Semestinya saya sadar, bahwa menulis secara spontan dapat membuat saya bercerita banyak hal. Suara-suara di kepala saya itu seolah-olah bisa langsung tertulis begitu saja, bahkan kesedihan yang selama ini terpendam juga ikut keluar tanpa perlu menggalinya lebih jauh. Namun, pada akhirnya saya harus menghapus hal-hal lain yang suka keluar seenaknya itu, atau memindahkannya ke dokumen baru—yang kelak saya kumpulkan dalam satu folder bernama: Belum Selesai

Saya memilih fokus untuk mengerjakan tulisan yang sejak awal saya niatkan akan selesai. Biasanya, jenis tulisan ini merupakan keresahan yang mengganggu kepala saya selama berhari-hari atau lebih. Saya tidak bisa menunda-nunda lagi dan harus menggarapnya terlebih dahulu, sebab jika dibiarkan terlalu lama pasti semakin membusuk. Sebisa mungkin saya berusaha menghindari, jangan sampai bagian penting dan rasa dalam tulisan itu lenyap.



Begitu tulisan itu telah selesai, barulah saya bebas melanjutkan ide-ide yang kerap muncul secara tiba-tiba itu. Mau leyeh-leyeh lagi juga terserah, sih. Sialnya, saat saya sedang luang dan kebetulan tidak malas, saya tentu lebih senang membuka folder itu. Lalu, saya membaca satu per satu failnya, sampai saya menemukan tulisan yang mungkin bisa dikembangkan. 

Kebanyakan berkas itu berbentuk ide mentah cerpen yang baru ditulis poin-poinnya. Dari sekian banyak ide itu, akhirnya ada yang berhasil saya selesaikan, lalu saya unggah ke blog ini. Dua tahun belakangan ini, buku-buku yang saya baca memanglah berupa fiksi. Konon, apa yang kita produksi ialah cerminan dari apa yang kita konsumsi. Barangkali itulah yang menyebabkan blog ini berganti atau bertambah fungsinya; dari yang sekadar untuk jurnal alias curhat, lalu jadi tempat latihan membuat cerpen. 

Ketika pertama kali bikin cerpen-cerpen itu, saya sesungguhnya tidak pernah berharap banyak agar pembaca blog ini menyukainya. Saat proses menuliskannya pun, saya hanya berpikir kalau perlu menuangkannya ke sebuah wadah. Saya enggak mau susah tidur karena kisah-kisah itu selalu hadir di kepala, lebih-lebih sampai datang ke alam mimpi dan menghantui saya. Ujung-ujungnya, tidur saya jadi tidak nyenyak atau sedikit-sedikit terbangun. 
Read More
“Masalah lu kok percintaan mulu, ya? Yah elah, kayak enggak ada yang lebih penting gitu?” ujar seorang teman sekitar 5-6 tahun lalu ketika saya selesai curhat.

Saya enggak tahu kenapa tiba-tiba bisa mengingat hal itu. Namun, menarik juga rasanya kalau saya bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Dulu, mungkin saya sangat sedih ketika sudah memilih teman curhat dan memercayakan dirinya bisa menjadi pendengar yang baik, tapi dia malah berkata seperti itu. Kalau diingat-ingat lagi, mungkin saya juga malu dan kecewa sekali kepadanya. Saya kan cuma pengin cerita dan didengarkan olehnya, bukan diremehkan permasalahannya. Terlepas dari kisah apa yang saya bagikan saat itu. 



Masalahnya, pada waktu itu percintaan memang menjadi persoalan utama saya. Saya mungkin tidak mempunyai keresahan pada lain hal. Kala itu kondisi keuangan saya termasuk cukup baik karena memiliki pekerjaan (meski statusnya masih pegawai kontrak, tapi pemasukan setiap bulan sungguh menyelamatkan dan membuat finansial aman. Tidak seperti saat ini). Keadaan keluarga juga belum kacau.

Waktu itu, saya belum memusingkan persoalan karier. Bagi saya, mempunyai pekerjaan dan penghasilan setiap bulannya itu sudah lebih dari cukup. Saya belum mengerti diri saya ini ingin menjadi apa. Saya belum memiliki cita-cita yang jelas, selain punya rekening sejumlah 10 digit atau lebih dari itu. Padahal, sampai sekarang pun saya enggak tahu harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana selain ikut pesugihan. Mulanya, tentu saya sempat berpikir tolol: asalkan bisa terus bekerja dan menabung, pasti keinginan jadi tajir itu dapat terwujud. 

Tiga tahun belakangan ini, setelah menjalani kehidupan yang naik-turun, saya pun tertawa kencang setiap kali mengingat pemikiran bodoh tersebut. Ternyata enggak semudah itu bekerja, mendapatkan gaji, lalu menabung, dan menjadi kaya raya. 
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home