Sebuah Sejarah Kehidupan Pascaindustri yang Terkondensasi Secara Radikal 


Ketika mereka diperkenalkan, sang lelaki membuat lelucon, berharap bisa disukai. Sang perempuan tertawa sangat keras, berharap bisa disukai. Mereka masing-masing lantas pulang sendirian, menatap lurus ke depan, dengan corak yang sama pada wajah mereka.

Pria yang memperkenalkan mereka tidak terlalu menyukai keduanya, meskipun ia bertindak seolah-olah menyukainya, merasa cemas selayaknya harus menjaga hubungan baik pada setiap saat. Lagi pula, orang-orang tak pernah tahu, apa yang sekarang dia lakukan, apa yang sekarang dia lakukan.



Contoh Lain dari Kebodohan pada Batas-Batas Tertentu (XI)


Seperti dalam semua mimpi lain, aku bersama seseorang yang kukenal tetapi tak tahu bagaimana aku bisa mengenalnya, dan sekarang orang ini tiba-tiba menunjukkan kepadaku bahwa diriku buta. Buta secara harfiah, tak dapat melihat, dan sejenisnya. Atau di hadapan orang inilah aku tiba-tiba menyadari bahwa diriku buta.

Apa yang terjadi ketika aku menyadari hal ini ialah aku menjadi sedih. Ini membuatku sangat nelangsa bahwa diriku buta. Orang itu entah bagaimana tahu betapa sedihnya aku dan memperingatkanku bahwa menangis akan menyakiti mataku dan membuat kebutaannya menjadi lebih buruk, tetapi aku tidak dapat menahannya.

Aku duduk dan mulai menangis teramat keras. Aku terbangun, menangis di tempat tidur, dan aku meraung sangat kencang sehingga aku tidak bisa melihat sama sekali atau berbuat sesuatu atau apa pun. Ini membuatku menangis kejer. Pacarku terbangun, khawatir, serta bertanya ada apa, dan semenit kemudian, bahkan sebelum kami sama-sama cukup sadar bahwa diriku tadi hanya sedang bermimpi, dan aku terbangun dan tidak benar-benar buta serta aku menangis tanpa alasan, lalu menceritakan kepada pacarku tentang mimpi itu dan mendapatkan masukannya.

Kemudian sepanjang hari di tempat kerja, aku jadi sangat sadar akan penglihatan dan mataku serta betapa bagusnya bisa melihat warna-warni dan paras orang-orang dan mengetahui persis di mana aku berada, dan betapa rapuhnya itu semua. Mekanisme mata manusia dan kemampuannya untuk melihat, betapa mudahnya bisa lenyap. Bagaimana aku selalu melihat orang-orang buta di sekitar dengan tongkat dan wajahnya yang tampak aneh. Aku selalu menganggap mereka menarik. Menghabiskan beberapa detik untuk melihatnya dan tak pernah berpikir bahwa mereka ada hubungannya denganku atau mataku, dan bagaimana itu benar-benar cuma kebetulan-kebetulan yang bisa kulihat alih-alih menjadi salah satu dari orang-orang buta yang kulihat di kereta bawah tanah.

Sepanjang hari di tempat kerja, aku merasa hancur lagi setiap kali hal ini menyerangku, dan bersiap-siap untuk mewek, dan aku hanya berusaha menahan diri agar tak menangis karena kubikel yang rendah dan bagaimana kalau semua orang nanti bisa melihatku dan akan peduli.

Sepanjang hari setelah mimpi itu menjadi begini dan benar-benar melelahkan sekali. Pacarku akan bilang betapa itu menguras emosi, dan aku keluar lebih awal dan pulang ke rumah. Aku sangat lelah dan mengantuk, aku hampir tidak bisa membuka mata, dan ketika aku sampai di rumah aku langsung masuk dan merangkak di tempat tidur pada jam 4:00 sore dan nyaris pingsan.

--




Dua cerpen barusan saya terjemahkan dari buku Brief Interviews with Hideous Men karya David Foster Wallace. Dia merupakan penulis asal Amerika Serikat kelahiran 21 Februari 1962 yang telah menerbitkan novel, cerita pendek, dan buku kumpulan esai. Karya-karyanya: Infinite Jest, Girl with Curious Hair, Consider the Lobster.

Saya kira, hanya sedikit sekali teman saya yang mengetahui tentang penulis ini. Bisa dibilang saya sendiri juga baru mendengar namanya dalam tiga tahun terakhir. Saya bahkan baru tahu setahun silam bahwa David meninggal dengan cara gantung diri di rumahnya. 

Sejujurnya, saya punya ketertarikan khusus pada penulis-penulis yang menempuh jalan sunyi itu. Pengakuan barusan bukan berarti saya bakal mengekor tindakan mereka. Sebisa mungkin jangan. Memang, saya akui sempat ada pikiran-pikiran ke arah sana, tapi ya seperti yang kalian tahu, alhamdulillah saya bisa menyelamatkan diri sampai hari ini.

