JARAK.

Jarak yang gue maksud bukan nama daun. Nggak tau daun jarak? Coba aja ketik jarak di google images. Nah, begitulah bentuk daun jarak. Tapi jarak yang gue bahas ialah distance.



Bagi sebagian orang, jarak adalah hal yang paling menyebalkan. Apalagi untuk manusia yang memilih hubungan jarak jauh, biasa dikenal dengan sebutan LDR ( Long Distance Relationship )
Read More
Pak Tani memberikan tugas kepada Kancil, Kambing,dan Sapi untuk mencari jeruk ajaib. Pak Tani membutuhkan jeruk ajaib itu untuk mengobati sariawannya yang tidak kunjung sembuh. Malangnya, buah jeruk ajaib hanya tumbuh di kebun milik Bu Tina. Pak Tani dan Bu Tina dahulu adalah tetangga yang berteman sejak balita, dan mereka dulu sering menanam tumbuhan bersama-sama. Tapi sekarang, Bu Tina telah pindah ke Desa Suka Maju, sedangkan Pak Tani masih menetap di Desa Tetap Mundur. Tidak tersisa satu bibit jeruk ajaib pun di rumah Pak Tani. Semuanya sudah dibawa oleh Bu Tina ke desa seberang. Meskipun begitu, sampai sekarang mereka masih berteman baik dan tak jarang kirim-kiriman surat lewat Merpati. 

Jarak antara Desa Suka Maju dan Desa Tetap Mundur memang lumayan jauh. Untuk menuju ke Desa Suka Maju, mereka harus melewati lembah, menyeberangi sungai, dan menerobos hutan. Apalagi di dekat hutan itu ada kawasan yang dihuni oleh Singa Sang Raja Hutan, sehingga Pak Tani tidak bisa pergi sendirian. Pak Tani mau tak mau perlu meminta bantuan kepada Kancil, Kambing, dan Sapi. Konon, sesama hewan diperbolehkan untuk melintas di habitat Singa, sedangkan untuk manusia ada beberapa syarat khusus yang entah apa itu. 

Kancil, Kambing, dan Sapi pun memulai perjalanannya. Mereka bertiga berhasil melewati lembah dengan mudah. Ketika menyeberangi sungai, Kancil, Kambing, dan Sapi agak sedikit kesulitan. Karena di sungai itu hidup beberapa Buaya yang kejam, dan suka memakan hewan-hewan ternak. 

Bagusnya, keberuntungan memihak kepada Kancil, Kambing, dan Sapi. Kebetulan pula ada seorang manusia yang hendak menyeberangi sungai menggunakan perahu. Mereka bertiga pun diperbolehkan menumpang. 

Satu masalah kelar, muncul masalah baru. Kini, Kancil, Kambing, dan Sapi harus menerobos hutan dan melewati habitat Singa. Sebenarnya, di dalam perjanjian hutan setiap hewan boleh melewati wilayahnya itu. Tapi jika Singa itu sedang lapar, terkadang dia akan berbuat licik kepada para hewan. Dia suka memberikan pertanyaan kepada para hewan yang memasuki kawasannya. Kalau jawabannya benar, hewan itu boleh melintas. Jika jawabannya salah, Singa akan memakan hewan itu. 

Mungkin satu-satunya cara ialah dengan berlari kencang. Namun, lari Singa tentu tidaklah lambat. Sejauh ini, belum ada hewan ternak yang mampu lolos dari kejaran Singa. 

Tak disangka, sekali lagi keberuntungan memihak kepada mereka bertiga. Sang Singa sedang tertidur pulas kala mereka memasuki daerah kekuasaannya itu. Mereka pun berhasil melewatinya dengan melangkah pelan-pelan dan selamat. 


Bu Tina terlihat sedang menyapu di halaman rumahnya. 

“Permisi, Bu,” kata mereka bertiga kompak. 

“Iya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Bu Tina. 

“Kami bertiga sedang melaksanakan tugas, Bu,” ujar Kancil, mewakili yang lain. “Pak Tani mengutus kami datang ke sini untuk meminta buah jeruk ajaib.” 

“Oh, kalian utusan Pak Tani. Apa kabar dia?” 

“Sedang sakit sariawan, Bu. Sudah tiga minggu tidak kunjung sembuh,” celetuk Kambing. 

“Astaghfirullah,” Bu Tina tampak terkejut. “Ya udah, kalau begitu akan saya berikan buah jeruk ajaib itu sebanyak-banyaknya agar Pak Tani bisa cepat sembuh. Nanti tolong sampaikan salam saya kepada Pak Tani, ya,” lanjut Bu Tina. 

“Siap!” jawab mereka bertiga kompak. 

Kancil, Kambing, dan Sapi sudah membawa buah jeruk ajaib itu. Bu Tina membungkus buah jeruk itu di kantong plastik hitam dan mengalunginya di leher mereka. 

