“Statistikmu melonjak drastis. Blogmu mendapatkan banyak trafik.” 



Begitulah notifikasi yang muncul pada Minggu pagi di blog WordPress. Saya baru tahu kalau platform sebelah memiliki fitur semacam itu. Sejauh ini, pemberitahuan yang saya peroleh baru sebatas ucapan selamat ketika blog itu berulang tahun, saat saya telah menerbitkan seratus tulisan, serta menerima 200 jempol alias respons suka. 



Penambahan trafik secara mendadak ini jelas membuat saya tertawa. Rupanya, ada juga seseorang yang sudi mengubek-ubek tulisan tak layak baca di sana hingga ke yang paling bawah. Saya pun langsung mengira-ngira, apa sih tujuan orang itu? Apakah dia awalnya penasaran, lalu terpikat, dan akhirnya ketagihan mengonsumsi tulisan saya, atau lagi berusaha mencari kebobrokannya? Berhubung saya gemar mengejek tulisan-tulisan jelek—khususnya yang paling baru tentang puisi Putri Marino, saya pikir mencari celah menemukan keburukan tulisan saya di WordPress merupakan pilihan yang tepat, sebab saya jarang menyunting teks-teksnya. 

Namun, sampai hari ini saya belum memperoleh serangan balasan dari mana pun. Apakah dia gagal menemukan tulisan yang menurutnya jelek banget dan tidak termaafkan? Bisa jadi. Bukan bermaksud kepedean, tapi setahu saya standar setiap orang dalam menentukan kualitas tulisan itu tergantung preferensi masing-masing. Misalnya, beberapa tulisan di blog ini yang begitu saya benci dan tampak busuk saja, ternyata masih dianggap menarik oleh sebagian orang. Dugaan saya, sih, orang itu memang telah kecanduan sehingga rela menelusurinya sampai ke bagian pangkal. 

Keganjilan di platform sebelah itu lantas bikin saya kepengin untuk mengecek statistik blog ini. Sejujurnya, belakangan ini saya jarang sekali membuka kolom yang satu itu. Tapi saat ini saya telanjur penasaran, apakah di platform blogspot juga terjadi lonjakan? Begitu saya periksa, hasilnya begini: 



Gila, ternyata tayangan blog saya bisa naik sampai sepuluh kali lipatnya. Enggak mungkin ini pelakunya manusia. Sudah jelas penjahatnya robot alias saya mendapat kiriman jingling. Mungkin kejadian di WordPress juga sama. Tak ada seorang pun yang penasaran terhadap tulisan saya, melainkan saya hanya sedang diserang oleh suatu oknum dengan cara bedebah. Kayaknya dia enggak sanggup menjotos saya dengan kritik, jadi bisanya menghantam lewat tindakan pengecut semacam itu. Tapi, itu semua tentu hanyalah asumsi-asumsi saya. Tak ada yang tahu kebenarannya selain sang pelaku dan Tuhan—buat apa saya membawa-bawa Tuhan untuk perkara remeh begini? 

Bagi sebagian orang yang kurang paham dengan jingling, mungkin menerima jumlah tayangan blog sebanyak itu menjadi kegembiraan untuknya. Kapan lagi blognya bisa tiba-tiba ramai ya, kan? Sebagian yang lain pasti bakal sedih lantaran kualitas blognya menurun karena menganggap lalu lintas tidak wajar itu adalah virus. Lantas, saya sendiri bagaimana? Saya betul-betul enggak peduli sama angka-angka jahanam tersebut.

Katakanlah saya arogan, merasa perlente, sok keren, atau sebebasnya kamu dalam menilai sikap saya. Tapi jika kamu sedikit memperhatikan, blog ini sudah lama sekali tidak menampilkan total penayangan pengunjung. Saya memilih untuk menghapus widget itu sejak akhir 2016. Pilihan dan alasan itu bermula dari cerita berikut ini.


