Tentang Detektif-Detektif Liar

Prolog
 
Masih sama seperti tema tulisan saya sebelum-sebelumnya, yakni mendedikasikan blog ini untuk Senor Bolaño yang lazimnya berbentuk teks terjemahan atas karya-karyanya (tidak hanya sebatas esai, cerpen, atau puisi, saya bahkan berusaha mengalihbahasakan wawancara beliau yang lumayan panjang), kali ini saya ingin mencoba hal yang sedikit berbeda. Yah, saya akui masih tetap menerjemahkan (hanya sedikit), tapi setidaknya saya akan mencoba untuk lebih banyak menumpahkan kata-kata milik sendiri dengan membahas atau mengulas karya sang pemimpin dari Geng Realisme Jeroan tersebut. Dari berbagai opsi atas karya  yang telah saya baca, saya sengaja memilih buku yang paling saya favoritkan hingga rela memberikan lima bintang di Goodreads: The Savage Detectives alias Detektif-Detektif Liar.

 

 
 
Terjemahan jurnal Bolaño terkait novel The Savage Detectives
 
Ada beberapa hal yang menyenangkan—tak banyak—tentang menyelesaikan sebuah novel, dan salah satunya adalah mulai melupakannya, mengingat mimpi atau mimpi buruk yang berangsur-angsur memudar sehingga kita dapat menghadapi buku baru, hari baru, tanpa terus-menerus mengingat apa saja segala kemungkinan yang bisa dan tidak kita kerjakan dengan lebih baik. Kafka, penulis terbaik abad ini, menunjukkan caranya ketika dia meminta seorang teman untuk membakar semua karyanya. Dia menugaskan tugas itu kepada Brod, sementara pada satu sisi kepada Dora, kekasihnya. Brod adalah seorang penulis dan dia tidak menepati janjinya. Dora kurang berpendidikan dan dia mungkin lebih mencintai Kafka, dan ada yang menduga bahwa dia memenuhi permintaan kekasihnya pada surat itu. Semua penulis, terutama pada hari yang hambar, yaitu hari setelahnya, atau apa yang kita percayai sebagai lusa, memiliki dua setan atau malaikat di dalamnya yang dipanggil Brod dan Dora. Yang satu selalu lebih besar dari yang lain. Biasanya Brod lebih besar atau lebih kuat dari Dora. Tidak dalam kasusku. Dora jauh lebih besar daripada Brod, dan Dora membantuku melupakan apa yang telah kutulis sehingga aku dapat menulis sesuatu yang baru, tanpa rasa malu atau penyesalan. Jadi The Savage Detectives kurang lebih dilupakan. Aku hanya bisa memikirkan beberapa pemikiran tentangnya. Pada satu sisi kupikir aku melihatnya sebagai tanggapan, salah satu dari sekian banyak, untuk Huckleberry Finn; Mississippi dari The Savage Detectives adalah aliran suara di bagian kedua novel. Ini juga merupakan transkripsi yang kurang lebih setia dari segmen kehidupan penyair Meksiko, Mario Santiago, yang cukup beruntung berteman denganku. Dalam pengertian ini, sebuah novel mencoba untuk merefleksikan semacam kekalahan generasi dan juga kebahagiaan suatu generasi, sebuah kebahagiaan yang terkadang menggambarkan keberanian secara detail dan batas-batas keberanian. Demi mengatakan bahwa aku secara permanen sudah jelas berutang budi pada karya Borges dan Cortázar. Aku percaya ada banyak cara untuk membaca novelku karena ada suara-suara di dalamnya. Itu bisa dibaca sebagai ratapan ranjang kematian. Itu juga bisa dibaca sebagai suatu permainan.
 
 
Ulasan atau racauan seusai membaca novel Detektif-Detektif Liar
 
Sebuah novel yang sempat membuat saya berpikir bahwa jika sebentar lagi saya akan mati, setidaknya saya sudah merasa sangat puas hidup di dunia karena bisa mendapatkan kesempatan untuk menamatkannya dan dibikin takjub. Kalimat barusan tidaklah mengada-ada, sebab sekitar seminggu kemudian saya terinfeksi virus Corona. Abaikan saja penyakit jahanam itu serta tak perlu mengasihani saya, dan marilah kita kembali fokus membicarakan novel aduhai ini. Terus terang saja, enggak banyak buku yang dapat membuat saya terkagum-kagum, apalagi kisah di dalamnya bisa memberikan pengaruh yang teramat kuat atas kehidupan saya di realitas. Pada masanya saya pernah terkena virus melankolis akut cenderung depresi berat dari Haruki Murakami selepas menuntaskan novelnya: Norwegian Wood, dan itu merupakan efek yang sungguh menjengkelkan. Sementara karya Bolaño ini memberikan dampak sebaliknya. Geng Realisme Jeroan yang mayoritas berisi penyair muda itu seakan-akan telah menumbuhkan keberanian sekaligus hasrat memberontak di dalam diri saya. Rasanya sebagian sisi pengecut di dalam diri saya pun mulai memudar berkat membaca mahakarya Bolaño ini, dan keimanan saya terhadap tulis-menulis juga kian meningkat.
 
