D. F. W. dan 2 DSD

23 comments
Sebuah Sejarah Kehidupan Pascaindustri yang Terkondensasi Secara Radikal 


Ketika mereka diperkenalkan, sang lelaki membuat lelucon, berharap bisa disukai. Sang perempuan tertawa sangat keras, berharap bisa disukai. Mereka masing-masing lantas pulang sendirian, menatap lurus ke depan, dengan corak yang sama pada wajah mereka.

Pria yang memperkenalkan mereka tidak terlalu menyukai keduanya, meskipun ia bertindak seolah-olah menyukainya, merasa cemas selayaknya harus menjaga hubungan baik pada setiap saat. Lagi pula, orang-orang tak pernah tahu, apa yang sekarang dia lakukan, apa yang sekarang dia lakukan.



Contoh Lain dari Kebodohan pada Batas-Batas Tertentu (XI)


Seperti dalam semua mimpi lain, aku bersama seseorang yang kukenal tetapi tak tahu bagaimana aku bisa mengenalnya, dan sekarang orang ini tiba-tiba menunjukkan kepadaku bahwa diriku buta. Buta secara harfiah, tak dapat melihat, dan sejenisnya. Atau di hadapan orang inilah aku tiba-tiba menyadari bahwa diriku buta.

Apa yang terjadi ketika aku menyadari hal ini ialah aku menjadi sedih. Ini membuatku sangat nelangsa bahwa diriku buta. Orang itu entah bagaimana tahu betapa sedihnya aku dan memperingatkanku bahwa menangis akan menyakiti mataku dan membuat kebutaannya menjadi lebih buruk, tetapi aku tidak dapat menahannya.

Aku duduk dan mulai menangis teramat keras. Aku terbangun, menangis di tempat tidur, dan aku meraung sangat kencang sehingga aku tidak bisa melihat sama sekali atau berbuat sesuatu atau apa pun. Ini membuatku menangis kejer. Pacarku terbangun, khawatir, serta bertanya ada apa, dan semenit kemudian, bahkan sebelum kami sama-sama cukup sadar bahwa diriku tadi hanya sedang bermimpi, dan aku terbangun dan tidak benar-benar buta serta aku menangis tanpa alasan, lalu menceritakan kepada pacarku tentang mimpi itu dan mendapatkan masukannya.

Kemudian sepanjang hari di tempat kerja, aku jadi sangat sadar akan penglihatan dan mataku serta betapa bagusnya bisa melihat warna-warni dan paras orang-orang dan mengetahui persis di mana aku berada, dan betapa rapuhnya itu semua. Mekanisme mata manusia dan kemampuannya untuk melihat, betapa mudahnya bisa lenyap. Bagaimana aku selalu melihat orang-orang buta di sekitar dengan tongkat dan wajahnya yang tampak aneh. Aku selalu menganggap mereka menarik. Menghabiskan beberapa detik untuk melihatnya dan tak pernah berpikir bahwa mereka ada hubungannya denganku atau mataku, dan bagaimana itu benar-benar cuma kebetulan-kebetulan yang bisa kulihat alih-alih menjadi salah satu dari orang-orang buta yang kulihat di kereta bawah tanah.

Sepanjang hari di tempat kerja, aku merasa hancur lagi setiap kali hal ini menyerangku, dan bersiap-siap untuk mewek, dan aku hanya berusaha menahan diri agar tak menangis karena kubikel yang rendah dan bagaimana kalau semua orang nanti bisa melihatku dan akan peduli.

Sepanjang hari setelah mimpi itu menjadi begini dan benar-benar melelahkan sekali. Pacarku akan bilang betapa itu menguras emosi, dan aku keluar lebih awal dan pulang ke rumah. Aku sangat lelah dan mengantuk, aku hampir tidak bisa membuka mata, dan ketika aku sampai di rumah aku langsung masuk dan merangkak di tempat tidur pada jam 4:00 sore dan nyaris pingsan.

