Lelaki Melankolis yang Kembali Menemukan Arti Hidup Lewat Mimpi

14 comments
Cerita berikut ini merupakan nukilan dari halaman tiga sebuah cerpen berjudul Lelaki Melankolis yang Kembali Menemukan Arti Hidup Lewat Mimpi

-- 

“Aku berlindung dari godaan Farsya yang semakin aduhai,” tulis lelaki itu pada awal Desember 2019.



Dia mulanya kagum kepada gadis itu karena perjumpaannya yang tak disengaja di sebuah acara bazar buku. Eloknya wajah sang gadis jelas menjadi suatu daya tarik. Selain itu, sang gadis merupakan salah satu finalis di bidang yang disukai oleh lelaki ini. Kian bertambahlah rasa penasaran tersebut.

Suatu sore, setelah bertemu lagi untuk kedua kalinya di suatu kafe daerah Cikini (masih secara kebetulan), dia refleks berpikir jika pertemuan itu adalah suatu takdir. Sejak itu, dia jadi kesulitan menghapus bayang-bayang wajah sang gadis. Sepulangnya dari kafe itu pun dia langsung teringat dengan keisengannya beberapa hari lalu bersama seorang kawannya untuk melihat para finalis Nona Buku di Instagram. 

Foto-foto Farsya sungguh jelita dan bikin dia kian terpukau. Dengan satu tarikan napas panjang, dia memberanikan diri untuk menekan tombol ‘ikuti’ pada akun media sosial sang gadis. Dia pun rutin mengintip aktivitas gadis itu di InstaStory. Secara tak langsung dia telah resmi menjadi seorang pemuja rahasia. 

Dia berada jauh di sana, dan aku di rumah... memandang kagum pada dirinya dalam InstaStory. 

Tiga minggu sehabis menuliskan ‘aku berlindung’, dia justru mendapati fakta bahwa gadis itu masih seumuran adiknya, bahkan belum mencapai usia 20. Anak zaman sekarang yang sudah pandai merias diri betul-betul bisa menipu usia. Dia awalnya mengira palingan usia mereka cuma beda empat tahun. Lelaki ini bisa dibilang jarang tertarik dengan perempuan yang lebih muda, apalagi jarak umurnya lebih dari 5 tahun. Belum lagi ketika dia sadar diri kalau kelas sosial mereka sangat berbeda. Itu jelas-jelas menciutkan nyalinya. 

Biarpun begitu, benih-benih suka sudah kadung tumbuh, dan tak baik jika cepat-cepat membunuhnya sebelum pohon itu berbuah—entah manis ataupun pahit. 

Pada keesokan harinya, sang gadis rupanya berulang tahun. Lelaki ini pun segera menabung keberanian buat mengucapkan selamat dan mendoakan hal-hal baik. Jika nanti dia membalas pesanku, katanya kepada diri sendiri, aku berjanji agar tidak minder-minder lagi ke depannya. Persetan dengan rentang usia yang beda jauh, Farsya manisnya memukau dan aku telanjur naksir. 

Apakah mungkin seorang lelaki melankolis dapat mendekati gadis berkualitas unggul? Gadis yang kemunculannya mungkin hanya sekali dalam seabad. Gadis langka yang bisa menjadi pengecualian, sebab ini pertama kalinya dia memandang perempuan yang baru lulus SMA dan hatinya langsung bergetar tak keruan. Gadis yang senyumannya itu bisa menegaskan bahwa dunia ini masih baik-baik saja, masih layak untuk dijalani. 

Celakanya, kenyataan sulit untuk diajak berkompromi. Pesannya tak berbalas. Memang tak mungkin seorang biasa dapat mendekati sekuntum dewi kahyangan. Cuma orang beruntung yang sanggup menjangkaunya. Dia akhirnya kembali berjanji kepada diri sendiri: mulai tahun 2020 aku berhenti mencari tahu segala hal tentangnya. 

Namun, janji hanyalah omong kosong yang manis. Janji bisa diingkari dengan gampang. Sebab barusan lelaki itu menulis racauan berikut ini: 

Aku bersaksi tiada Farsya lagi pada tahun 2020, tapi sialnya aku lupa dengan cara kerja alam bawah sadar. Sampai Agustus ini dia telah muncul lebih dari tiga kali di dalam mimpiku. Tak ada adegan yang aneh-aneh di mimpi itu. Kami cuma kencan berduaan, lalu bergandengan tangan. Meski tampak remeh, itu jelas suatu kegembiraan yang mustahil bisa kudapatkan selama situasi bobrok, tepatnya saat masa pagebluk berengsek ini. 