Judul bukunya memang membawa embel-embel detektif, tapi cerita-cerita di dalamnya jelas berbeda dengan buku detektif pada umumnya. Saya kira para pembaca lah yang bertugas sebagai detektif untuk mencari jawaban dari setiap teka-teki yang tersusun dalam teks 600-an halaman ini. Isi novel The Savage Detectives terbagi menjadi tiga bagian:
 
1) Bagian pertama yang bertajuk Orang-Orang Meksiko Tersesat di Meksiko ini dituturkan lewat sudut pandang Juan Garcia Madero (seorang maba alias mahasiswa baru Jurusan Hukum yang lebih berminat pada kesusastraan dan akhirnya berhenti kuliah setelah bergabung dengan Geng Realisme Jeroan lantas bertualang bersama Arturo Belano serta Ulises Lima) dalam format buku harian atau jurnal yang setiap fragmennya selalu dibubuhkan tanggal. Catatan harian seorang pemuda labil ini dominan berkisah tentang geng penyair sekaligus pengenalan tokoh-tokohnya, mendiskusikan puisi di kafe atau bar murah hingga mengejek penyair mapan yang sedang mendeklamasikan sajak, hal itu semacam bentuk perlawanan atau pemberontakan, dan tentu saja kehidupan seks anak muda yang menggelora;
 
2) Bagian kedua berisi suara para tokoh (yang disebut sebagai Detektif-Detektif Liar di bagian judul bab) yang kurang lebih berjumlah 40 orang. Mereka ini bertugas sebagai narator untuk mengisahkan kehidupan Belano dan Lima yang terjadi pada rentang tahun 1976 hingga 1996. Saya sebetulnya sudah lupa siapa saja nama-nama mereka, tapi yang jelas Belano dan Lima tidak pernah menyuarakan dirinya sendiri. Ambil contoh sewaktu karakter Arturo Belano (sering dianggap sebagai alter ego Bolaño) sedang menggelandang di Barcelona dan jauh dari istri serta anak-anaknya sembari menggarap sebuah novel dan kemungkinan besar adalah cikal bakal The Savage Detectives, yang bertugas sebagai narator pada cerita itu ialah Felipe Muller, seorang perempuan asing yang memperoleh kecupan di pipi dari Belano ketika mereka berpisah di bandara. Lewat narasi Felipe ini, saya jadi tahu bagaimana hari-hari terakhir Belano yang kesepian, menderita, dan murka atas kekalahan generasinya, atau dengan kata lain: nelangsa. Namun, entah mengapa kisah-kisah yang semestinya bernuansa muram itu bisa dikisahkan dengan nada riang dan mengasyikkan. Berhubung di bagian kedua ini panjangnya bisa mencapai 400 halaman, rasanya wajar kalau saya mandek berkali-kali hingga butuh waktu sebulan demi mencapai bab terakhirnya;
 
3) Syukurlah pada bagian ketiga ini sang narator balik lagi kepada Juan Garcia Madero, dan saya merasa lebih luwes saat menyimak penuturannya. Walaupun ada beberapa hal yang belum terjawab, paling tidak salah satu teka-teki buku ini tentang mencari keberadaan penyair avant-garde (golongan pelopor) bernama Cesárea Tinarejo mulai mendapatkan titik cerah ketika mereka bertualang sampai ke Gurun Sonora. Perjalanan mereka ini sebetulnya termasuk ke dalam peribahasa sambil menyelam minum air, sebab Garcia Madero ini juga mengajak Lupe, seorang lonte yang dia sayangi, dengan maksud melarikan diri dari Alberto (germonya yang berkontol gede) dan polisi bayaran. Nahasnya, pertualangan mereka yang mulanya menggembirakan itu tak selalu berjalan mulus. Memang, sih, mereka berhasil menemukan sang penyair yang keberadaannya bagaikan mitos, tapi siapa yang menyangka bahwa perjalanan itu pada akhirnya justru membawa mereka pada malapetaka. Dengan mengingat-ingat suara para tokoh pada bagian kedua, saya akhirnya paham mengapa Belano dan Lima bisa sampai terpisah dan mengalami kepahitan hidup yang lebih jahanam. Peristiwa di Gurun Sonora itulah pemicunya. Novel ini pun ditutup dengan puisi berwujud simbol yang tak mampu saya pahami apa maknanya.
 
