Hari Kamis, sekitar sehabis magrib, Asri mati. Perasaan saya seketika itu langsung kacau. Saya nggak tahu harus berbuat apa. Kabel di dalam kepala saya seolah korslet dan tidak dapat berpikir. Sebelum membahasnya lebih jauh, Asri adalah nama laptop saya. Nama itu saya pelesetkan dari mereknya: Acer.


Sehari sebelumnya, keadaan Asri terlihat sehat-sehat saja. Masih saya pakai untuk main game, mengetik di Ms. Word, dan tentu saja bersenang-senang di internet. Begitu selesai, saya matikan laptop itu dan mencabut kabel dari colokan seperti biasa. Lalu saya beranjak tidur. Saya pun tidak ingat malam itu bermimpi apa. Misalnya, saya merasakan ada tanda-tanda buruk dari mimpi kalau laptop akan bermasalah. Halah.

Pada hari Kamis, dari pagi sampai sore saya memang tidak menyalakan laptop karena ada kesibukan, yaitu menyiapkan pesanan catering. Ketika pekerjaan sudah selesai, barulah sehabis salat Magrib saya berniat untuk menyalakan laptop. Saya lagi pengin balesin komentar di blog dan gantian blogwalking.

Namun, kala kabel charger-nya sudah tertancap di laptop maupun ke colokan listrik, laptop saya ternyata nggak mau menyala. O iya, laptop saya sudah tidak menggunakan baterai, sebab baterainya telah rusak alias mudah lowbat. Saya malas menggunakan baterai kalau sebentar-sebentar harus di-charge. Oleh karena itu, dua tahun belakangan ini saya selalu copot baterai dan langsung colok aja ke listrik.

Ketika ada masalah seperti ini, saya betul-betul bingung. Karena laptop hanya bisa menyala jika dicolokkan ke listrik, ini tentu membuat saya berpikir akan dua kemungkinan: 1) yang bermasalah laptopnya; 2) adaptor charger-nya yang rusak.

Saya sudah mencoba otak-atik charger-nya, tapi laptop itu tetap tidak menyala. Akhirnya, saya menyimpulkan sendiri kalau ini memang masalah charger. Bukan laptopnya. Melihat keuangan saya bulan ini yang kurang baik dan cenderung mengenaskan, saya coba untuk bertanya dulu kepada teman-teman. Siapa yang memiliki laptop Acer? Saya hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya bermasalah. Padahal 95% dugaan dan harapan saya ialah charger yang rusak. 

Sedihnya, hampir keseluruhan teman saya itu selalu menjawab laptop miliknya adalah Asus. Sekalinya ada yang jawab Acer, ia pun mengirimkan saya foto charger-nya. Gambar saya terima dan terlihat kabel colokannya yang tampak berbeda. Orang ini ialah Dian Hendrianto yang laptopnya termasuk Acer keluaran terbaru, sedangkan laptop saya itu model lama. Ya, mau gimana lagi?

Saya belum menyerah dan masih terus menghubungi teman satu per satu. Dari mulai teman nongkrong, teman SMK, sampai teman kantor (kala dulu saya masih bekerja tetap). Kemudian, salah satu dari teman saya itu menyuruh datang saja ke rumahnya. Ia bilang, kadang ada beberapa laptop yang meskipun beda merek, tapi colokannya tetap sama.


Mumpung rumahnya masih dekat dengan rumah saya, ya tidak ada salahnya saya coba ke sana. Kan bisa sekalian silaturahmi (sok iye bener). Sesampainya di sana, colokannya sedikit berbeda. Memang, sih, bisa masuk ke lubang laptop saya, tapi kayaknya nggak "clep" gitu. Ya, jelaslah ini suatu kebodohan. Udah tahu beda, masih aja dipaksain. Nggak apa-apalah, namanya juga usaha.

Malam itu, saya pulang ke rumah dengan dihantui rasa penasaran yang keterlaluan. Sewaktu saya ingin tidur pun rasanya sulit sekali memejam mata. Saya sangat memikirkan nasib Asri. Ditambah hasrat ingin menulis saya yang sedang rajin-rajinnya, tapi seharian ini malah nggak bisa menyalakan laptop. Sambil berusaha merem, saya terus berharap kalau kerusakan ini berasal dari charger-nya.

Saking lelahnya berpikir, saya pun tiba-tiba ketiduran. Hari sudah berganti menjadi Jumat dan saya masih belum menemukan teman yang memiliki laptop Acer. Begitu kesalnya terhadap rasa penasaran, saya entah mengapa langsung ingin beli charger-nya. Saya mendadak melupakan risiko yang ada. Saya tahu, kalau seandainya laptop itu yang bermasalah, itu sama saja saya membuang-buang rupiah. Namun, saya capek mendapatkan jawaban, "Yah, laptop gue Asus, Yog." 

Asus. Asus. Nggak asu aja sekalian?! Astagfirullah. Saya kenapa jadi tolol dan marah-marah gini, sih? Lalu, saya mulai mendinginkan kepala. Saya harus bersabar dan kembali bertanya kepada teman yang lain secara baik-baik. Lagian, belum ratusan teman yang saya coba tanya. Saya bermaksud menerapkan pepatah, "Jangan menyerah walaupun gagal 1.000 kali, mungkin saja di percobaan 1.001 nanti berhasil."

Masalahnya, apakah teman saya mencapai 1.000 orang? (followers di Twitter aja belum sampe segitu)

Setelah agak puas karena beberapa kali dijawab selain Asus, yang mana adalah Lenovo, HP, Toshiba, Dell Samsung, dan entahlah merek apa lagi saya lupa. Ada satu teman yang menjawab Acer, tapi setelahnya ia menambahkan, "cuma udah gue jual".

