Sebelum membaca ini, boleh simak tulisan Bagian Pertama dan Bagian Kedua.


Hari Ketiga


“Tempat wisata pada jauh dari sini, Yog. Yang deket cuma Keraton Solo,” ujar Ilham pada hari sebelumnya.

Jawaban itu pun membuat gue bingung. Tujuan gue ke sini tuh ngapain, sih? Gue sebagai orang yang memang jarang bepergian ke luar area Jabodetabek. Sekalinya memilih pergi, pasti niatnya untuk jalan-jalan ke tempat wisata yang terdapat di daerah yang gue tuju itu. Namun, di kota yang gue jadikan tempat liburan ini ternyata malah jauh dari tempat-tempat wisata. Jauh dari pantai, curug (air terjun), maupun Menara Eiffel (bodo amat anjis!).

Tapi serius deh, gue masih nggak ngerti apa sebenarnya maksud dan tujuan gue pergi liburan ke Solo ini? Apakah benar untuk bisa bertemu teman-teman yang ada di grup WWF (Werewolf Telegram), sekadar menghilangkan rasa penat di Jakarta, atau merayakan selesainya proyek kerja part time pada seminggu sebelum liburan? Hm, atau gabungan dari ketiganya? Kok gue jadi kelihatan maruk, ya?

Apa jangan-jangan bukan itu semua? Apa niat gue cuma buat makan atau kulineran di sini? Sebab di awal sebelum keberangkatan, gue memang sudah diberi tahu kalau di sana jarang tempat wisata. Di Solo itu lebih ke kulinernya yang murah-murah—kalau dibandingkan dengan harga makanan di Jakarta. Ah, entahlah! Gue sudah berada di sini. Nggak peduli lagi apa pun tujuan awal gue itu. Jadi, pada hari terakhir, satu-satunya tempat yang bisa gue tuju adalah Keraton Solo.

***

Kami telah membeli tiket Keraton Solo seharga Rp10.000,00 per orang. Lalu, jika ingin memotret menggunakan kamera selain handphone, akan dikenakan tarif tambahan Rp3.500,00. Jika kamu mau mendengarkan cerita dan mengerti sejarah, bisa pakai jasa tour guide senilai Rp30.000,00. Namun, kami sudah ada Hana dan Ilham yang nanti bisa menjelaskan soal isi keraton ini. O iya, waktu kunjungan ke Keraton Solo ini, yaitu: Senin-Jumat pukul 09.00-14.00 WIB, sedangkan pada Sabtu-Minggu pukul 09.00-15.00 WIB.



Adapun beberapa ketentuan di Keraton Solo, tapi yang gue ingat hanyalah:

1. Nggak boleh memakai alas kaki, kecuali sepatu. Jadi, sendal yang kakinya kelihatan itu gak boleh;
2. Nggak boleh memakai topi dan kacamata hitam;
3. Nggak boleh memakai celana atau rok pendek;
4. Nggak boleh membawa pulang pasir di dalam Keraton;
5. Nggak boleh menyentuh patung atau karya seni lainnya yang ada di dalam museum.

Saat gue sedang melihat gambar peraturan yang berisi larangan itu, ada seorang bapak penjaga Keraton Solo yang kemudian berbicara kepada gue tentang sejarah Keraton (yang sekarang ini udah lupa). Yang gue ingat malah ketika ia bertanya dari mana gue berasal. Gue pun menjawab jujur datang dari Jakarta.

“Untuk masuk ke sini, kita harus sopan. Sama seperti Adek yang dari Jakarta ini kalau dateng ke kantornya dan ikut rapat pasti pada rapi, kan. Nah, di sini juga harus begitu.”

Gue cuma bisa mengangguk tanda setuju.

Nah, Haris dan Jaimbum yang tidak memakai sepatu, mau nggak mau harus melepas alas kakinya untuk mematuhi peraturan di sini. Lebih tepatnya mereka nyeker. Kemudian, gue pun menjauh dari mereka dan sibuk memfoto area Keraton. Setelah puas bermain-main di halamannya, kami pun berjalan menuju ke arah museum.




“Aduh, kakiku nempel banyak pasir nih,” ujar Jaimbum sambil memperlihatkan telapak kaki kirinya.

Konon, pasir yang terhampar di halaman keraton ini dapat menyembuhkan segala macam jenis penyakit jika berjalan di atasnya. Asyik banget Haris dan Jaimbum bakalan sembuh. Ya, barangkali aja mereka punya penyakit. Terus berarti orang-orang yang lagi sakit hati bisa sembuh juga dong nih? Cobain, gih!

