Yang Kedua

95 comments
Sudah 2 tahun berlalu, semenjak gue kehilangan seorang adik. Enggak. Adik gue nggak nyasar, kok.  Dia juga nggak diculik. Apalagi menghilang saat memakai cincin seperti di film The Lord of The Rings.

Halah.

Baiklah, gue akan memulai cerita ini.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 21 Oktober 2015, Agus (nama seorang temen yang disamarkan) berulang tahun. Setahun sebelumnya di tanggal yang sama, (21 Oktober 2014) Agus mengajak gue dan teman-teman lainnya untuk makan-makan di sebuah restoran—yang gue lupa namanya.

Tanggal segitu seharusnya lagi hemat-hematnya, tetapi di hari itu gue bisa makan enak. Alhamdulillah. Gue sangat gembira karena bisa makan gratis di saat uang tiris. Mantap!
Sampai akhirnya, di jalan mau pulang, memori di tahun sebelumnya (21 Oktober 2013) mengubah mood gue seketika. Rasa gembira itu kemudian sirna.


***

Memori itu ialah...

...saat selesai mandi dan ingin bergegas ke kantor, tiba-tiba suasana rumah menjadi gaduh. Beberapa tetangga mengucapkan, “Ikhlasin ya, Yog. Yang sabar.”

Gue masih belum mengerti apa yang terjadi.

Kemudian ingat, oiya Nyokap tadi subuh lahiran. Bersamaan itu pula, hape gue berdering. Ada panggilan masuk dari Bokap.

Setelah menjawab salam, gue langsung bertanya to the point, “Beneran, Yah?”
“Iya, bener,” kata Bokap. “Ya udah ikhlasin. Sekarang doain ibumu, ya. Malah pendarahan banyak nih. Terus nanti tolong anterin adiknya, kalo kamu mau tetep masuk kerja gapapa.”
“Iya,” kata gue, udah nggak tahu mau ngomong apa lagi.

Bokap mematikan teleponnya. Gue segera mencopot seragam kerja gue, ngabarin temen kantor untuk menyampaikan ketidakhadiran gue.

Saat mengantar Sadam—adik gue—pergi sekolah, gue membuka obrolan, “Dam, nggak usah sedih. Lo tetep fokus sekolah aja, ya,” kata gue kepada Sadam.
“Iye, kagak,” katanya cuek.

Di tengah perjalanan menuju sekolahnya, gue melihat seorang ibu yang menggendong bayi. Hati gue remuk seketika. Embun di sudut mata yang dari tadi tertahan-tahan mulai menetes perlahan, dan membasahi pipi. Kemudian gue menghapusnya.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, gue kembali menasihatinya untuk belajar yang rajin biar adiknya yang baru banget pergi bisa tersenyum lihat kakaknya berprestasi. Namun, dia malah ngatain gue “lebay dan drama”.

BANGKE! ADEK KURANG AJAR!

Lagi sendu gini, malah dibikin kesel.

“Oiya, itu mata lu kenapa? Lu nangis, Mas?” tanya Sadam.
“Kagaklah. Ini kelilipan gue tadi. Kaca helm lupa ditutup,” jawab gue ngeles. Tidak mau terlihat cemen di depan adik sendiri.
Sadam pun sekolah, gue kembali ke rumah.

Di jalan pulang menuju rumah, air mata itu bercucuran. Gue pengin segera sampe rumah. Buru-buru mengurung diri di kamar, dan menikmati masa-masa melankolis.

Gue ternyata emang cemen.

***

Kembali ke Oktober 2014

Memori itu tentang kematian adik gue. Baru juga setahun, gue hampir lupa. Gue merayakan ulang tahun temen dan seneng-seneng, tetapi melupakan kelahiran dan kematian adik gue sendiri. Bodoh sekali rasanya.

