Hari Ini Usiaku 31 dan Aku Ingin Merayakan Cukup

Ulang tahun selalu punya cara tersendiri untuk mengetuk pintu perenungan. Kadang dengan ketukan yang lembut, dan tak jarang berupa gedoran yang bikin kaget. Ketika angka di kalender jatuh pada tanggal 24, dan usiaku menyentuh angka 31, ketukan itu rasanya berbeda. Ia tidak lagi berbunyi seperti gejolak masa muda yang menuntut perayaan atau ucapan selamat yang berisik dari kawan-kawan dekat. Kali ini, ketukan itu membawa sebuah kenyataan baru yang bernama: rumah tangga. Ini adalah ulang tahun pertamaku yang dirayakan bersama seorang perempuan yang delapan bulan lalu resmi mengikat janji bersamaku, yakni seorang istri.



Bagi seorang lelaki yang terbiasa menghidupi diri sendiri dengan kesederhanaan (dibaca: mengandalkan upah kerja yang ala kadarnya dan memang gajinya cuma cocok untuk hidup sendiri), lantas ketika harus hidup bersama orang lain di dalam satu atap, itu merupakan sebuah lompatan iman yang luar biasa. Saat bokek pada masa lajang, bagiku itu terkadang bisa terasa romantis dalam takaran tertentu. Misalnya, aku bisa makan mi instan dua hari berturut-turut sambil menunggu tanggal gajian sekalian merenungi nasibku pada masa depan tanpa perlu merasa bersalah pada siapa pun kecuali pada lambungku sendiri. Namun, ketika ada orang lain yang memilih untuk hidup bersamaku, makan mi instan dua hari berturut pun bisa menjelma menjadi sebuah bentuk rasa bersalah yang mengganjal di dada, hingga akhirnya kepikiran, dan bahkan jadi susah tidur.

Di usia tiga puluh satu ini, jujur saja, isi kepalaku lebih banyak dipenuhi oleh angka kalkulasi ketimbang kata-kata untuk puisi. Sisa-sisa angka yang telah dikurangi berbagai tagihan dan biaya kebutuhan itu bagaikan hantu yang paling rajin bergentayangan saban akhir bulan, tepatnya sekitar seminggu sebelum tanggal gajian. Yah, risiko menjadi seorang kurir dokumen di sebuah perusahaan kecil ini jelas tak bisa berharap gajinya besar. Walaupun terkadang ada tambahan uang jalan untuk membeli bensin, tapi belakangan ini harga kebutuhan pokok juga meningkat. Aku pun ingat betul ketika membeli nasi goreng langganan. Sejak awal kedatanganku, abangnya langsung berujar, “Mas, sekarang udah naik dua ribu ya, jadi tujuh belas ribu.” Aku kaget, tapi ya begitulah adanya. Semua ini imbas dari betapa tidak becusnya pemerintah dalam mengurus negara. Dolar meningkat dan katanya warga desa tidak menggunakan dolar dalam bertransaksi. Apa dia tidak memikirkan tentang segala macam barang yang harus impor? Itu memang bayarnya pakai apa? Ada-ada saja memang pemikiran seorang megalomaniak itu.

Namun, di antara semua huru-hara ini, setidaknya ada hal yang masih bisa aku syukuri: kami tidak perlu berutang hanya untuk menyambung hidup. Kami bisa terus bertahan dari bulan ke bulan, atau tepatnya dari tanggal gajian ke tanggal gajian, itu sudah lebih dari cukup untuk sementara ini.

Kami memang belum dikaruniai anak. Tuhan tampaknya tahu betul bahwa kami berdua masih butuh waktu untuk saling menyelaraskan langkah, atau mungkin Dia sedang memberi kami kesempatan untuk belajar mengurus diri sendiri terlebih dahulu, sebelum dititipi nyawa yang lain. Tapi ketiadaan anak bukan berarti kecemasan itu juga nihil. Perasaan waswas itu masih tetap ada, tipis namun tajam, terutama jika aku sedang berada di dapur untuk membuka kulkas.

Ada ketakutan yang aneh di kepalaku: bagaimana jika suatu hari saat aku membuka kulkas dan tak tersisa bahan masakan lagi, sehingga dapur itu berhenti ngebul? Bagaimana jika gas elpiji 3 kg habis sewaktu sisa saldo ATM bahkan sudah tidak memungkinkan untuk tarik tunai, atau sisa beras di dalam karung 5 kg sudah terlihat dasarnya, bahkan tak cukup untuk kami makan pada hari itu?

