Manusia Gagal

Mengapa manusia gagal saat dipotret tetap tersenyum, bukan memamerkan wajah lesu, atau memonyongkan bibir seperti meneriakkan kata asu, percis sedetik sebelum kamera siap menembak.

Apakah senyuman manusia gagal bisa dihitung sebagai ibadah selama satu bulan penuh, sebab bibir yang cemberut akan dianggap membunuh?

Manusia gagal sering bugil dan menggigil, sehingga perlu meminjam wajah sekaligus pakaian manusia lain yang lebih gagah. Ketika ditanya untuk apa, jawabnya agar bisa bekerja lebih gigih. 

Tapi, apa pun pekerjaan yang dimiliki manusia gagal hasilnya selalu lebih pegal ketimbang manusia lain. Tak ada gunanya kerja keras, jika hanya cukup untuk beli beras. Manusia gagal sesekali ingin makan ayam, tapi yang ia dapatkan justru tambahan huruf b di awal: bayam.

Apalah arti slogan kerja-kerja-kerja, sebab itu hanya anagram dari kejar-kejar-kejar, dan di sisi lain kaya raya selalu berhasil kabur. Maka, mimpi menjadi orang tajir dan sukses haruslah dikubur. Jadi, apa yang sebenarnya ia kejar? Mungkin manusia gagal memang tidak pernah kerja, melainkan dikerjai.

Sebagian manusia gagal memilih jalan hidup dengan membegal. Tak ada lagi bedanya legal dan ilegal, karena lapar terus menjegal. Manusia gagal benci melihat tanggal. Tak ada angka 1 atau 25 atau berapa pun yang biasanya menjadi hari gajian di kalendernya. Manusia gagal juga tak pernah memiliki tempat tinggal, sebab satu-satunya rumah adalah meninggal.

/2020


Masa Depan Suram

—Kepada NT, WS, VJ, SN, IA, KA

Mendengarkan lagu adalah permainan yang menarik. Seseorang yang pernah kaucintai atau mencintaimu terkadang akan muncul saat membaca lirik.

Di lagu yang kaudengarkan, masa depan konon adalah milikmu*. Tapi semakin kaunikmati dan resapi lebih jauh lagi, masa depan meminta untuk diulang. 

Munculnya angka baru semestinya melahirkan masa depan baru. Melukiskan langit berwarna biru. Tapi biru tidak melulu bermakna terang, tenang, ataupun senang, ia bisa juga berarti lebam. Biru yang baru adalah tangisan haru menderu. Seperti biru pada wajahmu yang terlalu sering dipukul oleh kesedihan dan kesepian sejak memutuskan pergi meninggalkannya. 

Kau memilih hidup sebagai penjahat yang gemar membuatnya menunggu dan menangis. Kau memang pencuri hati yang paling bengis. Kau adalah penipu ulung yang tega membohongi diri sendiri. Kau mengaku cinta tapi takut menerbitkan derita. Apa yang sebetulnya bikin kau risau? Ia tidak menggenggam pisau, apalagi punya niat untuk menusukmu dari belakang. Ia amat menyukaimu seburuk-buruknya kondisi. Ia dengan murah hati menawarkan afeksi.




“Sebab cinta tidak benar-benar buta,” ujar seseorang dalam dirimu. “Pada akhirnya, waktu akan menyembuhkan mata itu, dan ia akan sanggup lagi melihat harta.”

Memutuskan bersama berarti mewujudkan masa depan suram. Lagi pula, apa itu masa depan? Masa depan adalah kacamata yang lensanya sangat buram. Sekeras apa pun kau membersihkannya, noda itu akan terus ada. Kau lelaki rabun yang diberikan ciuman dan melihatnya sebagai ancaman.

Kau hidup menderita dan terus-menerus dihantui kenangan muram. Bagai luka yang saban hari ditaburi garam. Seperti prajurit yang pergi berperang tanpa membawa perisai. Seperti penulis medioker yang membuat esai namun tak pernah selesai.

/2020

*) Terinspirasi setelah mendengarkan dan membaca lirik lagu Toe - The Latest Number.




PS: Perempuan yang memakai baju merah di video itu sekilas mirip sama seseorang yang pernah saya sayang. Mana di akhir video dia nangis pula. Tai. Sungguh tai. Mata saya jadi ikutan basah karena perasaan bersalah dalam diri masih tak kunjung lenyap. Saya harap sajak itu bisa menjadi permintaan maaf kepada siapa pun yang pernah saya bikin terluka atau sakit hati, khususnya inisial-inisial yang tertera di puisi.

Gambar dicomot dari anime Noragami.