Sang Kriminal dan si Kartunis, oleh César Aira

Sang kriminal menempelkan pisau ke leher si kartunis dengan satu tangan sembari dengan geram mengacung-acungkan buku komik yang terbuka menggunakan tangan lainnya; dengan nada suara yang sama mengancamnya dengan bahasa tubuh serta situasi saat itu, dia melontarkan cercaan kasar yang penuh amarah sekaligus kepedihan dan nada meratap kepada korbannya.

“Kau harusnya tak perlu menceritakan kisahku, dasar tikus busuk pengadu, cepu, banci! Dan kau menceritakannya secara mendetail, memberikan semua yang dibutuhkan polisi untuk menangkap dan menjebloskanku ke penjara.”




Tubuhnya gemetar karena murka (tapi mata pisaunya tetap stabil, menekan lembut arteri karotis), dan buku komik yang dicetak di atas kertas tipis murahan itu berguncang di depan wajah si kartunis yang pucat pasi karena ketakutan.

“Kau bahkan menggambarku! Dan hasilnya sangat mirip, dasar berengsek: hidungnya, kumisnya, ekspresinya... pakaiannya! Rompi hitam, gesper ikat pinggang, kaus kaki bergaris... kau benar-benar totalitas dalam mengerjakannya, dasar cepu. Tapi sekarang kau harus menanggung akibatnya.”

Si kartunis, yang merasa ajalnya—dan akhir dari segalanya—sudah di depan mata, memaksakan diri bangkit dari keputusasaan. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia mencoba membela diri (ia memiliki argumen yang sangat kuat).

“Aku tak pernah mengadukanmu. Aku mendapatkan semua informasi itu dari koran, sampai ke detail terkecil, persis seperti yang kau bilang! Ada foto-fotomu di koran, ratusan foto; dari situlah aku meniru wajahmu, bagaimana lagi caranya aku bisa menggambarmu? Ini pertama kalinya aku melihatmu secara langsung! Semuanya sudah dipublikasikan.”

“Jangan ngibul.”

“Aku bersumpah! Kau bisa memeriksanya sendiri. Kau pasti tahu, tapi kau tak mau mengakuinya. Beritamu muncul di koran setiap hari sampai minat publik yang bernuansa kelam terhadap kejahatanmu mulai memudar, dan hanya itulah bahan yang kugunakan; aku tidak memasukkan apa pun yang belum menjadi konsumsi publik. Aku tidak punya sumber khusus ataupun pengetahuan pribadi sebelumnya. Aku tidak punya koneksi di dunia kriminal; aku menghabiskan seluruh waktuku membungkuk di depan meja gambar, di dunia fantasi...”

“Jangan ngibul. Itu bukan fantasi. Semua yang kau muat dalam komik ini terjadi persis seperti yang kaugambarkan.”



Suara si kartunis kini terdengar lebih wajar, tidak lagi gemetar; dia merasa lebih yakin berkat argumennya yang tak terbantahkan.

“Tapi itu karena aku mendapatkannya dari koran! Semuanya ada di sana, kau bisa tanya siapa saja. Kau tidak membaca koran saat di penjara, jadi kau tidak tahu seberapa besar porsi berita yang mereka suguhkan untuk kisahmu, seberapa banyak informasi yang mereka kumpulkan, berapa banyak fotomu yang mereka temukan, dan betapa cermatnya mereka merekonstruksi setiap aksimu. Bahannya sudah tersedia di sana, siap menunggu; aku hanya perlu menulis naskahnya... Yah, aku tak ingin bicara terlalu teknis, tapi—”

“Jangan ngibul.”

Kalimat serak yang sama diulang-ulang: seperti piringan hitam yang macet. Apa lagi yang bisa dikatakan si kartunis? Karena argumennya gagal meyakinkan lawan bicara, rasa panik kembali menyerang, disertai wajah yang memucat dan hasrat mendesak untuk tetap hidup. Dia terlalu mengandalkan kata-kata dan nalar. Dia lupa bahwa nasibnya berada di tangan seorang penjahat keji—sosok yang tak mungkin menjadi seperti itu jika bukan karena dia memang sudah menjadi monster gila yang tak tersentuh oleh sisi kemanusiaan. Dulu, dan sekarang pun tetap begitu.

Namun, saat sang kriminal angkat bicara—dan dia segera melakukannya (semua ini terjadi dalam sekejap momen yang mengerikan)—si kartunis pun menggunakan argumen yang tak terbantahkan.