Saya hanya kepikiran, kenapa mereka memilih opsi bunuh diri? Apakah tak ada jalan lain? Bisa jadi keputusan itu lahir karena mereka telah mencoba setiap jalan yang tersedia, tetapi berujung pada kebuntuan dan kehampaan. Sedikit-sedikit saya mungkin bisa memahaminya.

Sewaktu tengah malam begini, saya pernah berada pada situasi tak bisa tidur dan pikiran terus bekerja memikirkan hal-hal yang bikin cemas atau takut, dan di antaranya akan muncul pertanyaan semacam ini:

“Sebenarnya saya hidup buat apa, atau apa sih tujuan saya menjalani hidup?”

“Apakah selama ini saya sudah berguna bagi orang-orang di sekitar?”

“Adakah ada seseorang yang merasa kalau kehadiran saya itu penting dalam hidupnya?”

“Seandainya tak ada lagi yang membutuhkan saya, kemudian saya memilih lenyap, apakah saat itu baru ada seseorang yang merasa kehilangan dan mencari saya?”

“Mengapa saya berulang kali gagal dan menderita? Kapan saya bisa berhasil mewujudkan mimpi?”

Itu sesungguhnya cuma contoh sepele, sebab saat depresi betul-betul menyerang, pertanyaan-pertanyaan tentang hidup maupun mati akan semakin rumit dan bagaikan tak ada habisnya.

Terkadang, ketika saya menuliskan topik sensitif semacam ini, saya diliputi ketakutan akan pandangan orang-orang di sekitar. Apakah saya lapar perhatian, cengeng, lebay, atau apa pun itu. Saya sendiri pun suka enggak paham mengapa saya menuliskannya. Sejauh yang saya ketahui, para penulis bikin tulisan tertentu untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Biarpun tak kepengin mengeklaim diri sendiri sebagai penulis, mungkin saya pun demikian. Saya hanya ingin lega saat menuliskan hal-hal yang bikin resah dan kalut.

Lagian, dari apa yang telah saya perhatikan, ternyata kebanyakan penulis itu kehidupannya lebih sering menyedihkan dan menderita, makanya mereka melarikan diri dengan membuat cerita fiksi demi bisa menyenangkan diri sendiri. Orhan Pamuk, penulis asal Turki yang meraih Nobel Sastra pada 2006, sempat membuat pengakuan begini: Saya menulis bukan untuk menceritakan sebuah kisah, tetapi untuk menciptakan sebuah kisah. Saya menulis karena sulit merasa bahagia. Saya menulis karena saya ingin merasa bahagia.

Mungkin saya terus bercerita juga untuk menggembirakan diri sendiri. Lebih tepatnya malah sudah tergambarkan lewat deskripsi atau tagline blog ini: Menulis bukan untuk abadi, tapi hanya siasat mengecoh kesepian.

Bicara soal kesepian, kenapa manusia bisa merasakannya? Apakah karena tak punya teman berbagi? Namun jika benar begitu, kenapa sewaktu saya masih punya kekasih, kok kesepian itu bisa tetap mendatangi saya? Jadi, kalau disimpulkan: mungkin ada saat-saat di mana saya tak bisa berbagi perasaan dalam diri itu kepada orang lain. Sekalipun sudah bercerita, mereka terkadang tidak mendengarkan, memahami, apalagi berempati. Sehingga cara yang bisa saya lakukan untuk menumpahkan segala kegelisahan itu cuma lewat menulis.

Saat menuliskan ocehan ini, terus terang saja kondisi saya dalam keadaan baik. Sekarang justru jauh lebih baik ketimbang Mei-September yang sempat depresi karena berbagai hal. Tapi, saya kira ke depannya saya bisa saja merasakan keganjilan itu lagi. Sampai kapan pun saya mungkin tak pernah bisa mengerti kenapa perasaan-perasaan terkutuk itu masih terus-menerus datang kembali. Saya juga tak yakin apakah menulis bisa selalu menjadi metode ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini.

Setidaknya, hari ini saya jadi teringat dengan kegiatan dua hari silam, sewaktu saya mendengarkan ulang seluruh album Peterpan. Dari sekian banyak lagu itu, saya terfokus dengan lagu 2 DSD. Dari SD saya sering mempertanyakan apa arti atau singkatan lagu tersebut. Konon itu lagu yang belum sempat diberikan judul, karena DSD sebenarnya cuma singkatan dari Direct Stream Digital, sebuah format pada kaset. Ada pula yang mengatakan 2 Dalam Satu Dunia. Setiap orang jelas bebas membuat kepanjangan sendiri dari singkatan itu. Saya sendiri pun pernah menyebut 2 Derita Saat Depresi. Karena lagu itu seolah-olah telah menjadi mantra bagi saya dalam meringankan beban depresi, khususnya di lirik berikut: rasa ini takkan terobati, tetapi mati takkan mengobati. Berarti secara tak langsung menulis cerita dan mendengarkan sekaligus menyanyikan lagu itu dapat memperpanjang usia saya.


--

Gambar saya ambil dari: theatlantic.com.