Kau begitu suka menebar kebencian.
Di sisi lain, kau menganggap dirimu sumber kesucian.
Sedangkan aku ialah sosok yang membenci kebencian.
Mungkin aku adalah kebencian itu sendiri.
Jadi, untuk apa kau tabur benih-benih tubuhku?



Aku tidak perlu jawabanmu. Aku justru ingin memberitahumu.
Walau aku terlihat seperti iblis, tapi aku tetaplah pecundang. 
Aku sering merasa kalah dan mudah menyerah.
Berbeda denganmu yang pandai mencari celah.
Sewaktu kau mulai menyadari kelemahanku, kala itulah kau mencuri sajak-sajakku. 

Kau memang terkenal licik dan suka berkilah.
Aku sesungguhnya sangat marah, tapi aku tak mau ada pertumpahan darah.
Saat ini kau boleh merasa menang. 
Namun, kau harus ingat kalau ini bukan pertarungan dan aku masih sanggup berjuang. 

Kini, aku memilih untuk melawan arah.
Pergi dari satu kota busuk menuju kota yang lebih khusyuk. 
Barangkali nasibku akan lebih cerah begitu memutuskan untuk bertirah. 
Dan sebelum pamit, aku punya satu pesan untukmu:
“Mungkin leluconmu bisa membuat orang lain tertawa. Tapi bukankah melukai orang lain juga dapat menghilangkan nyawa?”

--

Gambar saya comot dari Pixabay kemudian ditambahkan teks.