Aku Tidak Akan Membaca Surel Apa pun Lagi

Oleh Enrique Vila-Matas.




--

Erik Satie dulunya tidak pernah membuka surat-surat yang diterimanya, tapi ia selalu membalasnya. Dia akan memeriksa nama dan alamat pengirim lalu menulis balasannya. Setelah dia wafat, teman-temannya menemukan semua surat yang belum dibuka itu; sebagian merasa cukup jengkel, padahal sebenarnya tak perlu demikian. Surat-surat itu diterbitkan bersamaan dengan balasan Satie, dan hasilnya sungguh memikat. Ricardo Piglia menulis: “Ini adalah korespondensi luar biasa di mana setiap pihak membicarakan hal yang berbeda—yang tentu saja merupakan esensi dari sebuah dialog.”

Musim panas ini, aku berlayar dengan kapal pesiar Zacapa—sebuah kapal jenis Frers Dorado yang dinamai berdasarkan merek rum dengan nama serupa karena warna kayunya. Dua pelaut ahli—satu adalah seorang humas sekaligus pemilik kapal, dan yang lainnya sesama penulis sekaligus teman—mengizinkanku ikut berlayar dari Marseille, sebuah kota tempat aku menghabiskan beberapa bulan terakhir dalam kesibukan yang padat: menulis novel terbaru dan, secara umum, melakukan berbagai kenakalan.

Perlu kukatakan bahwa mereka sama sekali tidak memaksaku untuk ikut bekerja saat kami berada di laut lepas; meskipun ketika mereka melihatku tidak sedikit pun membantu—melainkan hanya menguping percakapan mereka—terkadang tampak jelas bahwa mereka berdua sangat ingin melemparku ke laut.

Pada akhirnya, mereka meninggalkanku di sebuah hotel kecil di Teluk Nora, di pantai selatan Sardinia, tepat di sebelah reruntuhan kota Pula di Fenisia. Aku sudah berada di sini selama lima hari, membagi waktu antara pantai, kolam renang, dan kunjungan yang tak henti-hentinya ke situs reruntuhan tersebut—objek paling menarik di kawasan ini.

Koneksi Wi-Fi di hotel ini sangat tidak stabil hingga membuatku hampir gila. Sebagai bentuk pembalasan, tapi juga sebagai semacam permainan perpisahan dan penghormatan kepada Satie, hari ini aku hendak menghargai esensi sejati dari setiap dialog dengan cara membalas surel-surel yang masuk selama masa liburanku—surel yang belum sempat aku baca dan kini sama sekali tidak berniat aku baca.

Kepada surel nomor 1 (dari seorang sahabat), aku katakan bahwa kami para penulis sebenarnya bukanlah orang-orang yang benar-benar berengsek; buktinya, kesuksesan sejumlah nama besar di dunia sastra sebagian berkat keengganan kami untuk terlihat iri.

Kepada surel nomor 2 (yang aku duga berasal dari seorang pewawancara), aku menjawab bahwa ketika ditanya seberapa besar unsur otobiografi dalam karyanya, novelis Elisabeth Robinson selalu menjawab: “Tujuh belas persen. Pertanyaan berikutnya, silakan.”

Kepada surel nomor 3, aku menyarankan untuk mengabaikan siapa pun yang mencoba memaksakan gaya penulisan tertentu kepada orang lain, karena hanya orang bodoh yang menyangkal bahwa bentuk sastra itu beragam layaknya bentuk kehidupan.

Kepada surel nomor 4 (untuk pelatih Bayern Munich), aku menulis bahwa kritikus yang sombong hanya akan menjadi lebih baik jika kulit mereka agak kecokelatan akibat sinar matahari.

Kepada surel nomor 5, aku mengungkapkan bahwa selama berada di Marseille, aku berulang kali bermimpi menemukan peluru aktif di jalanan.

Kepada surel nomor 6 (dari seorang penerbit yang sedang dilanda krisis, yang selama ini lebih membela kepentingan komersial ketimbang intelektual), aku menyarankan bahwa dalam situasi sulit, pada akhirnya sering kali langkah terbaik adalah mengambil jalan yang berani.

Kepada surel nomor 7, aku katakan bahwa seandainya saja aku bisa mengasingkan diri selama setahun penuh di Paris atau New York dan melarikan diri dari segala macam orang bodoh di negeri sendiri—namun kini semua sudah terlambat.

Kepada surel nomor 8 (dari seseorang yang pada dasarnya memang pendengki), aku kabarkan bahwa sebentar lagi aku akan mengoleskan mentega pada sepotong roti panggang.

Kepada surel nomor 9, aku menulis bahwa kebenaran memiliki struktur yang sama dengan fiksi.

Untuk surel nomor 10, aku menjelaskan bahwa aku tidak keberatan mengunjungi Abu Dhabi, asalkan aku bisa kembali pada hari yang sama.

Untuk surel nomor 11, aku mengatakan bahwa di antara penulis favoritku terdapat David Markson dan Flann O’Brien, serta penulis favorit Markson dan O’Brien, dan semua penulis favorit dari penulis favorit mereka itu.

Untuk surel nomor 12, aku membalas seolah-olah sedang mengirim kartu pos: Sedang berlibur di Sardinia. Reruntuhan dan bulan purnama. Makanan yang luar biasa. Aku menolak untuk mencari teman. Salam sayang.

Untuk surel nomor 13, aku mengatakan bahwa kini aku sudah lelah menunggu, memulai, meraih keberhasilan, mengancingkan dan melepas kancing, serta bertahan, dan terus berjuang.

Untuk surel nomor 14 (dari seorang penulis muda), aku mengatakan bahwa aku tak pernah membaca apa pun karena takut membaca sesuatu yang bagus.

Untuk surel nomor 15, aku menjelaskan bahwa kini aku bisa memastikan kebenaran ungkapan bahwa saat kau menatap jurang, jurang itu pun menatap balik ke arahmu.

Untuk surel nomor 16, aku menulis bahwa perdebatan terbesar dalam hidupku terjadi di Soria, berlangsung selama dua hari, dan berakhir dengan adu fisik. Aku berdebat mengenai cara melafalkan nama Robert Mitchum.

Untuk surel nomor 17, aku membenarkan bahwa Norma Jean Baker bunuh diri.

Untuk surel nomor 18, aku mengatakan bahwa segala sesuatu tetap sama namun berubah, karena hal yang abadi niscaya berulang dalam wujud baru, yang dengan cepat menjadi usang.

Saat hendak mematikan komputer, surel nomor 19 tiba dari Marseille—tepat pada saat-saat terakhir—dan aku membalasnya dengan mengatakan bahwa aku tidak berniat melunasi utangku; aku juga memohon maaf, namun aku sedang terburu-buru karena hendak mengunjungi reruntuhan Pula, tempat di mana—dan aku yakin kau akan memaafkanku—segala sesuatunya telah aku siapkan untuk mengakhiri hidup malam ini. Mungkin orang itu akan mengirimkan surel lagi. Enggak masalah. Mari kita perjelas: ini adalah keputusan yang serius dan mutlak—aku tidak akan membaca surel apa pun lagi.

--


Enrique Vila-Matas merupakan seorang penulis asal Spanyol yang dikenal karena gaya metafiksinya dan gemar mengaburkan batas antara esai dan fiksi. Beberapa karyanya meliputi Bartleby & Co., Never Any End to Paris, Dublinesque, A Brief History of Portable Literature, serta Vampire in Love—yang salah satu cerpennya saya terjemahkan barusan.

0 Comments