Bedebah. Bajinganjing. Jarangoyang. Harapan saya sirna lagi.

Lalu di antara banyaknya teman yang saya tanyakan itu, pasti ada saja yang sangat penasaran dan bertanya kenapa saya mencari laptop Acer. Kemudian saya curhat dan menjelaskan permasalahan tersebut. Ia pun bertanya lagi, "Emang udah dari tahun berapa laptop lu, sih?"
Saya jawab, dari awal 2013. Lalu dia dengan entengnya bilang, "Itu mah emang udah waktunya beli laptop baru."

Sejujurnya, saya sejak kapan tahu pengin beli laptop baru. Sayangnya, saya itu termasuk orang yang nggak pengin beli baru kalau barang lamanya itu masih berfungsi dengan baik. Laptop yang spesifikasinya lebih bagus itu hanyalah keinginan, bukan kebutuhan saya saat ini. Apalagi saya sudah terlanjur nyaman sama Asri. Sejak pertama beli, niat saya waktu itu cuma untuk ngeblog dan mengerjakan tugas-tugas kuliah agar tidak perlu ke warnet lagi.

Saya tanamkan lagi niat itu dalam-dalam agar tidak mudah tergoda dengan rasa ingin membeli laptop baru. Dan sebenarnya, Asri ini sudah seperti pacar saya. Makanya saya berikan nama perempuan. Maklum, waktu itu pas beli laptop keadaannya lagi jomlo. Walaupun ia bukan manusia, yang penting saya bisa pamer dan update status malam Mingguan bersama Asri. Nah, saya sudah telanjur jatuh cinta kepadanya. Saya nggak mau berpaling.

Sampai hari ini, perasaan saya terhadap Asri begitu kuat. Itulah alasan saya sangat yakin kalau yang rusak adalah charger-nya. Jadi, untuk apa saya beli laptop baru? Lagian, saya kan lagi bokek euy! Kalau ada yang mau beliin mah saya terima-terima aja.

Oke, ngarep.

Eh, katanya sayang Asri? Ya, ampun maaf-maaf. Sifat berengsek Gemini mungkin kambuh.

Sejujurnya, setelah mengetikkan semua ini saya merasa sangat sedih. Sebab Asri tidak pernah menderita seperti ini sebelumnya. Saya selalu berusaha memperlakukannya dengan baik. Asri itu belum pernah servis sekali pun. Saya tahu, saya pernah beberapa kali melakukan kesalahan kepadanya. Ketika baterai mulai gampang low karena saya dulu memakainya untuk main PES begadang semalaman bersama teman-teman. Saya colok ke listrik terus dan tidak copot baterai pula. Kala itu, saya emang termasuk gaptek. Yang tidak tahu banyak hal tentang laptop. Saya mana mengerti kalau lagi dipakai nonstop itu lebih baik copot baterai laptopnya.

Kemudian, saya pernah nggak sengaja ketika bangun tidur menyenggol laptop yang malamnya saya taruh di tempat tidur hingga paginya terjatuh ke lantai. Hal itu mengakibatkan engsel sebelah kanannya terluka. Jika laptop itu ingin saya tutup, pasti akan terdengar bunyi gaib yang seakan-akan mau patah. Jadi, saya selalu ngeri saat menutup laptop itu. Mesti hati-hati betul atau seringnya saya biarkan terbuka. Makanya laptop itu sekarang hampir nggak pernah dibawa ke mana-mana dan sudah seperti sebuah PC.

Terlepas dari segala keteledoran saya itu, kenapa sekarang Asri mati? Sebelumnya, Asri nggak pernah mati. Asri nggak boleh mati. Dan dari hari yang terdalam, saya tidak mau Asri mati. Saya masih ingin bersamanya. Mungkin ia saat ini sedang mati suri. Maka, saya tinggal membelikannya charger baru dan semoga lekas nyala. Aamiin. Semoga saja begitu.

Jadi, karena laptop saya keadaannya begini, mungkin blog ini perlu mati suri juga. Saya akan vakum untuk sementara waktu. Mohon maaf kalau belum bisa balesin komentar dan gantian berkunjung ke blog kamu. Sebenarnya saya bisa saja ngeblog terus-terusan lewat ponsel seperti sekarang ini. Namun, ini kondisinya sungguh terpaksa. Saya pasti sangat resah kalau tidak segera menuliskannya. Harus diakui, saya ini termasuk orang yang kurang sreg ngeblog di ponsel. Saya sulit mendapatkan "rasa" kalau bukan di laptop.

Selain menulis, saya juga malas meninggalkan komentar lewat ponsel. Saya akan tetap membaca beberapa blog, tapi saya sedang tidak ingin mengomentarinya. Biar kamu nggak repot juga kali, ya? Misalnya saya udah blogwalking, tapi kamu bingung pas gantian mengunjungi blog saya. Nggak tahu mau komentarin tulisan saya yang mana, sebab nggak ada yang baru.

Seandainya saya udah terlalu gatal ingin menulis dan mempertahankan konsistensi, palingan blog ini akan berisi tulisan yang pendek-pendek. Mungkin itu cerpen, fiksi kilat, atau puisi. Ya, lihat aja nantinya. Beginilah menulis dari ponsel, suka melantur ke mana-mana. Sebelum tulisan ini semakin melebar jauh, lebih baik saya sudahi. Semoga saya mendapatkan rezeki yang entah datang dari mana, terus bisa beli charger laptop yang original, dan Asri pun bisa segera menyala. Sampai jumpa lagi~

--

PS: kemarin Jumat, berbarengan dengan Hari Ibu, blog saya berulang tahun yang kelima. Waktu yang cocok untuk vakum, kan?

Ditulis pada hari Sabtu, 23 Desember 2017, pukul 09.00. Kemudian baru saya edit lagi sekarang.