“Lihat tanggalnya.”

Kata-kata itu memunculkan unsur baru yang sekilas meruntuhkan argumen soal koran tadi; sebab jika ada sesuatu yang selalu mencantumkan tanggal, itu adalah surat kabar harian. Sebuah penataan ulang gagasan yang rumit terjadi di benak si kartunis, berlangsung secepat kilat sebagaimana lazimnya momen-momen penuh ketegangan tinggi. Dia merasa telah menuntaskan persoalan itu sepenuhnya dengan merujuk pada bukti dari surat kabar; kini masalah tanggal memaksanya untuk membedah rincian spesifik dari bukti tersebut. Di sisi lain, hal itu juga memberinya semangat; dengan melontarkan pertanyaan tersebut, lawan bicaranya menunjukkan kesediaan untuk masuk ke ranah percakapan yang bersifat linguistik (dan juga numerik)—sebuah ranah di mana si kartunis merasa jauh lebih nyaman dibandingkan di dunia aksi nyata.

Akan tetapi, rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik—waktu yang ia butuhkan untuk memusatkan perhatian (keringat akibat kecemasan mengalir masuk ke matanya, mengaburkan pandangan) dan membaca tanggal yang dimaksud, yang tertulis tangan di bagian atas sampul. Buku-buku komik murah semacam itu hampir tidak pernah mencantumkan tanggal, sehingga para kolektor seperti dirinya harus menentukan tahun penerbitannya secara tak langsung melalui riset yang gigih dan melelahkan. Mereka melakukan perhitungan dan triangulasi, membandingkan gaya para kartunis serta tema yang diusung penulis naskah, sembari memanfaatkan rujukan-rujukan tak terduga pada peristiwa terkini yang terselip di tengah kisah petualangan yang melampaui batasan waktu. Segudang pengetahuan luas yang bersifat iseng dan penuh permainan dikerahkan; tak ada prestise ataupun penghargaan yang bisa diraih, tapi justru itulah yang membuatnya terasa semakin menyenangkan.

Tanggal yang tertera menunjukkan bahwa komik itu sudah berusia empat puluh tahun, diterbitkan saat mereka berdua masih kanak-kanak (sang kriminal dan si kartunis kira-kira seusia). Hal itu menjelaskan warna kertas yang menguning, tata letak panel yang rapi, gaya penyajian yang ketinggalan zaman, serta sudut-sudut halaman yang terlipat. Hal itu juga menjelaskan—dengan alasan yang kuat—mengapa silogisme si kartunis tidak mempan terhadap sang kriminal. Bagaimana mungkin seseorang berargumen bahwa komik yang diterbitkan empat puluh tahun silam didasarkan pada peristiwa yang diberitakan pers dalam beberapa bulan terakhir?

Lantaran usianya yang tua, unsur ini—secara paradoks—terasa terlalu baru untuk bisa langsung dipahami oleh si kartunis. Dia mencoba mundur sejenak dan menilainya dari kejauhan; bukan hanya untuk melihatnya dalam perspektif yang tepat, tetapi juga—jika bisa—untuk membawa percakapan itu ke arah yang lebih beradab, dan yang terpenting, untuk mengulur waktu—sesuatu yang, dalam situasi seperti itu, merupakan hal yang paling krusial:

“Aku seorang kolektor komik…”

Sang kriminal memotong ucapannya:

“Jangan ngibul.”

Kalimat andalannya muncul lagi! Namun kali ini, si kartunis memiliki bukti nyata untuk mendukung pernyataannya.

“Aku punya banyak koleksi komik, mulai dari tahun empat puluhan; aku sudah mengoleksinya sejak kecil... kau tak bisa bilang bahwa aku ngibul, karena kau sendiri melihatnya dan mengambil yang satu ini... aku tak tahu bagaimana kau bisa menemukannya begitu mudah—begitu saja—di antara ribuan komik dalam koleksiku... meskipun memang koleksi itu tertata rapi berdasarkan tahun, penerbit, dan judul...”

“Diam dan jelaskan—”

Kali ini giliran si kartunis yang memotong:

“Bagiku, menciptakan dan mengoleksi adalah dua kegiatan yang berjalan beriringan. Keduanya terpisah, tapi tak terelakkan lagi, saling memperkaya satu sama lain. Sebagian besar rekan seprofesiku juga seorang kolektor.”