--




Dua cerpen barusan saya terjemahkan dari buku Brief Interviews with Hideous Men karya David Foster Wallace. Dia merupakan penulis asal Amerika Serikat kelahiran 21 Februari 1962 yang telah menerbitkan novel, cerita pendek, dan buku kumpulan esai. Karya-karyanya: Infinite Jest, Girl with Curious Hair, Consider the Lobster.

Saya kira, hanya sedikit sekali teman saya yang mengetahui tentang penulis ini. Bisa dibilang saya sendiri juga baru mendengar namanya dalam tiga tahun terakhir. Saya bahkan baru tahu setahun silam bahwa David meninggal dengan cara gantung diri di rumahnya. 

Sejujurnya, saya punya ketertarikan khusus pada penulis-penulis yang menempuh jalan sunyi itu. Pengakuan barusan bukan berarti saya bakal mengekor tindakan mereka. Sebisa mungkin jangan. Memang, saya akui sempat ada pikiran-pikiran ke arah sana, tapi ya seperti yang kalian tahu, alhamdulillah saya bisa menyelamatkan diri sampai hari ini.

Saya hanya kepikiran, kenapa mereka memilih opsi bunuh diri? Apakah tak ada jalan lain? Bisa jadi keputusan itu lahir karena mereka telah mencoba setiap jalan yang tersedia, tetapi berujung pada kebuntuan dan kehampaan. Sedikit-sedikit saya mungkin bisa memahaminya.

Sewaktu tengah malam begini, saya pernah berada pada situasi tak bisa tidur dan pikiran terus bekerja memikirkan hal-hal yang bikin cemas atau takut, dan di antaranya akan muncul pertanyaan semacam ini:

“Sebenarnya saya hidup buat apa, atau apa sih tujuan saya menjalani hidup?”

“Apakah selama ini saya sudah berguna bagi orang-orang di sekitar?”

“Adakah ada seseorang yang merasa kalau kehadiran saya itu penting dalam hidupnya?”

“Seandainya tak ada lagi yang membutuhkan saya, kemudian saya memilih lenyap, apakah saat itu baru ada seseorang yang merasa kehilangan dan mencari saya?”

“Mengapa saya berulang kali gagal dan menderita? Kapan saya bisa berhasil mewujudkan mimpi?”

Itu sesungguhnya cuma contoh sepele, sebab saat depresi betul-betul menyerang, pertanyaan-pertanyaan tentang hidup maupun mati akan semakin rumit dan bagaikan tak ada habisnya.

Terkadang, ketika saya menuliskan topik sensitif semacam ini, saya diliputi ketakutan akan pandangan orang-orang di sekitar. Apakah saya lapar perhatian, cengeng, lebay, atau apa pun itu. Saya sendiri pun suka enggak paham mengapa saya menuliskannya. Sejauh yang saya ketahui, para penulis bikin tulisan tertentu untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Biarpun tak kepengin mengeklaim diri sendiri sebagai penulis, mungkin saya pun demikian. Saya hanya ingin lega saat menuliskan hal-hal yang bikin resah dan kalut.

Lagian, dari apa yang telah saya perhatikan, ternyata kebanyakan penulis itu kehidupannya lebih sering menyedihkan dan menderita, makanya mereka melarikan diri dengan membuat cerita fiksi demi bisa menyenangkan diri sendiri. Orhan Pamuk, penulis asal Turki yang meraih Nobel Sastra pada 2006, sempat membuat pengakuan begini: Saya menulis bukan untuk menceritakan sebuah kisah, tetapi untuk menciptakan sebuah kisah. Saya menulis karena sulit merasa bahagia. Saya menulis karena saya ingin merasa bahagia.

Mungkin saya terus bercerita juga untuk menggembirakan diri sendiri. Lebih tepatnya malah sudah tergambarkan lewat deskripsi atau tagline blog ini: Menulis bukan untuk abadi, tapi hanya siasat mengecoh kesepian.

