Angka-Angka Jahanam

39 comments
“Statistikmu melonjak drastis. Blogmu mendapatkan banyak trafik.” 



Begitulah notifikasi yang muncul pada Minggu pagi di blog WordPress. Saya baru tahu kalau platform sebelah memiliki fitur semacam itu. Sejauh ini, pemberitahuan yang saya peroleh baru sebatas ucapan selamat ketika blog itu berulang tahun, saat saya telah menerbitkan seratus tulisan, serta menerima 200 jempol alias respons suka. 



Penambahan trafik secara mendadak ini jelas membuat saya tertawa. Rupanya, ada juga seseorang yang sudi mengubek-ubek tulisan tak layak baca di sana hingga ke yang paling bawah. Saya pun langsung mengira-ngira, apa sih tujuan orang itu? Apakah dia awalnya penasaran, lalu terpikat, dan akhirnya ketagihan mengonsumsi tulisan saya, atau lagi berusaha mencari kebobrokannya? Berhubung saya gemar mengejek tulisan-tulisan jelek—khususnya yang paling baru tentang puisi Putri Marino, saya pikir mencari celah menemukan keburukan tulisan saya di WordPress merupakan pilihan yang tepat, sebab saya jarang menyunting teks-teksnya. 

Namun, sampai hari ini saya belum memperoleh serangan balasan dari mana pun. Apakah dia gagal menemukan tulisan yang menurutnya jelek banget dan tidak termaafkan? Bisa jadi. Bukan bermaksud kepedean, tapi setahu saya standar setiap orang dalam menentukan kualitas tulisan itu tergantung preferensi masing-masing. Misalnya, beberapa tulisan di blog ini yang begitu saya benci dan tampak busuk saja, ternyata masih dianggap menarik oleh sebagian orang. Dugaan saya, sih, orang itu memang telah kecanduan sehingga rela menelusurinya sampai ke bagian pangkal. 

Keganjilan di platform sebelah itu lantas bikin saya kepengin untuk mengecek statistik blog ini. Sejujurnya, belakangan ini saya jarang sekali membuka kolom yang satu itu. Tapi saat ini saya telanjur penasaran, apakah di platform blogspot juga terjadi lonjakan? Begitu saya periksa, hasilnya begini: 



Gila, ternyata tayangan blog saya bisa naik sampai sepuluh kali lipatnya. Enggak mungkin ini pelakunya manusia. Sudah jelas penjahatnya robot alias saya mendapat kiriman jingling. Mungkin kejadian di WordPress juga sama. Tak ada seorang pun yang penasaran terhadap tulisan saya, melainkan saya hanya sedang diserang oleh suatu oknum dengan cara bedebah. Kayaknya dia enggak sanggup menjotos saya dengan kritik, jadi bisanya menghantam lewat tindakan pengecut semacam itu. Tapi, itu semua tentu hanyalah asumsi-asumsi saya. Tak ada yang tahu kebenarannya selain sang pelaku dan Tuhan—buat apa saya membawa-bawa Tuhan untuk perkara remeh begini? 

Bagi sebagian orang yang kurang paham dengan jingling, mungkin menerima jumlah tayangan blog sebanyak itu menjadi kegembiraan untuknya. Kapan lagi blognya bisa tiba-tiba ramai ya, kan? Sebagian yang lain pasti bakal sedih lantaran kualitas blognya menurun karena menganggap lalu lintas tidak wajar itu adalah virus. Lantas, saya sendiri bagaimana? Saya betul-betul enggak peduli sama angka-angka jahanam tersebut.

Katakanlah saya arogan, merasa perlente, sok keren, atau sebebasnya kamu dalam menilai sikap saya. Tapi jika kamu sedikit memperhatikan, blog ini sudah lama sekali tidak menampilkan total penayangan pengunjung. Saya memilih untuk menghapus widget itu sejak akhir 2016. Pilihan dan alasan itu bermula dari cerita berikut ini.


Merayakan trafik blog bisa menyentuh angka sekian, lalu pemiliknya membuat kuis bagi-bagi hadiah kepada para pembaca, sempat menjadi sebuah tren pada era kejayaan bloger. Saya sendiri pun pernah melakukan hal itu. Jika tak salah ingat, kala blog saya meraih 10.000 penayangan pada akhir 2014, saya membagikan voucer pulsa senilai 10.000 untuk dua orang yang beruntung (saya menuliskan kode-kode itu di tulisan blog, jadi pemenangnya adalah orang yang tercepat dan kebetulan memakai provider serupa). Tulisan itu kini telah saya hapus sebab terasa sangat norak. Lagi pula, angka segitu mah di mata sebagian bloger juga terlihat enggak ada apa-apanya. Buat apa dirayakan segala? 

