Pada suatu malam jahanam di sebuah kedai kopi daerah Jakarta Selatan, Agus—salah seorang teman saya—mendadak jengkel ketika ponselnya kehabisan baterai. Apalagi meja yang kami tempati nggak tersedia stopkontak. Ditambah kami berdua juga lupa membawa charger maupun power bank. Alhasil, keadaan itu membuat wajah Agus semakin tidak sedap dipandang. Lalu saya pun berniat untuk meminjamkan ponsel saya kepadanya. Tapi rupanya mulut Agus jauh lebih lincah dan seakan-akan dapat mendengar suara hati saya, sebab dia tau-tau bilang, “Yog, pinjem hape lu bentar buat buka Instagram.”

sumber: https://pixabay.com/id/sosial-jaringan-sosial-ikon-1834010/


Saya pun memberikannya begitu saja tanpa takut dia akan berbuat macam-macam. Tak lama setelah itu, dia tiba-tiba refleks berkata, “Anjing!” yang dilanjutkan dengan tawa. Sehabis mendengar umpatan dan tawanya itu, saya jadi deg-degan dan berpikir yang bukan-bukan. 

Apa gue ketahuan DM-DM-an sama pacarnya? 

Tapi seinget saya Agus nggak punya pacar. 

Hm, apa dia baca chat mesum gue sama cewek-cewek, ya? 

Bagusnya saya juga langsung sadar diri. Kebetulan waktu itu saya masih memiliki pacar. Boro-boro bisa ngobrol mesum sama perempuan lain. Ngobrol biasa juga agak segan, sih, karena saya menghargai perasaan si pacar (halah, taek). Toh, saya nggak sebejat itu. Artinya: saya sudah mengkhayal terlalu jauh. Jadilah saya langsung bertanya, “Lu kenapa, Gus? Kesurupan?” 

“Hape lu kok nggak ada InstaStory-nya?” 

Bedebah. Dia tadi tertawa ternyata menghina ponsel saya. Tapi mau gimana lagi? Kenyataannya memang begitu. Saya pun menjawab begitulah keadaan ponsel saya yang sudah ketinggalan zaman tersebut. Omong-omong, ponsel saya ialah iPhone 4. Hanya bisa untuk mengunggah foto dan video saja di Instagram. Belum terdapat fitur InstaStory, live, Boomerang, mutilple photos/videos, dan seterusnya (apakah ada lagi fitur lainnya?). 

Kemudian dia bertanya lagi, kenapa saya nggak ganti gadget baru yang lebih canggih? Saya lalu gantian bertanya untuk apa segala ganti? Selama ponsel yang saya pakai ini masih berfungsi dengan baik. Kalau ganti HP cuma biar ada InstaStory-nya, sih, saya merasa nggak butuh. 

“Beneran lu selama ini nggak pernah InstaStory?” tanya Agus. 

“Ya, selama ini lu pernah lihat gue update, nggak?” 

Dia lalu menggelengkan kepalanya dan mengembalikan ponsel saya. Agus juga heran sama saya yang bisa-bisanya betah menggunakan ponsel butut (ponsel yang nggak bisa InstaStory). Saya sendiri juga bingung kenapa dia begitu memprioritaskan fitur yang awalnya milik SnapChat itu. Sampai-sampai orang terlalu gaul pun menyebut InstaStory menjadi SnapGram. 

Sejauh ini, saya menggunakan Instagram cukup untuk melihat dan menyimpan foto-foto. Saya jarang menonton maupun mengunggah video. Lebih-lebih fitur InstaStory yang memang nggak saya butuhkan. Jadi, saya oke-oke aja dengan keadaan ponsel tersebut.

Namun, entah mengapa masih ada saja beberapa teman yang nge-tag saya di InstaStory. Bagi yang belum mengetahui atau lupa dengan keadaan ponsel saya, sepertinya masih bisa saya maklumi. Tapi bagi yang sudah tahu dan jelas-jelas mengingatnya bagaimana? Kadang-kadang saya jadi kesel sendiri. Maksud mereka tuh apa, sih? Mau menghina saya? Menyuruh saya ganti ponsel?

Lama-lama saya jadi curiga kalo salah satu di antara mereka itu ada yang bekerja di divisi pemasaran perusahaan gadget. Ya, lagian buat apa gitu? Udah tau saya nggak ada InstaStory, tapi masih aja nge-tag melulu. Anehnya, seiring bergesernya hari saya mendadak jadi penasaran juga sama story-story itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang sebetulnya ingin mereka sampaikan dalam video 15 detik tersebut? Padahal setelah 24 jam video itu juga akan hilang, kan? Apa karena nggak permanennya itu, ya? Ah, entahlah.

Lalu pikiran saya malah terbawa jauh dari persoalan itu. Saya justru jadi keingetan sama video Instagram pada masa awal-awal yang durasinya hanya 15 detik. Kala itu ada banyak akun yang begitu kreatif membuat video-video keren dengan durasi yang cukup singkat. Kalau nggak salah itu merupakan tahun IndoVidGram yang sedang jaya-jayanya. Saya sendiri pun pernah membuat video lucu-lucuan dan timelapse agar di-repost oleh mereka. Sayangnya, nggak ada satu pun video saya yang tembus. Sebagian video itu juga telah saya hapusin sih, sebab mendadak jijik sewaktu menonton ulang. 