“Apa peduliku? Kenapa kau ngibul? Benda ini”—sang kriminal mengguncang-guncang komik itu dengan kasar, meremasnya tanpa memedulikan nilainya sebagai barang koleksi—“tidak berasal dari berita koran, dasar bajing—!”

“Soal komik itu, sumpah deh... aku sudah benar-benar lupa. Kau sendiri lihat betapa banyak koleksiku: ribuan jumlahnya. Begitulah sifat kolektor, kami tak pernah merasa cukup. Pasti banyak yang bahkan belum sempat kubaca. Dari para maestro, aku hanya mengambil gaya gambarnya, sebisa yang kulakukan. Untuk alur ceritanya, aku mengandalkan surat kabar, laporan kriminal.”

Sang kriminal meledak amarahnya (ajaibnya, teriakannya tidak disertai gerakan menyentak pada pergelangan tangannya: gerakan sekecil apa pun bisa berakibat fatal).

“Apa maksudmu, hah? Polisi enggak tahu siapa aku, dan para wartawan pun tak punya petunjuk! Sekarang mereka jadi tahu, gara-gara kau!”

“Tapi aku kan mengikuti kasus-kasusnya lewat koran!”

“Nah, sekarang koran-koran itu yang akan mengincarmu, dasar sok pintar, tukang ngibul! Dan mereka tak perlu repot-repot bekerja, karena kau sudah membeberkan semuanya persis seperti kejadian aslinya, dan sosok di gambar itu jelas-jelas aku.”

“Enggak... aku enggak tahu... kau membuatku bingung. Kalau dipikir-pikir, mungkin aku memang memakai gambar sketsa polisi itu...”

“Ha!”

Sang kriminal tertawa sinis, penuh penghinaan terhadap sketsa kasar buatan polisi tersebut. Meski si kartunis sependapat, dia mencoba membela diri dengan lemah:

“Entahlah. Kadang-kadang hasilnya akurat juga.”

“Ayolah! Jangan membuatku makin marah... tidak, silakan saja! Teruskan saja ngibul, supaya aku hilang kendali dan menghabisimu sekalian—toh aku memang berniat melakukannya.”

“Tidak”

Itu adalah jeritan dari lubuk hati terdalam, dan getaran pita suara si kartunis membuat otot leher di tempat mata pisau itu menekan menjadi tegang dan berbahaya. Kedua pria itu berada dalam posisi yang canggung dan tegang; keduanya berdiri di tengah studio yang remang-remang, tubuh kekar sang kriminal menempel erat di punggung si kartunis—lengan kanannya menekuk dengan siku menonjol, menempatkan pisau tepat pada posisi untuk menggorok leher, sementara lengan kirinya melingkar ke sisi lain dalam posisi terentang untuk memegang buku komik. Pemandangan itu hampir menyerupai sebuah komposisi patung, kecuali adanya getaran pada tubuh salah satu sosok, sentakan-sentakan kecil yang ekspresif dari sosok lainnya, dan tentu saja, bibir keduanya yang terus bergerak. Sulit membayangkan bagaimana komposisi itu bisa tetap stabil di tengah gejolak emosi yang melingkupinya (balas dendam, teror). Namun, hal itu sebenarnya tidaklah aneh: patung pun diam tak bergerak, padahal sering kali—baik secara langsung maupun alegoris—patung-patung itu melambangkan gejolak emosi yang dahsyat, termasuk, tepatnya, rasa dendam dan ketakutan.

“Tidak,” ulang si kartunis. “Apa kau menuduhku melakukan plagiarisme? Mustahil... bukan karena aku peduli pada moralitas borjuis atau hak milik... aku bukan orang seperti itu...”

Dengan nekat, dia berusaha melunakkan hati penyerangnya dengan cara memihak sang kriminal. “Yang kupedulikan adalah inovasi, penemuan, dan penciptaan... lagipula, dunia komik itu ibarat sebuah klub penggemar; seperti yang kubilang, kami semua adalah kolektor, kami paham betul bidang ini, dan kami bisa mengenali karya jiplakan hanya dengan sekali lihat... Kami bahkan harus mewaspadai ingatan yang muncul tanpa sadar!”

