Sebagian tulisan ini ada yang saya ambil dari jurnal Agustus 2019. Dengan kata lain, saya sedang berusaha merenungi kehidupan memble dalam setahun. 

— 



Selama masa pandemi yang tengah berlangsung hampir enam bulan ini, saya tersadar bahwa ini pertama kalinya dalam hidup saya tak menghasilkan cukup uang untuk diri sendiri. Mari lupakan sejenak perihal memberikan uang bulanan kepada orang tua yang pernah saya lakukan sebelumnya. Bisa bertahan buat diri sendiri aja itu sudah bagus. Sekitar setahun silam, saya sudah berpikir mengenai tahun 2019 merupakan tahun terburuk sepanjang hidup (sebelum akhirnya terkejut dengan kemunculan wabah ini), sebab banyak kejadian yang bikin saya merasa gagal sebagai manusia, serta di mana tawaran pekerjaan lepas lagi surut-surutnya. Saya tentu tak menyangka masa sekarang bisa berkali-kali lipat lebih bajingan ketimbang sebelumnya. 

Sejak saya memutuskan berhenti mengambil pekerjaan bloger dengan meliput acara maupun memasarkan produk (biasanya dengan live twit), lalu hanya mengandalkan tawaran kerja sama di blog, saya akui penghasilan dalam sebulan memang menurun drastis. Saya sengaja meninggalkan dunia bloger yang terlalu berfokus pada uang karena berbagai alasan yang tak perlu disebutkan di sini, tapi yang jelas ada kejadian pada akhir 2018 yang memicu saya buat memilih jalan lain. Jadi, niatnya pada 2019 itu saya akan berusaha mencari pekerjaan tetap di luar tulis-menulis. Saya lantas ingin mengisi blog ini cuma buat berlatih bikin tulisan fiksi, lalu sesekali menerima tawaran kerja sama yang harga dan temanya sesuai. Pokoknya, saya benar-benar tak mau lagi meliput suatu acara yang biasanya mengundang beberapa bloger komersial dan bertemu dengan beberapa di antara mereka yang memancing hawa kebencian. 

Sialnya, pilihan itu tentu menyusahkan diri sendiri. Sudah tahu sebelum-sebelumnya mengandalkan pemasukan utama dari sana, tapi kenapa mendadak cabut ketika belum memiliki wadah pengganti dalam mencari duit? Setidaknya, sih, saya telah berpikir kalau tabungan saat itu bisa menyelamatkan saya dalam tiga bulan ke depan, hingga kelak memperoleh pekerjaan baru. Itu tentu pikiran yang sangat naif, karena kenyataan sering tak berjalan mengikuti harapan saya. Terbukti sampai Agustus 2019, saya gagal mendapatkan pekerjaan tetap yang gajinya sepadan, sampai-sampai sepulangnya dari wawancara yang menyebalkan itu, saya merasa frustrasi banget dan nekat menggarap buku kumpulan cerpen Fragmen Penghancur Diri Sendiri

Meskipun 2019 terasa buruk dalam delapan bulan ini, pikir saya kala itu, siapa sangka niat awal saya buat menekuni kepenulisan fiksi sempat diberikan wadah oleh Loop pada April 2019. Saya masih tak menyangka bahwa beberapa cerpen saya dalam rentang 2015-2017 (yang ditulisnya secara main-main) bisa diterbitkan di media lain selain blog ini, lantas memperoleh bayaran berupa ponsel pintar seharga dua jutaan. Keinginan saya untuk mengganti iPhone 4 (gadget kesayangan yang telah menemani saya selama 5 tahun) yang sudah terlalu bobrok itu dengan membeli ponsel baru rupanya justru diberikan dengan gratis oleh mereka. Saya sangatlah berterima kasih dan bersyukur, karena seumur-umur itulah bayaran paling mahal selama saya terjun di bidang tulis-menulis. Lagi pula, mendapatkan sesuatu hal dari bidang yang kita sukai tentu memberikan kegembiraan istimewa. 