Ketika di perjalanan pulang, rupanya Singa sudah terbangun dari tidur nyenyaknya. Ini menjadi sebuah masalah bagi mereka. Mereka bertiga pun sangat ketakutan. Terjadi perundingan siapa yang berani melintas habitat Singa terlebih dahulu. Mereka pun melakukan gambreng. 

Hompimpa alaium gambreng, Pak Tani pake baju rombeng

Nasib malang menimpa si Kancil. Dari mereka bertiga, si Kancil lah yang kalah ketika melakukan undian itu. Untuk itu, si Kancil harus melewati habitat Singa terlebih dahulu. 

sumber gambar: http://cerita-inspirasi.kampung-media.com




“Wah, si Kancil berhasil lewat, Mbing,” kata Sapi, takjub. 

“Iya, dia emang cerdik, sih.” 

“Yaudah, sekarang giliran kamu.” 

“Kamu duluan aja, Pi,” kata Kambing. 

“Aku belum mau mati. Kamu duluan aja,” kata Sapi sambil mendorong Kambing. 

Kambing kalah ukuran badan dan mau tak mau harus mengalah. Kemudian, si Kambing mencoba melewati habitat Singa dengan perasaan cemas. 

“Permisi, Raja, saya mau numpang lewat,” kata Kambing kepada Singa. 

“Boleh, silahkan.” 

Ketika Kambing mulai melangkah, tiba-tiba Sang Singa mengaum. Kambing pun panik. 

“Saya lapar,” ujar Singa. 

“Jangan makan saya, Raja,” kata Kambing memohon. Raut wajahnya begitu pucat. 

“Oke, tapi ada syaratnya. Kamu harus menjawab pertanyaan ini: Menurut kamu, badan saya ini bau atau tidak?” 

Si Kambing pun berpikir sejenak. Kancil itu cerdik. Pasti tadi dia berhasil lewat karena menjawab bohong, batin si Kambing. 

“Tubuh raja begitu wangi. Saya suka sekali dengan aromanya,” teriak Kambing penuh semangat. 

“Kamu pikir saya ini bodoh, ya? Bau badan saya kecut begini dan belum mandi, kok malah dibilang wangi? Kamu sebenarnya mau meledek saya, kan?” ujar Singa penuh emosi. 

Belum sempat Kambing membela dirinya dan meminta maaf, Singa pun menerkam Kambing itu tanpa ragu-ragu. Tamat sudah riwayat Kambing. 

Sapi yang melihat kejadian itu langsung gemetaran dan tidak berani melangkahkan kaki. Tapi berkat kematian Kambing itu, Sapi menjadi tau jawaban yang mungkin benar. Sapi perlahan-lahan mulai mendekati Sang Raja Hutan. 

“Permisi, Paduka, saya hanya ingin lewat dan pulang ke rumah.” 

“Kamu harus jawab pertanyaan saya dahulu,” kata Singa sambil mengunyah Kambing. 

Kalo pertanyaannya berbeda gimana, nih? 

“Apa pertanyaannya, Paduka?” tanya Sapi. 

“Tubuh saya ini bau atau tidak?” 

Ternyata pertanyaan itu tidak berubah. Sapi pun berpikir, tadi si Kambing menjawab bohong lalu dimakan. Berarti kali ini dirinya harus menjawab jujur. Dengan penuh keyakinan, si Sapi langsung menjawab, “Bau banget. Saya aja mau muntah nih, Paduka.” 

Singa sudah melahap kambing hingga habis. Sang Singa langsung murka mendengar perkataan Sapi itu dan menggigit lehernya. Darah mulai mengalir deras dan Sapi tergeletak lemas. Singa pun langsung menggerogoti tubuh Sapi. 

Nasib Sapi sama seperti Kambing. Mereka berdua gagal menjalankan tugas dan mati. 




Kancil sudah berada di rumah Pak Tani. Pak Tani juga sudah memakan buah jeruk ajaib yang dibawa oleh Kancil. Karena Kambing dan Sapi tak kunjung datang, Pak Tani kemudian bertanya kepada Kancil, “Cil, mana kedua temanmu?” 

“Saya juga kurang tahu, Pak,” jawab Kancil, bingung. 

Ketika Kancil dan Pak Tani sedang mengobrol tentang Kambing dan Sapi. Datanglah si Burung memberi kabar. Orang-orang biasanya menyebutnya kabar burung. 

“Tadi saya melihat kalau Kambing dan Sapi telah tewas ketika melintas di habitat Singa. Singa itu memakan mereka berdua dengan lahap.” Burung itu pun langsung pergi tanpa memberikan penjelasan lebih. 

Mendengar kabar itu, Pak Tani dan Kancil terperanjat. Perjalanan mencari obat itu kenapa harus merenggut nyawa temannya? Pak Tani dan Kancil pun mengirimkan doa untuk mereka yang mati. 


“Lalu, bagaimana kamu bisa selamat dari si Singa itu, Cil?” tanya Pak Tani selesai berkabung. 