“Apa yang kau bicarakan? Kenapa aku harus peduli dengan semua itu? Hidupku sedang dipertaruhkan di sini! Apa kau tak mengerti? Tidak, tentu saja tidak: kau terjebak dalam masa kanak-kanak; kau tak tahu apa-apa tentang kehidupan nyata.”

Si kartunis memanfaatkan kesempatan itu untuk mengalihkan pembicaraan, lalu berkata dengan gagap yang—seperti teriakannya tadi—muncul dari lubuk jiwanya yang terdalam:

“A-anak adalah b-bapak bagi orang d-dewasa.”

“Aku tahu itu, dasar berengsek! Dulu aku membaca komik ini saat masih kecil; aku membelinya begitu terbit, di kios di sudut jalan Lavalleja dan Bulnes, tempat gedung apartemen kumuh itu berada. Aku selalu menanti-nanti terbitannya setiap minggu. Aku bukan kolektor sombong yang bodoh; aku membelinya karena itulah satu-satunya cara bagiku untuk melarikan diri dari kenyataan hidup yang suram: kami miskin, ayahku dipenjara, dan ibuku menderita TBC. Dan komik ini, yang satu ini”—dia mengguncang-guncang komik itu dengan kasar, larut dalam kenangan masa lalu—“aku membacanya dengan sangat saksama, sungguh. Makanya aku langsung mengenalinya di antara ribuan komik lain, di antara tumpukan kertas tua yang kaukumpulkan itu.”

Si kartunis—yang seharusnya merasa terhibur oleh penemuan kesamaan ini, yaitu komik yang pernah mereka baca berdua, karena itu adalah sesuatu yang dia bagi dengan sosok yang sebelumnya tampak begitu asing—malah justru diliputi rasa takut dan keterasingan yang lebih hebat. Selain sesama rekan seprofesi yang memiliki keterikatan artistik atau profesional terhadap medium tersebut, dia tidak terbiasa berurusan dengan orang yang benar-benar membaca komik. Orang-orang yang membacanya demi isinya. Tentu saja dia tahu mereka ada. Namun, dia telah menutup kesadarannya dari keberadaan mereka. Dan mendapati dirinya tiba-tiba berada di tangan orang seperti itu—benar-benar dalam genggamannya dan bergantung pada belas kasihannya—membuatnya lumpuh ketakutan. Parahnya lagi, ketakutan itu tidak rasional; tak ada alasan yang bisa dia identifikasi maupun ungkapkan dengan kata-kata. Apa yang terjadi kemudian semakin menambah keanehan situasi tersebut. Sampai saat itu, sang kriminal bungkam seribu bahasa, tapi entah apa yang memicu dirinya untuk akhirnya angkat bicara:

“Ya, aku mengingatnya dengan jelas—setiap panel, gambar maupun teksnya, setiap garis, setiap kata. Padahal aku membacanya saat aku masih... entahlah, sepuluh atau dua belas tahun, dan aku tak pernah membacanya lagi sampai hari ini. Aku mengingatnya begitu lekat karena sebenarnya aku tak perlu bersusah payah mengingatnya. Bagiku, itu bukan sekadar komik biasa—tidak seperti bagimu yang memiliki ribuan koleksi; bagimu, komik-komik itu hanyalah objek obsesi, atau paling banter sekadar sumber ‘inspirasi’.” Saat ia melafalkan kata ‘inspirasi’ dengan penekanan khusus seolah memberi tanda kutip, alunan musik pelan mulai terdengar dari kejauhan—sebuah melodi yang terdiri dari nada-nada terputus, bernada rendah, dipetik dari alat musik dawai; terdengar jauh namun anehnya cukup keras. “Bagiku, komik itu memiliki makna yang sangat nyata. Entah mengapa Tuhan dan Iblis mengaturnya demikian, atau mengapa aku membacanya tepat pada masa perkembangan psikofisisku di mana komik itu pasti akan memberikan dampak terbesar bagiku. Dan sungguh luar biasa dampaknya! Komik itu telah menjadi jalan hidupku hingga hari ini. Setiap panelnya telah menjelma menjadi kenyataan: setiap kejahatan, setiap pelarian, setiap jurang kehancuran. Wajahku bahkan kini menyerupai tokoh utamanya, dan tak ada yang bisa menyangkal bahwa itu adalah aku…”

Si kartunis menyela: “Maaf, tapi enggak benar kalau komik itu bagiku hanyalah ‘komik biasa’.” (Penggunaan tanda kutip lisan itu membuat musik tadi berhenti.) “Aku tak mengerti bagaimana kau bisa berkata begitu, karena jika kau sungguh-sungguh memaksudkannya, kau takkan berada di sini. Komik itu adalah mahakaryaku, setidaknya di mata publik; komik itulah yang membuatku kaya dan terkenal.”