Sayangnya, gue pakai sepatu. Ya, meskipun gue nggak lagi sakit hati, sih. Cuma, kan, kalo bener bisa nyembuhin, itu mungkin bisa menyembuhkan sifat males dan menunda-nunda menulis di diri gue ini. Muahaha.

Setelah Jaimbum dan Haris selesai membersihkan pasir yang menempel di telapak kaki mereka, barulah kami masuk ke dalam museumnya. Kala baru masuk ke ruangan depan, kami langsung disuguhkan bermacam foto silsilah kerajaan. Kemudian ada sebuah kursi yang terdapat peringatan untuk tidak boleh mendudukinya. Entahlah kursi ini dulunya pernah diduduki oleh siapa. Tapi yang jelas, gue tidak begitu tertarik untuk memotretnya.

Kami pun berjalan lagi ke ruangan selanjutnya. Di ruangan ini, karya seninya mulai beragam, yaitu terdapat keris, gong, lukisan, dan patung (mungkin terbuat dari lilin, karena gak boleh disentuh dan gue belum bisa memastikannya). Aroma magis khas tempat bersejarah juga mulai tercium.






Kala gue sedang foto-foto, Hana kemudian bilang kepada kami, “Nanti jangan foto keretanya, ya.”

Gue sejujurnya bingung. Kereta apaan? Emang ada kereta di sini? Kereta zaman dulu yang masih ada uapnya gitu, kah? Wah, keren dong! Tapi kenapa gak boleh difoto, ya? Pertanyaan itu terus menggantung di kepala gue.

Sesudah menelusuri hampir seluruh museum ini, ternyata kereta yang dimaksud Hana adalah kereta kencana. Bukan kereta api. Gue kok merasa bodoh gitu karena nggak kepikiran soal ini. Kenapa gue ngira kereta yang panjang itu? Kalau gue orang Medan, mungkin aja gue akan mengira kereta yang dimaksud Hana itu bukan kereta kencana atau kereta api, melainkan motor. Sebab kalau di Medan, motor itu artinya malah mobil. Kalau motor dalam arti sebenarnya di sana biasa disebut kereta.

Ya, sebuah kebiasaan setiap daerah memang berbeda-beda. Berbicara soal kebiasaan begini, gue jadi inget kemarin malam sewaktu berangkat ke kafe. Malam itu, gue dan Haris hampir tertabrak oleh motor. Haris yang membawa motor pada saat itu emang lagi meleng. Gak tau kenapa, ia bisa-bisanya nggak memperhatikan jalanan dengan benar. Ia tetap ngebut ketika lampu sudah kuning dan berganti merah. Kebiasaan yang mungkin ada di Cilegon (tempat tinggalnya), atau seperti yang gue tahu di Jakarta, yang mana memang banyak pengemudi suka menerobos lampu merah selama nggak ada polisi yang jaga.

Berbeda sekali dengan orang Solo. Kalau merah, ya berhenti. Mau nggak ada yang jaga sekalipun, mereka nggak akan melanggar peraturannya. Mungkin aja ada sedikit orang yang begitu, tapi gue nggak tahu pastinya. Dan yang terpenting, mayoritas dari mereka itu orang-orangnya kalem abis. 

Orang yang hampir menabrak kami berdua, gue perhatikan hanya tersenyum dan mungkin menganggap tidak terjadi apa-apa barusan. Padahal gue yakin, mereka kaget seperti gue yang dibonceng oleh Haris si tukang meleng. Kalau kejadian itu terjadi di Jakarta, gue sama Haris pasti udah dimaki-maki, disuruh berhenti, dan turun dari motor. Terus mungkin kami bakalan bertarung ala Smack Down di jalan raya dan bikin macet. Namun, orang Solo nggak begitu. Mereka membiasakan dirinya dengan sikap lemah lembut. Seharusnya, kami yang pendatang ini lebih menghargai kebiasaan di sini. Jangan sampai menganggap Solo seperti di Jakarta. Kacau nanti!

Kembali ke cerita soal kereta kencana. Kereta itu sepertinya memang tidak boleh difoto, karena yang gue lihat keretanya sudah terbungkus kain kuning. Sebelum gue bertanya kenapa kereta kencana itu nggak boleh difoto. Apakah kereta itu dulunya pernah ditumpangi oleh Cinderella? Bagusnya, Hana sudah menjelaskan terlebih dahulu kalau kereta itu biasanya digunakan untuk mengangkut jenazah pada zaman dulu. Gitu toh. Gue, sih, tetap berharap kereta itu mengangkut jenazah Cinderella. Ehehe.

