Mengapa Aku Harus Menulis?

Aku bangun pagi-pagi sekali dan, ketika aku sedang menyiapkan sarapan, aku memikirkan semua orang yang tidak menulis dan tiba-tiba terpikir olehku bahwa sebenarnya lebih dari sembilan puluh sembilan persen umat manusia lebih suka dengan gaya Bartleby yang paling murni, lebih suka memilih untuk tidak menulis.

Pasti sosok yang mengesankan ini yang membuatku gugup. Aku mulai meniru gerakan yang kadang-kadang digunakan Kafka: bertepuk tangan, menggosok kedua tangan, mengangkat bahu, berbaring di tanah, melompat, bersiap untuk melempar atau menangkap sesuatu...

Memikirkan Kafka mengingatkanku pada Artis Kelaparan dalam salah satu ceritanya. Artis ini tidak mau makan apa pun karena baginya puasa itu wajib, dia tidak bisa menghindarinya. Aku berpikir sejenak ketika inspektur bertanya kepadanya mengapa dia tidak bisa menghindarinya dan Artis Kelaparan, mengangkat kepalanya serta berbisik di telinga inspektur agar tidak ada kata-katanya yang hilang, menjawab bahwa dia selalu dipaksa untuk berpuasa karena dia tak pernah bisa menemukan makanan yang dia suka.




Dan kemudian aku teringat artis lain No, yang juga muncul dalam sebuah cerita Kafka. Aku memikirkan Artis Trapeze, yang menolak untuk menyentuh tanah dengan kakinya dan menghabiskan siang dan malam di rekstok gantung, tidak pernah turun, tetap ditangguhkan dua puluh empat jam sehari, dengan cara yang sama seperti Bartleby tak pernah meninggalkan kantor, bahkan pada hari Minggu.

Setelah memikirkan contoh yang jelas dari seniman No, aku mengamati bahwa aku masih agak gelisah dan resah. Aku berkata kepada diri sendiri bahwa akan lebih baik bagiku untuk keluar sebentar, tidak membatasi diri untuk menyapa portir, mendiskusikan cuaca dengan petugas koran atau tidak menanggapi dengan singkat di supermarket ketika gadis kasir bertanya kepadaku apakah aku memiliki kartu anggota.

Terpikir olehku bahwa, demi mengatasi rasa maluku sejauh mungkin, aku dapat melakukan survei kecil-kecilan di antara orang-orang biasa tentang mengapa mereka tidak menulis, dalam upaya untuk mengetahui mana yang merupakan “Paman Celerino” yang dimiliki masing-masing dari mereka.

Sekitar tengah hari aku mengambil posisi di toko koran/buku di pojokan. Seorang wanita sedang membaca sampul belakang buku karya Rosa Montero. Aku berjalan ke arahnya dan, setelah pembukaan singkat yang dengannya aku berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dirinya, aku bertanya kepadanya hampir tanpa basa-basi,

“Jadi kenapa kau tidak menulis?”

Wanita terkadang menampilkan logika yang paling menghancurkan. Dia menatapku dengan heran, tersenyum dan berkata, “Kau menghiburku. Katakan kepadaku, mengapa menurutmu aku harus menulis?”

Penjual buku mendengarkan percakapan dan, ketika wanita itu pergi, berkata kepadaku,

“Mencobanya terlalu cepat?”

Tampilan konspirasinya membuatku jengkel. Aku memutuskan untuk mengalihkan perhatianku kepadanya dan aku bertanya kepadanya mengapa dia tidak menulis.

“Aku lebih suka menjual buku,” jawabnya.

“Aku menduga, kurang usaha,” kataku dengan kemarahan yang meningkat.

“Sejujurnya, aku ingin menulis dalam bahasa Mandarin. Aku suka menjumlahkan dan menghasilkan uang.”

Ini membuatku bingung.

“Maksudmu apa?” aku bertanya kepadanya.

“Oh, tidak ada. Hanya saja jika aku lahir di Cina, aku seharusnya tidak keberatan menulis. Orang Cina sangat pintar, mereka menulis huruf dari atas ke bawah seolah-olah mereka akan menjumlahkan apa yang telah mereka tulis.”

Ini membuatku marah. Dan terlebih lagi, istrinya, yang berdiri di sampingnya, mentertawakan lelucon suaminya. Aku membeli satu koran lebih sedikit dari mereka ketimbang biasanya dan bertanya mengapa sang istri tidak menulis.

Dia tenggelam dalam pikirannya, dan untuk sesaat aku menumbuhkan harapan bahwa tanggapannya mungkin lebih ilustratif daripada yang telah kudapatkan sebelumnya. Pada akhirnya dia berkata,

“Karena aku tidak tahu.”

“Apa yang tidak kau ketahui?”

“Bagaimana cara menulis.”

Mengingat keberhasilannya, aku meninggalkan survei untuk hari lain. Sekembalinya ke rumah, aku membaca di sebuah surat kabar beberapa pernyataan mengejutkan oleh Bernardo Atxaga, ketika penulis Basque itu mengatakan bahwa dia telah kehilangan selera untuk menulis: “Setelah dua puluh lima tahun di jalanan, seperti yang dikatakan penyanyi, aku merasa semakin sulit membangkitkan hasrat buat menulis.”