Begitu terbangun dari mimpi indah itu, aku spontan mengecek koleksi fotonya di Instagram. Dia beberapa kali mengenakan pakaian warna kuning. Mulutku pun tanpa sadar menyenandungkan lagu Rumah Sakit – Kuning

Halusnya awan, menyatu dan menghalang 
Namun kau pun hanya bisu 
Tetap sinariku dengan cahaya... kuningmu 

Bagai berputar, jauh sudah terasa 
Namun jarak yang kutempuh 
Tak membuatku lebih dekat lagi... denganmu 

Oh, Tuhan, aku tak bisa membohongi diri lagi bahwa parasnya terlalu manis dan menyilaukan. Senyuman itu dapat membuat seorang lelaki melankolis rela hidup lebih lama di dunia bajingan ini. 

Aku kini bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan aku ingin menambahkan satu hal lagi: bahwa Farsya makhluk jelita ciptaan Tuhan yang teramat sulit dihapus dari ingatan. 

-- 

Kisah ini adalah nukilan dari halaman tiga sebuah cerpen? Kebohongan macam apa itu? Halaman satunya aja jelas-jelas enggak ada. Judulnya pun cuma bentuk pelesetan dari cerpen Eka Kurniawan, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

14 comments

  1. Dear lelaki melankolis...
    Hmm, lain kali kalau mau ngucapin selamat ulang tahun langsung ketemu. Ngga bakal dicuekin deh. Minimal dapat senyum walau setelahnya dia melenggang pergi tanpa mengucap satu kata pun. Jamin. Kalau mau lebih berkesan, berikan kado ulang tahun. Tidak perlu mahal. Buatan sendiri lebih bagus. Bisa jadi dia akan selalu ingat seseorang susah payah membuatkan sesuatu untuk ulang tahunnya.

    Sekian saya akhiri saran sotoy ini😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Andaikan bisa berjumpa, mungkin saat itu dia juga bakal mengucapkan langsung, Ran. Kondisinya kurang mendukung.

      Iya, kado bikinan sendiri tentu terasa istimewa.

      Delete
  2. Pas baca judulnya kok nggak asing dengan pola kalimatnya. Setelah baca sampai habis ternyata memang plesetan judul cerpennya Eka Kurniawan.

    Saran kalau suka langsung utarakan saja, siapa tahu mimpinya bisa kesampaian kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu bentuk pelesetan aja. Kisahnya juga sengaja dibuat pendek.

      Itu sebetulnya cuma sebatas rasa suka dan kagum aja, sih. Saya belum kenal karakternya lebih dalam.

      Delete
  3. Dari 2 komen sebelumnya, sudah dijelaskan kalau memang lebih baik langsung diutarakan. Oh tentu saja ini bukan hanya untuk satu gender yaitu lelaki melankolis. Bagi para perempuan melankolis, jangan nunggu lama, kecuali seumur hidup mau menanggung rasa yang tak pudar dan harus membohongi orang lain karena itu.
    Dari perempuan yang pernah nembak cowok 2x dan ditolak tapi hidupnya jadi tentram sentosa karena g ada beban, wkakakakaka...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya salut sama perempuan-perempuan yang mau memulai bicara duluan. Enggak ada yang salah dengan hal itu. Enggak melulu harus cowok yang mengutarakan terlebih dahulu.

      Semoga pada kesempatan berikutnya bisa berbuah manis, Pit. :D

      Suatu hari, saya akan jujur andaikan perasaan ini betulan bertumbuh dari kagum dan suka menjadi afeksi. Itu pun kalau perasaannya belum lenyap.

      Delete
  4. jadi kepo sama mbak Farsya nih, apakah perlu kubantu sampaikan rasamu mas? *lah siapa aku, hahahha
    duh sepanjang artikel ku senyum-senyum keingat pernah kagum dengan seseorang juga, hihi
    jangan dihapus dr ingatan, makin besar usaha untuk mengahpusnya makin susah juga diilangin, xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak usah kepo, Mbak. Biarlah tetap menjadi rahasia saya dan beberapa kawan dekat. Haha.

      Baiklah. Akan saya nikmati kekaguman ini.