Bagi seorang suami baru, melihat dapur tanpa aktivitas memasak adalah bentuk kegagalan paling konkret yang visual. Maka, setiap kepulan uap dari panci atau penggorengan pada pagi hari, itu bukan sekadar tanda bahwa sarapan atau bekal makan siang sedang disiapkan oleh istriku. Itu adalah tanda kemenangan kecil. Kemenangan atas diriku yang masih sanggup memberikan uang belanja kepada istriku untuk dibelikan bahan-bahan dan diolah menjadi hidangan enak.

Sayangnya, dari kemenangan kecil itu pun tentu ada semacam kekalahan. Aku tahu betul, bahwa perempuan yang bersanding denganku ini pasti memiliki dunianya sendiri sebelum bertemu denganku. Dia punya daftar keinginan, kesenangan kecil, dan kebutuhan-kebutuhan khas perempuan yang dulu mungkin bisa dia penuhi sendiri atau dia impikan. Adakalanya aku ingin sekali bisa membelanjakannya segala macam kebutuhan skin care atau body care yang harganya setara dengan biaya sewa rumah kami sebulan. Aku ingin dia bisa merawat diri dengan kemewahan yang layak dia dapatkan karena telah sudi bertaruh nyawa dan masa depan bersama seorang lelaki yang modalnya sering kali cuma kerja keras sekaligus keras kepala, selalu berusaha bangkit walau jatuh berkali-kali, dan tumpukan koleksi buku fiksi ini.

Realitas sering kali mengetuk pintu perenunganku dengan keras. Alih-alih membawanya ke gerai kosmetik mewah di pusat perbelanjaan mentereng, aku sering kali hanya bisa menemaninya jajan es krim di Mixue, atau beli martabak manis rasa keju, sebab dia sendiri suka bilang kalau lebih baik uang kas kami dialokasikan untuk hal-hal dasar dalam bertahan hidup.

Ada rasa perih yang samar di sudut hati setiap kali momen itu terjadi. Setelah aku ingat-ingat, aku hanya pernah membelikannya sepaket lengkap body care dan skin care saat menjadikannya seserahan pernikahan. Selebihnya, ya hanya parfum botolan yang harganya tak lebih dari seratus ribu. Ada semacam gengsi lelaki yang runtuh sedikit demi sedikit ketika menyadari bahwa aku belum mampu memanjakannya dengan materi duniawi yang barangkali bagi sebagian orang adalah hal yang sepele. Kala aku melihat wajahnya yang polos tanpa riasan mahal, dan dalam hatiku berjanji, entah kapan (dan tentunya jika keuangan kami membaik), aku harus membelikan apa yang dia inginkan. Tapi untuk sekarang, dia hanya tersenyum, menerima apa adanya, dan keikhlasannya itu justru membuat rasa bersalahku kian berlipat ganda.

Meski demikian, di tengah semua kecemasan yang mengepul dan kemewahan yang tertunda itu, ulang tahunku yang ke-31 ini memberikanku sebuah perspektif baru tentang esensi dari kata cukup. Kami mungkin tidak merayakan hari lahirku di restoran dengan penerangan temaram dan menu berbahasa Prancis yang namanya sulit. Perayaan kami hanya berupa makan puas di Hokben. Kami memesan paket bertiga untuk dimakan berdua karena entah kenapa sore itu kami merasa sedang lapar-laparnya. Aku juga sadar bahwa dalam kesederhanaan yang dipaksakan oleh keadaan itu, aku menemukan sesuatu yang mewah: rasa aman karena tidak lagi sendirian.


Ditambah lagi, istriku ternyata diam-diam memberikanku sebuah kado: voucer untuk membeli buku senilai dua ratus ribu yang tentunya digambar sendiri. Sepertinya dia paham bahwa sejak dulu aku gemar sekali jajan buku saban sebulan sekali. Minimal ada satu buku yang aku beli dari gajiku. Tapi semenjak menikah, aku memang nyaris tak pernah beli buku lagi. Selama kami menikah, rasanya hanya ada 2 buku yang kubeli pakai uangku sendiri. Satu buku untuk diriku, dan satu lagi untuk istriku. Maka, kali ini uang dua ratus ribu itu pun aku pergunakan sebaik-baiknya dan berhasil memperoleh tiga buah buku.