Begitu keluar dari museum ini, gue jadi mulai merenung dan memahami soal peraturan di tempat-tempat wisata. Gue berusaha untuk mengikuti aturan di Keraton Solo ini; tidak memfoto kereta yang memang dilarang itu, nggak duduk di bangku yang ada tulisan “Dilarang duduk di sini”, apalagi untuk menyentuh patung-patungnya. Sama sekali nggak gue lakuin larangan itu.

Begitu juga ketika nanti gue berada di tempat lain. Tidak membuang sampah sembarangan; tidak merokok di tempat umum (lagian, gue juga gak merokok); tidak memetik Edelweis ketika mendaki gunung; tidak memotret dengan flash di tempat yang memang melarang penggunaannya; dan lain-lain. Gue mencoba untuk menghargai budaya dan menghormati peraturan setempat. Nggak susah, kok.

Atau gue bakalan terus mengingat kode etik petualang yang terdiri dari tiga hal, yaitu: 1) jangan mengambil apa pun kecuali gambar; 2) jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak; 3) jangan membunuh apa pun kecuali waktu.

Sehabis kami membunuh waktu, nggak terasa hari mulai siang. Jam menuju kepulangan tinggal sebentar lagi. Nggak banyak yang bisa gue lakukan selain untuk membeli oleh-oleh dan packing. Kemudian waktu pun berlari lagi dengan cepat. Nggak terasa sudah sampai di menit-menit mendekati keberangkatan kereta dari Stasiun Solojebres menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta.

Selain Hana dan Ilham, Jung pun ikut menemani kepergian kami (gue, Haris, dan Tiwi) hari ini. Jaimbum berbeda tujuan karena pulangnya ke Malang dan masih nanti malam, sedangkan Bena katanya masih mau mampir ke Jogja.

Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk berfoto.





***

Saat ini, gue sudah berada di gerbong dan menunggu kereta ini berangkat sambil memutar lagu secara acak. Maka, sekarang hanya tersisa detik-detik untuk menikmati kenangan selama gue di Solo. 

Gue pun memulai ingatan itu sejak turun dari kereta pada tengah malam, kemudian keluar stasiun yang sudah dijemput dan langsung disambut oleh Hana dan Ilham. Mencari penginapan yang butuh perjuangan, sebab entah kenapa hotel-hotel pada malam itu begitu penuh. Kemudian dilanjutkan ketika gue yang mendadak jadi sering jajan karena harga makanannya murah. Numpang wifi-an di indekos Hana. Berusaha tetap gaul main ke kafe dan bercanda kelewatan ketika menarik jilbab Jaimbum. Lalu, main ke Pasar Antik dan menghirup aroma masa lalu. Dan terakhir, tadi habis berkunjung ke Keraton Solo dan gue malah jadi belajar menghargai budaya dan peraturan.

Ah, semua itu menjadi campur aduk. Kereta yang gue naiki ini sudah jalan dari tadi ketika gue asyik mengenang. Gak terasa. Kayaknya baru aja pergi ke Solo, eh sekarang sudah harus kembali ke Jakarta. Ya, seperti kalimat di dalam novel. Setiap pergi pasti ada kembali. 

Baik itu seperti gue yang harus kembali ke Jakarta dan belum tau nantinya bakal ngapain. Belakangan diketahui, gue ternyata bikin karya berbentuk e-book bersama WIRDY. Atau bisa juga seperti Bena yang kembali mencari tempat liburan baru, yaitu Jogja. Bisa pula seperti Tiwi yang kembali menjalani LDR, dan suatu hari nanti akan kembali lagi ke Solo untuk menemui kekasihnya. 

Atau malah seperti Dian Hendrianto yang pergi ke Jogja untuk melupakan gebetan dan menyembuhkan patah hatinya. Yang mana nantinya tentu bakal kembali ke Bekasi untuk menerima kenyataan dengan perasaan yang ikhlas dan berharap menjadi pribadi yang lebih kuat. Bahkan, kepergian kita meninggalkan dunia ini (kematian) pun, itu juga akan kembali. Roh kita akan kembali ke Tuhan dan berada di alam lain. Wallahu A’alam. Oleh karena itu, entah merasa puas atau tidak puas, gue harus kembali setelah pergi. Perjalanan ini sepertinya sedikit mengubah cara pandang gue melihat dunia.