Sepulangnya ditraktir Agus, gue memutuskan besok sepulang kerja untuk mampir ke makam adik gue. Saat berziarah, gue sudah tidak mengeluarkan air mata lagi. Gue juga sudah ikhlas. Bahkan, sebelumnya gue sempat melupakan tanggal lahirnya. Terkadang manusia yang sudah mati memang terlupakan. Namanya pun hilang begitu saja. Mungkin awal-awal akan selalu diingat. Banyak yang mengunjungi makamnya. Juga ada yasinan setiap 7, 40, dan 100 harian (bagi yang muslim). Lama-lama hanya ditengok setahun sekali setiap menjelang puasa atau lebaran.

Gue mulai kepikiran soal itu. Lalu, beberapa bulan setelah mampir ke makamnya itu, gue mendadak rindu dan terciptalah puisi ini,

Kuingat saat itu,
pertama kalinya kita bertemu.
Aku hanya menatapnya. Memendam tanya.

Kuingat saat itu,
menyaksikan kepergianmu yang bisu.
Tanpa senyuman, tanpa tangisan.

Kuingat saat itu,
Ketika hati ini ditikam rindu.
Gerimis di sudut gelap mataku.
Mengalir indah dan membeku.

Kuingat saat itu,
pertama kalinya singgah di rumahmu.
Membawakanmu bunga, menabur cinta.


Rasanya, saat membaca puisi barusan dan menuliskan cerita ini gue mau menjerit-jerit. Gue pengin teriak sekencang-kencangnya, “SAMBALA. SAMBALA. BALA. SAMBALADO....”
Btw, ini lagu apaan, sih?

Ah, efek tetangga sering dengerin. Suara itu ikut terngiang-ngiang di kepala gue.

Oke-oke, serius. Lanjut.

Itu beberapa bagian puisi yang sempat gue posting di tulisan MEMFIKSIKAN (jika kalian penasaran sama versi lengkapnya).

Entah, gue nggak nyangka bisa bikin puisi sedalam itu. Di saat itu, gue rasanya lagi kangen banget sama adik gue. Jadi, di saat menuliskan puisi itu, gue memang mengingat-ingat hal yang menyedihkan tentang adik gue.

Gue nggak jadi ngantor dan mellow di kamar. Kemudian sadar kalau banyak tamu yang melayat, gue pun menemani dan menyalami tetangga yang sudah meluangkan waktunya untuk bersungkawa ke rumah. Ya, sembari menunggu kehadiran jenazah adik gue.

Lalu, tak lama itu jenazah adik gue sampe rumah. Dan itulah saat pertama dan terakhir kalinya gue ngeliat adik gue. Dia hanya terpejam, sedangkan gue masih mengharapkan ia membuka matanya agar bisa memandangi rupa kakaknya.

Gue ingat saat membuka lemari, ada beberapa pakaian bayi: baju, celana, sarung tangan, dan kaos kaki. Semuanya belum pernah terpakai.
Benda-benda itu tiba-tiba menusuk dada gue. Sesak sekali.

Gue tiduran sambil menatap langit-langit. Seandainya tidak seperti itu. Gue bisa  gendong-gendong dia. Bisa lihat dia tertawa-tawa. Bisa mengelap ilernya yang menetes-netes. Bisa foto bareng dan pamerin itu di Instagram. Bisa ngajarin dia berbicara. Terus juga pengin kesel-kesel bahagia karena diompolin, pengin nyemangatin dia pas belajar jalan, dan pengin ngasih tau dia supaya gedenya nggak jadi cabe-cabean.

Namun, takdir berkata lain.

Adek yang gue—dan pastinya orangtua—tunggu-tunggu sudah pergi. Emang, sih, kematian itu datengnya gak ada yang tau. Dia belum sempet pamitan, tapi udah pergi meninggalkan kami buat selama-lamanya.


Itu mungkin udah jalannya. Gue juga nggak bisa menyalahkan takdir. Yang sudah pergi, ya sudahlah. 

Dan terakhir sambil menutup tulisan ini, gue cuma mau bilang, “Selamat ulang tahun yang kedua, Dek Aulia. Tulisan ini Kakak tulis untuk mengenangmu.”