Celakanya, jika dilihat dari sudut pandang lain, apa yang saya sukai ini juga sering menerbitkan kesedihan. Entah sudah berapa kali diri ini menderita dan dipandang remeh ketika bersinggungan dengan dunia tulis-menulis. Misalnya, saya pernah dimaki-maki oleh klien karena telat revisi, di mana kondisinya mereka menyuruh saya mengirimkan artikel sebelum pukul 00.00, sedangkan mereka baru menghubungi saya pada pukul setengah 12 malam. Saya saat itu sudah mau tidur, sudah tak ingin terlibat dengan pekerjaan. Meski begitu, saya pun berusaha mengumpulkan niat, mengerjakan dengan lebih teliti, dan mengirimkan secepatnya. Tapi, kenapa pada akhirnya keterlambatan itu menjadi kesalahan saya? Sumpah, nyesek banget kalau diingat-ingat karena uang yang saya terima dari tulisan itu cuma 150 ribu. Sudahlah murah, diri ini dihina-hina pula. Asu tenan

Saya juga sempat merasa dicurangi dalam suatu perlombaan menulis. Walaupun ini baru sebatas desas-desus dan sebenarnya saya tak ingin suuzan, tapi ketika mengetahui kalau ada sistem pengaturan pemenang (pemenangnya dipilih berdasarkan mereka yang bergabung di suatu komunitas, atau teman dekat jurinya, atau ada orang dalam), otomatis saya murka. Saya sudah menulis secara maksimal dan beberapa kawan memuji tulisan saya oke, lalu berharap seminimalnya bisa meraih juara 3, terus kenapa tak masuk di daftar juara itu, terlebih lagi tulisan para pemenangnya ampas? Saya mah bisa menerima jika tulisan pemenangnya menarik. Lah, kalau jelek banget? Pastilah ada kesadaran bahwa penyelenggaranya curang. Sampai-sampai saya membaca keluhan peserta lomba lain, “Ini juri yang menilai seorang manusia, kan? Bukan robot?” Selain itu, saya juga membaca analisis peserta lainnya yang memberikan bukti-bukti tentang blog salah satu pemenangnya itu masih berumur baru. Jadi, syarat dan ketentuan lomba itu umur blognya telah mencapai setahun dan minimal menerbitkan 10 tulisan. Sementara itu, blog pemenang ini usianya masih hitungan bulan dan jumlah tulisannya tak lebih dari lima. Ketahuan banget bohongnya, kan? Saking marahnya, saya langsung menghapus tulisan lomba palsu itu. 

Saya pernah hampir diterima kerja di salah satu start-up sebagai penulis konten yang menawarkan gaji tak sampai 2 juta, padahal UMR kala itu sudah 3 juta lebih, sehingga saya terpaksa menolaknya karena setelah dihitung-hitung uang itu tak sebanding dengan apa yang akan saya kerjakan kelak (tugas menulis dalam sebulan sungguh seabrek). Sekalipun belum bekerja, saya benar-benar merasa tak dihargai sebagai manusia. Itu sekali-sekalinya saya girang bukan main bakalan bekerja yang sesuai dengan minat. Sayangnya, fakta akan bayarannya yang jauh dari bayangan saya membuat kebahagiaan saya lenyap dalam sekejap. Cuma segitukah nilai dari kemampuan saya? Apakah masih banyak orang yang memang memandang remeh pekerjaan menulis ini? Pertanyaan itu sepertinya tak perlu dijawab, karena saya masih menemukan banyak tawaran menulis yang di luar akal sehat. Salah satunya: menulis artikel 1.000 kata cuma dihargai 17 ribu. 

Daftar ini sesungguhnya bisa terus bertambah banyak, tapi saya kira hal itu sudah cukup sebagai contoh. 


Balik lagi ke persoalan tawaran kerja lepas tahun ini yang semakin surut, saya jadi teringat tentang dua tulisan kerja sama dari klien yang mendadak batal tanpa ada kabar lebih lanjut. Mempromosikan produk yang berhubungan dengan perjalanan dan penginapan saat situasi begini tentu tidak efektif bagi mereka. Saya sih mencoba maklum. Semoga aja kelak ada rezeki pengganti. 

Bicara tentang rezeki, saya sering mendengar mengenai pernyataan bahwa keseringan menolak rezeki konon bakal menghambat rezeki kita ke depannya. Saya sampai hari ini masih belum tahu akan kebenarannya, tapi saya punya pendapat terkait menolak tawaran kerja sama di bidang menulis atau blog. 