Bicara soal kesepian, kenapa manusia bisa merasakannya? Apakah karena tak punya teman berbagi? Namun jika benar begitu, kenapa sewaktu saya masih punya kekasih, kok kesepian itu bisa tetap mendatangi saya? Jadi, kalau disimpulkan: mungkin ada saat-saat di mana saya tak bisa berbagi perasaan dalam diri itu kepada orang lain. Sekalipun sudah bercerita, mereka terkadang tidak mendengarkan, memahami, apalagi berempati. Sehingga cara yang bisa saya lakukan untuk menumpahkan segala kegelisahan itu cuma lewat menulis.

Saat menuliskan ocehan ini, terus terang saja kondisi saya dalam keadaan baik. Sekarang justru jauh lebih baik ketimbang Mei-September yang sempat depresi karena berbagai hal. Tapi, saya kira ke depannya saya bisa saja merasakan keganjilan itu lagi. Sampai kapan pun saya mungkin tak pernah bisa mengerti kenapa perasaan-perasaan terkutuk itu masih terus-menerus datang kembali. Saya juga tak yakin apakah menulis bisa selalu menjadi metode ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini.

Setidaknya, hari ini saya jadi teringat dengan kegiatan dua hari silam, sewaktu saya mendengarkan ulang seluruh album Peterpan. Dari sekian banyak lagu itu, saya terfokus dengan lagu 2 DSD. Dari SD saya sering mempertanyakan apa arti atau singkatan lagu tersebut. Konon itu lagu yang belum sempat diberikan judul, karena DSD sebenarnya cuma singkatan dari Direct Stream Digital, sebuah format pada kaset. Ada pula yang mengatakan 2 Dalam Satu Dunia. Setiap orang jelas bebas membuat kepanjangan sendiri dari singkatan itu. Saya sendiri pun pernah menyebut 2 Derita Saat Depresi. Karena lagu itu seolah-olah telah menjadi mantra bagi saya dalam meringankan beban depresi, khususnya di lirik berikut: rasa ini takkan terobati, tetapi mati takkan mengobati. Berarti secara tak langsung menulis cerita dan mendengarkan sekaligus menyanyikan lagu itu dapat memperpanjang usia saya.


--

Gambar saya ambil dari: theatlantic.com.

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

23 comments

  1. Kata Chester Bennington, you don't know what you've got until it's gone. Kalau diputer dikit pov-nya, bisa jadi you don't know how people love you until you're gone. Yang berarti iya, ada orang di luar sana yang merasa kehadiran lo penting dalam hidupnya, tapi lo gak tau aja. Dan akan kehilangan banget kalau lo mendadak gak ada. Contohnya mungkin orang yang sering diam-diam baca blog lo terus tiba-tiba lo gak pernah update lagi.

    Gue punya teman untuk berbagi banyak hal, tapi menyadari juga bahwa kadang ada hal yang setelah diceritakan pun masih suka mengganjal. Dari situ sering gue jadikan tulisan. Sampai akhirnya gue menyadari kalau melepaskan stres tidak hanya dengan bercerita langsung ke orang gue percaya, tapi juga bercerita lewat tulisan. Keduanya gue seimbangkan.

    Oh iya, yang dikasih cobaan berat itu cuma orang-orang tangguh. Selalu terbit terang sehabis gelap kalau kata Zlatan Ibrahimovic mah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, jadi ingin setel Until It's Gone.

      Bicara soal update blog, lu sendiri kenapa belum ada tulisan baru, Man? Lagi sibuk-sibuknya ya buat Desember? Haha.

      Hmm, berarti memang begitu ya. Tetap perlu penyaluran energi ke hal lain selain bercerita sama manusia.

      Tapi bagaimana kalau saya tidak setangguh itu, wahai Om Ibra? Wqwq.

      Delete
    2. Itu salah satu lagu Linkin Park favorit gue, yang kayaknya underrated.

      Eh, ada loh tulisan baru. Haha, agak lama sih emang baru update lagi, tapi ada. Sebenarnya udah pertengahan bulan kemarin selesai ditulis, tapi pas diposting ternyata template gue bermasalah, jadi gue benerin dulu sebelum dipost lagi. Sibuk sih buat Desember, tapi masih sempet nulis kok wkwk.