PS: Diketik pada akhir bulan Oktober 2015.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

95 comments

  1. Terharu bacanya, Yog ;( air mata langsung netes aja pas di bagian puisi dan seterusnya. Dek Aulia malaikat kecil di surga :')

    ReplyDelete
  2. Sumpah nangis gue bacanya, air liue gue menetes-netes *Boong ding

    ReplyDelete
  3. Sedih bacanya.
    Tapi yang gue heran, di postingan yang sepilu ini, lo tetep aja nyelipin banyolan, Yog. Wkwkwk
    *Kemudian keinget cerita, sedihnya diperpanjang*

    ReplyDelete
  4. Titip doa, Yog, buat Dek Aulia. ;(

    ReplyDelete
  5. jadi ikut sedih mas saya. ga bisa bnyak berkomentar deh.

    ReplyDelete
  6. Terharu baca'a Yog
    kata ortu gue harus'a punya 4 kakak, tapi yang ke 3 meninggal setelah lahiran
    pasti kaka gue yang pertama dan kedua pasti gini juga perasaan sedihnya waktu itu.

    Gue juga pernah ngalamin kesedihan kaya elu Yog,
    mungkin gue lebih prustasi waktu itu pas Ibu gue meninggal 8udah akh malah curhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo saya mas kata mamah harusnya saya punya kaka itu 4 ternyata saya punya kaka sekarang 1. katanya sih meninggal waktu masih kecil

      Delete
  7. Terharu bacanya..
    Semoga nanti bisa menolong ke 2 orangtuanya untuk ke surga..

    Aku orang islam tapi tidak mengenang hari ke7, 40, 300, 1.000 dst.. kurang faham hari ke berapa aja.. soalnya aku Muhammadiyah nah loh maaf bukan maksud promosi ya..

    Puisinya keren.. seandainya dia masih ada pasti dek Aulia seneng punya 2 kakak laki-laki dan bisa belajar banyak hal. Seperti halnya aku dan kakakku. Semoga Allah memberikan kelapangan rizki untuk keluarga yang ditinggalkan.. Aamiiin ya Rabb..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, katanya, sih, gitu. :)
      Nggak apa-apa. Ngerti, kok. Emang ada sebagian muslim yang nggak mengenang hari-hari itu.
      Aamiiin. Makasih, Rum.

      Delete
    2. Bukan katanya, emang gitu..

      Alhamdulillah, pengertian syekali Yoganteng.. uhuk!

      U'r welcome :-)

      Delete
  8. Beleleran ingus bacanya, Yog :(

    Jadi ingat, dulu Mamaku pernah keguguran. Kalau gak salah gara-gara jatuh dari tangga. Waktu itu aku masih kecil, umur lima tahun atau masih SD kelas 1, entahlah. Yang jelas, aku gak ngerti apa-apa. Ngeliat Mama sama Bapakku sedih aku biasa aja. Pas udah gede trus diceritain ulang soal itu, aku jadi sedih. Ngerasa kehilangan. Aku berharap kalau Mamaku seandainya gak keguguran, aku punya adek lagi. Pengen banget punya adek cowok. :(

    Tapi Alhamdulillah, punya ponakan cowok, yang jadi dianggap sebagai adek sendiri. Punya adek yang walaupun cewek tapi namanya kayak cowok.

    Selamat ulang tahun juga buat Aulia. Kakak-kakak disini semuanya doain Aulia :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas masih kecil emang pikirannya belum nyampe. :)
      Terima kasih, Cha. Aamiin. :D

      Delete
  9. Gue merinding bacanya. Huwaaa :'(
    Insyaallah Aulia nanti bakal jadi tabungan amal di akhirat untuk orangtuanya Yog :')

    Itu Sadam sumpaah, jutek amat. Gemes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Lan. :)

      Hahaha. Dia emang lebih cuek.

      Delete
  10. Terharu baca postingan ini.

    Ngelampiasin sedih itu wajar kok, kan kesedihan juga bagian hidup *langsung inget Sadness di film Inside Out*
    Sekuat-kuatnya seseorang, pasti ada sisi melankolis. Apalagi kalo berhubungan dengan kematian. Asal jangan larut dalam kesedihan aja hehe, ngga baik itu.