Namun, bagi bloger pemula seperti saya yang ketika 2014 kunjungan per harinya cuma berkisar di angka 30-50, demi mencapai total penayangan sebanyak 10.000 pastilah teramat sulit. Agar bisa seramai itu, saya perlu bergabung ke komunitas bloger, rajin mengunjungi blog-blog orang lain, gencar mempromosikan tulisan di berbagai tempat, dan seterusnya.

Pada 2015 saya mulai menekuni dunia tulis-menulis dan berusaha konsisten dengan menerbitkan sedikitnya satu tulisan dalam seminggu. Setelah satu tahun ngeblog secara ajek, ternyata upaya itu membuahkan hasil yang gurih. Terbukti pada 2016 blog saya bisa ramai dengan sendirinya tanpa perlu rajin-rajin promosi.

Ada masa ketika saya yang harus mengunjungi blog-blog orang lain terlebih dahulu demi bisa mendapatkan kunjungan balik ataupun gantian memperoleh komentar, sedangkan pada kemudian hari justru pintu sayalah yang digedor duluan oleh para tamu. Saking ramainya komentar di blog saya saat itu, Tata sempat meledek saya begitu kami berjumpa di suatu acara kopdar bloger, “Sumpah, gue capek duluan buat scroll-scroll layar tiap mau komentar di blog lu, Yog. Bagi-bagi apa komentarnya ke blog gue.”

Saya akui, dulu blog ini per tulisannya sering banget mencapai 30 komentar atau lebih. Awalnya, tentu saja saya merasa senang sekali. Saya tak perlu munafik dengan banyaknya apresiasi yang masuk, sampai-sampai bisa menjadi keasyikan tersendiri. Lucunya, menelan banyak komentar terkadang bisa bikin saya gumoh. Konon hal-hal yang berlebihan itu memang tidak baik. Akhirnya, saya mulai capek buat membalas komentar dan kunjungan mereka. Apalagi dulu saya juga merasa sangat tidak enakan jika belum berkunjung balik ke blog mereka dalam waktu dekat. Itu sungguh menguras waktu tersendiri. Maka, ke depannya saya perlu menerapkan prinsip untuk ngeblog seasyik mungkin, jangan terbawa beban harus memuaskan semua pembaca, serta membuang jauh-jauh rasa enggak enakan. 

Sewaktu saya sudah berusaha mengunjungi blog sesempatnya dan sesukanya, perlahan-lahan jumlah pengunjung dan komentar yang masuk pun berkurang begitu saja. Saya akhirnya mengerti, bahwa beberapa dari mereka main ke blog saya karena ada harapan bakal mendapatkan kunjungan balik. Kalau saya enggak mau gantian berkunjung, mereka akan malas buat balik lagi, bahkan mungkin tidak sudi.

Saya pun refleks merenung, apakah jumlah trafik memang sepenting itu buat mayoritas bloger? Terus, apakah angka-angka itu masih berarti buat saya?

Belum sempat saya menjawab pertanyaan barusan, saya malah menerima komentar dari Rani, salah seorang teman SMK yang mengenalkan saya pada dunia blog, “Lama enggak main ke blog lu, sekarang pembaca lu udah rame banget ya. Kayaknya waktu itu lu baru berterima kasih sama pembaca karena dapat 10.000 pengunjung, eh sekarang pengunjungnya udah 300 ribu. Keren banget ih si Yoga. Sekarang udah jadi bloger terkenal.”

Selepas membaca kalimat itu, saya seakan-akan menemukan perasaan sedih sekaligus iri yang terkandung di dalamnya. Saya otomatis segera mengecek blognya. Saya jadi ingin tahu, sudah berapa banyak pengunjung blognya sampai Rani menganggap saya terkenal? Jelas-jelas saya masih seorang pemula yang baru belajar menulis.

Blog dia rupanya baru menyentuh 2.000 penayangan, padahal dia sudah duluan bikin blog dan menulis ketimbang saya. Saya pun bertanya-tanya, kenapa blog dia tidak seramai saya? Bukankah pada masa itu tulisan dia juga lebih bagus daripada saya? Seingat saya, sejak sekolah justru dialah yang bercita-cita menjadi seorang penulis. Saya takut kalau perbedaan trafik yang lebih dari seratus kali lipat itu membuatnya terpuruk.

