Pilihan Hidup

Beberapa orang merasa hidupnya menarik, lalu anehnya mereka suka memaksakan orang lain untuk mengikuti pilihan hidupnya, padahal kita semua jelas punya cara tersendiri buat menikmati hidup. Sialnya, aku sendiri pun pernah merasa seperti itu. Ini terjadi kala temanku, Arif Sentosa, mencoba bertanya kepadaku ketika kami sedang main ke mal Central Park, Jakarta Barat: “Kalau lagi gabut (singkatan dari gaji buta yang berarti lagi enggak ada kerjaan ataupun kegiatan) enaknya ngapain, ya? Akhir-akhir ini aku tiap buka Youtube atau Instagram pasti gampang jenuh. Kau ada saran, Yog?”

Aku lantas menyuruhnya untuk membaca buku. Ia akhirnya coba mengikuti saranku dengan mengajakku mampir ke toko buku yang berada di lantai paling atas mal dan membawa pulang dua buah buku. Sekalipun aku tak ingat judul bukunya, ingatanku masih berfungsi dengan baik kalau ia membeli satu buku motivasi atau pengembangan diri, satunya lagi buku kumpulan cerita Puthut EA.

 



Beberapa minggu kemudian, ia berjumpa lagi denganku di sebuah kedai kopi, dan mengatakan kalau sudah selesai membaca keduanya sembari mengeluh bahwa dirinya tidak merasakan keseruan dalam membaca buku-buku tersebut. Katanya banyak halaman yang ia lewati atau bacanya longkap-longkap setiap beberapa paragraf karena muncul rasa bosan.

“Buku kumpulan cerita yang aku rekomen juga bikin bosan, kah?”

“Yang itu lumayan, sih, bisa bikin ketawa,” ujarnya. “Tapi...,” belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Arif menyeruput secangkir kopi Vietnam Drip yang ia pesan tadi, dan tak lama setelahnya barulah ia berkata, “Kayaknya aku lebih suka ngisi waktu luang dengan kegiatan yang bergerak. Macam olahraga begitulah. Aku enggak bisa anteng baca buku sepertimu. Joging, main futsal, atau badminton terasa lebih asyik dan bisa bikin aku lupa waktu. Saat aku baca buku malah lihat jam melulu. ‘Aku udah baca buku berapa lama nih?’ Begitu, Yog.”

Hal itu sungguh berbeda sekali denganku yang justru sering terhanyut ke dalam cerita dan masa bodoh akan waktu. Satu novel setebal 300 halaman bahkan bisa aku selesaikan dalam seharian jika bukunya benar-benar menarik. Awalnya, aku sempat mau protes akan pendapatnya itu, mengapa banyak orang enggak doyan baca dan akhirnya bikin mereka gampang termakan hoaks? Aku ingin sekali mengatakan kalau buku itu dapat menambah wawasan. Maka, jauh di dalam lubuk hatiku, aku ingin berkata: Coba dipaksa saja baca pelan-pelan, nanti lama-lama bakal terbiasa.

Namun, sedari awal membaca buku ia pasti sudah terpaksa untuk mengikuti saranku. Jelas-jelas buku tidak bisa membunuh waktu baginya. Dia lebih menikmati waktu senggangnya itu diisi dengan aktivitas fisik. Lalu, di sisi lain, aku juga teringat ketika ia pernah menyuruhku merokok yang konon bisa menghilangkan stres. Tapi, setiap kali terkena asapnya aku pasti batuk-batuk, sehingga mesti memakai masker atau duduk berjauhan, sampai-sampai ia pernah protes, “Sombong banget kau, Yog. Kumpul bareng temen, tapi duduknya misah sendiri.”

Aku sengaja memilih menghindar sebab asapnya memang bikin kepalaku pusing. Baunya  yang nanti menempel ke kaos maupun rambutku juga bikin enggak nyaman. Seketika itulah akhirnya aku mulai mengerti sesuatu hal dan bilang begini kepadanya, “Berarti jangan ngejek aku lebay atau ketawa-tawa lagi kalau aku kena asap rokok dan batuk-batuk, ya. Aku memang enggak suka rokok. Jadi, sekiranya kau enggak suka baca buku, ya udah. Aku enggak akan pernah menyuruhmu baca buku lagi.”

Ia pun meminta maaf kepadaku. Aku sebenarnya sudah memaafkannya sejak lama, toh dia juga mulai mengurangi kebiasaannya merokok di dekatku.

Lantaran kejadian itu, aku kini jadi semakin mengerti. Mungkin kami tidak memiliki minat yang sama dalam menjalani hidup. Dia dengan pilihan hidupnya, sedangkan aku juga dengan pilihanku sendiri. Tapi kami bisa tetap berteman dan perbedaan tidak menghalangi kami untuk akrab. Kami berdua tidak ada yang betul-betul memiliki kebenaran absolut. Enaknya rokok bagi dia, justru bikin enek bagiku. Begitu pun soal buku. Aku menghilangkan bosan dengan membaca buku, sementara ia malah semakin bosan saat membaca buku.

Setelah merenung tentang pilihan hidup, aku entah kenapa jadi jengkel bukan main kepada beberapa motivator atau pembicara yang seminarnya pernah kuikuti. Ada beberapa kalimat mereka yang memengaruhi pilihan-pilihanku dalam menentukan hidup saat aku masih remaja, padahal sejak awal aku merasa cara itu tidak sesuai denganku. Namun, karena mereka motivator atau pembicara yang sukses, saat itu aku dengan naifnya memercayai mereka begitu saja tanpa berpikir lebih jauh.