Merayakan trafik blog bisa menyentuh angka sekian, lalu pemiliknya membuat kuis bagi-bagi hadiah kepada para pembaca, sempat menjadi sebuah tren pada era kejayaan bloger. Saya sendiri pun pernah melakukan hal itu. Jika tak salah ingat, kala blog saya meraih 10.000 penayangan pada akhir 2014, saya membagikan voucer pulsa senilai 10.000 untuk dua orang yang beruntung (saya menuliskan kode-kode itu di tulisan blog, jadi pemenangnya adalah orang yang tercepat dan kebetulan memakai provider serupa). Tulisan itu kini telah saya hapus sebab terasa sangat norak. Lagi pula, angka segitu mah di mata sebagian bloger juga terlihat enggak ada apa-apanya. Buat apa dirayakan segala? 

Namun, bagi bloger pemula seperti saya yang ketika 2014 kunjungan per harinya cuma berkisar di angka 30-50, demi mencapai total penayangan sebanyak 10.000 pastilah teramat sulit. Agar bisa seramai itu, saya perlu bergabung ke komunitas bloger, rajin mengunjungi blog-blog orang lain, gencar mempromosikan tulisan di berbagai tempat, dan seterusnya.

Pada 2015 saya mulai menekuni dunia tulis-menulis dan berusaha konsisten dengan menerbitkan sedikitnya satu tulisan dalam seminggu. Setelah satu tahun ngeblog secara ajek, ternyata upaya itu membuahkan hasil yang gurih. Terbukti pada 2016 blog saya bisa ramai dengan sendirinya tanpa perlu rajin-rajin promosi.

Ada masa ketika saya yang harus mengunjungi blog-blog orang lain terlebih dahulu demi bisa mendapatkan kunjungan balik ataupun gantian memperoleh komentar, sedangkan pada kemudian hari justru pintu sayalah yang digedor duluan oleh para tamu. Saking ramainya komentar di blog saya saat itu, Tata sempat meledek saya begitu kami berjumpa di suatu acara kopdar bloger, “Sumpah, gue capek duluan buat scroll-scroll layar tiap mau komentar di blog lu, Yog. Bagi-bagi apa komentarnya ke blog gue.”

Saya akui, dulu blog ini per tulisannya sering banget mencapai 30 komentar atau lebih. Awalnya, tentu saja saya merasa senang sekali. Saya tak perlu munafik dengan banyaknya apresiasi yang masuk, sampai-sampai bisa menjadi keasyikan tersendiri. Lucunya, menelan banyak komentar terkadang bisa bikin saya gumoh. Konon hal-hal yang berlebihan itu memang tidak baik. Akhirnya, saya mulai capek buat membalas komentar dan kunjungan mereka. Apalagi dulu saya juga merasa sangat tidak enakan jika belum berkunjung balik ke blog mereka dalam waktu dekat. Itu sungguh menguras waktu tersendiri. Maka, ke depannya saya perlu menerapkan prinsip untuk ngeblog seasyik mungkin, jangan terbawa beban harus memuaskan semua pembaca, serta membuang jauh-jauh rasa enggak enakan. 

Sewaktu saya sudah berusaha mengunjungi blog sesempatnya dan sesukanya, perlahan-lahan jumlah pengunjung dan komentar yang masuk pun berkurang begitu saja. Saya akhirnya mengerti, bahwa beberapa dari mereka main ke blog saya karena ada harapan bakal mendapatkan kunjungan balik. Kalau saya enggak mau gantian berkunjung, mereka akan malas buat balik lagi, bahkan mungkin tidak sudi.

Saya pun refleks merenung, apakah jumlah trafik memang sepenting itu buat mayoritas bloger? Terus, apakah angka-angka itu masih berarti buat saya?

Belum sempat saya menjawab pertanyaan barusan, saya malah menerima komentar dari Rani, salah seorang teman SMK yang mengenalkan saya pada dunia blog, “Lama enggak main ke blog lu, sekarang pembaca lu udah rame banget ya. Kayaknya waktu itu lu baru berterima kasih sama pembaca karena dapat 10.000 pengunjung, eh sekarang pengunjungnya udah 300 ribu. Keren banget ih si Yoga. Sekarang udah jadi bloger terkenal.”

