Memasuki kamar dingin tak berpenghuni pada pukul tiga pagi, dan kulihat temboknya berwarna lebih gelap dari hitam. Aku pun mencoba rebah, dan dari kasurnya menguar aroma sperma, jejak eskapisme yang ditinggalkan sang pemilik sebelum ia moksa—mencari tempat tertinggi yang paling sunyi. 




Di kamar yang dinginnya sungguh keparat ini, ia seakan ingin berbicara dalam bahasa isyarat dari dunia lain yang hilang, dunia yang tanpa sengaja lenyap hanya dengan terbangun dari alam bawah sadar yang kian memudar.

Demi bisa mengikuti jejaknya, aku perlu berhenti dari penglihatan duniawi. Tapi aku segera sadar tak akan pernah pergi, sebab hasratku akan mi rebus plus cabai rawit, sate ayam, nasi bebek, kue cubit setengah matang, Choki-Choki, segelas Ovaltine hangat, es krim McFlurry Oreo, buku-buku Borges, Bolano, Dazai, Dostoyevsky, Han Kang, Mieko Kawakami, Zambra, film-film Fincher, Masaaki Yuasa, Nolan, Satoshi Kon, Stephen Chow, Tarantino, Wong Kar-wai, lagu-lagu Efek Rumah Kaca, Explosions in the Sky, Mew, Mono, The Radio Dept., The Trees and the Wild, Toe, begitu juga dengan senyuman Farsya, serta daya pikat Kayumi Asuka, tak pernah hilang dari daftar favorit yang selalu mengikatku pada dunia.

Dunia busuk yang sebetulnya ingin kutinggalkan sejak lima tahun silam, tapi konyolnya aku justru sanggup bertahan hingga hari ini. Barangkali kegembiraan masa kanak-kanak yang menandakan awal dan akhir dari tujuan hidupku ini belum tercapai, sehingga setiap hari sebelum memejamkan mata, kukatakan hal ini berulang-ulang: sampai berjumpa besok pagi, dan teruslah bertahan sekali lagi.

--

Gambar saya comot dari Pixabay.