Palsu

23 comments
Kau baru saja pulang dari restoran cepat saji sehabis mentraktir teman-temanmu. Tidak banyak-banyak amat, sih, jumlahnya. Dengan dirimu yang juga ikut dihitung, totalnya pas 12 orang. Mereka adalah teman-teman yang kau anggap paling akrab di antara yang lain. Kau sebenarnya bingung sama kebiasaan bodoh ini. Kenapa orang yang berulang tahun harus mengeluarkan uang untuk membayar sebuah ucapan, "Selamat ultah" ?

Entah setelah kalimat itu ada lanjutan doa-doa untuk kebaikanmu, atau memang sebatas itu saja. Lucunya, ada yang mengucap lebih singkat, "HB, ya." Ucapan itu juga cuma kaudapatkan dalam bentuk pesan di aplikasi WhatsApp. Tidak ada ucapan langsung dan jabat tangan para teman yang kauterima 4 hari yang lalu.

Apalagi seorang pacar yang memberikanmu kejutan di depan pintu, dengan membawakanmu kue berhiaskan lilin yang menyala. Kemudian kau bisa meniupnya dengan perasaan terkejut campur bahagia sambil menerima kado darinya. Kamu baru saja putus 5 bulan yang lalu dan belum memiliki pacar baru. Boro-boro pacar, mencari gebetan saja belum kepikiran olehmu.

Ya, paling tidak, akhirnya kau bisa merayakan bertambahnya umurmu bersama teman-teman. Meskipun itu hanya sebatas menyantap ayam goreng krispi dan minuman bersoda. Sebuah menu yang seragam, tapi tetap menguras kantongmu. Kira-kira uang itu sebanyak jatah makanmu untuk dua minggu.

Awalnya, kau malah tidak ada niat untuk mentraktir mereka. Namun, permintaan itu, baik yang sebuah bercandaan atau memang keinginan, semakin hari terus menghantui dirimu.

"Mana nih traktirannya?"

Kamu menjawab singkat, "Nanti deh pas gajian."

Lalu, hari gajian itu pun tiba. Hari ini, atau tepatnya empat hari setelah hari ulang tahunmu. Karena sudah berjanji, mau tidak mau kau harus menepatinya. Kalau ingkar, nantinya akan menjadi utang. Kau tentunya juga tidak mau memberikan omong kosong. Itulah alasanmu mentraktir mereka.



Namun, begitu sampai rumah dan merebahkan diri di kasur. Kau merasa ada yang tidak beres. Apanya yang sebuah perayaan? Mereka itu malah merayakan berkurangnya usiamu. Atau percisnya, sangat bahagia akan kematian yang perlahan menghampirimu.

Kau mulai mengingat kejadian di tempat makan itu. Setelah kenyang, mereka tampak lupa denganmu. Mereka sibuk sendiri-sendiri. Berfoto, bercengkrama, dan bercanda. Tanpa melibatkan dirimu. Barulah ketika wajahmu cemberut, ada salah satu temanmu, Yoga, yang mungkin peka, sekadar basa-basi, atau bisa saja dia betul-betul memang mengingatmu. Dia mengajakmu ikut serta berfoto beramai-ramai dengan meminta tolong kepada seorang pramusaji untuk mengambil gambar. Membekukan momen perayaan sederhana ulang tahunmu itu. 

Tiba-tiba, ada rasa sesak di dadamu. Kau sempat mengira itu tumor yang tiba-tiba menyerang. Tapi kau tidak sebodoh itu dan langsung menepis pikiran yang terlalu ngawur. Kau pun mencoba memahami apa yang baru saja terjadi pada dirimu. Kau merasa tidak keruan. Entah ingin menangis karena pergantian suasana yang cepat, atau merasa tanggung jawab dalam hidup akan semakin besar.