Atxaga cukup jelas menunjukkan gejala pertama sindrom Bartleby. “Baru-baru ini,” katanya, “seorang teman menyarankan kepadaku bahwa menjadi penulis saat ini membutuhkan lebih banyak kekuatan fisik daripada imajinasi.” Menurutnya, terlalu banyak konferensi, konvensi, wawancara, dan peluncuran buku. Dia mempertanyakan sejauh mana penulis perlu tampil di masyarakat dan di media. 

“Dulu cukup tidak berbahaya,” katanya, “tetapi sekarang menjadi penting. Aku merasakan perubahan suasana di sekitarku. Aku melihat satu jenis penulis menghilang, seperti Leopoldo María Panero, yang pernah ditempatkan di semacam Salon des Indépendants. Cara sastra dipublikasikan juga telah berubah. Seperti halnya penghargaan sastra, yang merupakan lelucon dan tipuan.”

Mengingat semua ini, Atxaga berniat untuk menulis satu buku lagi dan pensiun. Hasil yang sama sekali tidak dianggap dramatis oleh penulis. “Tidak ada alasan untuk bersedih, itu hanya reaksi terhadap perubahan.” Dia mengakhiri dengan mengatakan bahwa dia akan menyebut dirinya Joseba Irazu lagi, yang merupakan namanya ketika dia memutuskan untuk menulis dengan nama samaran Bernardo Atxaga.

Aku senang dengan sikap memberontak yang terkandung dalam pengumuman pengunduran dirinya. Aku ingat Albert Camus: “Apa itu pemberontak? Seorang manusia yang berkata tidak.”

Kemudian aku merenungkan perubahan nama dan mengingat Canetti, yang mengatakan bahwa rasa takut menciptakan nama sebagai pengalih perhatian. Claudio Magris, mengomentari pernyataan ini, mengatakan bahwa ini akan menjelaskan mengapa, ketika kita bepergian, kita membaca dan mencatat nama-nama di stasiun yang kita tinggalkan, dengan tujuan sederhana untuk menemukan kelegaan dalam perjalanan kita, beberapa kepuasan dalam urutan ini dan ritme ketiadaan.

Enderby, karakter Anthony Burgess, melakukan perjalanan mencatat nama-nama stasiun, tetapi berakhir di rumah sakit jiwa, di mana mereka menyembuhkannya dengan mengubah namanya, sebab, seperti yang ditunjukkan oleh psikiaternya, “Enderby adalah nama remaja yang berkepanjangan.”

Demikian pula aku menciptakan nama sebagai pengalih perhatian. Sejak menyebut diriku AlmostWatt, aku merasa lebih bahagia. Meskipun aku masih merasa gelisah.

--

Tulisan barusan merupakan terjemahan bebas bab 19 novel Bartleby & Co. karangan Enrique Vila-Matas. Seperti biasanya, topik-topik tentang dunia kepenulisan selalu menggoda saya untuk mengalihbahasakannya. Apalagi novel ini isinya semacam fragmen tentang penulis-penulis yang tidak lagi menulis atau berhenti menulis. Jadi, sindrom Bartleby ini adalah sejenis penyakit yang membuat seorang penulis mengatakan “tidak”, dalam artian “tidak lagi menulis”. Bagi yang belum tahu, si Enrique ini konon terinspirasi membuat novel itu dari bukunya Herman Melville: Bartleby, the Scrivener. Tokoh Bartleby tadinya merupakan sosok juru ketik yang rajin, tapi pada suatu hari dia tiba-tiba berubah dan mengatakan “tidak” ketika disuruh memeriksa sebuah dokumen.

--

Kamu suka dengan hasil terjemahan yang disuguhkan oleh Yoga Akbar di blognya? Jangan sungkan untuk mendukungnya di halaman KaryaKarsa. Siapa tau dia jadi lebih giat berlatih dan menerjemahkan lebih banyak tulisan.

4 Comments

  1. Kutipan ”menjadi penulis saat ini membutuhkan lebih banyak kekuatan fisik daripada imajinasi,” ini jleb banget haha. Emang lebih baik I prefer not to aja deh.

    Tapi ketimbang Bartleby ini, saya lebih suka Never Any End to Paris. Meski emang dua karya Vila-Matas ini sama bangsatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya, saat ini kayak enggak ada pilihan lain selain menulis. Menulis termasuk kerja yang aman dari rumah kan, tapi rawan bagi finansial. Haha.

      Wah, makasih rekomendasinya, Rif. Nanti bolehlah saya coba karya yang itu.

      Delete
  2. Jadi banyak tau nama nama penulis lama.
    Aku sendiri bisa dibilang belum pernah baca karya karya mereka, seringnya novel kekinian
    Kenapa menulis, mungkin alasan dasarnya sama, sharing is caring

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak apa-apa kok, Mbak, baca yang kekinian. Saya lagi belajar menyukai tulisan lawas, juga klasik aja nih, makanya referensinya mungkin cukup aneh. Haha.

      Maka, teruslah berbagi~

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.