Biografi Lelaki yang Terjebak Insomnia

Pukul satu dini hari adalah waktunya sebuah mesin berhenti berputar, tapi kabel-kabel di kepalaku masih saja dialiri arus yang ramai dan berisik. Laptop sudah kututup, dan bunyinya tadi seperti berita kematian bagi kata-kata yang belum sempat terlahir. Aku memasang earphone di telinga, membiarkan musik menjadi dinding kedap suara yang memisahkan aku dari kesunyian kamarku sendiri. Di telingaku, sebuah lagu berkata bahwa Jatuh Cinta Itu Biasa Saja, sementara di dadaku, rindu justru sedang tumbuh menjadi raksasa yang menolak untuk tidur.



Hujan di luar kamar adalah laporan cuaca yang egois. Ia jatuh di Palmerah sebagai pembatas jalan, membuat jarak antara aku dan Stasiun Buaran terasa seperti petualang yang gagal menjelajah. Aku ingat bagaimana ponselku bergetar, menampilkan namamu berulang kali, dan itu seperti ketukan jari pada kaca jendela yang buram. Aku cuma bisa terdiam. Aku tiba-tiba menjadi aspal yang menolak basah, atau menjadi selembar peta yang enggan menunjukkan arah karena langit sedang tumpah-ruah.

Namun, ketika langit mulai berhenti menangis, aku meletakkan kemalasanku di rak sepatu. Di dalam mimpiku, aku memakai sepatu, mengikat tali-talinya seperti mengikat kembali janji yang sempat mengendur. Aku menembus sisa gerimis, mengubah tubuhku menjadi kendaraan yang hanya memiliki satu tujuan: titik koordinat di mana kau berdiri sebagai penantian yang mulai kedinginan.

Sekarang, kita adalah dua orang yang duduk di hadapan dua piring nasi jeruk dan sei sapi di sebuah kedai makan cepat saji kawasan Rawamangun. Di bawah lampu yang terlalu terang, aku memandangi frame kacamata yang membingkai matamu. Kau sebetulnya tidak ada dalam daftar kriteria yang pernah kususun di buku catatan gadis impianku. Kau tidak mancung, tubuhmu terlalu mungil, dan kau sering manja hingga terkadang menyebalkan, tetapi kau juga adalah perempuan yang membuat semua logikaku berantakan.

Aku melihat diriku sendiri di pantulan kacamatamu: seorang lelaki dengan ijazah SMK karena perkuliahanku digagalkan motif-motif ekonomi, seorang buruh yang dipaksa mengubur jenjang kariernya sendiri, seorang penulis yang kehilangan kemampuan bercerita serta pembacanya, dan sebuah masa lalu yang penuh lubang.

Namun, mengapa kau memilih untuk menetap di sebuah rumah yang konstruksinya belum selesai ini? Mengapa kau memercayakan detak jantungmu pada seseorang yang bahkan sering gagal memahami dirinya sendiri?

Di sini, di antara aroma daging dan suara kendaraan Jakarta Timur, aku paham bahwa kita bukan sedang membangun monumen cinta yang megah dan penuh hiasan. Kita hanya dua manusia yang tidak sempurna, yang sepakat untuk saling meminjam bahu. Cinta bagi kita bukan lagi tentang kembang api yang meledak indah di langit kemudian hilang, melainkan tentang cara kita mencuci piring bersama, bersih-bersih ruangan, dan saling memperbaiki ibadah kepada Tuhan.

Kita tidak sedang menjalani cinta sebagai sebuah pertunjukan seni. Kita sedang berusaha menghidupinya, bagai udara yang masuk dan keluar lewat paru-paru, sebuah proses yang biasa saja, tapi tanpa hal itu, kita tentu akan binasa.



*

Di dalam kamar ini, buku-buku adalah barisan penonton yang diam. Mereka menyaksikan aku tumbuh menjadi seorang lelaki yang merawat luka seperti memelihara tanaman dalam pot. Aku menyiraminya setiap pagi dengan air mata yang kurahasiakan dari cuaca. Aku pernah berpikir bahwa cinta adalah sejenis bahasa asing yang tak ingin lagi kupelajari tata bahasanya. Bagiku, ia hanya menyerupai kutipan dari sebuah film lama tentang penderitaan yang tak punya titik henti.

Dulu, kejujuran adalah surat-surat yang alamatnya sengaja kuhapus. Aku selalu memberikan seluruh hatiku, tapi yang kembali ke genggamanku hanyalah sisa-sisa pengkhianatan yang dingin atau komitmen yang hangus sebelum sempat dirayakan. Aku menjadi penghuni setia dari sebuah alamat yang bernama kesepian, bersembunyi di balik hujan yang aku buat sendiri, lantas berpura-pura bahwa puisi adalah satu-satunya atap yang tidak akan bocor.

Hampir lima tahun aku adalah sebuah pintu yang selalu terkunci. Aku menolak setiap ketukan, menganggap setiap senyuman dari lawan jenis adalah jebakan yang hanya akan menambah daftar trauma di dalam kepala maupun hatiku. Aku begitu yakin bahwa kegelapan adalah nama belakangku yang paling cocok.

Namun, tidak ada musim hujan yang abadi, bukan? Suatu pagi, aku memutuskan untuk berhenti menjadi sampah. Aku memanjat keluar dari jurang yang paling sunyi, mencuci wajahku dari bekas-bekas duka, dan berjalan menuju sebuah toko buku. Di sana, aku melihat seorang perempuan dengan jilbab berwarna tenang, yang senyumnya adalah tanda baca paling tepat bagi kalimat-kalimatku yang panjang dan berantakan. Selama setahun, aku hanya berani menatapnya dari seberang jalan, seperti seseorang yang ingin meminjam buku tapi takut merusak sampulnya.

Lalu, pada suatu Hari Kemenangan, ketika kota sedang lengang dan kehilangan separuh penghuninya, aku memberanikan diri untuk menyapanya. Di balik keramahannya, aku menemukan sesuatu yang akrab: sebuah luka yang ia simpan rapi di antara rak-rak buku. Kami berbicara, dan aku sadar bahwa kami adalah dua naskah yang ditulis oleh kesedihan yang sama. Ia juga pernah memilih sunyi selama bertahun-tahun, lelah pada janji-janji yang hanya berakhir sebagai catatan kaki yang diabaikan.

Aku melihatnya, dan hatiku seperti menemukan frekuensi radio yang sudah lama hilang. Aku tidak ingin lagi menjadi satu-satunya pembaca bagi kesepianku sendiri. Maka aku bertanya kepadanya, “Maukah kau membangun perpustakaan bersamaku?”

Ia menjawabnya dengan sebuah pena yang mulai menari di atas buku jurnal harian. Sudah dua caturwulan ini kami menyusun lembaran-lembaran yang penuh dengan tawa, meski sesekali ada tetesan air mata yang jatuh sebagai tinta. Tapi kami membiarkan semuanya tumbuh secara alami, tanpa perlu memberikan rasa manis yang dipaksakan.

Saat ini kami sedang menulis sebuah cerita di mana tidak ada lagi tokoh yang harus pergi, dan isinya hanya dua orang yang akhirnya mengerti bahwa rumah bukan lagi sebuah tempat, melainkan sebuah percakapan yang tidak pernah selesai.

0 Comments