Lelaki Banyak Mau Membaca Lelaki Harimau

Tadinya ingin saya berikan judul Lelaki Buaya Darat atau Lelaki Bangsat sebelum kata “Membaca” agar terlihat keren atau semacam click bait, tapi saya langsung merasa enggak cocok dan ngakak sendiri. Lagian, lelaki buaya darat mana, sih, yang konsisten melajang selama tiga tahun terakhir dan sering menutup diri dari beberapa perempuan yang coba mendekat? Apalagi sehabis membaca ulang ulasan yang bikin membatin, kenapa saya kayak seorang pembaca yang banyak maunya, ya? Jadi, beginilah judul yang akhirnya saya pilih.
 
Ulasan novel berikut hanya berdasarkan catatan yang sempat saya tulis di caption Instagram beberapa tahun silam dan mengandalkan sedikit ingatan tentangnya. Saya pun sedang malas buat meninjau ulang novel Eka Kurniawan. Maka, seandainya ada hal-hal yang mungkin keliru (seperti salah penulisan nama tokoh), harap dimaklumi saja. Saya menampilkan ulasan ini di blog sebenarnya sekadar iseng selepas membaca tantangan JanexLia, yaitu membaca sekaligus membahas sebuah buku yang kovernya berwarna oranye (tema bulan Januari). Saya sengaja enggak mau mendaftar sebagai peserta sebab sadar diri belakangan ini minat membaca lagi melempem. Toh, saya pasti malu juga buat ikutan.
 
Selain buat seru-seruan, mereka berdua bikin tantangan ini tujuannya tentu supaya lebih giat membaca dan melatih cara menulis review, sedangkan saya cuma membaca ingatan atas novel yang pernah saya ulas. Saya mungkin bermaksud memeriksa ulang penilaian saya dulu yang terlalu gampang memberikan pujian dan teramat takut melontarkan kekurangan ataupun hal yang enggak saya sukai dari suatu karya yang dibikin oleh penulis terkenal. Kini, saya ingin lebih jujur akan suatu kesan membaca tanpa peduli siapa penulisnya.
 
 

 
--
 
Dari seluruh novel maupun kumcer Eka Kurniawan, saya kira Lelaki Harimau merupakan buku yang bakal jadi pilihan terakhir seumpama saya lagi kepengin membaca ulang karyanya. Bukan berarti novel ini buruk, melainkan kesan awal saya dalam membacanya terasa kurang baik. Kala itu, pada September 2016, saya lebih akrab dengan bacaan-bacaan seperti cerita keseharian yang dibalut komedi atau novel humor atau buku pengembangan diri, sehingga novel ini tergolong berat buat saya.
 
Hampir keseluruhan cerita disampaikan lewat narasi dan deskripsi, sementara dialognya sungguh minim—pada masa itu saya terbiasa dengan buku yang porsi narasi dan dialognya seimbang. Terus terang saja, beberapa kali novel yang mengandung kalimat-kalimat panjang atau beranak-cucu ini pernah saya tinggalkan dan ganti membaca buku lainnya yang menurut saya lebih ringan. Mungkin novel ini juga bukan selera bacaan saya, pikir saya waktu itu yang sedang jenuh-jenuhnya melahap bab 2 atau 3, bahkan sempat terlintas pemikiran konyol: Kenapa buku kayak begini bisa masuk nominasi Man Booker, sih? Namun, begitu saya memutuskan untuk membacanya lagi dengan lebih sabar, berasumsi bahwa novel ini alurnya memang lambat, dan butuh konsentrasi ekstra, lama-kelamaan saya mulai terbiasa dengan gaya penceritaan Eka.
 
Saya bingung bercampur kaget ketika disodorkan kalimat pembuka yang langsung memberi tahu pembaca akan suatu adegan pembunuhan. “Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya ....” Setahu saya, sebagian pembaca biasanya akan malas dengan bocoran cerita sejenis itu. Semacam ada protes di dalam diri, “Yah, enggak seru dong kalau di awal langsung dikasih tahu ada yang mati?” Anehnya, Eka dengan cerdik mengajak saya untuk lanjut membaca dengan mengalihkan perhatian pada peristiwa lain yang tak ada hubungannya dengan tragedi pembunuhan. Sambil meneruskan pembacaan, saya pun bertanya-tanya: “Kenapa Margio membunuh Anwar Sadat?”, “Dengan cara apa Margio membunuhnya?”, “Kyai Jahro ini siapa dan apakah dia juga ada kaitannya?” Tiga tokoh langsung Eka sebut sekaligus dalam kalimat pertama. Teknik menulis yang sungguh mencengangkan buat saya—pujian ini saya berikan pada masa sebelum saya paham itu namanya teknik foreshadowing dan mengetahui dia terpengaruh oleh Gabo alias Gabriel Garcia Marquez. Hal baiknya, walaupun tampak mengekor sang idola, Eka cukup jago dalam menahan laju informasi. Dia menempatkan bagian-bagian pentingnya enggak sekaligus, melainkan secara perlahan dengan menyebarnya di berbagai bab.
 