Kau langsung memejamkan mata, bermaksud untuk tidur. Tentu saja agar tidak perlu merasa hampa seperti sekarang ini. Sayangnya, hal itu tidak berhasil. Semakin kau mencoba untuk tidur dan melupakannya, justru itu semakin membuat dirimu merenunginya.

Mungkin alasan yang pertama benar. Sebab, tadi dirimu dikelilingi banyak orang dan merasa ramai mendengar tawa renyah teman-temanmu. Lalu sekarang, kau hanya sendirian di kamar. Tidak ada pesan masuk di HP-mu. Begitu sunyi. Sampai suara jam dinding terdengar jelas menjadi musik pengantar tidurmu. Kau memperhatikan jarum yang terus berputar ke arah kanan.

Yang kedua, rasanya juga benar. Di umur yang sudah tidak belasan tahun lagi. Ya, sekarang usiamu sudah genap 20 tahun. Tanggung jawab dalam hidup pasti semakin besar. Entah siap atau tidak, tapi itulah kenyataan yang harus kau hadapi.

Kau masih terus memandangi arah jarum jam itu. Berharap supaya jarumnya bisa bergerak ke arah kiri. Kembali ke waktu bersama teman-temanmu. Barangkali keadaan tadi tidak membuatmu kesepian begini. Tapi sebetulnya ada yang lebih ingin kautanyakan. Tepatnya kepada dirimu sendiri beberapa jam yang lalu. "Kenapa kau memaksakan diri dan menuruti permintaan untuk mentraktir mereka?"

Tapi kau sadar, itu tidak ada gunanya. Terpaksa atau tidak kau mengeluarkan uang untuk mereka, rasanya akan sama saja. Kau tetap bisa membuat kenyang perut mereka. Dan bisa mengecoh kesepianmu dengan keramaian semu itu. 

Kau berharap waktu bisa berputar lebih jauh lagi ke arah kiri. Kembali ke masa di mana kau masih bersama pacarmu. Kau ingin tahu, di mana letak kesalahan hubungan itu sampai harus bubar dan tak ada lagi jalan keluar. Ingin lebih jauh lagi. Ketika kau tau-tau menjalin hubungan tanpa menembaknya. Kala kencan dengannya. Kenapa kau bisa merasakan rindu saat tidak bersama dengannya. Pertama kali berkenalan dengannya dengan deg-degan, dan seterusnya, dan seterusnya sampai ke tempat pertama kau berjumpa dan melihat parasnya yang menawan.

Kau kemudian membayangkan kalau saja kala itu tidak berada di tempat pertama bertemu dengannya. Apakah dirimu yang sekarang ini akan lebih baik, atau lebih buruk?

Kau ingin pergi lebih jauh lagi. Kembali ke masa sekolah, di mana dirimu fokus belajar akan mata pelajaran di sekolah, menjawab soal-soal yang masih terasa mudah. Jauh sekali kalau dibandingkan mempelajari kehidupan ini. Yang menurutmu susah dalam mencari jawabannya.

Lagian, kau tidak perlu mencari uang sendiri. Mendapatkan uang hanya tinggal meminta orang tua. Nikmat sekali masa muda itu. Tapi kau tau, hal itu tidak mungkin terjadi. Saat ini, belum ada yang namanya mesin waktu. Satu-satunya mesin waktu adalah kenangan yang ada di otakmu.

Akhirnya, kau bangkit dari kasur, menyalakan laptop, kemudian membuka aplikasi Ms. Word. Mengetik sebuah puisi:

*

Usiaku bertambah, tapi tidak dengan kedewasaanku. Gejolak itu terlalu cepat, tapi kesiapanku masih lambat. Mungkin sekarang aku tak mengerti atas apa yang kualami.

Biarlah waktu yang kelak membuatku sadar, kalau hidup ini hanya sebuah kepalsuan yang mereka anggap nyata. Sebab, itulah yang memang terlihat oleh mata.

Tapi kata seorang penyair, yang fana adalah waktu. Dan bagiku, kesepian ini akan tetap abadi. Menggerogoti dadaku, kemudian kepalaku, lama-lama menyerang hidupku.