Kembali ke persoalan InstaStory, saya jadi ingat suatu hari pacar saya—yang kini telah jadi mantan—merekam makanan yang kami berdua pesan, lalu dia dengan diam-diam juga merekam saya yang sedang menyantap makanan itu. Saya lalu menoleh dan bertanya, “Kamu ngapain InstaStory segala dah? Mau pamer lagi pacaran?” 

“Dih, kamu kenapa, sih?” 

“Ya, aku nanya buat apaan segala direkam?” 

Dia pun diam saja. Saya lalu melanjutkan berbicara dan menjelaskan kalau kebahagiaan saat ini nggak perlu dibagikan kepada orang lain. Simpan saja untuk berdua. Emang masih butuh pengakuan orang lain lagi? Apa, sih, untungnya mengumbar kemesraan? Dan kalimat-kalimat lainnya yang rasanya nggak perlu saya tuliskan di sini. 

“Aku ngerekamnya juga nggak setiap kita jalan kali.” 

“Tetep aja kamu norak! Mau pamer, kan?” 

“Terserah!” 

Kami kemudian bertengkar. Suasana menjadi beku. Rasa makanan yang aslinya lezat itu mendadak hambar. Saat mengetikkan kalimat barusan saya nyesek juga, sih. Lalu saya berpikir mengapa bisa-bisanya sejahat itu.

Dan pada hari lainnya, salah seorang teman bloger ada yang menandai saya. Ketika itu kami memang habis kopdar sama temen-temen bloger regional Jabodetabek. Sayangnya, setiap kali ada InstaStory yang masuk ke DM, tulisannya selalu begini: 



Astagfirullah. Apa yang mau saya perbarui lagi kalau iOS udah mentok? Ponselnya mesti saya jailbreak gitu? Saya malas utak-atik dan takut meledak. Akhirnya, saya bersikap masa bodoh deh soal cerita itu. Tapi tetap saja masih ada sedikit rasa penasaran dan tanda tanya di hati. Apa yang dia perlihatkan dalam cerita tersebut?

Karena saya nggak pengin susah tidur cuma gara-gara InstaStory sialan itu, jadilah saya meminjam ponsel ibu saya. Kebetulan ponsel beliau memang terdapat Instagram (yang ada fitur InstaStory). Ngomong-ngomong, ini kenapa ibu saya terkesan lebih gaul dan keren daripada saya, ya? Tapi tenang saja, ibu saya nggak segaul itu. Adik sayalah yang mengunduh Instagram di gadget tersebut. Kalaupun suatu hari beliau mempunyai akun Instagram dan mengikuti akun saya, saya pasti akan langsung blokir! Durhaka-durhaka dah.

Kemudian, saya tersenyum seusai melihat InstaStory temen bloger itu. Kalau nggak salah, dia nge-post foto dengan tambahan teks yang menunjukkan perasaan bahagianya sehabis kumpul-kumpul sama temen bloger. Saya tentu merasa bahagia karena bisa membuat orang lain bahagia. Secara nggak langsung, saya termasuk salah seorang yang membuatnya bahagia pada hari itu, kan? Oke, ini mah saya yang kepedean. Lalu bagaimana kalau dia juga tetap bahagia tanpa adanya saya? Nah, loh~ Anjis, ini kok mendadak sedih, ya. Halah.

Sejujurnya, saya berpikir kalau InstaStory itu nggak penting sama sekali. Lalu setelah menuliskan cerita tentang InstaStory ini, perlahan-lahan pikiran itu semakin bergeser. Ternyata bagi sebagian orang InstaStory bisa menjadi penting untuk menunjukkan perasaannya pada saat itu juga. Setiap orang memiliki hak untuk berekspresi. Sehingga saya nggak perlu menghakiminya yang macam-macam. Setiap orang pun berbeda dalam mengutarakan perasaannya. Mungkin saya memang nggak membutuhkan InstaStory, sebab saya lebih nyaman mengungkapkan perasaan dengan menulis. 

Curhat di Twitter merupakan cara termudah bagi saya untuk mengungkapkan perasaan pada saat itu juga. Ya, meskipun pada akhirnya twit-twit itu lebih sering nggak saya tampilkan dan berakhir di draf. Seenggaknya, saya jadi mendapatkan pemahaman baru akan hal ini. Ke depannya, saya akan mencoba untuk menghargai InstaStory.

Jika nanti ada teman, pacar, atau siapa pun itu yang menandai saya dalam InstaStory-nya, saya nggak perlu kesal-kesal lagi dan akan bersikap lebih peduli. Saya pun berusaha untuk menontonnya. Mungkin saya juga akan memahami apa yang dia rasakan dalam ceritanya tersebut. Dan berhubung sekarang laptop atau PC sudah bisa menampilkan InstaStory, saya jadi nggak perlu repot-repot meminjam ponsel ibu saya.

Akhir kata, saya hanya ingin meminta maaf kepada siapa pun yang pernah saya sakiti dalam urusan InstaStory ini. Terkadang yang norak bagi kita, mungkin bisa menjadi sebuah arti, makna, atau hal yang berharga bagi orang lainnya. Begitu pun sebaliknya. Semoga saya nggak lalai lagi dalam melihat dengan sudut pandang yang lain.