Kunci untuk Membuka Salah Satu Rahasia Gelapmu

Aku duduk dan meluruskan kedua kakiku di teras depan toko buku Gramedia Matraman, yang posisinya dekat dengan tempatku memarkir motor. Dua jam sebelumnya, aku baru saja berkeliling di toko buku itu dan mengintip beberapa cerita dari buku-buku fiksi yang segel plastiknya telah terbuka. Sembari menunggu azan Asar dan setelahnya berniat untuk pulang, aku mengeluarkan buku Fragile Things karya Neil Gaiman yang belakangan ini selalu berada di dalam tasku. Aku mengenal nama Neil Gaiman pertama kali dari blog seseorang yang bernama pena Shakha Boy Original sekitar tujuh tahun lalu.
 
Baru sebagian cerita yang kubaca di buku itu, dan kebanyakan kupilih yang kisahnya tergolong singkat. Yah, mau bagaimana lagi, kemampuanku dalam membaca buku berbahasa Inggris memang belum terlalu lancar. Tapi terlepas dari hal itu, aku bisa-bisanya malah nekat menerjemahkan salah satu ceritanya di buku bloknot yang juga sering kubawa bepergian untuk mencatat berbagai hal.

 
 


Locks (Kunci)

Kita berutang satu sama lain untuk bercerita, sebagai manusia biasa, bukan sebagai ayah dan anak perempuan. Aku mengisahkan ini kepadamu untuk keseratus kalinya:

“Ada seorang gadis kecil bernama Goldilocks, sebab rambutnya panjang dan keemasan, dan dia sedang berjalan di hutan dan dia melihat—”

“—sapi.” Kau mengatakannya dengan pasti, teringat sapi dara tersesat yang kita lihat di hutan belakang rumah sebulan silam.

“Ya, mungkin dia melihat sapi, tapi dia juga melihat sebuah rumah.”

“—sebuah rumah besar yang bagus,” ujarmu kepadaku.

“Bukan, sebuah rumah kecil, semuanya dicat, rapi, dan teratur.”

“Rumah yang sangat besar.”

Kau memiliki keyakinan seperti semua anak berusia dua tahun. Aku berharap diriku juga memiliki keyakinan seperti itu.

“Ah, ya. Sebuah rumah besar yang bagus. Dan dia masuk…”

Aku ingat, seperti yang kukatakan, bahwa rambut tokoh wanita Southey telah menjadi keperakan seiring bertambahnya usia.

Wanita Tua dan Tiga Beruang…

Mungkin rambutnya pernah menjadi emas, sewaktu dia masih kecil.

Dan sekarang, kita sudah sampai pada buburnya,

“Dan itu juga—”

“-panas!”

“Dan itu juga—”

“-dingin!”

Dan kemudian, kita berseru, “pas.”

Buburnya dimakan, kursi bayi hancur, Goldilocks naik ke lantai atas, memeriksa tempat tidur, dan tidur dengan tidak sopan.

Tapi lantas beruang-beruang itu kembali.

Masih mengingat Southey, aku menyuarakan: Suara kasar Ayah Beruang membuatmu takut, dan kau menyukainya.

Kala aku masih kecil dan mendengar kisah itu, jika aku adalah siapa pun, aku merupakan si Bayi Beruang. Buburku dimakan, dan kursiku hancur, tempat tidurku ditiduri oleh seorang gadis aneh.

Kau terkikik ketika aku meratap bagai bayi, “Seseorang telah memakan buburku, dan dia telah memakannya—”

“Semuanya,” katamu. Begitulah responsnya, atau amin.

Beruang-beruang itu naik ke atas dengan ragu-ragu. Rumah mereka kini terasa kotor. Mereka sadar untuk apa kunci itu. Mereka mencapai kamar tidur.

“Seseorang sedang tidur di tempat tidurku.”

Dan di sini aku ragu-ragu, gema lelucon lama, kartun soft-core, berita utama yang kasar, di kepalaku.

Suatu hari mulutmu akan melengkung pada garis itu. Hilangnya minat, kemudian kepolosan. Kepolosan, seolah-olah itu adalah komoditas.

“Dan jika aku bisa,” ayahku menulis kepadaku, besar seperti beruang, ketika aku masih muda, “Aku akan memberimu mahar dengan pengalaman, tanpa pengalaman,” dan aku, pada gilirannya, kini akan meneruskannya kepadamu.

Tapi kita membuat kesalahan kita sendiri. Kita tidur dengan tidak sopan. Pengulangan ini bergema selama bertahun-tahun.

Saat anak-anakmu tumbuh besar, saat rambut hitammu mulai berwarna perak, ketika kau sudah menjadi wanita tua, sendirian dengan ketiga beruangmu, apa yang akan kaulihat? Kisah apa yang akan kauceritakan?