    Takdir itu misteri yang rumit *halah*
    Kalo kita udah ngerencanain ini itu, bisa aja hasilnya ga sesuai ekspektasi. Tapi setidaknya lo masih dikasih kesempatan untuk lebih sayang ke keluarga yang masih ada sekarang.

    Btw, puisinya bagus bro :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho'oh. Kesedihan yang berlarut-larut nggak baik. :)
      Iya, ada hikmahnya dari setiap kejadian, kan.

      Makasih, Bay.

      Delete
  11. JLEBBBBBB sedih banget iya di tinggal buat selamanya sama orang yang begitu berharga dalam hidup. Yuk kita sama-sama ikhlasin orang-orang yang sudah mendahului kita :')

    ReplyDelete
  12. Semoga singgah awalku
    Menjadi senyum baru
    Yang mekar dihatimu
    Wangi ingatkanmu padaku...

    :)

    ReplyDelete
  13. Merinding Yog, baca puisinya, gue kebayang gimana kalo ini kejadian sama gue, pasti gue bakalan kayak lo juga, cemen. Eh Maaf.

    Turut Berduka Cita Yog, semoga adik lo bahagia di sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Gapapa, emang gue cemen, kok. :)
      Aamiin.

      Delete
  14. Kalo boleh jujur, belum pernah baca sesuatu sampe mata berair gini. Paling mentok berkaca-kaca. Tulisannya nyentuh banget.

    Selamat ulang tahun, Dek Aulia. Semoga bahagia di sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti ini pertama kalinya? :))

      Aamiin. Makasih, Rim.

      Delete
  15. Haduh, bicara soal kematian. Gue udah bilang dari awal kalo gue selalu merinding denger kata kematian. Gak bisa komen apa-apa deh :')

    Selamat ulang tahun, Dek Aulia. Puisi buatan kakakmu bagus banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga nggak bisa respons komentar apa-apa nih. :(

      Makasih, Rob. :))

      Delete
  16. Tulisan ini bikin gue nangis. Gue jadi inget sama Ridwan, adik gue yang meninggal pas lahiran. Durhakanya gue, gak pernah sekali pun datang ke makamnya. Bahkan gak tau makamnya dimana karena dulu hanya kakek nenek yang peduli sama makamnya. Gue jadi kangen adik gue itu. Gue juga inget pas pulang sekolah dan tau dia meninggal, gue nangis sesenggukan padahal belum ada satu pun memori bareng dia... jadi curhat bgini.. hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal belum ada memori atau kenangan bareng, tapi kayak semacam ikatan batin. Gitu, ya?

      Delete
  17. Ini beneran bang Yoga yang nulis? Bukan orang lain? Kok tulisannya jadi sedih gini *sad*

    Bahkan orang sekuat apapun kalo kehilangan sosok yang disayangi pastinya juga sedih dan keluar air mata. Jadi ya gak usah malu kalo ditanyain "kenapa kok nangis" Btw kehilangannya emang yang benar-benar hilang, bukan hilangnya kayak diputusin pacar gitu.

    Selamat ulang tahun Dek Aulia, semoga bahagia disana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, bukan. Tulisan ini ini dijokiin, Ki. :))

      Diputusin pacar juga gapapa kalo misalkan emang nangis. Mungkin aja emang pacarnya termasuk orang yang berharga. Hahahaha.
      Aamiin.

      Delete
  18. Umm.. Ini agak bingung aku hrs bilang sedih apa enggak, jujur, aku malah ngakak baca ini, jahat gak sih aku? :( Abis ada lawakannya, pgn nangis jd gak konsen kan. Wkwk. Apalagi yg sambalado, kamvret banget emang :') Saddamnya jg rese bet lg ya?._. Rese abis.

