—untuk mbaknya (yang saat kami berjumpa pernah memakai baju kuning dan belakangan ini telah mencerahkan hari-hariku)
 
1

Mata kita bertemu lagi saat hujan masih dalam proses download. Matahari sedang bersemangat dan membuat kemeja flanel yang kupakai hari itu sebagai kekeliruan tata busana. Namun, aku senang unduhan itu berjalan sangat lambat, seakan kesedihan memang tak boleh menodai perjumpaan kita sedikit pun.



Di Stasiun Palmerah, tempatku pulang, barulah langit mendadak cengeng. Ia tampaknya sedang mewakilkan bahasa tubuhku, bahwa sebenarnya aku tak ingin lekas berpisah denganmu. Aku ingin kembali saja ke Sudirman dan Blok M, mengulang waktu yang telah kita makan bersama, seakan Tuhan mengizinkan kita refill sekali lagi.




2.

Film yang ada di layar kaca sungguh jempolan, tapi sesekali aku berusaha mencuri kesempatan untuk menonton wajah elokmu tanpa perlu takut merasa rugi atas nominal yang telah dibayarkan. Bukankah jika dilihat dari kacamata bisnis, aku sedang menjelma pengusaha sukses? Kutukar selembar uang dan kudapat dua buah tiket, plus wangi parfummu, serta bonus senyuman manismu.


Selepas kita pulang ke rumah masing-masing, di kamarku, di tempat yang terbebas dari kemiskinan bahasa, aku sadar bahwa tak perlu ragu lagi, atau bahkan bertanya-tanya pada dinding yang cat birunya memudar, pada lampu yang telah dipadamkan, juga kepada diriku sendiri, sebab kemacetan di Manggarai, kursi-kursi di CGV Slipi, ataupun musala di area Binus yang sedang direnovasi telah menjadi saksi bahwa virus merah muda memang telah mengalir di sekujur tubuhku.


3.

Pagi itu, kau menyebutku seorang pembalap hanya karena aku berhasil mengalahkan estimasi waktu di aplikasi penunjuk jalan. Aku sebenarnya tidak lagi mengejar atau dikejar apa-apa. Aku cuma ingin lekas menghabiskan akhir pekan bersamamu dan berhenti memusingkan jarak tempuh. Jika bisa, aku ingin menciptakan puisi yang ampuh. Ampuh dalam memangkas jarak antarkota, antarprovinsi, antarnegara, atau antardimensi.




Seperti saat kita berkeliling di suatu taman yang seakan membawa kita ke seluruh provinsi di Indonesia. Kita menjejakkan kaki pertama kali di Bengkulu sembari menyantap camilan rasa cokelat pisang yang wadahnya sama dengan warna bajumu. Kita makan siang berupa sate Padang di Sumatera Barat, lalu masuk ke salah satu rumah adat sampai-sampai stafnya mengira kita masih anak sekolah/kuliah. Kita bisa saja berduet untuk menipu usia. Namun, kita mendadak tertawa dan mengatakan sejujurnya tentang status, sebab kebohongan bukanlah jalan ninja kita.





Kita mengabadikan momen di perahu yang tidak bergerak ke mana-mana, tetapi ingin berenang menuju senja. Dari sekian banyak foto yang tersimpan di galeriku, kupilih satu potret terbaik bersamamu dan memamerkannya di status WhatsApp dengan simbol-simbol afeksi, yang kuharap kisah kita hari ini bukanlah fiksi.

Sebelum tidur, kau bilang kepadaku jangan lupa untuk mengecek isi tasku, karena kau tadi diam-diam menyelundupkan sebongkah sajak cinta. Kejutan ulang tahun boleh saja datang terlambat, tetapi kegembiraan selalu berusaha datang tepat pada waktunya.