“Dan kemudian Goldilocks melompat keluar jendela dan dia berlari—”

Bersama-sama, sekarang: “Sepanjang perjalanan pulang.”

Dan kemudian kau berkata, “Lagi. Lagi. Lagi."

Kita berutang satu sama lain untuk bercerita. Saat ini aku bersimpati kepada Ayah Beruang. Sebelum aku meninggalkan rumah, aku mengunci pintunya, dan memeriksa setiap tempat tidur dan kursi saat aku kembali. Lagi. Lagi. Lagi.

 

Seusainya membaca kisah barusan, terus terang saja aku tak paham dengan apa yang Neil tulis itu. Namun, rasa penasaranku justru mengajakku untuk berselancar di internet dan mencari nama Robert Southey. Dia merupakan seorang penyair aliran Romansa asal Inggris, salah satu orang yang disebut “Lake Poets”. Cerita Goldilocks dan Tiga Beruang adalah salah satu karyanya. Aku kemudian membaca kisahnya yang versi terjemahan atau saduran di web berikut: Dongeng Cerita Anak.

Walaupun ingatanku samar-samar, sepertinya aku sempat membaca atau menonton kisah Goldilock dan Tiga Beruang pada masa kecilku. Ah, waktu sungguh berlari dengan kencangnya dan kini aku sudah bukan lagi seorang bocah. Usiaku kini sudah hampir kepala tiga dan rasanya terlalu banyak tanggung jawab yang mesti kupikul dengan sekuat-kuatnya. Biarpun menjadi dewasa itu rumit, setidaknya aku sedang berada di sini, di toko buku, tempat yang entah mengapa bisa membuatku merasa lebih muda sepuluh tahun, sebab cerita-cerita di dalam buku bagus sering memiliki kekuatan magis yang mampu menggembirakan diri.

Alasanku menghibur diri main ke toko buku pada akhir pekan begini mungkin karena diriku tengah mengalami quarter life crisis seperti yang suka dibilang banyak orang, sekalipun usiaku sudah melewati angka tersebut.

Saat lagi keluyuran sendirian dan berdiam diri begini, terkadang aku suka merenung akan kondisiku akhir-akhir ini yang sedang menghadapi berbagai krisis ataupun persoalan. Sampai Desember nanti, ada tagihan-tagihan yang perlu kubayar setiap bulannya, dan jumlahnya per bulan sekitar sepertiga gajiku. Uang sebanyak itu, yang bernilai jutaan, mestinya bisa disisihkan untuk membeli buku-buku, untuk dana darurat, atau bahkan bisa juga untuk tabungan menikah. Di kepalaku, aku menggarisbawahi kata “buku-buku” dan tersadar bahwa sudah sembilan bulan aku tak pernah lagi belanja buku baru. Selama tahun 2023 ini hidupku sangatlah pas-pasan, hidup hanya untuk menyambung dari bulan ke bulan, dan jika ada uang berlebih pasti aku prioritaskan untuk makan enak sebagai ajang menyenangkan diri sendiri. Jika dipikir-pikir, aku ini cukup nelangsa, ya?

Aku tak terlalu paham bagaimana cara kerja otak, sebab pemikiran tentang krisis yang barusan kurenungkan itu kini tiba-tiba malah menerbangkan ingatanku akan tulisan Shakha Boy Original yang berjudul Krisis Usia 25. Seingatku, tulisan Shakha entah bagaimana sanggup membuatku merasa lebih rileks dalam menjalani hidup. Aku pun akhirnya membuka arsip blognya dan mencari apa yang kumaksud itu sembari diam-diam berharap agar saat nanti kembali ke rumah, pikiran dan batinku sudah terasa jauh lebih tenang.

 

Krisis Usia 25 

Sebetulnya topik krisis seperempat abad ini sudah terasa basi karena pada 2021 ini usia saya sudah lebih dari 25 tahun. Tapi sebelum meneruskan pembahasan ini, rasanya sialan juga ya, waktu berlalu begitu cepat akibat pandemi dan tiba-tiba umur saya sudah setua ini. Krisis pada usia 25 yang saya hadapi jadi tercampur aduk oleh ketakutan akan wabah. Entah kini terasa lebih baik atau buruk, lalu kehidupan saya pun masih jauh dari kata sejahtera. Meski demikian, saya sungguh bersyukur karena saat ini saya ternyata bisa lebih kalem menjalani hidup.

Apa yang membuat saya ingin menuliskan catatan pendek tentang krisis usia 25 ini, sebab lima hari lalu saya melihat tanggapan salah seorang penulis favorit terkait hal tersebut.

