Manusia Gagal, Madesu

16 comments
Manusia Gagal

Mengapa manusia gagal saat dipotret tetap tersenyum, bukan memamerkan wajah lesu, atau memonyongkan bibir seperti meneriakkan kata asu, percis sedetik sebelum kamera siap menembak.

Apakah senyuman manusia gagal bisa dihitung sebagai ibadah selama satu bulan penuh, sebab bibir yang cemberut akan dianggap membunuh?

Manusia gagal sering bugil dan menggigil, sehingga perlu meminjam wajah sekaligus pakaian manusia lain yang lebih gagah. Ketika ditanya untuk apa, jawabnya agar bisa bekerja lebih gigih. 

Tapi, apa pun pekerjaan yang dimiliki manusia gagal hasilnya selalu lebih pegal ketimbang manusia lain. Tak ada gunanya kerja keras, jika hanya cukup untuk beli beras. Manusia gagal sesekali ingin makan ayam, tapi yang ia dapatkan justru tambahan huruf b di awal: bayam.

Apalah arti slogan kerja-kerja-kerja, sebab itu hanya anagram dari kejar-kejar-kejar, dan di sisi lain kaya raya selalu berhasil kabur. Maka, mimpi menjadi orang tajir dan sukses haruslah dikubur. Jadi, apa yang sebenarnya ia kejar? Mungkin manusia gagal memang tidak pernah kerja, melainkan dikerjai.

Sebagian manusia gagal memilih jalan hidup dengan membegal. Tak ada lagi bedanya legal dan ilegal, karena lapar terus menjegal. Manusia gagal benci melihat tanggal. Tak ada angka 1 atau 25 atau berapa pun yang biasanya menjadi hari gajian di kalendernya. Manusia gagal juga tak pernah memiliki tempat tinggal, sebab satu-satunya rumah adalah meninggal.

/2020


Masa Depan Suram

—Kepada NT, WS, VJ, SN, IA, KA

Mendengarkan lagu adalah permainan yang menarik. Seseorang yang pernah kaucintai atau mencintaimu terkadang akan muncul saat membaca lirik.

Di lagu yang kaudengarkan, masa depan konon adalah milikmu*. Tapi semakin kaunikmati dan resapi lebih jauh lagi, masa depan meminta untuk diulang. 

Munculnya angka baru semestinya melahirkan masa depan baru. Melukiskan langit berwarna biru. Tapi biru tidak melulu bermakna terang, tenang, ataupun senang, ia bisa juga berarti lebam. Biru yang baru adalah tangisan haru menderu. Seperti biru pada wajahmu yang terlalu sering dipukul oleh kesedihan dan kesepian sejak memutuskan pergi meninggalkannya. 

Kau memilih hidup sebagai penjahat yang gemar membuatnya menunggu dan menangis. Kau memang pencuri hati yang paling bengis. Kau adalah penipu ulung yang tega membohongi diri sendiri. Kau mengaku cinta tapi takut menerbitkan derita. Apa yang sebetulnya bikin kau risau? Ia tidak menggenggam pisau, apalagi punya niat untuk menusukmu dari belakang. Ia amat menyukaimu seburuk-buruknya kondisi. Ia dengan murah hati menawarkan afeksi.




“Sebab cinta tidak benar-benar buta,” ujar seseorang dalam dirimu. “Pada akhirnya, waktu akan menyembuhkan mata itu, dan ia akan sanggup lagi melihat harta.”

Memutuskan bersama berarti mewujudkan masa depan suram. Lagi pula, apa itu masa depan? Masa depan adalah kacamata yang lensanya sangat buram. Sekeras apa pun kau membersihkannya, noda itu akan terus ada. Kau lelaki rabun yang diberikan ciuman dan melihatnya sebagai ancaman.

Kau hidup menderita dan terus-menerus dihantui kenangan muram. Bagai luka yang saban hari ditaburi garam. Seperti prajurit yang pergi berperang tanpa membawa perisai. Seperti penulis medioker yang membuat esai namun tak pernah selesai.

/2020

*) Terinspirasi setelah mendengarkan dan membaca lirik lagu Toe - The Latest Number.




