Saat aku iseng membaca ulang dua buah cerpen di buku What We Talk About When We Talk About Love garapan Raymond Carver, aku langsung terfokus dengan gaya menulisnya yang minimalis dan otomatis jadi teringat nama Hemingway. Tulisan Carver juga tergolong sederhana, lugas, dan tanpa ada metafora yang meliuk-liuk. Ini sangat berbeda dengan penulis Amerika Latin, khususnya Bolaño, yang dalam lima tahun terakhir aku geluti. Mayoritas penulis Amerika Latin, sejauh yang aku tahu, senang betul menggunakan kalimat-kalimat panjang. Berarti Amerika dan Amerika Latin ini benar-benar bertolak belakang, ya?
Aku sepertinya memang harus mulai membebaskan diri dari penjara bacaan yang kuciptakan sendiri. Aku mesti menjajal lagi penulis-penulis lain agar dapat terlepas dari bayang-bayang Bolaño. Beliau sendiri bahkan pernah memberikan nasihat dalam salah satu esainya tentang Seni Menulis Cerpen dengan membaca buku-buku Chekhov dan Raymond Carver.
Baiklah, sekalian saja kubaca ulang semua isi buku ini hingga tamat.
Sebagian pembaca menyukai akhir cerita yang pasti, entah itu bahagia ataupun sedih, sementara sebagian yang lain justru menggemari akhir kisah yang menggantung. Bagiku sendiri, selama ceritanya dituturkan dengan baik, aku tak masalah dengan bentuk akhirnya. Akan tetapi, semakin ke sini, lama-kelamaan aku sepertinya berubah menjadi tipe yang kedua. Ketimbang hasilnya tak sesuai dengan keinginan kita, cerita yang menggantung terasa lebih cocok karena menyediakan ruang kepada pembaca untuk menerka-nerka kelanjutan kisahnya, bahkan mencoba untuk menganalisisnya. Ya, bisa dibilang sekalian melatih daya imajinasi kita. Mayoritas tulisan Raymond Carver dalam kumpulan cerpen ini termasuk ke jenis cerita dengan akhir yang menggantung, bahkan cenderung ambigu.
Ketika awal-awal membaca, aku pun sampai membatin mengapa ceritanya berakhir begitu, ya? saking ambigunya. Namun, saat aku baca ulang, aku justru terpukau dengan gaya penulisannya yang minimalis dan menerapkan teknik “show, don't tell”. Jadi, sang penulis cuma menunjukkan sebuah adegan kepada pembacanya tanpa repot-repot menjelaskan mengapa kisahnya begini dan begitu.
Menurutku, di situlah letak efektivitasnya. Aku kira Carver dengan sengaja menahan informasi pada cerita-ceritanya dan membiarkan pembaca berspekulasi sendiri. Misalnya, pada cerpen yang berjudul Satu Hal Lagi. Kisahnya cuma menunjukkan seorang istri yang menyuruh suaminya minggat, sebab saat pulang kerja itu sang istri mendapati suaminya sedang mabuk-mabukan lagi dan merundung anak gadisnya sendiri.
Suami itu tentu enggak terima kalau dia diusir. Dia pun membuat keributan dengan memecahkan beberapa perabotan dan berujung ancaman dari sang istri yang ingin menelepon polisi. Akhirnya, sang suami pun terpaksa menuruti kemauan istrinya. Akan tetapi, sebelum sang suami benar-benar meninggalkan rumah, dia ingin sekali mengatakan satu hal lagi kepada istri dan anak gadisnya. Namun, entah mengapa suaminya malah mendadak bingung mau bilang apa. Cerita pun berakhir sampai di situ.
Nah, timbul pertanyaan di benak pembaca, apa, sih, kira-kira yang ingin diucapkan sang suami? Berkat hal semacam itulah aku jadi lebih leluasa membayangkan motif para karakternya. Mungkin Carver ingin menunjukkan sisi kelam manusia tanpa perlu berterus terang, serta mengisahkan kesepian dan kesedihan hidup tanpa harus mendramatisasi.
Aku masih memegang buku bersampul biru itu dan berpikir bahwa makna sesungguhnya dari cerita-ceritanya Carver kerap tersembunyi di bawah permukaan, selayaknya teori puncak gunung es. Dalam cerpen penutup yang bertajuk Satu Hal Lagi ini, aku pun sadar kalau Carver sedang menunjukkan kegagalan komunikasi dalam rumah tangga, dan itu sungguh tersirat sewaktu tokoh L.D. alias si suami tak tahu harus berkata apa lagi kepada istri dan anaknya.