Pada detik itu juga, saya spontan menghapus tulisan yang dia komentari. Saya mungkin saat itu malu dan berpikir, bahwa blog saya ramai bukan karena tulisannya bagus, melainkan saya cuma rajin blogwalking sekalian meninggalkan jejak. Ditambah lagi saya juga sempat memakai lelucon mesum supaya mendapat tambahan trafik dari manusia-manusia cabul yang telah terjebak kata kunci biadab. Itu merupakan cara curang biar blog saya padat pengunjung. 

Semenjak hari itu, saya mulai menghapus widget statistik blog agar para pembaca lebih memusatkan perhatian terhadap tulisan-tulisan saya, bukan malah salah fokus akan jumlah statistik blog yang melimpah. Saya tak ingin lagi ada yang minder ketika melihat angka-angka yang sebetulnya tidak seberapa, tapi tetap bisa menimbulkan kecemburuan bagi sebagian bloger. 

Kejadian itu pun secara tak langsung telah menggeser cara pandang saya terhadap statistik blog—yang kini terlihat bagaikan angka-angka jahanam. Angka-angka itu terkadang seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bakal meledakkan diri saya.

-- 

PS: Saya sekarang tidak tahu apa alamat blog kawan saya itu. Apakah diam-diam dia masih menulis? Blog lamanya yang saya ikuti sudah tidak dapat diakses. Mungkin dia telah menghapusnya. Dalam sepengetahuan saya, dia mulai berhenti menulis sejak tiga tahunan silam, tepatnya tak lama sehabis meninggalkan komentar di blog saya. Mungkin saya sebenarnya tidak salah apa-apa kepadanya, tapi entah mengapa saya ingin sekali meminta maaf. Barangkali secara tak langsung saya dulu telah menghancurkan mimpinya. Dia yang bermimpi terlebih dahulu ingin menjadi seorang penulis, tapi kenapa justru saya yang jumlah pengunjung blognya lebih cemerlang dan menerima pujaan maupun pujian dari pembaca? Bisa saja dia dengki melihat hal itu. Saya merasa terhina bukan main saban kali mengingat hal yang satu itu.

Sayangnya, saya tidak punya kontaknya lagi setelah berhenti memakai BlackBerry. Saya gagal mencari namanya di Facebook, bahkan tidak bisa menemukan akun media sosialnya yang lain. Yang bisa saya lakukan sekarang hanya menulis sebaik-baiknya supaya bisa meneruskan impiannya yang terkubur. Saya akan membawa semangatnya yang belum ternodai oleh kejamnya kenyataan.

PS 2: Buat para bloger yang masih memajang angka-angka jahanam itu, diharap santai saja dengan tulisan ini. Saat membuat tulisan ini saya enggak ada maksud apa pun, apalagi sengaja menyindir. Walaupun saya tampak jahat, tapi kali ini saya tak sejahat itu. Saya betul-betul enggak peduli sudah berapa juta penayangan blogmu. Saya sudah paham ada banyak faktor kenapa blog bisa padat pengunjung. Toh, mau seramai apa pun lalu lintas blognya, saya yakin enggak akan mengubah penilaian orang terhadap nilai jual sejati blog itu, yakni tulisannya.

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/entrepreneur-idea-competence-vision-1340649/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

39 comments

  1. Wkwkwk. Gue baru aja kemarin ditanya sama Febri, "Blog lu udah sekian views ya?" Terus gue tiba-tiba ngerasa malu. Kenapa ada aja yang ngeh ya? Padahal selama ini gue pikir masang widget penayangan itu cuma pajangan hahaha.

    Tahun 2016-2017 itu penayangan di blog gue lagi banyak-banyaknya juga sih. Ya karena sempet ikut komunitas dan blogwalking sana sini. Jadi emang kerasa banget. Tapi kalo sekarang mah yaudahlah. Ada yang baca atau engga juga terserah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena widget itu dulu fitur bawaan pas awal ngeblog. Gue juga sempet enggak engeh kalau masih ada yang memperhatikan, sampai-sampai sadar pas dikomentari temen sekolah.

      Enggak jauh bedalah. Gue sewaktu 2015-2016 juga merasa blog lagi padat-padatnya.