Pandangan ini bermula ketika saya kecewa dengan jawaban salah seorang bloger senior—yang pada masanya tulisan-tulisannya itu rutin saya baca dan favoritkan. Dia lagi membalas twit kawannya yang berupa sikap selektif dalam memilih tawaran kerja sama dari agensi maupun brand-nya langsung. Kesimpulannya: karena terlalu pilih-pilih, dia jadi enggak mendapatkan tawaran kerja sama lagi. Maka, diledeklah dia oleh si bloger yang saya maksud. Dia bilang, beda tipis antara selektif dan enggak laku. Saya pun meresponsnya, semacam mengulang inti dari twit kawannya itu dengan kalimat yang berbeda. Yang jelas, saya menegaskan bahwa setiap penulis pasti punya rasa idealis dan boleh berprinsip sesuai hati nuraninya. 

Maksud saya ini ialah menegaskan akan bentuk kebingungan atau malah suatu protes, memangnya kalau sering menolak tawaran kerja sama yang kurang sesuai dengan hati nurani bikin diri kita enggak laku? Apakah manusia tidak boleh punya prinsip? Harus menerima apa aja yang ditawarkan pada diri kita tanpa memikirkan dampak ke depannya? 

Saya sungguh tidak tersinggung dengan kalimatnya. Biasa aja. Seandainya saya termasuk pemasar atau bloger yang tidak laku dalam urusan mendapatkan tawaran kerja sama, saya pun jelas mengakuinya. Saya masih sesantai itu soal rezeki karena Tuhan sudah mengaturnya. 

Hanya saja, saya masih jengkel bukan main dengan kasus promosi yang dikemas menggunakan pengumuman anak hilang. Seakan-akan tidak ada cara lain untuk mengiklan. Tim pemasaran dan kreatifnya lagi buntu ide banget, kah? 

Biarpun saya telah gagal sebagai mahasiswa Jurusan Pemasaran, paling tidak saya merasa punya kode etik untuk memasarkan suatu produk. Menumpang berita yang lagi hangat menurut saya sah-sah aja biar mencapai target dan masih banyak orang yang penasaran buat mencari informasinya. Namun, kalau itu tentang berita duka (musibah atau bencana atau kematian), saya rasa tidak pantas sama sekali. Begitu pun dengan hal-hal yang bersifat darurat seperti pengumuman anak hilang atau penculikan. 

Orang-orang yang tak tahu bahwa pengumuman itu adalah iklan sebuah produk pasti akan menyebarkannya secara masif. Ketika sudah tahu dan merasa tertipu, tentu mereka bakalan jengkel setengah mampus. Mungkin mulanya target untuk masuk trending telah tercapai, tapi bagaimana dengan penjualan produknya itu? Mereka yang merasa kecewa telah dibohongi oleh iklan sialan itu lazimnya akan malas membeli produk tersebut. 

Omong-omong soal kebohongan, apa kau pernah mendengar kisah tentang seorang bocah di suatu desa yang bilang bahwa dirinya lagi dikejar-kejar macan dari hutan, lalu penduduk kampung itu pada panik dan berusaha ingin menolongnya, tapi ternyata itu hanya kebohongan belaka? Anak itu pun tertawa girang sudah berhasil mengecoh banyak orang. Setelah menipu sampai tiga kali, penduduk pun malas percaya lagi sama si bocah. Mungkin anak itu cuma kesepian dan berusaha mencari perhatian. Sayangnya, cara anak tersebut keliru. Hingga suatu hari, dia pun betul-betul dikejar macan dan tak ada penduduk yang bersedia menolongnya lantaran takut dibohongi lagi. Bocah itu pun tewas. 

Semestinya para pemasar dapat belajar dari dongeng sederhana semacam itu. Memang bikin iklan itu terkadang mesti fantastis atau memberi kejutan tak terduga sehingga menempel di benak masyarakat. Namun, menurut saya, sebisa mungkin jangan sampai membohonginya kelewatan. Jangan mempermainkan calon konsumen dengan kebohongan goblok seperti pengumuman tentang anak hilang dan penculikan. Apalagi yang sampai menumpang berita kematian. 

Saya masih ingat betul dengan kejadian seorang bloger yang mengiklankan produk SL internet cepat pakai kalimat begini: “Berkat pakai SL, saya jadi langsung tahu berita kematian JP dengan cepat tanpa ketinggalan informasi. Ayo, teman-teman yang internetnya lelet, mari kita beralih ke SL.” 

Ayolah, berpikir lebih kreatif lagi. Masa sih informasi tentang orang meninggal sampai dipakai mengiklan? Seakan-akan enggak ada cara lain buat memuji kecepatan internet suatu provider? Mana di twit orang itu nama aktrisnya tidak disensor pula. Itu bakal jadi kata kunci yang akan dicari orang-orang buat mengetahui berita duka tersebut. 