Dari 17 cerpen yang terhimpun di buku tersebut, aku paling suka tiga cerita berikut:
Pertama, tentu saja yang dijadikan judul buku, Yang Kita Bicarakan saat Bicara tentang Cinta alias What We Talk About When We Talk About Love. Berkisah tentang dua pasangan (sang narator dan istrinya yang bernama Laura, serta Mel dengan Teresa—di dalam cerita disapa dengan nama Terri) yang sedang duduk-duduk minum gin sambil membicarakan soal cinta. Di tangan Carver, gin itu terasa sangat pahit. Mereka terjebak dalam definisi cinta yang bervariasi, mulai dari yang romantis hingga yang abusif. Ketegangannya merayap pelan, seperti cicak yang sedang mengincar laron di sekitar lampu, hingga akhirnya lampu itu mati, dan kegelapan pun memenuhi ruangan. Cerita ini barangkali adalah potret paling jujur tentang betapa kita yang tadinya merasa paling tahu cinta, tapi sebenarnya enggak paham apa-apa.
Kedua, Kenapa Kalian Tak Berdansa Saja? Cerita tentang seorang lelaki yang menempatkan semua barang rumah tangganya di halaman depan, menatanya persis seperti di dalam rumah. Sepasang anak muda lantas datang dan menawar barang-barang tersebut. Ada sesuatu yang sangat tragis melihat seorang lelaki mencoba menawarkan sisa-sisa hidupnya lewat perabotan dan berdansa. Apalagi sewaktu si cewek bilang ke pria itu, “Kau pasti putus asa atau semacamnya.” Cerita ini membuktikan bahwa benda mati benar-benar bisa menjadi saksi biksu atas tragedi patah hati. Perabotan rumah yang ditata di luar rumah itu sangat menjelaskan kalau si tokoh pria ini kehidupan rumah tangganya telah hancur.
Ketiga, Oleh-Oleh. Kisah bermula dari narator bernama Les yang berjumpa dengan ayahnya di sebuah bandara, kemudian justru berkelok menjadi sebuah cerita pengakuan dosa si Ayah. Jadi, si Ayah sudah usia 55 tahun dan baru saja bercerai dengan istrinya. Penyebabnya: perselingkuhan. Meskipun ini cerita fiksi, aku jadi penasaran apakah terjadinya puber kedua pada lelaki tua itu benar-benar nyata?
Berawal dari ciuman singkat si Ayah dengan seorang penjual keliling langganan istrinya ketika si istri lagi enggak berada di rumah, lalu kekhilafan itu malah berlanjut pada hari lain dengan tidur bareng di rumah si cewek sampai-sampai kepergok oleh suaminya. Sewaktu si Ayah yang meminta pemakluman kepada anaknya lantaran selama ini belum pernah berkhianat, dan baru sekali itu saja bobo bareng, aku sebagai pembaca pun tetap merasa marah. Di dalam kamus hidupku, mau sekali ataupun berkali-kali, pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Mungkin karena itulah Les juga mendengarkan ceritanya seperti ogah-ogahan supaya obrolan mereka cepat berakhir.
Ironisnya cerpen ini: pada momen si Ayah bermaksud menitipkan oleh-oleh berupa permen atau cokelat buat cucunya itu dan berakhir ketinggalan di suatu bar tempat mereka mengobrol sebetulnya konyol, sebab Les sejatinya sudah menerima oleh-oleh berbentuk cerita perselingkuhan. Les sepertinya sengaja meninggalkan bungkusan oleh-oleh itu karena kecewa dengan kelakuan ayahnya. Si Ayah yang bermaksud memberikan oleh-oleh untuk cucunya berupa hal manis, padahal hidupnya sendiri berakhir sangat pahit. Apa yang membuatku suka dengan cerita ini, jelas karena kisahnya dituturkan oleh sang anak yang menjadi pendengar sebuah pengakuan dosa ayahnya, dan bukan dari si Ayah yang melakukan pengkhianatan, sebab bisa jadi kesan yang timbul akan jauh berbeda.
Selain empat cerpen yang aku bahas tadi, tentunya ada juga cerita yang menurutku biasa banget atau cenderung jelek atau barangkali akunya saja yang enggak paham apa maksud di balik ceritanya, sehingga malas untuk menuliskannya. Namun, di antara itu semua, terdapat segelintir daftar yang entah kenapa bikin jengkel dan tetap perlu ditulis demi membuang hawa negatif di dalam diri.