      Delete
  5. untuk apa melupakan kalau memang tidak bisa melupakan, lebih baik lanjut saja mas, jika sudah tentang cinta tidak ada yang namanya kualitas unggul dan kualitas rendah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa dipetik saat waktunya telah tiba. Kalaupun bukan dia, saya toh enggak akan menyesal kalau pernah kagum sampai sebegininya.

      Delete
  6. Cuma numpang bales bacotan luh yang di blog si Nita..



    Haaahaaa bisa aja luh Pentil Asem...Eehh Solihin..🤣 🤣

    Tugasluh komentar dicepennya Nita bukannya malah komentarin gw pentil asem. Gw itu fansnya blognya Nita Jadi apa yang dia tulis sesuka gw mau komentar apa, Enak gw bilang enak, Begitupun jelek...Yaa gw bilang jelek. Tanpa memojokan dirinya. Dan gw rasa Nita juga paham kok sama kelakuan gw. Karena boleh dikatakan hampir setiap hari gw sama Nita Blogwalking.

    Justru ente nih yang dateng2 ngibarin bendara perang Ha!!....Emang luh kenal gw....Tahu dalem2 gw. Gw rasa kaga. Pasang kuping ente sama kacamata tuh luh pake....Gw bukan penulis atau cerpenis terlebih Novelis. Dan gw juga orang yang nggak punya waktu untuk nulis, Blog bagi gw sekarang hanya untuk sekedar corat-coret doang. Jadi kalau luh mau ngoceh2 tentang cerpen atau sejenisnya luh salah tempat tong!.🤣 🤣 Lagian nggak kaya jadi cerpenis, dan gw kaga minat dengan hal itu.

    Makanya kalau belum tahu jangan sok tahu tong!!....Ente kalau mau ngomentari cerpen2 cari penulis media cerpen handal ngoceh deh luh sana sampai luh puas. MWB luh nggak tahu....Wajarlah luh nggak tahu, Udah kepinteran kali yee..🤣 🤣 🤣

    Masih kalah wawasan luh sama Nita..😊😊 Udaah gitu saja Solihin...kalau mau ngoceh2 mending diblog gw aje, Ketimbang nyampah di blog orang..

    Jiitaakk dulu aahh buat Solihin Suuee...Tuuks!.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Seandainya belum siap diejek atau dikritik balik, mending tutup bacotmu, Mas. Kirain mah dengan bilang cerpen orang rasanya mati, kasih pandangan tentang cerpen, itu udah paham banget sama dunia tulis-menulis, eh ternyata.... 🤮🤮🤮🤮

      Ya udah, kalau saya salah tempat. Maaf ya. Tak akan saya ulangi. Besok-besok enggak akan saya kunjungi lagi blognya. Amit-amit juga sih tadi khilaf baca karena penasaran.

      Mungkin tempatmu juga bukan di sini, Mas. Jadi setelahnya kita lupakan apa yang pernah terjadi, sebab saya benci penulis-penulis buruk yang sok asyik.

      Delete
  7. Kayaknya nama Farsya sering saya dengar di sini, apa mungkin saya pernah baca di postingan yang lama kali ya?

    Entahlah, jujur kamu bisa banget mengelabui pembaca, khususnya saya, sampai sekarang saya susah bedain apakah lagi curhat beneran atau memang nulis fiksi. Makanya saya suka nebak sendiri ini fiksi apa bukan ya? Soalnya kelihatan beneran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya memang pernah disebut beberapa kali di blog ini.

      Sejujurnya, saya malas menjelaskan tulisan saya kepada pembaca. Saya ingin mereka menyimpulkan sendiri apakah kisah itu betul-betul terjadi atau fiksi. Karena yang terpenting mereka bisa menikmati alur ceritanya, atau sesimpel suka dengan rangkaian kata yang telah saya susun.

      Dalam konteks tertentu, tujuan saya menulis memang buat mengecoh pembaca, kok. Khususnya yang saya kasih label fiksi. Itu berarti ada bagian yang saya ubah, entah itu cuma sebatas nama orangnya, ada adegan yang dilebih-lebihkan atau ditambah, serta yang benar-benar kebohongan karena kisahnya cuma hasil imajinasi.

      Simpelnya sih saya coba menerapkan perkataan Philip Roth: I write fiction and I'm told it's autobiography, I write autobiography and I'm told it's fiction, so since I'm so dim and they're so smart, let them decide what it is or it isn't.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.