiri, kemudian berkata dengan arogan: aku mencium bau puisi jelek. aduh, bos, minum kopi dulu biar melek!

kopi dan rokok, dua hal yang identik untuk menjadi penyair di negeri tercinta. jangan lupa buat menjalankan kegiatan sakral itu sembari memandang langit senja. atau boleh juga sambil begadang. demi sukses dianggap penyair, konon lakukanlah ritual-ritual barusan setiap hari.

tapi sejak hari pertama aku ternyata sudah menggagalkan diri. aku benci kopi dan rokok. santapanku Choki-Choki dan Pocky, yang hanya mampu kubeli seminggu sekali. semacam hadiah buat diri sendiri selepas kerja serabutan, sebab pekerjaan utama seorang penulis cuma menjadikanku pesakitan yang tersesat di hutan.

mereka bilang, puisi di rumahku bermakna gelap. yah, harap maklum, aku sedang tak mampu bayar listrik. duitnya sudah habis buat isi perut, yang ujung-ujungnya kubuang di toilet. toiletku katanya juga bermandikan tangis. sabun dan samponya pun murahan, makanya beraroma penderitaan. lagi pula, di toko mana, sih, kita bisa membeli gayung yang mampu mengguyur dengan tawa gembira?

andai aku tahu, toko itu bakal kubakar. aku ingin melihat api bekerja. kalau perlu, aku berharap bisa menyaksikannya bersama seorang gadis—yang kelak jadi kekasih, agar kami bisa mengulang adegan Watanabe dan Midori setelah berciuman di novel Norwegian Wood.

aku sadar diriku bukan binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang. aku cuma hewan lajang. aku memilih hidup sebagai serigala penyendiri, yang berharap suatu hari nanti bisa menggigit leher para dewan juri.

setelah hujan bulan Juni, apakah ada kemarau bulan Juli? aku memang menantikan adanya kekacauan musim di dunia puisi. supaya arsitektur hujan dan kertas basah di bawah kibaran sarung bisa segera kering.

omong-omong, mengapa luka tidak memaafkan pisau? apakah karena tidak ada New York hari ini? sampai-sampai Cinta yang marah kepada Rangga mulai melakukan perjalanan lain menuju bulan?

di hadapan rahasia, Sergius mencari Bacchus, Pingkan melipat jarak, dan kematian makin akrab.

sebelum tewas diamuk para penyair lantaran seenak jempol menyebutkan berbagai judul buku kumpulan puisi mereka, aku hanya ingin merayakan puisi sambil mendengarkan nyanyian akar rumput. lalu untuk terakhir kalinya, aku dan belasan tokoh menghancurkan kesusastraan sambil berkata: selamat menunaikan ibadah puisi.

0 Comments