      Delete
  2. Saya juga merasakan hal yang sama. Makin lama ngeblog makin santai dan nggak terlalu peduli dengan segala yang jadi acuan blog ngehit.

    Bener kata Mas Yoga, nyawanya blog ada di tulisannya. Suka sama postingan ini.

    Eh, iya, semoga impian jadi penulis terwujud, ya. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak ada habisnya ya, Mbak? Haha.

      Terima kasih buat apresiasi dan doanya. Aamiin.

      Delete
  3. Saat membaca kata jingling, tiba-tiba muncul satu nama di kepala yang mana adalah junjungan kita semua. Terus keinget juga sama salah satu bloger yang menulis satu tulisan khusus setiap kali trafik blognya mencapai angka 500.000, 600.000, 700.000, dan terakhir 800.000. Gue liat itu cuma bilang "HOLD MY BEER!" dalam hati sih. Hahahahah

    However, at the end of the day. It is just a number and nothing more. Cheers!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau lu perhatiin, itu ditambah 200 lagi bakal jadi angka magis, Man.

      Sebetulnya sah-sah aja merayakan trafik blog. Bisa jadi itu pencapaian buat sebagian bloger. Tujuan ngeblognya jelas berbeda. Tapi seperti yang udah gue tulis, gue udah enggak peduli. Haha.

      Yeah, it's just numbers. And Bob Marley said, number is never ending.

      Delete
    2. Tai, iya juga ya. Semua hal selalu berhubungan dengan beliau ternyata. Ini pasti konspirasi yang sengaja dibikin oleh dia. Dia pasti ingin kita memecahkan sebuah misteri.

      Delete
    3. N firmansyah jangan julid dong, gw pernah loh nulis bisa dapat 800 ribu pageview hahahha #ding ga gw orangnya santai, sapa tau bukan gw yang dimaksud soalnya gw share pv nya ga tiap dapat 600 rb, 700 rb, dll...wkwkwk
      Ya klo masalah ngerayain pencapaian traffik mungkin bagi sebagian yang emang ga punya teman di circle blogger kayak gw bisa tembus sekian pv dari pembaca organik udah mengharukan banget, ya walau ga instan, tapi butuh waktu lama, hahahha

      Etapi gw orangnya santai sih, gw yakin komen komenan kayak gini mah cuma buat rame ramean aja, iya ga sih, ga ada unsur ngece sama yang suka seneng ada yang share pencapaian pv kan hahahhahahhaj

      Delete
    4. Oh tentu saja bukan dirimu yang saya maksud, Mbak. Saya kan follow dan baca blog kamu baru-baru ini aja. Wkwkwk. Ini blogger lain yang karena banyak faktor jadi bikin bagian itu jadi lucu. Makanya komen gitu di sini wkwkwk.

      Cheers!

      Delete
  4. Hahaha kadang kalo ngelihatin jumlah kunjungan, rada miris juga. Apalagi per harinya, duh beneran sepi.

    Apakah penting memperhatikan kunjungan blog kita?

    Menurut saya penting, apalagi saya ingin membentuk blog sebagai penghasilan tambahan buat tabungan jalan2. Dan pada akhirnya penting atau tidak penting kembali ke usernya mau menjadikan blognya seperti apa. Untuk komersial, untuk sekadar curhat, atau untuk komersial berkat curhatannya.

    Makanya saya menjaga rutinitas untuk berkunjung ke beberapa blog supaya dapat kunjungan balik. Nggak saklek juga setiap saya kunjungi harus kunjung balik. Karena saya pun merasa selama ini hanya berkunjung ke blog yang kontennya memang menarik.

    Satu lagi, saya juga baru ngeh baru-baru ini, setiap yang kita lakukan kalau dilaksanakan secara serius, akan mendatangkan keuntungan yang nggak kecil. Kuncinya adalah lakukan sesuatu apa pun itu dengan usaha yang pol dan maksimal. Bukan untuk gaya2an, tapi semacam terapi tetapi kalau kita serius menjalani kehidupan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak apa-apa sekarang terasa sepi, Din. Suatu hari bakal ramai, kok.

      Buat saya pada beberapa tahun lalu juga penting. Itu jelas menjadi nilai jual di mata klien. Tanpa perlu berpanjang lebar, saya sepakat dengan komentarmu yang bilang tergantung blogernya lagi.

      Toh, ini cuma pandangan saya. Enggak semua bloger kudu setuju. Berbeda pandangan sudah biasa, kan? Yang penting bisa saling menghargai dan opininya bisa dipertanggungjawabkan.