“Ayolah, jangan membohongi dirimu sendiri. Bagimu, semuanya sama saja. Kejahatan, kekejaman, darah, dan kengerian hanyalah umpan kelam yang kau gunakan agar komik itu laku keras; dan seandainya konsultan pemasaranmu bilang tren itu sudah usai dan ada hal lain yang lebih keren, kau pasti akan beralih ke hal itu.”

“Aku enggak punya konsultan pemasaran.”

“Kau melakukannya sendiri, aku tahu. Kau punya insting yang luar biasa untuk itu.”

“Intuisi artistik adalah satu-satunya pedomanku.”

“Ha!” Mata pisau itu menekan lebih keras.

“Tapi kalau begitu,” erang si kartunis—yang tidak kehilangan alur argumennya meski ada pisau di tenggorokannya—, “itu bukan urusanku. Aku tidak bersalah! Satu-satunya dosaku adalah merendahkan seniku demi keuntungan komersial; kaulah yang bertanggung jawab atas jalan hidupmu—kau sendiri, atau sosok anak kecil yang mudah dipengaruhi itu.”

“Jangan ngibul. Kau tahu betul kaulah yang bertanggung jawab... memang bukan atas bagaimana hidupku berakhir, tapi atas informasi rahasia itu, atas hukuman penjaraku...” Pikiran tentang penjara membuat amarahnya meluap, dan ia berteriak: “Kau harus membayarnya! Sekarang juga!”

“Tunggu! Mungkin kita saling salah paham, atau akulah yang tak mengerti. Bukankah kau bilang komik itu meramalkan setiap detail hidupmu sebagai penjahat, padahal saat itu aku masih duduk di bangku SD dan bahkan belum bermimpi menjadi kartunis? Jadi, apa tuduhanmu padaku?”

“Bahwa kau telah melaporkanku—memang menurutmu apa lagi?”

“Tapi bagaimana mungkin, kalau semuanya sudah dilaporkan sejak awal, ‘apriori’?”

“Begitulah caramu akan mati nanti: ‘apriori.’”

Musik kembali terdengar, persis seperti sebelumnya: nada-nada rendah yang bergema kuat, dengan jeda lebar di antaranya, membentuk melodi yang melampaui kemampuan manusia biasa.

“Tunggu, jelaskan dulu. Kalau aku memang akan mati”—ini kali pertama dia mengakui hal itu, meski tak diragukan lagi hanya sebagai cara untuk mengulur waktu—“setidaknya aku ingin tahu alasannya.”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”

Buku komik itu bergetar; sang kriminal masih memegangnya di depan wajah si kartunis, meskipun maksudnya sudah jelas tersampaikan. Lembaran kertas persegi panjang itu berwarna kekuningan, nyaris kecokelatan karena usia, namun tampak mencolok di tengah keremangan yang kian pekat. Suasana berubah menjadi kelam, seolah-olah berada di ambang kematian. Si kartunis merasakannya; jantungnya, yang sejak tadi terasa sesak, kini menciut kian hebat hingga mengeras bagaikan bola besi. Ia tak kuasa menahan isak tangis:

“Kau pelakunya, kau dan komik itu... bukan aku... komik itu dan kau...”

“Tapi tak ada seorang pun yang tahu.”

Penekanan lisan pada kata-kata itu menambahkan irama ‘tom-tom’ yang asing dan terdengar dari kedalaman bumi, menyertai nada-nada musik yang terus mengalun sejak tanda kutip terakhir.