Selepas membaca kalimat itu, saya seakan-akan menemukan perasaan sedih sekaligus iri yang terkandung di dalamnya. Saya otomatis segera mengecek blognya. Saya jadi ingin tahu, sudah berapa banyak pengunjung blognya sampai Rani menganggap saya terkenal? Jelas-jelas saya masih seorang pemula yang baru belajar menulis.

Blog dia rupanya baru menyentuh 2.000 penayangan, padahal dia sudah duluan bikin blog dan menulis ketimbang saya. Saya pun bertanya-tanya, kenapa blog dia tidak seramai saya? Bukankah pada masa itu tulisan dia juga lebih bagus daripada saya? Seingat saya, sejak sekolah justru dialah yang bercita-cita menjadi seorang penulis. Saya takut kalau perbedaan trafik yang lebih dari seratus kali lipat itu membuatnya terpuruk.

Pada detik itu juga, saya spontan menghapus tulisan yang dia komentari. Saya mungkin saat itu malu dan berpikir, bahwa blog saya ramai bukan karena tulisannya bagus, melainkan saya cuma rajin blogwalking sekalian meninggalkan jejak. Ditambah lagi saya juga sempat memakai lelucon mesum supaya mendapat tambahan trafik dari manusia-manusia cabul yang telah terjebak kata kunci biadab. Itu merupakan cara curang biar blog saya padat pengunjung. 

Semenjak hari itu, saya mulai menghapus widget statistik blog agar para pembaca lebih memusatkan perhatian terhadap tulisan-tulisan saya, bukan malah salah fokus akan jumlah statistik blog yang melimpah. Saya tak ingin lagi ada yang minder ketika melihat angka-angka yang sebetulnya tidak seberapa, tapi tetap bisa menimbulkan kecemburuan bagi sebagian bloger. 

Kejadian itu pun secara tak langsung telah menggeser cara pandang saya terhadap statistik blog—yang kini terlihat bagaikan angka-angka jahanam. Angka-angka itu terkadang seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bakal meledakkan diri saya.

-- 

PS: Saya sekarang tidak tahu apa alamat blog kawan saya itu. Apakah diam-diam dia masih menulis? Blog lamanya yang saya ikuti sudah tidak dapat diakses. Mungkin dia telah menghapusnya. Dalam sepengetahuan saya, dia mulai berhenti menulis sejak tiga tahunan silam, tepatnya tak lama sehabis meninggalkan komentar di blog saya. Mungkin saya sebenarnya tidak salah apa-apa kepadanya, tapi entah mengapa saya ingin sekali meminta maaf. Barangkali secara tak langsung saya dulu telah menghancurkan mimpinya. Dia yang bermimpi terlebih dahulu ingin menjadi seorang penulis, tapi kenapa justru saya yang jumlah pengunjung blognya lebih cemerlang dan menerima pujaan maupun pujian dari pembaca? Bisa saja dia dengki melihat hal itu. Saya merasa terhina bukan main saban kali mengingat hal yang satu itu.

Sayangnya, saya tidak punya kontaknya lagi setelah berhenti memakai BlackBerry. Saya gagal mencari namanya di Facebook, bahkan tidak bisa menemukan akun media sosialnya yang lain. Yang bisa saya lakukan sekarang hanya menulis sebaik-baiknya supaya bisa meneruskan impiannya yang terkubur. Saya akan membawa semangatnya yang belum ternodai oleh kejamnya kenyataan.

PS 2: Buat para bloger yang masih memajang angka-angka jahanam itu, diharap santai saja dengan tulisan ini. Saat membuat tulisan ini saya enggak ada maksud apa pun, apalagi sengaja menyindir. Walaupun saya tampak jahat, tapi kali ini saya tak sejahat itu. Saya betul-betul enggak peduli sudah berapa juta penayangan blogmu. Saya sudah paham ada banyak faktor kenapa blog bisa padat pengunjung. Toh, mau seramai apa pun lalu lintas blognya, saya yakin enggak akan mengubah penilaian orang terhadap nilai jual sejati blog itu, yakni tulisannya.

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/entrepreneur-idea-competence-vision-1340649/