Saya menulis seperti ini bukan bermaksud merasa sebagai orang yang paling benar dalam mengiklan atau sok kritis. Saya cuma resah aja dengan para buzzer alias pemasar yang sebetulnya payah, lucunya tetap memaksakan diri demi sesuap nasi. Cari duit memang susah, tapi apa iya segitunya banget?

Saya tak tahu apakah selama ini cara mengiklan saya sudah bagus, lalu ada yang keterlaluan dungu seperti itu atau tidak. Kalaupun dulu saya pernah khilaf mengiklan dengan cara tolol, saya ingin sekali meminta maaf buat pihak yang telah dirugikan. Paling tidak, hari ini saya sudah belajar banyak dari kesalahan-kesalahan orang lain. 


“Jadi orang lagian pada gegayaan, sih,” ujar bloger senior yang sempat saya bahas barusan. 

Loh, siapa yang lagi gaya, sih? Itu namanya prinsip. Itu pilihan saya buat menolak tawaran kerja sama yang enggak sesuai dengan diri saya. Baik dalam segi harga, tema, dampaknya terhadap orang lain, dan lain-lain. Anggaplah kasusnya begini: kau memasang harga terendah untuk satu tulisan iklan di blogmu senilai 300 ribu, terus saat ada klien yang mengajakmu bekerja sama dengan harga 100 ribu, apakah kau akan menerimanya begitu aja tanpa memperhitungkan risiko? Seumpama keadaanmu lagi krisis banget dan benar-benar membutuhkan uang saat itu juga, mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk menerimanya. Tapi, bagaimana kalau syarat menulisnya kurang sreg di hati? Bukankah pilihanmu itu juga bisa menurunkan harga pasaran? Tentu ada alasan-alasan lain yang membuatmu mempertimbangkan suatu tawaran kerja sama. 

Saya pun masih ingat dengan jelas pernah mendapatkan tawaran dari situs judi yang nominalnya nyaris sejuta kala blog saya lagi ramai-ramainya pengunjung. Saya sudah ada ide juga buat tulisan itu. Dengan memakai kata kunci “taruhan bola”, saya bisa bercerita tentang kenakalan saya zaman SMP-SMK (harus saya akui bahwa diri ini pernah gemar berjudi). Pembaca pasti tak akan sadar jika itu ternyata tulisan buat mempromosikan situs judi. Namun, hati kecil saya berkata, “Masa iya seorang Yoga mengajak orang lain berjudi? Malu dong sama nama ‘Sholihin’ yang sikapnya sama sekali tidak mencerminkan kesalehan itu sendiri?”

Biarpun saya tahu pilihan-pilihan dalam hidup, bahkan kehidupan itu sendiri, juga bagaikan perjudian, tapi konteksnya kali ini adalah judi secara harfiah. Terasa tidak cocok lagi buat diri saya yang sekarang mencari uang lewat cara itu. Lebih-lebih mengajak pembaca blog ini terlibat. Kalau kata orang-orang, itu bisa menjadi dosa jariah.

Akhirnya, tawaran itu saya tolak dengan tegas. Saya tahu saya lagi butuh duit, tapi bukan berarti memakai cara haram. Syukurlah setelah menolak kerja sama itu, tak lama datang lagi dua tawaran lain. Walaupun yang dua itu kalau ditotal jumlahnya masih kalah, bahkan cuma setengahnya dari judi bola, saya tahu uang yang ini bakal lebih berkah. 

Bisa dibilang dalam dua tahun terakhir ini kerja sama dari blog kian surut. Saya entah kenapa juga sempat kepikiran untuk berhenti mengomersialkan blog, cuma ingin mengisinya dengan tulisan saya tanpa ada embel-embel iklan lagi. Tapi berhubung tawarannya kadang lumayan buat menambah pemasukan, apalagi kondisi finansial saya jauh dari kata aman, saya pikir saya akan tetap mengiklan di blog ini–tentu saja dengan cara pilih-pilih dan tak mau sembarangan. 

Akhir kata, sekere apa pun keadaan saya nanti (amit-amitlah, saya maunya berkecukupan dan tajir dong), sebisa mungkin saya ingin tulisan ini bisa jadi pengingat diri sendiri bahwa integritas sangatlah penting ketimbang uang yang didapatkan dengan cara-cara jahanam.


Gambar saya comot dari Pixabay.