“Singa itu hanya memberikan pertanyaan sederhana kepada saya, Pak.” 

“Singa itu bertanya apa?” 

Kancil pun menjelaskan pertanyaan tentang bau badan Singa. Pertanyaan yang sama sebagaimana yang diberikan kepada Kambing dan Sapi. 

“Kamu menjawab apa, kok bisa lolos dari kelicikan Singa itu?” tanya Pak Tani penasaran. 

“Saya cuma bilang, ‘Maaf sebelumnya, Tuan Singa, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Karena hidung saya sedang pilek. Nanti kalau sudah sembuh, saya akan balik lagi dan menjawabnya.’ Singa itu langsung mengizinkan saya lewat.” 

Pak Tani pun tertawa. “Kamu memang cerdik, Cil,” kata Pak Tani memuji. 

Kancil sepertinya mengerti kalau tidak ada satu pun jawaban benar dari pertanyaan Singa itu. Jadi, Kancil harus bisa menipu kelicikannya itu dengan kecerdikannya.
Read More
Punya sifat pelupa itu nggak enak. Susah melupakan kejadian buruk juga nggak enak. Dan dilupakan itu paling nggak enak.

Yang enak itu, malem-malem makan nasi goreng. Gratis lagi. Beeehhh.
Yang enak itu, siang-siang minum es teh manis di bulan puasa.  Enak dengkulmu melocot. Dosa!

Abaikan saja kalimat pembuka barusan.

Entah kenapa, gue mulai kepikiran sama hal ini.

Jadi, ada 3 kata yang sering banget dilupakan. Maksud dilupakan di sini, orang sudah males atau sudah jarang yang mengucapkan kata tersebut.
Langsung saja, check it out!

1.Maaf
Read More
Cerita ini bukan tentang orang yang bakar telepon genggamnya karena frustrasi ditolak gebetan. 

Nggak percaya? Bagus. Percaya ama gue musryik. Emang, sih, ada hubungannya bakar dan telepon. Tapi gue saranin jangan lanjut membaca, nanti nyesel. Ini cuma curhatan nggak jelas doang. Kalo kamu tetep mau baca, silahkan. Gue nggak akan memaksa. Selamat menikmati.

“Kamu malam mingguan ke mana?”
“Nggak ke mana-mana, kamu?” balas si Pacar di SMS.
“Bakar-bakar di rumah temen. Nanti jam 8 sibuk nggak?” tanya gue.
“Dalam rangka apa? Tahun baru udah lewat kayaknya. Jam 8, ya? Nggak tau. Kenapa?”
Read More
"Gus, nanti malem ketemuan, yuk!" Sebuah pesan dari Rani di BBM.
Gue nggak ngerti. Tumben banget Rani ngajak ketemuan. Sebagai mantan yang baik, gue masih menjalin silaturahmi terhadap mantan-mantan gue. Tetapi, Rani adalah tipikal orang yang sulit berteman dengan mantannya. Apalagi waktu itu, gue lah yang memutuskan Rani, dengan keputusan sepihak.


Gue masih bingung harus merespons pesan ini atau tidak. Tetapi, gue tetaplah gue, yang tidak pernah memusuhi mantan.

“Mau ketemuan di mana?” balas gue.

Read More
Karena akhir-akhir ini gue sedang sibuk melamar pekerjaan, dan giat mengikuti tes wawancara kerja. Gue iseng bikin hal-hal tentang melamar dan wawancara kerja. Ternyata banyak juga, ada 69.

Kenapa dengan angka itu? Gue nggak tau kenapa angkanya bisa segitu. Yang kepikiran di otak hanya ini saja. Sumpah, gue nggak semesum itu. Jangan kalian pikir angka 69 itu seperti di bokep-bokep, ya. Nggak ada hubungannya melamar pekerjaan sama sex.

Oke, langsung saja. Cekidot!

1.Siapkan berkas-berkas surat lamaran sehari sebelum melamar kerja.
2.Ingat, surat lamaran kerja. Bukan lamaran nikah.
3.Tidurlah yang cukup agar badan tetap fit.
4.Pasang alarm untuk bangun pagi.
5.Setelah bangun, jangan lupa mandi.
Read More
Sejak gue menulis menjadi pengangguran. Sampai saat ini, gue tetaplah seorang pengangguran. Yoih! Ini keren. Harus diapresiasi. Halah. Nganggur malah bangga. Kacau. Gue memang harus mengakui, kalo proses mencari kerja itu tidaklah sulit. Ini serius. Nggak sulit, kok. Namun, SULIT BUANGEEETTT BANGSYAAATTT.

Gimana nggak sulit banget. Gue yang dibantuin sama temen untuk mengisi lowongan pekerjaan di kantor kliennya aja gagal. Jadi, waktu itu temen gue menginformasikan kepada gue lewat BBM.

“PING!!!”

Gue bales, “Kenapa?”

“Udah dapet kerja?”
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home