      Nah, lu harus percaya kalau lu tangguh.

      Delete
  2. Ada satu kenalan saya yang memilih jalan sunyi itu, dia bilang pada surat yang ditinggalkan untuk keluarganya kalau dia merasa hidupnya sudah hilang arah. Dia nggak lagi punya tujuan dan nggak mendapat jawaban dari apa yang dia pertanyakan. Mungkin karena di Korea, suicide itu sudah seperti jalur pintas, jadi saya nggak bisa komentar banyak kenapa kenalan saya sampai ambil jalur yang menurut saya menyakitkan ~

    By the way, it's normal kalau dalam hidup, terkadang kita bertanya untuk apa kita hidup dan mau dibawa ke mana hidup kita. Apa kita bermanfaat atau hanya jadi manusia useless yang merepotkan orang. Dulu saat usia 20an, saya pun pernah memiliki pertanyaan serupa, mas. Mungkin karena waktu itu hidup saya masih belum punya purpose, dan saya nggak tau langkah apa yang perlu saya ambil ke depannya. Thankfully, circle saya selalu memberi dukungan ke arah positif hingga akhirnya saya survive dan bisa menjalani hari dengan baik.

    Doa saya, semoga mas Yoga bisa overcome the situations yah, dan dikelilingi oleh-orang yang menyayangi mas Yoga terlepas mas merasakan kehadiran mereka atau nggak ๐Ÿ˜„ -- by the way, saya baru tau ada lagu Peterpan judulnya 2 DSD hahaha. Selama ini taunya hanya yang tittle track ๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya turut bersedih membaca kisah kawannya Mbak Eno.

      Terima kasih atas doa dan dukungannya ya. Saya alhamdulillah saat ini baik-baik aja, kok. Cuma tiba-tiba pengin membahas hal itu aja setelah tahu bahwa penulis yang saya suka harus menutup usia dengan cara seperti itu.

      Semoga Mbak sehat sentosa baik perihal fisik maupun mental. Terus juga dikelilingi oleh manusia-manusia yang membahagiakan. :D

      Wah, padahal itu salah satu lagu yang jadi sorotan di album Bintang di Surga. Tapi hampir semua lagu di album ini asyik sih. Hehe.

      Delete
  3. Pernah ada difase, kenapa orang tidak bisa berempati dengan saya. Kenapa mereka tidak mendengarkan saya. Tapi, saya kemudian sadar bahwa dunia tidak berputar untuk saya sendiri. Nongkrong dan ngobrol bersama teman memang menguras banyak energi saya, tapi energi yang saya keluarkan juga mendapat feedback dari energi yang baru.

    Soal lagu yang menyelamatkan dari kematian, saya jadi ingat cerita Joko Anwar yang diselamatkan juga oleh lagu Elvis Costello. Lagu memang punya daya magis yang kuat dan ajaib

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dunia itu luas. Mereka enggak melulu ada buat kita. Enggak harus ketergantungan sama mereka juga.

      Hehe. Apa pun hal yang bisa menyelamatkan itu, semoga mereka selalu menemukan cara buat bertahan.

      Delete
  4. Pernah baca Brief Interviews with Hideous Men dan ga beres sih, tapi dua cerpen itu termasuk yg udah dibaca. Pernah juga dalam fase meromantisir diri bahwa penulis itu harus murung, suram, bahkan suicidal.

    Lagu2 Peterpan ini kayaknya punya aura semacam lagu opening anime. Salah satu frase favorit dari lagu DSD ini "Menangisi Malam", bagus juga kalau jadi judulnya. DSD bisa juga diartikan Di antara Sujud & Doa haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eksperimen bentuknya bagi saya oke, tapi ya gitu ada beberapa cerita yang sulit dipahami. Jadi saat baca bakal bergumam, ini apaan sih? Ahaha.

      'Hari yang Cerah' itu kan pernah lu tempel di opening anime.

      Wah, iya. Enggak kepikiran sama frasa itu. Menangisi Malam. Bagus memang buat judul.