PS: Perempuan yang memakai baju merah di video itu sekilas mirip sama seseorang yang pernah saya sayang. Mana di akhir video dia nangis pula. Tai. Sungguh tai. Mata saya jadi ikutan basah karena perasaan bersalah dalam diri masih tak kunjung lenyap. Saya harap sajak itu bisa menjadi permintaan maaf kepada siapa pun yang pernah saya bikin terluka atau sakit hati, khususnya inisial-inisial yang tertera di puisi.

Gambar dicomot dari anime Noragami.

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

16 comments

  1. Jadi, apakah puisi yang ke dua itu untuk para mantan?

    Selalu nggak bisa komen kalau tentang puisi wkwk, cepat berlalu perasaan bersalahnya dan kenapa nggak minta maaf secara lansung saja, mana tahu habis itu terasa lebih plong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anggap aja demikian, sekalipun mantan bisa sebatas mantan gebetan atau mantan kawan dekat yang lawan jenis dan sekarang menjauh alias musuhan.

      Sebagian ada yang sudah saya hubungi dan minta maaf, sebagian yang lain memblokir, sisanya ada keraguan buat mengontak. Terkadang niat menghubungi lagi (sebatas buat minta maaf) bisa disalahpahami. Misalnya, dikira mau mengajak kembali.

      Delete
  2. Apa arti kerja-kerja-kerja, kalau akhirnya bikin tipes 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tipes, terus enggak masuk kerja gaji malah dipotong.

      Delete
  3. edaaaann!!!
    bisa ya berima gitu, dapet aja kata-kata yang pas.
    pantesan nilai bahasa indonesiaku jelek, g punya kosakata sebanyak kamu!
    kalau jaman sekolah dulu kek gini, paling g selamet lah dapat 8. soalnya nilaiku mentok 7 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Pit. Beberapa masih rada maksa sih. Soal nilai Bahasa Indonesia, sejak dulu di rapor memang termasuk tinggi ketimbang lainnya. Mungkin saya lebih dominan di linguistik. Tapi kecerdasan numerik saya amburadul. Zaman sekolah pasti pas-pasan setiap kali hitung-hitungan.

      Delete
  4. Dari judul sampai isi liris betul kayak Osamu Dazai aja. Kalau saya suka malu kalau harus minta maaf lewat tulisan takut dianya baper haha.

    Wah jadi kangen Noragami, manganya sering libur berkat pandemi, semoga bakal ada season 3 adaptasi animenya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Efek baca bukunya Dazai juga mungkin nih, Rif. Haha.

      Ini sebetulnya juga takut bikin puisi begitu. Barangkali di antara mereka ada yang baca dan merespons.

      Efek pandemi memang bikin sebagian manga pada libur sih. Yang masih aktif banget tuh Enen no Shouboutai. Semoga ada. Soalnya kangen melihat Hiyori secara visual gerak.

      Delete
  5. gw mau mengomentari, tapi sampai susah mengeluarkan kata kata yog, soalnya hampir semua diksi dan padanan kata yang ada di judul nomor 2 gw suka hahha, bagus tau yog, seriusan

    kalau yang pertama, gw langsubg kepikiran kok bisa ya ayam jadi bayam

    yoga sekarang tulisannya emang uda naik level sih, gw akui itu hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maturnuwun, Mbak.

      Itu emang kenyataan sih, kadang pengin ayam tapi budget cukupnya beli sayur. Kalau enggak hemat, nanti bahaya di akhir bulan. Bahaha.

      Naik level dalam penulisan puisi, kah? Sepertinya berlebihan ini nilainya. Tapi saya memang berusaha coba-coba lagi dalam menuliskannya. Semoga aja betulan ada perubahan.

      Delete
  6. diksinya keren mas
    selamat,....

    ngomongin madesu jadi malas buka sosial media
    hahahahah (tertawa garing)

    ReplyDelete
  7. *Tepuk tangan sambil berdiri*

    Yang pertama keren banget diksinya. Yang kedua, ngg.. no comment haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. *membungkuk sampai membentuk sudut siku sebagai tanda terima kasih, ala-ala minta maaf orang Jepang*

      Yang kedua enggak usah dikomentari. Dinikmati aja.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.