Aku kini sadar bahwa buku bukan lagi hal utama yang harus ada dalam hidupku. Yang terpenting sekarang jelas makanan. Walaupun Tan Malaka sempat berujar, “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.” Untuk pakaian, aku jelas sanggup menahan diri untuk mengurangi uang belanja yang terkait dengan fesyen, tapi tidak untuk makanan. Aku tak mau kelaparan lagi seperti dulu ketika masih bekerja lepas. Aku tak mau sesekali mengirit makan cuma sekali dalam sehari. Aku menunda sarapan dan makan siang, lalu sorenya baru membeli nasi padang langganan yang porsinya banyak agar malamnya tak usah membeli makan. Aku tak mau semenyedihkan itu lagi. Toh, dalam setahun kami masih berusaha mengupayakan ada beberapa buku yang kami beli untuk dibaca.

Bisa tetap bertahan hidup dari bulan ke bulan, dari tanggal gajian ke tanggal gajian, tanpa perlu menengadahkan tangan atau meminta bantuan orang lain, ternyata adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan dengan khidmat. Di dunia yang serbacepat dan menuntut pamer ini, bisa bernapas lega pada akhir bulan karena semua tagihan dasar terbayar adalah bentuk kemerdekaan sejati bagi kami berdua.

Aku mulai belajar untuk tidak mengukur kebahagiaan pernikahan kami dari apa yang belum bisa kami beli, melainkan dari apa yang sudah kami miliki dan berhasil kami jaga. Kami hidup sehat, kami memiliki tempat bernaung yang bisa kami sebut rumah—walau masih mengontrak, dan kami memiliki tawa yang lepas saat menonton Netflix, dan yang paling penting, kami memiliki keyakinan satu sama lain untuk terus tumbuh bersama.

Istriku, dengan segala kesederhanaannya, telah mengajariku bahwa dapur yang ngebul tidak selalu harus menghasilkan hidangan bintang lima. Sayur sop dan tempe goreng pun sudah menjadi santapan nikmat. Yang penting adalah api kompor itu bisa tetap menyala, yang seakan melambangkan harapan yang tak boleh padam. Dia tak pernah mengeluh tentang skin care-nya yang minimalis, karena mungkin baginya, kehadiranku yang utuh dan usahaku yang tak pernah putus adalah bentuk perawatan terbaik bagi ketenangan jiwanya.

Ulang tahun ke-31 ini akhirnya berlalu bukan dengan tiupan lilin yang megah, melainkan dengan doa-doa yang diucapkan dalam hati sebelum mata terpejam pada malam hari.

Aku memandangi wajah istriku yang tertidur di sampingku. Di bawah temaram lampu kamar, dia tampak begitu damai. Kecemasan-kecemasanku tentang penghasilan yang pas-pas-an, tentang masa depan yang masih berkabut, perlahan-lahan luruh berganti menjadi sebentuk rasa syukur yang penuh.

Aku mungkin belum menjadi suami tajir yang bisa membelikan dia ini dan itu. Aku masihlah Yoga yang sama, yang harus bertarung dengan tugas kurir demi menyambung hidup. Namun, memiliki istri pada usia tiga puluh satu ini membuatku merasa kaya dalam artian yang berbeda. Kami sedang membangun fondasi, batu demi batu, semen demi semen, dari tingkat ekonomi yang paling bawah. Dan itu ternyata tidak apa-apa.

Hidup dari bulan ke bulan adalah sebuah seni bertahan hidup yang indah jika dijalani bersama orang yang tepat. Maka, untuk tahun-tahun yang akan datang, biarlah cemas itu tetap ada sebagai pengingat agar aku tidak menjadi orang yang malas. Aku ingin menjadikan rasa syukur yang memenangkan pertempuran di dalam kepalaku. Selama kompor di dapur masih bisa menyala dan kami masih bisa makan bersama di satu meja, maka hidup ini sudah lebih dari sekadar cukup. Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri, dan terima kasih untuk perempuan yang telah sudi merayakannya bersamaku dalam sepi yang paling bising.

--

Draf ini tertulis sejak 24 Mei, tetapi karena berbagai kesibukan kerja, aku tentu baru bisa mengeditnya sekarang.

0 Comments