Sekarat pada Tanggal Tua

Setiap akhir bulan, layar ponselmu menjadi jendela yang menolak memperlihatkan cuaca. Angka-angka di layar ponselmu juga berubah menjadi hantu. Mereka melompat dari rekening bank, menjelma tagihan sewa kontrakan, tagihan token listrik yang bersiul, dan apa saja yang bisa menguras saldo. Sisa saldo di rekeningmu akhirnya hanya bisa melipat dirinya sendiri bagai surat-surat lama yang lupa kau kirimkan kepada dirimu yang jauh lebih muda.




Gajimu adalah air dingin di tumbler yang bocor. Ia mampir sebentar, memberi kesegaran palsu, lalu lenyap diisap mulut-mulut jahanam yang tak pernah kau kenal. Kau bertahan hidup dari tanggal satu ke tanggal satu berikutnya, bukan sebagai manusia yang merencanakan masa depan, melainkan sebagai lilin lelah yang dipaksa menyala di tengah terpaan angin, menunggu kapan ia akan habis menjadi leleh.

Malam ini, di atas kursi plastik retak itu, kau hanya bisa menghitung berapa kali tubuhmu harus pergi bekerja agar rumah tidak terasa terlalu lapar. Kenapa gajimu selalu datang seperti tamu yang terburu-buru? Ia melepas sepatu di pintu depan, tersenyum tipis, lalu menghilang sebelum kau sempat menyeduh secangkir teh manis untuk kalian berdua.

Di layar ponselmu, seorang lelaki tambun tersenyum sangat lebar dan tampak arogan. Matanya tidak pernah menatap rakyat. Ia mengucapkan kata-kata tolol dengan cara seseorang mengeja nama tempat di Prancis, Rusia, atau di mana pun yang belum pernah kaukunjungi.

Kau mengutuk mereka dalam diam yang paling bising. Para penguasa yang mencuri masa depan dari dompet rakyat kecil, yang membakar hutan untuk ladang bisnis, yang membangun jalan tol di atas tanah yang tak pernah bisa kalian beli, atau singkatnya para bangsat yang memotong anggaran hidup rakyat untuk kemewahan kroni-kroninya.

Mereka seakan-akan mengajari kita bahwa kemiskinan adalah akibat dari kurang berusaha dan berdoa, padahal kau tahu, kemiskinanmu adalah mahakarya dari tangan-tangan korup yang membagi dunia menjadi dua kamar: 1) kamar beratap emas di mana uang, makanan enak, dan segala hal sangat melimpah; 2) kamar sempit tanpa jendela di mana kau dan orang lain harus berebut sisa udara demi bertahan hidup.

Kau muak dan mematikan layar. Kamar mendadak menjadi lebih hening dan asing. Kau tahu, kemiskinan bukan tentang tidak memiliki apa-apa. Ia adalah sebuah perasaan bahwa masa depan sedang ditaruh di rak paling atas toko, dan tubuhmu tak pernah cukup tinggi untuk menjangkaunya. Setiap kali kau mencoba menabung sedikit harapan, lantas biaya sewa rumah dan harga bahan bakar minyak menjelma pemborosan.

Malam pun semakin larut di luar jendela. Kau akhirnya terlelap sejenak, dan tiba-tiba sudah pukul lima pagi. Alarm ponsel sialan itu berteriak dan tidak membiarkanmu bermimpi lebih lama. Bunyi itu entah kenapa selalu mengingatkanmu pada pintu yang dibanting. Dan sekarang, tentu giliran tubuhmu yang harus banting tulang.

Kau membasuh wajah dengan air keran yang dingin, menatap cermin yang menyimpan bayangan lelaki gagal, yang entah bagaimana semakin mirip dengan bab terakhir novela Osamu Dazai.



Dalam perjalanan menuju kantor, kota ini terlalu sibuk untuk bertanya kepadamu: Apakah kau sedang berangkat bekerja atau sedang berjalan pelan-pelan mendekati kepunahanmu sendiri?

0 Comments