Kala sedang asyik menikmati waktu santainya, Gusi mendadak terluka parah. Ia merasa dirinya tertusuk oleh sesuatu. Ia pun bertanya kepada sesuatu itu, si penyebab dirinya terluka, “Kau siapa? Kenapa dirimu tiba-tiba muncul, lalu menyakitiku? Apa salahku?”

Yang Gusi maksud itu ternyata sebuah geraham. Geraham Bungsu, begitulah dirinya memperkenalkan diri. Geraham Bungsu juga sebetulnya bingung, mengapa ia baru muncul saat ini. Ia merasa telat dilahirkan. Tidak seperti temannya, geraham-geraham lain yang sudah menampakkan diri sejak lama. Merasa bertanggung jawab dengan kesalahannya itu, Geraham Bungsu pun menjawab, “Aku tidak bermaksud menyakiti siapa-siapa. Maaf, kalau aku tidak sengaja membuatmu terluka.”

“Mudah sekali meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Lantas, gunanya dirimu itu untuk apa, sih? Sudah melukaiku, terkadang juga mengganggu geraham yang lain, kok masih saja tidak tahu diri. Kau seharusnya sadar, kalau dirimu itu tidak dibutuhkan!”




Geraham Bungsu pun heran. Ia memang belum tahu apakah dirinya kelak dapat bermanfaat bagi yang lainnya atau tidak. Yang jelas, ia ingat sebuah pesan sebelum dirinya lahir, lalu naik ke permukaan, dan merobek Gusi, “Segala yang terjadi dalam hidup ini, pasti ada alasannya.”

“Kenapa tidak menjawab? Kau sudah tidak berguna, sekarang tidak bisa berbicara pula. Aku akan terus protes kepadamu selama sakitnya belum kunjung hilang. Terluka seperti ini akan membuat diriku lebih cerewet.”

Geraham Bungsu pun membatin, apa betul aku tidak berguna?

“Hei, Geraham Tak Berguna! Masih belum bisa menjawab?” kata Gusi.

Geraham Bungsu menghela napas, lalu bilang, “Bukankah setiap hal itu berguna, ya?”

“Iya, kecuali dirimu.”

“Kupikir, aku bisa bermanfaat suatu hari nanti.”

“Ah, omong kosong!”

Sejak itu, Gusi selalu marah-marah kepada Geraham Bungsu. Berbagai macam cacian ia lontarkan dengan keji. Namun, Geraham Bungsu hanya bergeming. Ia bingung harus merespons apa lagi. Meminta maaf rasanya juga percuma. Ia tidak berniat jahat sama sekali kepada Gusi. Geraham Bungsu hanya tumbuh alami sesuai garis takdirnya. Sayangnya, takdir itu kurang mulus dan malah merugikan yang lainnya, yakni membuat Gusi sengsara. Jadi, mau tak mau ia cuma bisa memilih diam dan membiarkan Gusi menghina sepuasnya. Mungkin itu dapat menghapus kesalahannya yang tidak disengaja.

Beberapa minggu kemudian, barulah Gusi berhenti mencerocos. Geraham Bungsu mulai heran atas keganjilan itu. Tapi Geraham Bungsu tidak ingin bertanya apa-apa. Ia sudah merasa sangat bersalah sebab menyakiti Gusi. Mungkin diamnya Gusi adalah puncak kemarahannya dan ia tidak sanggup berkata-kata lagi karena menahan sakit, pikirnya. Oleh sebab itu, Geraham Bungsu hanya berdoa dalam hati untuk memohon maaf atas perbuatannya, dan semoga luka Gusi segera sembuh.

Yang sebenarnya terjadi, Gusi rupanya malu. Gusi sudah tidak merasa sakit lagi. Lukanya telah sembuh seiring berlarinya waktu. Apa yang dikatakan Geraham Bungsu benar. Semua hal itu berguna. Sebagaimana sakit, luka, dan penderitaan pun dapat berguna bagi dirinya sekarang. Gusi tumbuh menjadi lebih tebal dan kuat. Ketika Sariawan datang menyerang, Gusi juga sudah terbiasa menghadapinya. Bahkan tingkat kesakitannya masih jauh di bawah ketika Geraham Bungsu melukainya secara tidak sengaja itu.

Akhirnya, Gusi sekarang mengerti. Sakit dan luka yang kemarin itu telah mendewasakannya. Ia pun tersenyum dan merapalkan doa. Ia berharap semoga Geraham Bungsu tidak menyimpan dendam dan bisa memaafkan perkataannya pada tempo hari.

--

Gambar dicomot dari Pixabay, lalu gue tambahkan teks seperti biasa.