      Delete
  5. Pernah di fase yang kurang lebih mirip, ketika memutuskan untuk resign dari kerjaan dan cukup lama lontang-lantung tanpa pemasukan yang jelas. Pernah nanya sama diri sendiri, kok gini-gini aja ya, hidup saya. Berasa kayak nggak ada apa-apanya. Useless-lah. Mirip pertanyaanmu, Yog. Tapi alhamdulillah, nggak sampai ada niatan untuk mengakhiri hidup. Paling ya hanya kepikiran: kayak malu, di umur yang temen-temen lain udah bisa dikatakan "sukses", malah saya masih jadi beban buat keluarga. Malu sama bapak-ibuk :(

    Kayaknya pikiran terkonyol yang sempet muncul waktu itu, saya cuma pengen kabur dari rumah dan nggak mau ketemu orang-orang yang saya kenal *terutama keluarga*, karena mereka sering nanya-nanya.

    Yang masalah quote menulis dan penulis, cukup relate sih ๐Ÿ˜‚.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baguslah enggak kepikiran ke arah sana. Rasa malu yang tidak tertahankan itu benar-benar ngena banget ketika berpikir jadi beban keluarga.

      Saya berapa kali aja pengin keluar dari rumah, cuma ya gitu keburu pandemi dan hidup kian memble. Ahaha.

      Delete
  6. Tagline blog ini sudah langsung menarik perhatian saya :)
    Menulis bukan untuk abadi,untuk Mengecoh sepi aja.

    Untuk Kisah mengambil jalan sunyi ini saya paling terasa dari lagu : Stary stary night, Don McLean
    Katanya dari kisahnya Vincent van Gogh.
    For they could not love you
    But still your love was true
    And when no hope was left in sight
    On that starry, starry night
    You took your life, as lovers often do
    But I could’ve told you Vincent
    This world was never meant for
    One as beautiful as you

    Perasaan ketika orang orang seperti tidak bisa mengerti- itu getir banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah tertarik sama tagline itu. Nanti saya coba dengerin lagunya deh.

      Haha. Tapi lama-lama terbiasa.

      Delete
  7. ga tau kenapa gw malah senyum baca ini

    apa karena ada beberapa hal yang relate ya

    terutama bagian : "ternyata kebanyakan penulis itu kehidupannya lebih sering menyedihkan, makanya mereka melarikan diri dengan membuat cerita fiksi demi bisa menyenangkan diri sendiri. Mungkin saya terus bercerita juga untuk menggembirakan diri sendiri."

    ya meski gw akui kehidupan gw normal, tapi ga menampik juga bahwa kadang suasana hati bisa terjadi semacam fluktuasi, kadang merasa senang minta ampun, kadang merasa sedih minta ampun yang bener bener down dan berasa ga ada satupun orang yang paham termasuk orang paling dekat sekalipun, kecuali gw larikan dalam bentuk tulisan tulisan yang menurut gw bikin gw lega setelahnya, walaupun banyak kiasan kiasannya, dan ga semua nyata alias cuma nulis khayal yang gw dasarkan pada imajinasi semata..iya kadang memang perasaan perasaan ganjil kek gitu masih suka hinggap, makanya jalan satu satu2nya yang gw bisa untuk melepaskan diri dari energi negatif ya nulis fiksi, walaupun fiksinya ya kadang kadang ga beneran kisah nyata juga...tapi sejauh ini malah menolong gw banget untuk kembali bersemangat lagi..hehehe

    btw, gw baru tahu loh, yang ada di dalam frame foto ternyata sudah mangkat akibat gantung diri (((sedih)))

    dan masalah terjemahan cerpennya...lumayan sih..gw ikut tethanyut merasakan efek psikologisnya si aku yang baru bangun dari mimpi dimana dalam mimpinya itu ia jadi orang buta tapi abis itu ngerasa tuh mimpi berefek banget di kehidupannya, sampai pengen mewek terus dan gloomy...manalah kalau lagi dalam keadaan gitu ya emang rasanya cukup ngeselin sih sekaligus melelahlan banget sih karena pengennya mureeeem aja, dan efek setelahnya bisa jadi sangat ngantuk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senormal-normalnya hidup tetap ingin melarikan diri sejenak saat kesedihan itu datang.