    Terharu kak bacanya, apalagi pas baca bgian 'udah beli pakaian bayi, celana, sarung tangan, kaos kaki, tp smuanya blm pernah trpakai' huaaaa :( Blm sempet ngelapin ilernya jg. Duhh..
    Bener bgt, gak ada yg tau kpan kematian itu datang. Tp yg penting dek Aulianya udh bahagia di sisi-Nya skrg :) Btw, Happy birthday Aulia! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, yak. Gue kayaknya emang salah menempatkan komedi di tulisan ini. :(

      Makasih, Lu.

      Delete
  19. gue malah nggak tau makam kaka gue. kisahnya sama persis sperti adek lu. bedanya, lu udah pernah smpet liat, sdgkan gue blom pernah sama sekali.

    smoga adek lu tenang disana ya. hbd buat dek aulia

    ReplyDelete
  20. Sedih. :"(
    Tapi ada bagian yg bikin ketawa jg. -__-
    Itu adek lo nganu bgt dah hahaha.

    Puisinya bagus, Yog!

    ReplyDelete
  21. Lo sukses bikin mata gue berkaca-kaca sama cerita di atas. Semoga Dek Aulia bahagia di sana ya, Yog..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang pada komentar juga sukses bikin gue bingung menanggapi komentarnya. :(

      Delete
  22. Turut berduka cita, semoga adek lo bahagia di surga sana :')

    Btw, puisinya keren! Gue sampe mau teriak SAMBALADO!

    ReplyDelete
  23. Yog, lu kok tega. Bikin lelucon di sebuah postingan yang sedih ini... Lu nggak takut kena azab?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya takut sebenernya. Udah duga juga bakal ada yang komentar begini. Hehehe. :))

      Delete
  24. hadeuh...konyolnya keluar

    lanjutkan

    ReplyDelete
  25. tumben nih postingan sedih...
    tapi emang dasarnya konyol, bahkan di postingan ini lo masih sempet2nya ngelucu, gw jadi ningung mo ketawa apa ngambil tisu

    ReplyDelete
  26. Yoga, yang tabah ya :')
    Dedek Aulia pasti udah bahagia disana, kok. Pertanyaannya: "Kita kapan nyusul?"

    Gak nyangka kalau Yoga bisa melow gini juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuhan Yang Maha Tahu. :)

      Gue juga nggak nyangka. :(

      Delete
  27. serius? gue kira kematian yang dimaksud cuma filosofi semata. turut berduka, bro.
    jangan terlalu berlarut dalam kesedihan men... nggak ada salahnya seneng-senengn di traktir. sang adik jug apasti seneng ngeliat abangnya ditraktir :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius. Yo, makasih. :))
      Hehehe. Iya, Jev. :D

      Delete
  28. pasti sudah jadi malaikat kecil. tinggal mengirimkan doa dan sewaktu masa nanti akan bertemu

    ReplyDelete
  29. Allah lebih sayang sama dek Aulia. :)

    Gue seumur-umur belum pernah lihat langsung gimana jenazah setelah dikasih kafan. Nggak berani. Padahal besok ya kayak gitu kalau gue mati...

    ReplyDelete
  30. Auliaaaa. :)))
    Namanya bagus, cantik. Gue nggak kebayang kalo gue ada di posisi lu, Yog. Gue sendiri seneng banget sama anak kecil. Berhubung nyokap ngikut program keluarga berencana, yah, sirna deh harapan gue punya adek. Dan satu-satunya jalan adalah bikin sendiri pas nikah nanti. Hmm.. :( (ini ngapa malah gua yang curhaat)

    Selamat ulang tahun ya adiknya kak Yoga. Semoga dikasih hadiah banyak di surga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin lu pengin segera nikah, Dev. :))

      Makasih yaaa. :D

      Delete
  31. Hmmmmm ini banget yog ----> :'(

    Semoga adek lo almarhum sudah tenang di sisi Nya n bahagia maen maen sama beby mbul junior gue yaaakk

    Memang yog, pas ngelihat perintilan bayi kadang kadang jadi agak sentimentil, trutama bagi kita2 yang pernah kehilangan yak..

    Puisinya bagus, menyentuh banget oiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Iya, Mbak. :)
      Tapi, lama-lama terbiasa, kok. :D

      Makasih, Mbak.