“Segera resign dari kerjaan yang enggak kalian sukai. Kejarlah passion kalian. Jadilah pengusaha, jangan mau jadi budak gaji. Harusnya kita yang menggaji orang. Hidup tuh harusnya... blablablabla.”

Lima tahun telah berlalu dan cara pandangku dalam hidup kini semakin bergeser. Setelah aku mengalami banyaknya jatuh bangun dalam kehidupan, aku enggak akan mudah percaya lagi sama para pembicara atau motivator semacam itu. Beberapa dari mereka malah sering membuatku tersesat.

Mungkin saja untuk sebagian orang rumus itu manjur, tapi sebagian lagi pasti jengkel kalau salah rumus. Bisa diibaratkan sebagian orang yang tersesat itu rumus hidupnya adalah lingkaran, tapi rumus yang diberikan pembicara ini adalah rumus persegi. Hasilnya tentu saja salah. Rumus tersebut hanya akan bekerja untuk orang-orang yang persegi.

Entah niat beberapa pembicara itu cuma bermaksud untuk berbagi pengalaman, atau memang berusaha mengajak orang lain supaya mengikuti jalan sukses hidupnya yang seolah-olah berkata, “Begini loh hidup yang benar. Mari ikuti saya.” Yang jelas, setiap kali menengok pilihan-pilihan hidup yang terasa keliru, aku mendadak kesal sewaktu mendengar seorang motivator yang ujaran-ujarannya terlihat sedang berjuang keras dalam memaksakan pilihan hidupnya itu kepada para peserta seminar. Seandainya aku diperkenankan kembali sebentar saja ke masa itu, aku rasanya kepengin berdiri di tengah-tengah seminar sambil berteriak, “Alah, berakmu encer! Ngomong doang mah gampang, tapi realita kan enggak semulus itu. Pokoknya, jangan atur-atur aing!”

Lucunya, baru menuliskan semua racauan ini malah bisa membuatku lebih lega. Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat untuk diriku sendiri. Agar kelak aku tidak pernah memaksakan cara hidupku kepada orang lain, termasuk hidup anakku nanti. Mau jadi apa pun ia, selama itu pekerjaan halal dan tidak merugikan orang lain, aku akan selalu mendukungnya.

Kalau ia nanti juga ingin menjadi seorang penulis—jalan hidup yang kupikir sangat sunyi dan terjal ini, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk tidak menakut-nakuti bagaimana susahnya mencari duit lewat menulis dan bertahan hidup dari pekerjaan ini. Aku berharap dapat menceritakan pengalamanku selayaknya sedang berdongeng saja. Atau biar lebih gampang, ia bisa membaca esai yang mirip seperti cerpen ini. Jadi, ia pun dapat melihat suatu topik dari berbagai sudut pandang. Tidak membuat seorang anak lekas-lekas mengubur impiannya sedini mungkin.

Aku tak mau mengulangi kesalahan orang tuaku yang dulu-dulu pernah memaksakan pilihannya untukku. Aku sudah memaafkan mereka dan aku juga telah meminta maaf atas pilihan gilaku kemarinan untuk berhenti bekerja dari kantor lamaku yang menawarkan kenyamanan, sehingga keuangan keluargaku jadi kurang stabil.

Yah, bisa dibilang aku hanya ingin mempertahankan idealisku sekaligus tetap realistis dengan cara berkompromi. Aku mau keduanya bisa berjalan beriringan. Sikap realistis itu perlu karena aku jelas-jelas membutuhkan uang untuk hidup, sedangkan idealis pun sangat perlu karena menumbuhkan harapan demi menggapai suatu impian dan menjadikanku seorang manusia yang lebih hidup.

--

Tulisan ini (boleh dianggap esai atau cerpen atau racauan) disalin, dimodifikasi, dan sedikit diberi bumbu fiksi dari teks aslinya, yakni pos Tumblr milik Yoga Akbar—yang kini akunnya telah dihapus—dan terbit pertama kali pada Juli 2018. Tulisan ini juga pernah dimuat di KaryaKarsa pada November 2021. Jika tulisan ini pada akhirnya tayang di blog, kemungkinan besar dia sedang merasa salah langkah akan pilihan-pilihan hidupnya. Gambar dicomot dari Pixabay.

2 Comments

  1. Memang sih, makin dewasa kita makin ngerti mana yang benar dan mana yang sebaiknya kita jalanin untuk diri sendiri, bukan untuk memberi contoh ke orang lain dari yang terbaik yang telah kita lakuin.

    Makin dewasa menyadarkan kalau permasalahan pribadi, solusi terbaik yang tau cuma diri sendiri. Teman memberi solusi, teman membantu menolong, tapi belum tentu solusi atau jawaban dari mereka adalah yang terbaik dan yang kita butuhkan.

    Begitu pula keinginan anak, memang sebaiknya apapun inginnya tidak dipaksakan kehendak ortu. Biarkan dia juga berekspresi sesukanya asal masih positif. Yah, begitulah.

    Semangat selalu yoga dalam bekerja, apapun pilihan pekerjaannya semoga disana lah yang terbaik.

    ReplyDelete
  2. aku jadi ingat perkatana teman semakin dewasa kita semakin malas untuk berdebat dan akhirnya hidup kita penuh kompromi
    makanya bener, seringkali motivator itu engga tau kondisi real di lapangan
    bagaimana tiap orang punya cara sendiri buat bahagia dan berkembang
    memaksakan apa yang sekiranya benar menurut kita bukanlah hal yang cerdas

    yang penting semangat walau tiada berguna
    lah...
    jadi inget jokes ini di temlen beberapa waktu lalu mas wkwkwk

    ReplyDelete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.