      Delete
    2. kamu tidak sendiri, Din
      aku juga

      *berpelukan

      Delete
  5. Gw malah dari kemaren lagi tertarik dengan rame ramenya puisi si artis, wkwkwk, gw malah fokeusnya ke sana,

    gegara ga sengaja liat tautan twitter lu di wigdet twitter di bagian bawah blog ini. Terus gw kepo dong sampai ngecek apa sih inti awal dari poempm yang lagi jadi perdebatan itu.

    Gw pernah baca puisi deseu yang di caption ig doang, dan dari situ lumayan syock juga e maksudnya terkejut bahwasannya tau2 deseu uda nerbitkeun buku puisi. Ya mungkin klo liat puisinya yang di ig, gw ada penilaian sendiri tapi gw simpen aja dalam hati penilaiannya kayak apa (takut ama bala balanya klo terlanjur jujur gw ungkapkan penilaian pribadi gw) haha

    Klo standar bagus gw mengenai puisi, tetep yang sekelas bikinannya sastrawan yang uda terakreditasi karyanya sih (tapi itu gw, mungkin beda ama yang lain)

    Ya walaupun siapapun bebas membuat phisi, tapi standar bagus dan enggaknya puisi gw tetap memegang ukurannya,

    Btw gw abis baca ini langsung kepo dong, kalau menanggulangi jingling gimana
    Ya antisipasi aja

    Makanya sekarang suka mgerasa takut euy kali abis main share link postingan blog di grup grup, takut ada yang iri, trus ngejingling, #kedjam juga ya klo ada oknum yang suka ngejingling blog lain, membuat gw yg tadinya uda semangat beredar lagi di blog temen2 jadi takut .. sempat berpikiran apa abis nulis, w tinggalkan aja ya tulisannya tanpa perlu cape cape blogwalking, biar meminimalisir orang yang seensi ama blog kita hahahhahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tadinya juga mau buat esainya tentang puisi itu, tapi bingung gimana bertutur dengan lebih halus. Haha.

      Saya enggak tahu kalau ada cara mengantisipasinya. Semoga sih Google paham kalau itu bukan perbuatan diri sendiri, jadi blog kita-kita yang pernah dapat kiriman jingling ini aman.

      Soal blogwalking itu hakmu sih, Mbak. Biar bagaimanapun bloger juga tetap butuh bacaan atau hiburan dari blog lain. Ya, kalau saya paling-paling mengurangi komentar dan baru angkat bicara pas lagi mau dan sempet. Toh, saya udah paham sama konsekuensinya.

      Delete
  6. Balik lagi kesini setelah sepersekian tahun :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu siapa? Semoga bukan Rani. Karena enggak mungkin dia nulis kata depan "ke" digabung. :(

      Delete
  7. Jingling apaan sih Yog? Gue juga pernah tuh gitu. Tiba-tiba kunjungan sehari melonjak gak wajar. Gue pikir "oh wajar kali ya, gue aja yang baru tau hal begini", gitu.

    Langsung kepo gue, blog temen lo apa. Sayang ya, udah gak ada.

    Gue pribadi udah ngilangin angka kunjungan dari tampilan blog. Alasannya sih cuma gak enak diliat gitu, ganggu pemandangan di blog. Tapi baru ngeh setelah baca tulisan lo ini, kalo angka-angka itu sengefek itu. Gue pikir selama ini blog-blog yang kunjungannya udah banyak itu ya karena mereka udah lama nulis dan tulisannya banyak. Masalah kualitas, semua tulisan punya pembacanya sendiri.

    Cuma angka ya padahal. Tapi bisa merembet kemana-mana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bot atau robot buat menambah jumlah pengunjung secara instan, Rih. Selengkapnya bisa dicari tahu sendiri.

      Iya, kebanyakan juga karena mereka udah senior. Tulisannya udah banyak. Makanya blognya ramai. Tapi buat orang yang udah ngeblog lebih dulu, terus lihat pemula kayak gue tiba-tiba ramai (padahal itu juga efek tulisan pose cowok foto--yang akhirnya jadi bumerang buat gue) ternyata bisa aja menimbulkan cemburu.

      Emang cuma angka buat sebagian orang, tapi buat sebagian yang lain itu penting banget. Tergantung sudut pandang, sih.