Sebagaimana pembaca polos yang menilai suatu buku hanya berdasarkan judul, dugaan awal saya terkait isi novel ini pun jelas bakal banyak bercerita tentang hal gaib, yakni lelaki yang bisa berubah jadi harimau atau warisan leluhur berupa jin bersosok harimau atau sejenisnya. Lalu, tebakan itu rupanya terpatahkan. Unsur mistisnya hanya mendapatkan sedikit porsi, dan justru jauh lebih banyak membahas masalah rumah tangga seperti kemiskinan, KDRT, seorang anak yang benci terhadap ayahnya, serta perselingkuhan. 
 
Plot cerita dalam novel Lelaki Harimau sebetulnya cukup pendek, dan mungkin karena itulah Eka berusaha menyiasatinya dengan alur maju-mundur pada beberapa bagian untuk mengisahkan latar belakang para tokohnya. Saya salut dengan perpindahan dari satu paragraf ke paragraf berikutnya (atau barangkali ada yang dari satu kalimat ke kalimat lain?) yang terasa halus setiap kali cerita itu sedang mengalami lompatan waktu. Sayangnya, ada beberapa deskripsi yang terlalu mendetail sebagaimana novel-novel Jepang, dan alih-alih memberikan suatu efek luar biasa yang kerap disembunyikan oleh Kawabata (Eka pernah menyebut di jurnalnya bahwa dia pengin menulis seperti Kawabata), upaya Eka di mata saya malah terasa gagal karena kelewat mubazir alias bikin ngantuk. Semestinya yang terasa berlebihan itu bisa dipangkas lagi, kan? Ya, meski ini enggak menutup kemungkinan kalau sayalah yang gagal mengurai makna atau metafora atau alusi di dalamnya.
 
Mungkin saya banyak protes selama membaca Lelaki Harimau dan berharap lebih atas karya yang masuk nominasi penghargaan. Biarpun begitu, saya merasa Eka cukup terampil dalam mengupas unsur psikologis beberapa tokoh di novel ini. Selebihnya, di bab keempat hingga tamat, saya benar-benar sudah terhanyut ke dalam cerita dan tak punya waktu buat menggerutu. Teknik Eka dalam berkisah ternyata mampu bikin saya terpikat, dan kala sampai di halaman terakhir itulah saya bisa mengambil kesimpulan secara keseluruhan bahwa saya benar-benar terpuaskan.

2 Comments

  1. Yog, tapi review ini ga jadi kamu submit yaaa? Di recap nya Lia kok aku ga ngeliat Yaa. Padahal bagus ����

    Btw, buku Eka Kurniawan yg aku baca baru 1, cantik itu luka. Kayaknya dia memang suka bikin judul yg bikin kita salah nangkep maksudnya Yaa ��. Kayak yg cantik itu luka, aku pikir cewe kalo mau jadi cantik, Yaa harus berani luka atau sakit. . Ternyataaaa, kok ya malah cantik itu nama orang

    Tapi itu yg aku suka dari tulisan Eka, ngerasa tertipu, tapi dalam hal yg lebih bagus hahahahaha.

    Kita agak beda kalo soal deskripsi terlalu detil, justru aku suka yg begitu. Menutup semua loopholes. Makanya aku LBH suka baca buku tebel di atas 500, Krn menurutku deskripsinya bakal detiiiil banget ��.

    Ntr mau cari ah buku lelaki harimau ini.

    Yg Feb ikutan juga Yog, sampul merah/pink ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sengaja enggak ikutan karena ini bacanya udah lama banget dan cuma memperbaiki ulasan waktu itu. Kurang sesuai dengan tantangan mereka yang mestinya baca buku baru atau baca ulang dengan kover sesuai tema. Makanya saya iseng meramaikan aja tanpa jadi peserta. Haha. Mbak Fanny malah ikutan dua buku, kan? Saya sempat lihat rekapnya dan baca ulasannya.

      Terkait pemilihan judul, Eka memang begitu. O ternyata juga nama monyet. XD

      Tapi deskripsi Eka di buku ini sungguh melelahkan buat dibaca, Mbak. Cantik Itu Luka yang lebih tebal justru lebih asyik ketimbang Lelaki Harimau yang jumlah halamannya cuma setengahnya. Karena persoalan beberapa kali jenuh dengan narasi maupun deskripsi panjang itu. Nanti bisa buktikan sendiri ketika sekiranya udah baca.

      Semoga bisa ikutan jika saya lagi enggak malas. XD

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.