Meski pikirannya berkabut oleh kecemasan, si kartunis menyadari betapa tak terbantahkannya kalimat yang baru saja didengarnya. Dia merasa kalah dan kewalahan oleh kekalahan itu, tetapi dia juga tahu bahwa sifat tak terbantahkan semacam itulah yang mendominasi sepanjang percakapan mereka, bukan pengecualian. Jadi, masih ada secercah harapan, bagaikan cahaya di kejauhan: mungkin akan muncul argumen tak terbantahkan lainnya, kali ini dari pihaknya. Namun kemudian, sang kriminal pasti akan melontarkan argumen tak terbantahkan lainnya pula... Hal itu takkan pernah ada ujungnya. Hanya perbedaan kecepatan dalam menyusun argumen-argumen inilah yang bisa menentukan siapa yang unggul, dan dia merasa sang pembunuh lebih cepat. Itu bukan sekadar kesan; jelas sekali sang pembunuhlah yang selalu lebih dulu melontarkan argumen yang tak terbantahkan. Ada alasannya: kecerdikannya telah terasah seumur hidup karena terus-menerus menghindari kejaran hukum, sementara si kartunis—yang senantiasa membungkuk di atas meja gambarnya dalam ketenangan studionya—tak pernah menjalani “pelatihan” semacam itu. Dalam komik yang dia gambar memang ada konflik dan penyelamatan ajaib di saat-saat terakhir, namun semua itu bisa direvisi dan diperbaiki; terkadang dia butuh waktu berminggu-minggu hanya untuk merumuskan jawaban atau menentukan akhir cerita.

Kali ini, dengan mata pisau yang menempel di tenggorokannya, dia merasa tak akan pernah bisa menemukan jawaban, bahkan jika dia mencarinya selama keabadian. Dan sejujurnya (menurut versinya sendiri), setiap detik yang dia habiskan dalam posisi yang dipaksakan dan tak nyaman itu terasa bagaikan keabadian. Mungkin itulah sebabnya dia langsung melontarkan jawaban:

“Aku juga enggak tahu! Bagaimana mungkin aku tahu? Kau sendiri yang bilang: ‘tak ada seorang pun’ yang tahu.”

Tanda kutip yang diucapkan secara lisan itu menghentikan nada-nada musik berat yang telah mengalun sejak bagian sebelumnya; namun dentuman drum tom-tom terus berlanjut, kini dengan sendirinya.

“Sekarang semua orang tahu, gara-gara kau, si cepu busuk.”

Percuma saja. Tak ada gunanya bicara. Argumen-argumen yang tak terbantahkan dan tak bisa disanggah itu akan terus menyela. Meskipun, sebenarnya bicara bukannya tanpa tujuan. Selalu ada gunanya bicara, karena itulah satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Namun, sia-sia saja untuk terus bicara, karena saat kau akhirnya tahu apa yang terjadi, waktu telah berputar, berbalik arah, mempertemukan sisi depan dengan sisi belakangnya, dan persinggungan antara peristiwa masa lalu dan masa depan itu telah menciptakan tumpukan paradoks yang tak terpecahkan.

Maka terciptalah keheningan, yang diselingi oleh bunyi ‘tom-tom’ yang monoton. Keheningan itu menegaskan sikap diam tak bergerak para tokohnya. Namun, diam itu tidaklah mutlak: mereka tidak membatu ataupun membeku layaknya gambar mati. Getaran-getaran kecil menjalar di tubuh mereka; terjadi perubahan posisi yang nyaris tak kasatmata, tanpa mengubah postur tubuh secara keseluruhan: tumpuan berat badan berpindah dari satu kaki ke kaki lainnya, bahu bergerak maju atau mundur sedikit saja, mata berkedip, napas keluar-masuk di antara bibir yang sedikit terbuka—bibir yang sesekali dibasahi oleh lidah. Tangan kanan sang kriminal terus menggenggam pisau, dengan mata pisau menempel pada tenggorokan si kartunis, sementara tangan kirinya yang terentang memegang buku komik lama di depan wajah korbannya. Tak ada orang lain yang sanggup menahan lengan mereka dalam posisi itu begitu lama, tapi kehidupan layaknya hewan buruan telah memberinya kekuatan yang diperlukan. Setiap lengan menjalankan fungsinya: lengan yang memegang pisau membuat ancaman itu terasa nyata; lengan yang memegang komik menjelaskan serta memberi makna pada ancaman tersebut. Tanpa salah satunya, adegan itu takkan tercipta; adegan itu adalah hasil dari koordinasi keduanya. Sementara itu, si kartunis tetap diam tak bergerak karena alasan yang jelas: lehernya menegang dan meregang, matanya tertuju pada komik.