      Delete
  8. Persis sebulan terakhir, saya paling sering ngeliat statistik tayangan blog. Miris juga makin dikit yang mampir. Hahaha. Tapi, ya balik lagi ke yang udah disebut di tulisan ini. Mau nyobain ngeblog dengan senyaman mungkin. Yang mungkin, terakhir kali ngerasain ini pas 2015-2016

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu memang era-era ngeblog yang menyenangkan. Sayangnya, gue malu menengok tulisan pada tahun segitu. Tulisannya masih jelek banget, tapi kok percaya dirinya tinggi karena blognya ramai. Mungkin dulu gue terlalu cuek atau belum paham sama kualitas tulisan. XD

      Delete
  9. Waktu pake personal blog yang lama, aku gitu Yog: nampilin widget pv dan bikin giveaway pas blognya anniv (2x kalau gak salah bikin beginian). Terus pas pindah blog yang sekarang, tidak lagi merayakan dan tidak lagi nampilin widget pv. Soalnya diingatkan sama tulisan bagus di artjog tahun 2017, katanya rayakanlah rasa sebelum perayaan itu terjadi~

    Jadi udahan ajalah, lagian capeque, daku sibuk wkwk.

    Eiya untuk blog jalanhorebandung masih pake widget pv, sengaja biar tahu kalau sepi kunjungan artinya aku harus nulis, maklum nulis di sana terlalu santai. (ah apaan aku nulis dimana2 gitu deng, kalau lagi males aku diemin wkwk)

    Buat yang masih nulis angka2 itu di blognya, aku juga gak mempermasalahkan. Silahkan aja soalnya gak peduli. Btw, tulisan ini gak jahat kok, biasa aja aku bacanya hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti yang udah saya tulis, zaman dulu kan banyak banget yang merayakan ulang tahun atau jumlah kunjungan mencapai angka sekian. Itu tulisan penjelasan tentang karya seninya atau gimana? Dalam juga jika dipikir-pikir.

      Sepi kunjungan bukan berarti malas menulis juga, sih. Itu kan segmentasinya pasarnya terbatas. Kamu fokus menulis tentang Bandung. Jadi sebagian orang baru membaca tentang itu pas pengin liburan atau ketika lagi main ke sana, terus bingung mau mampir ke tempat apa.

      Soalnya citra yang terbentuk belakangan ini saya jahat dan sinis, Sya. Suka mengejek tulisan buruk dan hal-hal lainnya. Hahaha.

      Delete
  10. wah bisa banyak gitu ya bang trafiknya kapan ya aku bisa begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah dijawab tuh sama Firman. Bisa juga suatu hari nanti, ketika kamu minta tolong sama warga sekampung buat buka blogmu.

      Delete
  11. tulisannya sama sekali enggak jahat kok, Yog.
    kemarin sempet lumayan mengikuti tweet tentang puisi itu sih. mau berkarya silahkan, tapi saat dikomentari ya harus lapang dada aja.

    dari dua atau tiga tahun yang lalu, sering iri dengan blogger yang visitornya bisa menyentuh jumlah yang banyak. apalagi saat melihat widget yang menampilkan pengunjung blognya selama ini, merasa jiper sekali uy. ehe.
    tapi setelah ngobrol sama senior, jadi bisa lebih tau untuk bisa menikmati hidup dan enggak iri dengan pencapaian orang. karena, pastinya orang-orang tersebut memiliki usaha yang gue pun enggak tahu juga kan.

    tapi, tetep sih angka seperti ini penting untuk gue. karena gue ingin blog gue bisa di monetesi. entah dengan content placement ataupun hal yang lainnya. lagi pula, mengenaskan juga sih blog gue yang umurnya mungkin lebih lama dari lu, tapi untuk bisa mendapatkan pekerjaan dari blog aja masih kesulitan. apalagi dengan adanya syarat yang harus di miliki blog, seperti DA serta PA gitu. hahaha

    untuk tahun ini, rasanya prioritas utama gue untuk blog, hanyalah berusaha lebih sering menulis dan mengunjungi blog orang lain. untuk angka-angka seperti itu, semoga saja bisa bertambah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi apa yang dialami temen gue itu sempet lu rasain juga, ya? Berarti gue udah melakukan hal yang menurut gue tepat, supaya enggak ada kejadian serupa. Baguslah jika udah menikmati. Toh, tujuan ngeblognya mungkin juga berbeda. Bisa jadi mereka yang ramai itu selalu riset kata kunci sebelum menggarap tulisan, kualitas tulisannya oke punya, tekun promosi tulisan, dst.