Andai saja kesepian ini dapat berbicara. Mungkin keramaian bisa melakukan wawancara.
Mangajukan beberapa pertanyaaan: Dari mana kesepian itu terlahir? Bagaimana caranya tumbuh? Dan kenapa ia harus abadi?

Mungkin pertanyaan itu tak ada gunanya. Namun, kenapa orang harus tersenyum supaya bisa menipu kesepian itu? Padahal, senyum yang terlukis itu sangat palsu.

*

Kau kemudian tidak sreg saat membacanya ulang. Diksimu itu buruk. Rimanya juga tidak pas. Kau memilih untuk menghapusnya saja. Menganggap puisi busuk macam itu tidak pernah tercipta. Lalu, kau pun mematikan laptop dan kembali memaksakan tidur. Untuk mengistirahatkan dirimu supaya besok kuat saat menghadapi palsunya dunia ini. Menjalani hari-hari seperti biasanya. Hingga sesuatu yang kau kira palsu itu, dapat membuatmu terbiasa dan lama-lama kau anggap asli atau palsu memang tidak ada bedanya.

--

PS: Ini adalah sebuah cerpen bertema: palsu, kepalsuan, atau sejenisnya. Kami WIRDY, sedang rindu bikin proyek barengan seperti ini. Lumayan, kan, ini bisa bikin gue belajar dan menantang diri supaya berani nulis cerpen. Ya, meskipun hasilnya gak jelas banget. Muahaha. Mohon kritik dan sarannya.

Wulan: Who Am I?
Darma: masih proses... belajar di Turki. Ya, kira-kira 2 tahunan lagilah baru jadi. Wqwq.

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/gadungan-pemalsuan-palsu-penipuan-1726362/
Previous PostOlder Post Home

23 comments

  1. Wah unik juga nih cerpen pakai sudut pandang orang kedua. Mantap lah project-nya.

    Bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang lagi belajar gunain sudut pandang kedua. Ehehe. :D

      Nuhun.

      Delete
  2. Tulisan yang sangat kontemplatif. Kebetulan baru kejadian di aku beberapa waktu yang lalu. Seorang teman minta traktiran ultah dengan setengah ngotot, tapi pas waktunya dia ultah, info TTL seluruh medsos beliau diatur invisible biar nggak ketahuan. Licik sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak ternyata yang begitu, ya. Hahaha. Wah, barbar tuh orang!

      Delete
  3. Membacanya seolah-olah yoga sedang berbicara pada diri sendiri.

    Seru yah main proyek2-an. Kalo gue sih paling lagi mantau proyek jalan tol :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini fiksi, kok. :) Proyek mengobati patah hatinya dengan liburan ke Jogja udah dilanjut belum? :p

      Delete
  4. Membacanya seolah-olah Yoga sedang berbicara pada diri sendiri. (2)

    Pas di tengah-tengah tulisan ini, aku pengen mutar Stressed Out-nya Twenty One Pilots. Rada related sih menurutku. Btw itu banyak juga yang ditraktir njiiiiiiiir. Dan yha, kadang ucapan "Mana traktirannya?" "Traktirannya dongs!" itu bisa aja palsu sih. Bisa aja buat basa-basi doang. Tapi kalau diucapin sama orang yang gak enakan, bisa diseriusin. Makanya jadi orang nggak enakan itu nggak ena ya, Yogs. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke orang yang gak enakan maksudnya, Yogs. Huahaha.

      Delete
    2. Ini fiksi, kok. :) (2)
      Wih, 21 Pilots jadi kesukaanmu, ya. :D Nah, itu! Biasanya mereka bercandain aja, sih. Tapi kan beberapa ada yang beneran nagih. Hahaha.

      Delete
  5. Fokusnya ke kata 'boro-boro', Yog. Wkwkwkwk. Mungkin lebih tepat pakek kata 'jangankan' atau 'alih-alih' gitu, biar sesuai konteks.