 
Sepuluh nukilan kesukaan dari novel tersebut
  

1. Ada waktu untuk membaca puisi dan ada waktu buat adu jotos.

2. Mereka tidak bilang ‘grup’ atau ‘pergerakan’, mereka menyebutnya ‘geng’, dan aku menyukainya.

3. Depresi sepanjang hari, tapi menulis dan membaca bagaikan mesin uap.

4. Setiap buku di dunia yang berada di luar sana sedang menunggu untuk dibaca olehku. 

5. Kau bisa merayu seorang gadis dengan puisi, tapi kau tak bisa mempertahankannya dengan puisi. Bahkan dengan pergerakan puisi.

6. Kami menafsirkan hidup pada saat-saat keputusasaan yang paling dalam.

7. Segala hal yang dimulai sebagai komedi akan berakhir sebagai monolog komika, tapi kami tidak tertawa lagi.

8. Kehidupan meninggalkan kita semua di tempat yang seharusnya atau tempat yang nyaman untuk meninggalkan kita dan lantas melupakan kita, sebagaimana mestinya.

9. Aku tak tahu apakah hari ini tanggal 2 atau 3 Februari. Barangkali tanggal 4, atau bahkan 5 atau 6. Tapi itu semua sama saja bagiku. Ini adalah ratapan tangis kami.

10. “Jangan keluar di dalam,” ujar Maria.

“Aku akan mencoba untuk tidak mengeluarkannya di dalam,” kataku.

“Apa maksudmu dengan kau akan mencoba, berengsek? Jangan keluar di dalam!”

 
Epilog
 
Pantas saja Bolaño sampai menyebut novelnya sebagai ratapan ranjang kematian, karena saya pun pasti menyimpulkan karya itu merupakan perjalanan hidup sang penulis sejak masa muda yang penuh kegilaan hingga masa-masa menjelang kematiannya (walaupun Bolaño baru wafat pada Juli 2003, sedangkan novel The Savage Detectives terbit pada 1998). Berkat novel yang saya ulas seenak jidat ini, saya kira Bolaño cukup beruntung bisa menikmati ketenarannya sebagai penulis dan menerima beberapa penghargaan bergengsi serta karya-karyanya juga mulai diterjemahkan—khususnya ke dalam bahasa Inggris yang jelas-jelas bisa memperoleh lebih banyak pembaca sekaligus penggemar. Tapi siapa yang tahu jika Bolaño sebenarnya sedih akan hal itu? Beliau adalah seorang penyair yang sangat mencintai puisi, dan sementara itu kariernya justru lebih cemerlang sebagai penulis prosa. Yah, apa pun isi hatinya itu, mungkin sudah tak penting lagi lantaran sudah terkubur bersama jasadnya, pergi bersama Maut yang merangkulnya selayaknya kawan seperjalanan. Saya hanya bisa mendoakan beliau mendapatkan tempat yang nyaman di alam sana, lalu mengucapkan terima kasih dari hati yang terdalam karena sudah menyuguhkan bacaan seciamik ini.
 
 

 
 
Gracias, Senor Bolaño. Adios.

--

 
Sumber gambar: tonysreadinglist.blogspot.com dan elmapesante.com.

4 Comments

  1. Masih tentang Roberto Bolano, jadi penasaran dengan karya-karyanya.

    ReplyDelete
  2. Sebagai fanboy Haruki Murakami kemudian jadi fanboy Bolano juga, karya-karya emang pake pakem fiksi detektif. Savage Detective ini sangat detektif, meski bukan model Sherlock Holmes atau Poirot.

    Salah elemennya pasti ada orang hilang, di Murakami pasti cewek, kalau Bolano biasanya penyair, meski cewek juga sering. Harus ada yg hilang, agar tercipta "pencarian" ala detektif. Bisa harfiah kayak nyari orang hilang tadi, atau/sekaligus pencarian jati diri.

    Pernah baca wawancara, antara Murakami sama Bolano ini suka sama penulis fiksi detektif Raymond Chandler.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pantesan saya suka yang model begini. Termasuk sejenis memang mereka berdua. Tapi saya merasa Bolaño bisa menuturkannya dengan riang, sementara Murakami melankolisnya terasa banget, dan enggak kuat jika harus diseret lagi ke dunia muramnya. Sekalipun saya tahu, itu cerita kekalahan generasinya Bolaño sewaktu menyelam ke bawah permukaan jelas sedih banget.

      Iya, struktur novelnya cerita detektif, tapi bukan kayak mereka berdua. Lupa mau kasih contoh di ulasan. Makasih, Rif, udah nambahin penjelasannya. XD

      Kalau enggak salah itu si Murakami. Saya pernah baca juga. Dia mengawinkan gaya Chandler dengan Dostoyevsky.

      Delete
  3. wah menarik nih, udah lama ga baca tentang detektif :D

    ReplyDelete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.