      Kayaknya lu perlu gabung komunitas bloger lainnya yang memang bertujuan cari duit dari blog. Segera hubungi Sobat Gurun dan kawan-kawan seperjuangannya, Zi. Tapi berhubung lu lagi di Mesir, enggak mungkin kan bakal liputan ke acara bloger yang mayoritas tempatnya di Jabodetabek? Lagian, gue juga belum dapat info tentang tulisan berbayar begitu lagi. Tak perlu memandang umur blog gue juga. Wahaha.

      Oke, semoga lu semakin rajin blogwalking biar ramai pengunjung maupun komentar.

      Delete
  12. Been there, been there, done that.

    Ngerasaian ngeblog kaya lagi marathon. Nyesuain niche, alexa, da/pa, SEO, dll. Sampe mikir, ini gimana ya udah bener belum sih?

    Baca juga tulisan temen blogger yang intinya, "buat gue SEO itu penting."
    Pokoknya ikuti rules lah supaya jadi blog yang 'baik dan benar'. And I'm done nowww, huh. Bukan capek sebenernya, tapi menggali lebih dalam lagi value dalam proses ngeblog ini. Apa tujuannya?

    Saya sih maunya senang senang santai lega. Sampe kebablasan sebulan sekali ngisi blog yowes dijalani haha.

    Pageviews? Apa itu? Wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yowes, ngeblog aja sesuka hati selama menurutmu itu benar tanpa harus takut menyalahi aturan bloger-bloger yang mesti paham SEO. Kecuali, tugasmu sebagai pemasar digital yang menangani web perusahaan atau kamu menjadikan blog sebagai penghasil adsense.

      Delete
  13. Gue entah dari kapan mulai gak peduli sama statistik. Dan karna baca tulisan ini baru liat statistik blog lagi. Apaan seharinya cuma 60-an doang yang mampir. Apalagi jarang nulis. Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak usah dipusingin angka-angka itu, Yan. Lagian, 60-an asal manusia semua yang baca mah termasuk banyak. Makanya kalau udah resah dan perlu banget nulis, langsung bikin aja.

      Delete
  14. Barangkali, yang ngejar angka-angka jahamam itu adalag blogger pemula yang pengen ngerasain gimana sih rasanya punya tulisan yang angka view-nya tinggi. Wkwk

    Btw, agak miris juga kalo statistik blog ternyata sangat dipengaruhi oleh aktivitas blogwalking dan meninggalkan jejak. Rasanya, orang-orang baca tulisan kita tuh bukan karena ingin, tapi cuma karena mengharapkan tulisan dia dibaca balik.

    Aku memang masih sangat awam di dunia blogger. Tapi aku pernah bertanya-tanya kenapa sih platform blogger gak dibuat kayak youtubenya. Maksudnya dibuat aplikasi yang mudah diakses semua orang, ada halaman rekomendasinya, trending, notifikasi dan sebagainya. Nah, kalo gitu kan kita bisa gampang menilai mana tulisan yang bener2 disukai banyak orang, dan mana yang enggak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mereka penasaran ya, gimana memperoleh angka segitu. Ingin mendapatkan kepuasan dari situ.

      Saya waktu itu juga sempat mempertanyakan, acara-acara keren kebanyakan buat para Youtuber, lah blogernya gimana? Soal aplikasi itu, boleh juga idenya. Bisa disusun berdasarkan wilayah lebih penting. Jadi orang-orang ini mulai tahu, bahwa di sekitarnya ada para penulis bagus. Sekarang kan terlalu random. Menemukan tulisan bagus karena enggak sengaja atau dikasih unjuk teman.

      Delete
  15. aku juga dulu ada widget pengunjung blog gitu waktu awal-awal buat blog, lagi semangat2nya. kira-kira 2010-2011. semakin kesini semakin males blog rame2 widget, dan ternyata setelah aku lihat tulisanku yang dulu dan sekarang masih lebih puas dengan tulisanku yang sekarang walaupun komentarnya sedikit. banyaknya komentar tuh gak menentukan tulisan bagus atau jelek atau norak, emang begitu sih, karena aku gak punya fans dan pembaca langganan jadi yaaa semakin sering blogwalking semakin banyak kemungkinan komentar, tapi kalau gak ya gak, but it's ok. aku ngeblog karena aku suka nulis, gak peduli pengunjungnya berapa. pede aja pamerin postingan baru di sosmed, walaupun mereka cuma mampir sebentar gak baca sampai akhir dan gak komentar, liat keterangan jumlah tampilan menyentuh angka 300an aja udah cukup seneng, soalnya rata2 temen di sosmed2ku ya 300an orang. tulisan ini menarik, dari dulu aku ingin nulis soal ini juga. maybe nanti aku singgung tulisan ini ya di postinganku selanjutnya tentang traffic juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, saya lebih puas dengan tulisan hari ini yang komentarnya lebih sedikit ketimbang blog pas lagi ramai-ramainya.