      Entah dicampur kenyataan ataupun murni imajinasi, selama bisa menuliskannya dengan senang, saya rasa mah oke-oke aja. Kalaupun ada komentar buruk, saya juga sekarang lebih rileks.

      Pernah saya terbawa efek sedih di dalam mimpi sampai berhari-hari. Kadang ya, alam bawah sadar bisa semenyeramkan itu.

      Delete
  8. luar biasa mas e, bisa menterjemah novel berbahasa Inggris

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma cerita pendek yang ringkas, masih belajar juga.

      Delete
  9. Pada dasarnya manusia memang memiliki takdirnya sendiri-sendiri. Datang sendiri dan nanti pergi sendiri juga. Kesendirian adalah bagian dari takdir manusia, wajar kalau selalu ada rasa kesepian... Kesepian ini abadi, judul lagune Koil.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali. Oh iya, saya lumayan suka dengerin tuh lagunya Koil yang itu. Ahaha.

      Delete
  10. kalau bunuh diri engga pernah
    tapi pengennya tiduuuuur aja yang lamaaaaaa
    engga tau deh entar ngapain haha
    tapi semenjak liat dan dengerin wejangan mas adjie santosoputro buat hidup seapadanya ya wis
    terlebih sejak didiagnosis bipolar disorder jadi ngurangi moood swing yang berlebihan
    engga muluk muluk aja yang penting masih bisa nulis
    memang banyak penulis yang memilih jalan sunyi dan itu hak mereka
    cuma ya kalau mau mengakhiri hidup rasanya kok ya masih eman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tertidur tenang gitu sampai bangun-bangun jadi orang kaya dan kondisi negara menjadi baik, ya? Impian bodoh macam apa coba ini.

      Mood swing ini sungguh kampret sih. Bisa terjadi pergantian suasana dalam hitungan detik. Ya Allah. :(

      Delete
  11. Aku malah ga tau lagu Peterpan yg dimaksud, Krn sejujurnya ini bukan grub band favoritku yog :D. Tp jd penasaran kalo udh dibahas begini, dan jd pgn tau seperti apa lagunya.

    Cerpen di atas dark banget ceritanya yaa. Kebayang lgs gimana rasanya kalo menjadi buta, ga bisa melihat samasekali. Segelap apa bakal kehidupan... Seperti bisa ngerasain rasa takut si tokoh jadinya.

    Aku pernah ada teman yg dulu mencoba bunuh diri, pas SMU. Dia nelan 1 papan Paracetamol, tapi syukurnya cepat ketahuan dan selamat. Sempat ga ngerti kenapa dia ngelakuin itu. Anaknya cantik, populer, disukai banyak cowo. Tapi pas tau alasannya, ternyata hanya Krn patah hati. Makin ga ngerti sih. Ntah karena aku terlalu cuek dan terlalu cinta diri sendiri, jd ga ngerti perasaan sayang yg terlalu kuat untuk org lain yaaah.. Terlalu sayang mengakhiri hidup hanya Krn pasangan soalnya.

    Tapi ya sudahlaaah... Masalah orang beda2, perasaannya juga ga mungkin sama. Yg buatku sepele, bisa jd buat org lain teramat penting sampai ga bisa hidup tanpa itu... :) .

    Harapanku sih, orang2 bisa lebih mengingat Tuhan di saat sedang rapuh supaya ga melakukan hal2 kayak bunuh diri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagunya punya lirik sederhana sekaligus memiliki nilai sentimental buat saya pada zaman SD.

      Hmm, patah hati seseorang ternyata bisa bikin dia ingin mengakhiri hidup. Cinta ini rasa-rasanya seperti pedang bermata dua ya. Bisa bikin orang semangat menjalani hidup, bisa juga sebaliknya: putus asa.

      Iya, enggak bisa disamaratakan, Mbak. Ketahanan mental seseorang jelas berbeda juga.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.