    Halah.

    Btw, aku jugak heran, kenapa yg ultah malah yg harus traktir? Kalo aku dulu sama temen-temen akrabku justru aku yg ditraktir plus dikasih kado. 😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wqwq. Oh, iya juga. Rada nggak enak. Oke, dicatat. :)

      Makanya, bingung kan jadinya. :D

      Delete
  6. Iya kenapa jadi yang traktir? Aku dikasih kue dan kejutan. Yah gitu.

    Yah, gejolak itu terlalu cepat. Tapi kesiapanku lambat 😭

    Kok malah inget lagu anak kecil yang "paling enak jadi anak. Mau apa juga enak. Tinggal ngomong.. doang!"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aturan emang yang ultah dikasih hadiah kan, ya. Jangan dibebanin gitu. :)

      Lagu apaan itu? Gue baru tau. XD

      Delete
  7. Oh, ini tentang teman palsu. Lagunya Young Lex ada tuh. Coba denger. (Sok-sokan rekomen yonglek dikira LexSugar lagi)

    Seperti biasa, sudut pandang orang kedua kenapa ngena banget. Nggak pernah ngalamin separah itu, cuma sering denger aja cerita serupa. Kasihan. Oiya, lagi demen nulis fiksi, bang Yogs? Pengin nulis fiksi lagi jadinya. Masa baru nulis fiksi kalo ada giveaway. :')

    ReplyDelete
  8. Suka kesel juga kadang tiap lagi ulang tahun, cuma sekedar ngucapin HBD terus minta traktir. Emangnya gue siapa? :D

    Cara penulisannya keren. Saya suka saya suka. :D

    Btw, awalnya gue malah kepikiran Alamat Palsu - Ayu Ting Ting dari judul post ini.

    ReplyDelete
  9. Bagus. Menarik. Udah itu aja. Muahaha. *langsung liat punya yg lain*

    ReplyDelete
  10. wah bagus masih mending dapat ucapan "hb". tahun ini aku sama sekali tidak mendapat ucapan apapaun.
    ...
    dan ini adalah ungkapan hatimu kurasa. bukan sekedar cerpen biasa.

    ReplyDelete
  11. Keren banget..
    dari sudut pandang yg kedua
    bener-bener bawa kesegaran..
    :)

    ReplyDelete
  12. sepertinya cerita ini related sama kehidupan nyata sebagian orang.

    saat kita ulang tahun banyak banget yang berubah hanya sekedar traktiran makan. :')

    Dan kalo lagi pas ngumpul, semua sibuk sendiri. kayak gak di anggep teman yang ada di sekelilingnya.

    ini aku curhat apa yak ?

    ReplyDelete
  13. keren....
    sebuah peryaaan palsu memang
    mendekati ajal kok dirayakan (apa seh???)
    good job mas

    ReplyDelete
  14. Bagus, yaa. Berasa jadi si tokoh utama. Emang bener, menginjak usia duapuluhan rasanya nano-nano. Hhh~
    Aku udah lama gak nulis cerpen. Jadi kangen nulis cerpen. Hahaha.

    ReplyDelete
  15. jd pengin punya proyek2an nulis gini, keren sekaligus melatih ninjutsu menulis supaya lbh saik lg. btw, darma mana darma, kgk nulis2 hehe kan dsna jg da internet.

    ReplyDelete
  16. Wahh. Asyik nih ada proyek nulis bareng gini. Ajak-ajak lah sesekali:-)

    Ini tulisannya enak banget, delat banget sama keseharian.
    Sudut pandang kedua, tapi Yoga tetap ada menjadi yang bijaksana:-)

    Emm, ada beberapa kata tidak baku yang tidak dibuat miring, Yog. Atau memang sengaja?

    Btw.. Si "kamu" baru 20 tahun. Meskipun marginnya gak terlalu jauh,, gue ngerasa tua gini.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan.
Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.