“Siapakah engkau pada usia 25 tahun?” ujar seorang pembaca kepada Neil Gaiman. “Aku tidak memercayai Wikipedia ketika diriku bisa bertanya langsung kepada orang itu sendiri, dan kau satu-satunya orang terkenal yang merasa cukup bersahabat untuk ditanyakan hal semacam ini. Pertanyaan tambahan, menurutmu, bagaimana seharusnya seseorang saat berusia 25 tahun, pada era ‘cepat dan bergegaslah, jadilah segalanya sekarang juga atau dunia akan meninggalkanmu’?“

Dan beginilah jawaban Neil Gaiman:

Saya, 25 tahun, seorang jurnalis lepas yang bokek dan tidak dikenal dengan dua orang anak, yang telah menerbitkan tiga, mungkin empat cerita pendek. Dua buku pertama saya (nonfiksi) telah terbit dan lenyap begitu saja. Saya baru saja mendapat ide untuk The Graveyard Book, tetapi saya tahu saya bukanlah penulis yang cukup baik untuk bisa mengerjakannya dengan bagus. Saya pernah kelaparan. Saya telah menulis dua cerita pendek komik untuk coba-coba dan belajar sendiri bagaimana menulis komik, tapi tak yakin apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Apa yang harus dilakukan pada usia 25 tahun? Kau harus menyimpan pengalaman hidup, dipecat dari pekerjaan, mendapatkan patah hatimu, hidup dengan mi instan, semua itu. Tapi saya menduga betapa dalamnya kecemasan dan kesengsaraan yang didapatkan seseorang yang ada pada saat ini, mungkin mereka kelak akan berhasil juga.

Setelah membaca ujarannya itu, mengetahui kalau Neil Gaiman juga pernah berada pada masa-masa sulit, saya otomatis jadi bisa merasa lebih santai lagi dalam menyikapi pertambahan usia. Saya enggak perlu terbebani lagi sama angka sialan yang kerap jadi target kesuksesan orang-orang (biasanya tentang karier yang sudah naik jabatan, memiliki saldo tabungan dengan jumlah menggiurkan, jalan-jalan ke luar negeri, dan menikah).

Saya enggak bermaksud mencari pembenaran atas kegagalan yang menimpa diri saya, tapi seolah-olah muncul pikiran bahwa tak ada keharusan saya mesti sukses secepat mungkin, apalagi pada usia 25. Sebagaimana yang kita tahu, alur hidup tiap manusia jelas berbeda. Saya kini tak ingin mengejar apa-apa, memburu apa-apa, seperti yang pernah saya lakukan kala remaja. Jika terlalu tergesa-gesa buat mencapai sesuatu, bisa-bisa saya justru terjatuh ke dalam jurang depresi terkutuk itu lagi. Maka, alangkah baiknya saya sekarang kembali menerapkan petuah kuno: slow but sure.

Jakarta, 29 Januari 2021.

2 Comments

  1. Kalo goldilock nya yg versi anak2 itu fav ku sebenernya. Punya bukunya dulu, dan seriiing aku baca

    Tapi pas di jadiin fiksi Ama si gaiman, kenapa aku jadi bingung hahahahah.

    Abis baca ini, aku langsung ambil novel gaiman yg ternyata tebelnya astaghfirullah, nyaris 800 halaman,judulnya American gods.

    Sbnernya aku LG baca The Host nya Stephanie Meyer, tapi ceritanya bosenin banget, jadi mungkin sesekali mau aku selingin Ama gaiman novel 🤣. Moga aja malah ga puyeng 😅. Aku umur 25 juga blm gimana2 Yog. Udh kerja sih, tapi ga ngerasa mapan. Gaji sih cukup untuk hidup di jakarta dan kos Setiabudi, tapi ga nyisa hahahahaha.

    Selalu salut Ama anak2 zaman skr yg sebelum usia 30 aja udh jadi milyarder 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kisah fiksi Neil ini menurut saya sih dia lagi mencoba dongengin anaknya yang umur dua tahun dan suka nyeplos tiap kelanjutan ceritanya (karena udah ratusan kali denger), tapi ya begitulah, Mbak. Neil memodifikasi cerita aslinya jadi versi sesuka dia. Haha.

      Saya kayaknya belum baca yang American Gods. Saya bacanya yang lebih tipis: Stardust. Hehe.

      Iya, saya punya kenalan yang usianya dua tahun lebih muda dari saya dan dia udah jadi direktur dong. Tapi saya enggak perlu kaget, sih. Itu PT dia kan anak perusahaan dari kepunyaan orang tuanya. Alias ya dia dapat jabatan karena privilese. XD

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.