Dalam seminggu terakhir, hidup saya di dunia maya sepertinya ada saja masalahnya. Sebetulnya sih karena keteledoran saya sendiri yang sulit menahan diri untuk tidak bacot. Jika waktu itu saya memilih kalem, pastilah kondisinya akan jauh berbeda. Tapi jagung telah menjadi popcorn dan meletup-letup. Saya bisa apa selain menghabiskannya atau menyuguhkannya kepada para penonton? 

Setelah merasa puas membuang segala energi negatif di dalam diri, saya pun mulai berniat untuk rehat sejenak atau semacam berpuasa membuka media sosial. Namun, niat baik tidak melulu berjalan dengan baik. Mau tak mau saya perlu kembali berisik untuk meluapkan emosi sehabis terpicu oleh sesuatu.



Hal ini bermula saat saya baru pulang salat Jumat, lalu mengecek ponsel. Terdapat pesan di Instagram dari seorang perempuan yang menyapa saya dengan salam khas muslim. Begitu saya menjawabnya, dia langsung bertanya soal diri saya, khususnya mengenai akun Facebook. 

Saya katakan bahwa akun Facebook saya cuma satu: facebook.com/yogayr. Dia membalas sempat menemukan akun lain yang memakai foto saya. Kami lantas membahas tentang akun palsu—yang dengan jahanamnya lagi-lagi menggunakan foto saya seenak udel. Saya pun memberi sedikit nasihat supaya lebih berhati-hati di internet. Jangan sampai mudah dibohongi oleh orang asing di dunia maya. Rupanya, dia melapor begitu lantaran sudah tertipu. Saya jelas terkejut. Berikut saya lampirkan bukti sebagian percakapan kami dan profil Instagram si pemalsu.







Foto nomor 5 dipotret ketika saya berada di Alive Museum Ancol, Jakarta, sedangkan nomor 6 sewaktu saya main ke Candi Ratu Boko, Yogyakarta. Keduanya pernah saya publikasi di Instagram. Anehnya, dia memakai foto profil yang belum pernah saya pasang di akun media sosial mana pun. Terus, dia dapat dari mana foto itu? Saya pun mengubrak-abrik arsip di otak dan berhasil menemukan potongan memori akan foto tersebut. Bisa-bisanya dia mencuri foto saya dari tulisan Dian Hendrianto sewaktu kami lagi mengadakan kopdar bloger di Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat. Ini kan berarti dia tidak hanya menelusuri tentang saya, tapi juga akun teman-teman saya. Bedebah betul manusia di balik akun itu.


Pada masanya, sekitar 2015-2016, tulisan saya di blog yang berjudul “Pose Cowok Foto” sempat masuk ke halaman satu Google. Di dalam tulisan itu terdapat belasan foto saya dengan berbagai gaya. Kala pertama kali tercetus ide konyol itu, saya tak punya niat apa-apa selain buat iseng dan seru-seruan. Lalu yang akhirnya terjadi, ternyata foto saya digunakan oleh beberapa oknum. Ada yang berpura-pura menjadi saya; ada yang memakai nama lain, tetapi fotonya wajah saya (menurut beberapa sumber, dia menggunakan akunnya buat menggoda cewek-cewek); mungkin ada juga yang menjadi buzzer politik. Omong-omong soal merayu cewek, saya mendadak terkenang pernah juga membahas hal ini dengan perempuan lain, salah satu pembaca blog saya.





Mulanya saya mencoba bersikap biasa saja dengan persoalan itu selama tidak merugikan diri saya. Tapi begitu saya sudah menerima tiga laporan (melalui surel, pesan Facebook, dan Twitter) tentang pencurian foto ini, lama-kelamaan muncul pikiran-pikiran buruk akan penyalahgunaan foto tersebut. Saya sudah muak, kelewat jengkel, dan berusaha menelusuri semua akun Facebook yang memakai nama saya, kemudian melaporkannya pada sistem. Syukurlah sejak hari itu tidak ada lagi pengaduan dari orang lain. Saya akhirnya bisa merasa tenang.

Demi mengantisipasi agar kejadian bedebah semacam itu tidak terulang kembali, saya pun mulai mengurangi foto diri di Instagram. Saya menyiasatinya dengan menyuguhkan foto pemandangan, makanan, mainan, dan sesekali desain amatiran. Saya berharap sekaligus berdoa supaya tidak ada yang tertipu lagi. 



Hingga datanglah hari Jumat silam, ketika perempuan itu mengadu kepada saya. Saya tak habis pikir, kenapa masih ada yang tertipu lagi dengan kepalsuan tolol kayak begitu? Lebih-lebih dia telah berkomunikasi selama kurang-lebih tiga tahun. Apakah beberapa manusia digital ini lupa untuk berhati-hati di internet? Apakah sebelumnya tidak kepikiran buat memverifikasinya? Apakah masih banyak yang belum paham tentang fitur “telusuri Google untuk gambar”?

Kesimpulan saya dari kejadian hari itu: Sepertinya karena diri saya enggak terkenal, sehingga tidak banyak yang tahu apakah seorang Yoga Akbar S. ini ada di muka bumi. Artinya, para oknum yang bersembunyi di balik wajah orang lain untuk menggaet lawan jenis itu tidak melulu berdasarkan fisiknya yang cakep. Misalnya, saya sendiri sudah sadar diri kalau kurang ganteng—hal ini tertulis dengan jelas di kolom About Me: “Seorang bloger. Tadinya mau jadi playboy, tapi masih kurang ganteng. Kalau bloger enggak ada syarat ganteng.” Namun, kenapa foto paras saya yang apa adanya itu masih saja dipakai berulang-ulang kali? Ini kan berarti faktor saya yang kurang terkenal, sehingga ada sebagian manusia yang memanfaatkannya demi suatu tujuan entah apalah itu. Atau bisa jadi ada orang yang diam-diam membenci saya, lalu tega melakukan perbuatan pengecut semacam itu agar citra diri saya yang pernah bajingan ini semakin memburuk.

Jadi, jika suatu hari ada oknum—entah siapa pun itu—yang memakai wajah saya sebagai foto profilnya lagi, bisa dipastikan orang-orang juga tidak akan sadar bahwa itu akun gadungan. Intinya, jangan mudah percaya dengan yang kita temukan di internet sebelum benar-benar membuktikannya. Lalu buat siapa pun yang pernah menjadi korban atas pemalsuan identitas menggunakan nama maupun foto saya ini, saya cuma bisa memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kejadian busuk ini tidak terjadi lagi.

--

PS: Mulai hari ini, saya membenci foto-foto diri yang termuat di halaman pertama Google. Memang, sih, satu tulisan itu bisa menyumbang trafik terbanyak, yakni 150.000 penayangan lebih, tapi kalau pada akhirnya justru merugikan diri saya mah buat apa? Lagi pula, saya tidak memasang adsense, saya juga tidak kepengin menjadi pesohor. Maka, angka-angka laknat itu tidak ada artinya lagi bagi saya. Seandainya kamu ingin menyumbangkan ide untuk menghapus tulisan itu karena saya tidak memedulikan trafik, saya akan menjelaskan kalau gagasan goblok itu sudah sejak lama menempel di kepala. Tapi apa yang sudah tertanam di internet pasti akan sulit, bahkan mustahil menghilang. Daripada saya melenyapkannya, bukankah lebih baik saya mempertahankannya sebab itu bisa menjadi sumber utama alias bukti bahwa sayalah pemilik asli foto-foto tersebut?

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/security-protection-anti-virus-265130/