      Terima kasih sudah bilang menarik. Ayo, tulis juga, Nis. Biar ada sudut pandang baru.

      Delete
  16. 200 draft di blogger dan 100 postingan di WordPress. Produktif sekali anda ini, Yog. Asyik juga itu, bisa dapet notif berapa banyak postingan dan berapa jumlah likes di blog. Jadi kaya main instagram.

    Aku belum bisa bener-bener "cuek" sama statistik blog. Apalagi dulu jaman-jamannya ngejar biar dapet sponsored post pertama kali. Wuuuuh,tiap detik ngecek PV terus. Misal belum memenuhi target pribadi, langsung buru-buru share ke semua sosmed + BW ke bloger-bloger lain. Bahkan sebenarnya akhir tahun lalu sempet bikin target : akhir 2019 PV kudu 500K ah, biar keren. Eh, nggak kesampain. Lhawong nggak pernah update tulisan + nggak pernah BW :3

    Baru denger ada istilah jingling. Habis ini googling dulu lah. Hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Produktif kadang beda tipis sama kurang kerjaan, Wis. Nasib pekerja serabutan yang belum ada kerjaan kan begitu. Mengalihkan waktu luang dengan menulis biar jam-jam yang terbuang dalam setiap hari ada hasilnya meski sedikit.

      Saya rasa perubahan cuek ini karena mulai kecewa dengan sistem kerja samanya buat mencari uang lewat blog. Dulu saya juga berusaha segigih itu buat meramaikan trafik blog dan memperbagus DA/PA atau apalah, tapi lama-lama justru melihat banyak hal yang memaksa saya mencari jalan lain.

      Delete
  17. Aku sih pasang Yog, pageview. Tapi percayalah, itu dipasang Ama orang yang membuat blogku pertamakali, dan dia jg yg bertugas maintenance segala macam, karena aku super super gaptek hahahahaha.aku tiap bulan juga dikirimin Ama google analisis ttg statistik blog.

    Membaca segala macam angka2 yg dipaparin, jujur ya, aku ga ngertiiiiii hahahaha. Orang2 pada ribut DA PA, aku jg ga prnh cek punyaku berapa. Pada ribut Alexa ramping ato gendut, boro2 aku tau punyaku bro :p. Apalagi ditanya spam score, rate card, ya Allah apalagiiii ituuuu :p.

    Aku nulis, Krn suka nulis.aku BW, Krn aku suka dengan tulisannya. Memang sih ada bbrp yg Krn kunjungan balik terimakasih, tapi banyaaaak yang Krn aku beneran suka Krn blog mereka :). Aku ga peduli Ama angka2 statistik, karena toh buat apa? Aku ga cari duit dr blog, jd aku ga peduli berapa DA PA dll dr blogku :D.

    Kadang aku sampe ga ngerti , kalo blogger pada ribut ttg DA PA anjlok , ato Krn FB/IG ngerubah algoritmanya... Sampe segitu pengaruhnya ke tulisan mereka ya Yog? Kadang jd penasaran juga sih,pgn belajar LBH dlm ttg istilah2 td dan apa pengaruhnya, walopun aku ttp ga mau sih, cuma gara2 angka, trus hobiku menulis jd terganggu :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga termasuk cuma paham dasar-dasarnya. Enggak mendalami sampai yang seperti Mbak maksud.

      Beberapa dari mereka memang menganggapnya penting banget. Apalagi yang menggantungkan penghasilan utama dari blog, baik berupa adsense atau tulisan berbayar. Karena pengaruhnya besar. Anggaplah dalam sehari mereka tadinya bisa menghasilkan trafik dan engagement sekian. Terus lantaran ada perubahan algoritma, mendadak ya angka mereka bisa berkurang sampai setengahnya, bahkan lebih. Singkatnya, rezeki mereka jadi lebih sedikit.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.