Sampai pertengahan Desember ini saya belum bisa bernapas dengan lega dan kudu tetap menggunakan masker saat keluar rumah. Itu berarti sudah sekitar sembilan bulan saya hidup dengan kenormalan baru tanpa mengetahui kapan kehidupan saya dapat kembali normal. Saya pikir, orang-orang lainnya tentu juga sempat melontarkan pertanyaan begini: kapan pandemi ini bisa lekas berakhir? Di tengah-tengah perasaan cemas itu, syukurlah datang kabar baik bahwa para ilmuwan telah menciptakan dan mengembangkan vaksin Corona. Terlebih lagi sewaktu saya mendengar tentang 1,2 juta dosis vaksin yang sudah tiba di Indonesia, yang kini sedang diuji secara klinis di Bandung. 
 
 

 
Namun, kabar gembira itu rupanya tak bisa disambut dengan baik lantaran beredar berita mengenai kebijakan pemerintah akan penerapan sistem vaksin Corona yang terbagi menjadi dua: gratis dan berbayar. Dari total 107 juta warga Indonesia yang mesti mendapatkan vaksin, hanya 32 juta orang yang memperolehnya secara cuma-cuma, sedangkan sisanya (75 juta jiwa) perlu membayar. Vaksin gratis ini katanya diprioritaskan kepada tenaga kesehatan garda terdepan, pemberi layanan publik, serta kelompok masyarakat rentan lainnya. Sementara masyarakat lainnya akan dikenakan biaya sekitar Rp200.000 per dosis. 
 
Rencana pemerintah dalam mengomersialkan vaksin ini jelas memunculkan banyak penolakan, sebab dari 75 juta warga yang diharuskan membayar itu sebagian besarnya termasuk masyarakat golongan menengah ke bawah. Meski begitu, beberapa warganet di Twitter ternyata cukup sepakat dengan kebijakan pemerintah, sampai-sampai ada salah seorang yang membuat pernyataan sindiran semacam ini: “Buat liburan rela bayar rapid maupun swab test, eh giliran ada vaksin malah minta gratis.” 
 
Masalahnya, orang yang dimaksud dalam pernyataan sinis itu tak bisa mewakilkan masyarakat secara keseluruhan. Sebagaimana yang kita tahu, banyak pedagang-pedagang kecil yang jangankan punya pikiran untuk pergi berlibur, mereka bisa tetap berpenghasilan dan menafkahi keluarganya pun sudah sangat bersyukur. Jadi, terasa wajar jika banyak netizen yang kontra terhadap kebijakan tersebut, kemudian melampiaskan kemarahannya di media sosial. 
 
Sebagian warganet lantas menyebutkan beberapa negara yang pemerintahnya menggratiskan vaksin Corona kepada rakyatnya seperti Arab Saudi, Belgia, Jepang, Prancis, dan Singapura. Mereka bahkan sampai bikin petisi online untuk mendesak pemerintah agar seluruh masyarakat bisa memperoleh vaksin secara gratis tanpa pandang bulu.
 
Saya spontan tersenyum kala usaha dan harapan para netizen itu terwujud, tepatnya ketika Pak Jokowi memberikan tanggapan terkait vaksin Corona. “Setelah menerima banyak masukan dari masyarakat, melakukan kalkulasi dan penghitungan ulang mengenai keuangan negara, dapat saya sampaikan bahwa vaksin Covid-19 untuk masyarakat adalah gratis,” ujar Presiden Jokowi dalam keterangan pers yang disiarkan Sekretariat Presiden pada hari ini (Rabu, 16 Desember 2020). Apalagi Presiden Jokowi juga bersedia menjadi penerima vaksin pertama supaya memberi kepercayaan dan keyakinan kepada masyarakat kalau vaksin yang digunakan telah benar-benar diuji secara klinis dan aman. Sebelum menutup siaran persnya, Pak Jokowi kembali mengingatkan masyarakat untuk tetap menjalankan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, serta mencuci tangan. 
 
Saya harap Pak Jokowi benar-benar memegang ucapannya, dan ke depannya tidak ada perubahan wacana lagi tentang vaksin gratis tersebut. Maka, sembari menunggu kepastian vaksin itu, saya sepertinya harus lebih bersabar lagi untuk tetap berada di rumah. Selama tidak ada urusan penting ataupun genting, saya akan menahan diri biar tidak asal keluyuran. Selalu mengenakan masker setiap bepergian. 
 
Dengan selalu menerapkan protokol kesehatan, saya sesungguhnya merasa beruntung kalau fisik saya terbilang sehat-sehat saja sejak dimulainya masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga hari ini. Ya, walaupun pada Mei lalu saya sempat diare dan beberapa kali kesehatan mental saya cukup terganggu, syukurlah menjelang akhir tahun kondisi saya bisa terasa jauh lebih baik. Seumpama sakit sekalipun (amit-amit sih, semoga saya sehat sentosa), saya kira diri saya bisa bersikap lebih tenang karena telah mengenal aplikasi Halodoc. 
 
 

 
Mengingat kondisi rumah sakit saat masa pandemi yang begitu padat dan hampir penuh, melalui fitur Halodoc orang-orang kini bisa berkonsultasi dengan dokter cukup lewat chat. Tak perlu bertatap muka secara langsung lagi. Untuk pembelian obat dan vitamin pun bisa melalui aplikasi, lalu pesanannya akan diantar langsung ke rumah. Seandainya penyakit yang diderita memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, kita juga bisa membuat janji dengan dokter tanpa harus repot-repot mengantre. Selain fitur-fitur barusan, Halodoc juga menyediakan berbagai artikel tentang kesehatan maupun penyakit.
 
 
Tahun 2020 benar-benar terasa begitu cepat. Sekitar dua minggu lagi tahun yang penuh duka ini bakal segera berganti. Walaupun kabar mengenai vaksin Corona telah ditemukan, saya berharap teman-teman sekalian tetap menjaga diri supaya sehat-sehat terus ya. Saya sendiri pun akan berupaya menerapkan nasihat itu. Saya akan menjalani sisa-sisa hari dengan pikiran dan perasaan lebih tenang sambil diam-diam merapalkan doa: semoga kita semua bisa hidup seperti sediakala, sebelum masa pagebluk menyerang.
 
--
 
Gambar saya comot dan modifikasi dari Pixabay.