Dalam cerpen berjudul Aku Bahkan Bisa Melihat Benda-Benda Terkecil, misalnya. Aku sama sekali enggak sreg dengan cerita tentang narator yang penasaran dengan tindakan tetangganya di luar rumah, yang ternyata dia hanya menemukan beberapa siput di luar rumahnya. Cerita bergulir, dan aku bertanya-tanya: Apa hubungannya sebuah momen ketika sang istri melihat suaminya yang tertidur dan berdeham menelan dahak dengan siput berlendir di luar rumah? Ini si Carver lagi bercerita tentang apa, sih? Sumpah, enggak jelas banget. Apakah ada metafora di balik lendir itu? Entahlah.
Di cerita Mekanika Populer, sepasang suami istri yang sedang bertengkar hebat dan memperebutkan bayinya ini juga keterlaluan. Carver mungkin ingin menunjukkan kebrutalan manusia lewat kalimat-kalimat ringkas dan adegan singkat, tapi bagiku cerita ini ketegangannya terasa dibuat-buat hanya untuk mengejar efek kejut di kalimat terakhir. Cerpen yang sangat kurang memuaskan.
Sama halnya dengan cerpen Bilang ke Cewek-Cewek itu Kita Pergi, aku merasa bagian akhirnya digarap terlalu terburu-buru. Jadi, cerpennya berkisah tentang dua pria beristri yang pergi jalan-jalan untuk menghibur diri mereka, lalu di tengah perjalanan mereka berjumpa dengan dua cewek asing. Para pria ini tampak berusaha menggoda dan mengikuti si cewek-cewek. Membaca bagian itu pada masa sekarang, tepatnya ketika aku sudah menikah dan sangat berusaha menghargai perempuan, rasanya sungguh aneh. Mereka udah beristri, lho? Sebegitu gampangnya kah godain cewek lain? Walaupun aku paham Carver sepertinya ingin menunjukkan sisi gelap maskulinitas yang tertekan pada tokohnya, tapi transisi menuju tindakan brutal di akhir cerita terasa kurang emosional. Coba saja baca narasi berikut: “Bill jadi kepingin ngentot. Atau bahkan melihat mereka bugil. Tapi di sisi lain, kalau tak kesampaian juga tak apa-apa. Ia tak pernah tahu Jerry ingin apa. Tapi itu bermula dan berakhir dengan batu.” Aku rasa para pembaca bakal langsung paham bahwa di akhir cerita si Jerry membunuh cewek-cewek itu dengan batu. Namun, enggak ada penyebab yang seberpengaruh itu rasanya untuk membunuh perempuan asing yang semula mereka goda, kan? Apakah gagal menaklukkan cewek-cewek itu bikin si Jerry sebegitu murkanya? Cerpen ini sungguh terasa jelek dan terlalu berlebihan untuk menunjukkan sisi kelam seorang manusia.
Cerpen-cerpen di buku ini diterjemahkan oleh Dea Anugrah dan Nurul Hanafi. Aku tak tahu masing-masing dari mereka menerjemahkan yang mana saja lantaran tak ada penanda di setiap cerpen. Secara keseluruhan sudah terbilang oke karena proses membacanya lancar-lancar saja. Paling-paling hanya sedikit koreksi atau saran dariku untuk lebih bijak memilah padanan kata. Pada kata “kepingin” yang sempat aku kutip sebelumnya, mungkin bisa menggunakan “kepengin” yang jelas-jelas sesuai KBBI. Toh, itu kan ditulisnya dalam bentuk narasi, bukan dialog. Lalu diksi “perempuan lurus” di cerpen Oleh-Oleh apakah sebaiknya jadi “perempuan baik-baik” atau “perempuan terhormat” karena versi aslinya adalah decent woman? Jika “perempuan lurus” itu lebih cocok ke preferensi seksual. Tapi ya, tahu apa sih aku soal terjemahan?
Pada akhirnya, membaca What We Talk About When We Talk About Love ini berbeda dengan bayangan awalku. Tak ada itu kisah-kisah romansa yang manis, karena yang ada cuma kisah cinta pahit dan urusan-urusan lain yang gagal selesai. Carver seperti membuatku merasakan nasib apes ketika tiba-tiba taksi yang kutumpangi mendadak mogok di jalanan sepi pada tengah malam. Perasaan yang sungguh tidak mengenakan. Carver rasanya enggan menawarkan resolusi yang manis, apalagi pelukan hangat di akhir cerita. Tapi di sisi lain, dia seperti sedang menyuguhkanku cermin retak untuk melihat betapa rapuhnya manusia saat berhadapan dengan kisah cinta, dan ini terasa sangat jujur. Para karakter yang bermasalah ini meski begitu juga sedang mencoba bertahan hidup setidaknya untuk satu hari ke depan sambil berharap tak ada lagi keburukan yang datang.


0 Comments
—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.