Pada satu titik, cahaya berhenti meredup; cahaya itu pun ikut membeku dalam keremangan yang samar. Tak ada perubahan mencolok dari awal adegan hingga saat yang tampak sebagai akhir adegan tersebut. Efek itu mungkin bersifat psikologis—ilusi alami seolah hari kian gelap, yang muncul akibat pengalaman kita sehari-hari kala senja tiba. Namun, siapa yang bisa memastikan bahwa peristiwa ini terjadi pada petang hari? Sumber cahaya samar itu bisa saja berasal dari matahari pagi yang sinarnya tertutup awan atau tersaring oleh daun jendela maupun tirai jendela; bisa jadi pula cahaya itu berasal dari bulan—bulan purnama pada langit tengah malam yang cerah. Pencahayaan itu bahkan bisa saja merupakan hasil kombinasi atau pergantian berbagai waktu dalam sehari, atau gabungan dari semuanya. (Sumber cahaya buatan tak mungkin menjadi penyebabnya, mengingat adanya pemadaman listrik yang melanda kota.)

Selain kedua pria itu, studio tersebut tampak mati dan tak bernyawa. Sungguh sia-sia jika mencari lalat yang berdengung, semut yang melintasi lantai, secarik kertas yang bergerak tertiup angin, tetesan air dari keran, atau butiran debu yang menari-nari di udara. Seolah-olah elektron pun telah membeku di orbitnya masing-masing. Segala sesuatu yang memiliki kemampuan untuk bergerak kini terpusat pada dua sosok yang berdiri dan saling mengunci di tengah ruangan. Mereka benar-benar berada di titik pusat geometris ruangan persegi itu, dan ruang kosong di sekeliling mereka membuat hal tersebut kian nyata; papan gambar dan kursi ergonomis telah terjungkal serta tercerai-berai akibat pergulatan itu. Keempat dinding, yang berjarak sama dari kedua sosok manusia tersebut, seluruhnya dipenuhi rak yang sarat dengan buku komik; hanya punggung buku yang ramping yang terlihat, berjejalan rapat satu sama lain dari dinding ke dinding serta dari lantai hingga langit-langit.

Bagaimana mungkin dua makhluk yang begitu berbeda bisa berada di tempat dan waktu yang sama?

Mengingat keheningan dalam kebuntuan mereka, seseorang bisa saja memotong dan memisahkan keduanya (tentu saja dalam tiga dimensi)—melepaskan pelukan yang berpotensi berujung kekerasan itu—lalu menempatkan sosok-sosok terpisah tersebut ke dalam adegan lain: sang kriminal yang sedang atau hendak menggorok leher salah satu korbannya—misalnya, seorang wanita tak berdaya; atau si kartunis yang merasa ngeri melihat hasil cetakan buruk yang merusak karya yang telah ia sempurnakan selama berbulan-bulan. Tidak diperlukan perubahan atau penyesuaian apa pun: postur dan gerak-gerik yang sama, serta ekspresi wajah yang sama, dapat berfungsi dengan baik dalam berbagai situasi berbeda—begitu pasnya hingga tak seorang pun akan menyadarinya.

Akhirnya, bagian atas tubuh kedua sosok itu—mulai dari pinggang ke atas—mulai condong ke depan secara bersamaan. Posisi relatif lengan dan kepala tetap sama, meskipun wajah mereka memancarkan cahaya kelabu yang samar. Gerakan condong itu melambat hingga tak lagi kasatmata; tapi setelah selang beberapa saat, terlihat jelas bahwa wajah mereka kini sedikit lebih dekat ke lantai. Seolah-olah mereka sedang membungkuk untuk mencari sesuatu di dekat kaki mereka secara bersamaan. Namun, tampak pula seolah-olah mereka sedang mengalami kelelahan material, dan engsel atau sendi pada pinggang mereka mulai kendor.

--

Catatan penerjemah:

*) Ungkapan anak adalah bapak dari orang dewasa ini bermakna bahwa karakter, kebiasaan, dan pengalaman masa kecil seseorang adalah pembentuk utama siapa dirinya ketika dewasa.

**) Apriori: Mengambil kesimpulan sebelum mengetahui, melihat, atau menyelidiki keadaan yang sebenarnya, atau bisa juga sebelum seseorang itu mengalaminya sendiri.

Cerpen berjudul The Criminal and the Cartoonist ini terhimpun di buku The Musical Brain karya Cesar Aira versi terjemahan Inggris Chris Andrews, dan dialihbahasakan secara suka-suka ke dalam bahasa Indonesia oleh Yoga Akbar S.

0 Comments