Apakah Kata-Kata Seorang Pujangga Sama Tajamnya dengan Pedang Seorang Ronin?

Seorang lelaki yang pada masa SMK-nya gemar mendengarkan sekaligus menyanyikan lagu Base Jam – Bukan Pujangga (terutama yang tercantum dalam lirik berikut demi memperkuat konteks: Mungkin aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata), siapa sangka setelah menginjak usia 20-an, beberapa kawan maupun kenalannya menganggap dia betulan seorang pujangga. Seumpama kamu langsung menduga bahwa lelaki itu ialah pemilik blog ini, tebakanmu tentu sangat tepat.

Sekalipun yang menganggap dia seorang pujangga itu baru sebatas teman kuliah, kawan bloger, ataupun tetangga yang pernah berkomentar “si Yoga yang bisa nulis”, dan sejauh ini tak ada sastrawan yang sudi mengakuinya, bahkan tak tahu keberadaannya di dunia kepenulisan, dia tetap merasa sangat gembira ketika Pak Anton, bloger yang memperkenalkan dirinya sebagai Ronin, menuliskan topik khusus tentang blog Sublimasi Meditasi beserta kenakalan si pencerita pada masa silam.

 



Di dunia blog yang dalam beberapa tahun terakhir dia anggap berubah menjadi kian sepi lantaran banyak kawan yang memilih vakum dan fokus ke kehidupan realitasnya, dan dia mulai merasa seperti serigala penyendiri, siapa nyana di perjalanan itu dia rupanya dapat menemukan kenalan-kenalan baru, dan salah satunya berjumpa dengan Pak Anton, pemilik Kafe MM (Maniak Menulis), yang entah dapat ide dari mana kepikiran buat membahas lengkap isi blognya berdasarkan sudut pandangnya yang tajam, kemudian mengupasnya sesuka hati, selayaknya seorang Ronin yang membawa katana dan bermaksud mengajak bertarung seorang pujangga—yang dia anggap kata-katanya terkesan sama tajamnya dengan pedang miliknya.

Dari sekian banyak blog yang tulisannya menarik dan bisa dijadikan opsi lain, ini jelas menjadi sebuah kehormatan baginya ketika ada seseorang yang sudi mengorbankan waktunya buat mengubrak-abrik arsip blog akbaryoga.com dan membaca sebagian tulisannya, lantas akhirnya berpikir bahwa blog inilah yang terpilih serta layak untuk dipromosikan ke pengunjung kafenya. Tulisan-tulisan dia di blog ini, begitu pula yang terhimpun di buku digital, seakan-akan sedang Pak Anton tawarkan sebagai menu yang enak buat dikonsumsi.

Kala dia membaca ulasan Sang Ronin tersebut, dia spontan tersenyum dan tertawa, bahkan ada bagian yang bikin dia tak percaya kalau dulu pernah memakai candaan dan pelesetan mesum semacam itu, hingga dia refleks bertanya-tanya: Itu dulu tahun berapa saat menuliskannya, ya? Semenjak berlatih menulis fiksi dan meninggalkan gaya menulis lawas yang berfokus pada komedi dan terkadang khilaf menyelipkan lelucon jorok, dia betul-betul sudah lupa pernah menjadi sosok bloger yang membuat citra mesum hanya demi ramainya trafik ataupun pengunjung.

Seperti yang pernah dia tuliskan pada salah satu posnya, ingatan dia akan waktu benar-benar terganggu akibat masa pandemi, sehingga kurun waktu yang palingan baru berlalu sekitar 3-5 tahun, seolah-olah seperti sudah bergerak sepuluhan tahun, padahal dia sendiri baru benar-benar merasa terjun mendalami dunia kepenulisan sekitar 6 tahun silam (sementara usia blognya juga baru berjalan 9 tahun). Ulasan itu secara tak langsung bagaikan mengajak dia bernostalgia, atau dengan kata lain: mencoba mengingatkan bagaimana perjalanan menulisnya dari fase pencarian jati diri, mendapatkan suara penulis, menemukan gaya bercerita, hingga akhirnya berada di titik sekarang.

Apalagi dia benar-benar terharu saat Pak Anton menghubunginya lewat surel untuk memesan karya digitalnya secara borongan, lebih-lebih juga menambahkan uang tip. Bonus buat beli pulsa, ujarnya. Adanya dukungan semacam itu tentu membuat dia bertambah giat menulis sekalian mengasah kecakapannya.