      Delete
  32. Adek lo kampret juga, ya.

    Jadi sedih gini bacanya. Bikin makin sedih di bagian puisi, gak ngerti :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga nggak ngerti bikin puisi apa itu. :(

      Delete
  33. Jujur aja nih yog, aku juga dulu pernah ngerasain kehilangan adik, bedanya dulu ibuku keguguran. saya tau rasanya gimana :))) Dan bodohnya lagi, saya pun lupa tanggal kegugurannya itu kapan -_-
    Kuatkan dirimu yog, you'll never walk alone *kemudian dipeluk sama fans liverpool*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm... gapapa, Fan. Wajar, kan, lupa. Apalagi kalo udah lama. :))
      Kenapa jadi ke bola? :(

      Delete
  34. Namanya sama kaya aku ada Aulia nya :) btw adik kamu disana bisa ngajak kamu dan keluarga untuk bareng2 di surga Yog, semoga begitu ya.

    ReplyDelete
  35. Bagian yang ini “Selamat ulang tahun yang kedua, Dek Aulia. Tulisan ini Kakak tulis untuk mengenangmu.” entah kenapa terharu banget bacanya, sampai mrinding kak :"

    ReplyDelete
  36. hiks.. pukpuk yamas yog. sedih banget pasti ditinggal adiknya. tulisanya juga mellow gimana gitu.. apalah mas namanya juga takdir. serahin aja sama Allah. pasti ada hikmahnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang udah nggak sedih. Udah ikhlas.
      Iya, Rim. Pasti ada hikmahnya. :D

      Delete
  37. kok samaan, Yog. keponakan pertama gue yang udah "pulang" juga namanya Aulia. semoga di surga sana mereka ketemu terus bilang, 'ih kok namanya samaan' aamiinn..

    ReplyDelete
  38. ah, aku yg lagi hamil, jd mellow juga nih :(... kalo boleh tau, kenapa bisa meninggal Yog?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Telat bawa ke rumah sakit, Kak. Jadi tadinya di Puskesmas gitu, eh, gak tahu kenapa dioper ke RS. Pendarahan banyak, dan meninggal. :')

      Delete
  39. Waksssss ketawa ngakak, kakak nya di bilang lebay dan drama hahahahahahhahahahhaah

    ReplyDelete
  40. Selamat ulang tahun juga buat adek mu Yog, semoga dia ditempatkan ditempat yang indah di alam sana. Percayalah, untuk bayi yang belum berdosa seperti adekmu tempatnya adalah surga.

    ReplyDelete
  41. Adek lu keren, yog! akwkakwka :D.

    ReplyDelete
  42. Sebenernya pengin nangis pas baca ceritanya. Puisinya sih bikin sedih. Tapi ko lama2 pengin ketawa juga baca tulisan lu yg kadang bikin ngakak. Ya allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Allah. Jadi kamu mau sedih apa ketawa nih?

      Delete
  43. Ah, kamu bohong yog. Apanya yg biasa aja?
    Puisi yang satu ini benar2 seperti air yang menetes di dedaunan. Mengalir gitu aja. Suasananya juga pas saat kamu nulis ini. Bgitu dalam dan begitu KEREN!!!

    Klo gw bukan diruangan ber ac pas baca ini, pasti gw juga merinding! Syngnya gw bacanya pas druangan ber ac, jadinya bulu2 gw udah merinding dari tadi.

    Mnurut gw tulisan ini adalah tulisan yg sangat sedih yog, tapi kamu sbagai narator mncoba mmberi kan bumbu2 hiburan buat pmbacamu supaya gk terlalu larut dalam kesedihan.

    Sebuah kolaborasi karya Chaca Utami Solihin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih atas apresiasinya, Rey. :')
      Iya, gue cuma gak mau kalau pas membaca ulang nanti kembali bersedih.

      Yoihhhh!

      Delete
  44. Segala diselipin lelucuan, gagal mellow :(

    Itu si sadam bisa dibuang aja ga sih? Jutek amat alig.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.