Sesungguhnya, dia sempat agak bingung dengan pemikiran Sang Ronin yang bisa tertarik dengan gaya sengaknya dalam menulis, terlebih lagi prinsipnya dalam urusan berkomentar. Sebagaimana yang dia ketahui, orang yang terlihat arogan itu lebih baik dijauhi atau dimusuhi saja. Buat apa dicari tahu lebih lanjut? Namun, dia menduga bahwa Sang Ronin itu juga memiliki prinsip yang serupa dengannya. Ada masanya seorang bloger bakal bosan maupun muak dengan komentar yang penuh kepalsuan demi sebuah kunjungan balik. Memang, banyaknya pengunjung pada awalnya akan membuatmu bahagia. Sampai akhirnya kau pun merasa lelah sendiri sehabis mengetahui kedok asli beberapa dari mereka yang culas, yakni para bloger yang diam-diam membagikan selebaran promosi untuk berkunjung balik ke istana atau rumah atau restoran atau gubuk atau diksi lainnya sebagai pengganti blog mereka. Terlebih lagi para pengunjung yang nekat menyisipkan tautan aktif.

Sepenting itukah meninggalkan jejak demi menunjukkan eksistensimu? Kau berkomentar agar dianggap sudah blogwalking? Kalau memang tidak ada yang bisa dikomentari, untuk apa memaksakan diri? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, yang sebetulnya ditujukan kepada dirinya sendiri, ternyata bisa melahirkan kalimat “Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.” Kata-kata yang terasa menusuk itu pun akhirnya dia cantumkan di atas kolom komentarnya sebagai keisengan belaka alias buat gaya-gayaan, tapi pada kemudian hari justru bisa menyindir segelintir bloger yang terkadang membuatnya jengkel, sampai-sampai dia merasa kalimat itu cocok sekali dengan alter egonya yang memiliki sifat sinis dan pemberontak.

Meski demikian, akhir-akhir ini dia jelas memilih buat mengubur sosok sinis itu sebab sudah malas mencari musuh, serta dia berpikir bahwa semakin bertambah umur pasti lingkaran pertemanannya kian mengecil. Jadi, dia ingin bersikap lebih kalem saja supaya tidak menimbulkan banyak drama. Dia lebih kepengin bersenang-senang ketimbang mencari keributan. Tapi, siapa yang tahu kalau sewaktu-waktu ada yang mengusik ketenangan batinnya, sehingga sosok itu terpaksa harus naik lagi ke permukaan? Dia sadar kalau sosok itu masih bersemayam di dalam dirinya, dan dia sebenarnya teramat takut jika kata-katanya nanti bisa setajam pedang Ronin, lalu melukai orang-orang di sekitarnya, apalagi sampai membunuh orang lain.

Setidaknya, dia merasa masih sanggup mengontrol sosok jahanam itu dan tentunya memiliki suatu pengendalian diri. Salah satu usahanya terkait hal itu: Dia memikirkan matang-matang tajuk Sublimasi Meditasi di blognya yang mengandung sebuah filosofi mendalam. Nama Yoga yang memiliki arti lain: meditasi alias proses mengheningkan pikiran dan penguasaan diri, sengaja dia pakai sebagai salah satu cara mengontrol kesedihan, kemarahan, kebencian, kehilangan, keputusasaan, ataupun energi-energi negatif lainnya demi sebuah terapi jiwa. Sementara sublimasi, di KBBI artinya begini: 1) perubahan ke arah satu tingkat lebih tinggi, dan 2) usaha pengalihan hasrat yang bersifat primitif ke tingkah laku yang dapat diterima oleh norma masyarakat.

Kesimpulannya: Dia ingin blog ini bisa menjadi wadah untuk mengekspresikan diri secara asyik dan elegan. Dia mau segala racauan di kepala maupun unek-unek di hatinya yang terkadang teramat kacau itu bisa diolah menjadi lebih baik lewat sebuah tulisan bagus. Seandainya perbuatan mengeluh, menggerutu, atau galau tak jelas di dunia nyata ataupun di media sosial itu terlihat tolol sekaligus norak, paling tidak dengan menulis di blog (yang kelak menjadi esai, ulasan, cerpen, ataupun puisi) nanti bakal tampak memukau, dan barangkali dapat diterima oleh banyak orang.

--

PS: Saya lupa dari mana sumber gambar itu karena sudah lama sekali berada di galeri ponsel dan tak sempat mencatatnya. Saya hanya bisa menjelaskan itu merupakan gambar karakter Yato dari anime Noragami.

1 Comments

  1. Bener sih, akhir-akhir ini malas sama komen yang "ngabsen" doang. wkwkwkwk.. dan asli emang kata-kata berkomentar karena ingin ini seumur-umur baru kali ini baca, menohok dan menyadarkan saya untuk tidak berkomentar ngabsen.. ya setidaknya di blog ini saya baca serius baru ninggalin komentar :))

    ReplyDelete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.