Kolom Profil Seorang Pencerita

Di Twitter dan Instagram, saya sempat mengisi kolom biografi singkat semacam ini: “Seorang pencerita yang tidak bisa menceritakan tentang dirinya hanya dengan sebuah bio” dan cuma menyertakan alamat surel. Saya sudah lupa mengapa memilih kalimat kontradiktif semacam itu yang tentunya akan menimbulkan pertanyaan, “Kok seorang pencerita enggak bisa mengisahkan tentang dirinya sendiri? Pencerita macam apa itu?”

 


Namun, memang terasa cukup sulit menjelaskan tentang diri sendiri lewat kolom singkat begitu, kan? Setahu saya, beberapa orang justru hanya mengisinya dengan kutipan bijak maupun motivasi dari salah seorang tokoh. Lalu, ada juga yang diisi dengan hal-hal tak penting, semata-mata agar kolomnya tidak kosong. Ada pula yang mengisinya dengan nama kekasih—baik yang statusnya masih pacar ataupun yang sudah menikah. Adapun yang betul-betul berusaha menjual kariernya seperti menyebut profesi seorang aktor, aktris, ilustrator, komikus, komedian, sutradara, dan sejenisnya (biasanya ini digunakan oleh para pesohor, baik yang selebritas betulan atau yang mengeklaim dirinya sendiri).

Biarpun saya gemar menulis, saya paling tidak berani mengisi kolom biografi singkat itu dengan profesi “penulis”, sebab saya belum pernah menerbitkan karya di suatu penerbit dan merilisnya dalam bentuk buku fisik. Memang, saya sempat bikin kumpulan cerita dan puisi dalam format digital, tapi tetap saja saya merasa risih jika mesti mengaku-ngaku diri ini seorang penulis, cerpenis, atau apalah itu. Kesannya kok terlalu tinggi buat saya. Belum lagi kalau ada orang yang menilai tulisan-tulisan saya itu sampah. Malu banget pasti menyebut diri sendiri sebagai penulis. Bagi saya, “pencerita” terasa lebih cocok dan merakyat. Dulu, saya bahkan sempat mengisinya begini: “Cuma seorang bloger. Tadinya sih mau jadi playboy, tapi masih kurang ganteng. Kalau bloger enggak ada syarat ganteng.”

Ketimbang penulis, saat itu menyandang nama bloger juga terasa lebih sederhana, sebab saya hanyalah orang yang hobi bercerita di blog. Soal kurang gantengnya, itu buat lucu-lucuan sekaligus becermin ataupun sadar diri. Sayangnya, sejak 2017, tepatnya ketika saya benar-benar terjun meliput acara dan mengulas berbagai produk semacam bekerja sebagai jurnalis, saya tidak lagi memandang bloger seasyik sebelumnya.

Ini bermula dari perjumpaan saya dengan sebagian bloger yang katanya cuma ikut-ikutan bikin blog karena tergiur bisa menghasilkan uang atau mendapatkan tentengan tas berisi suvenir. Apalagi saat melihat media sosial mereka yang berpengikut ribuan hasil dari membeli followers ataupun semacam metode saling mengikuti yang konon tujuannya saling mendukung, padahal setelahnya tidak ada interaksi sama sekali. Saya mendadak malas dengan kepalsuan itu. Terlebih lagi sewaktu saya meninjau blog-blog mereka—yang jika dinilai kemampuan menulisnya nyaris nol. Aneh sekali, bukan? Berani-beraninya ingin ngeblog dan dibayar, tapi kecakapan menulisnya kacau. Jelas-jelas kekuatan utama seorang bloger berada di situ.

Saya kira sebagian dari mereka itu sangatlah memaksakan diri. Pekerjaan bloger seakan-akan telah menjadi sesuatu yang dipandang remeh. Walaupun saya paham bahwa siapa pun boleh menulis, terus menjadi bloger karena ikut-ikutan itu sah-sah saja, tapi lama-kelamaan sepertinya mulai terjadi pergeseran makna akan nama bloger, yakni menjadi bloger itu yang terpenting harus bisa menghasilkan duit.

Lantas, para bloger yang mengisi blognya untuk latihan menulis, mencurahkan isi hatinya, mencatat perjalanan hidupnya, bersenang-senang, atau alasan apalah yang intinya tidak untuk dikomersialkan, entah mengapa malah dianggap bloger payah. Konyol sekali.

Bodohnya lagi, persoalan dapat duit dari ngeblog ini justru bikin beberapa dari mereka rela dibayar murah—saya pernah mendengar ada yang menerima upah kerja sama di bawah 75 ribu per tulisan. Saya bakal maklum jika murahnya itu karena kualitas tulisan atau konten mereka yang keterlaluan busuk. Tapi yang terjadi di sini, harga yang ditawarkan kepada bloger lain juga ikutan turun. Mungkinkah pihak pemberi kerja samanya juga tidak paham dalam menentukan harga? Apakah nilai bayarannya cuma sebatas dari jumlah pengikut? Apakah mereka luput buat mengecek kualitas tulisan, atau sekadar memeriksa benarkah pengikutnya itu murni atau hasil beli?

Yang saya heran, sebetulnya mereka tuh mendapatkan bayaran murah karena menulis jelek, atau terpaksa bikin tulisan jelek lantaran dibayar murah, sih? Buat saya mah jangan pernah terpaksa menulis buruk cuma karena tidak suka dengan nilai bayarannya. Jika memang tidak sreg dengan harga, kan dari awal bisa bernegosiasi atau menolaknya. Anggap saja belum berjodoh dengan tawaran kerja sama itu. Nanti juga bakal datang lagi. Rezeki sudah ada yang mengatur, kan?

Selain problem blogernya, terkadang ada beberapa klien yang juga bermasalah. Mereka seenak jidat mempermainkan jadwal pembayaran. Bilangnya invois bakal cair minimal dua minggu setelah tulisan dimuat, tapi sampai satu bulan juga belum ada kejelasan. Saat menagih tulisan untuk cepat-cepat terbit rajinnya bukan main, tetapi giliran menuntaskan kewajiban buat membayar justru malas-malasan. Luar biasa. Ada juga yang mendadak membatalkan kerja sama dengan menghilang begitu saja, alih-alih memberikan penjelasan atau informasi terlebih dahulu. Alasan itulah yang membuat saya benci dengan nama “bloger” dan mengubahnya menjadi “pencerita”.

Sialan, kenapa saya malah melantur jauh buat mengkritisi dunia blog lagi, ya? Semestinya sekarang kan saya cuek saja sehabis membuang nama bloger itu. Baiklah, mari lanjut kembali ke kolom biografi yang mestinya jadi pokok pembahasan.

Saya pikir, saya seterusnya akan membiarkan kolom tersebut terisi kalimat semacam itu. Saya tak perlu pusing-pusing memikirkan kalimat lainnya untuk memikat orang lain agar mengikuti akun media sosial saya. Mungkin saya juga tak terlalu peduli dengan angka pengikut karena tak ada keinginan buat menjadi orang terkenal. Saya bahkan belakangan ini mulai malas menghabiskan waktu buat bermain media sosial. Sekiranya saya lagi terlihat aktif banget, mungkin saya lagi kurang kerjaan, kelebihan kuota, atau membutuhkan ide-ide tulisan yang kadang bisa datang dari sana.

Memikirkan tentang mengenalkan diri lewat kolom biografi singkat itu kemudian membawa pikiran saya pada halaman “Tentang Saya” di blog akbaryoga.com ini. Sejauh ini, blog ini masih saya perhatikan dengan baik sebab apa yang termuat di dalamnya bagaikan portofolio saya di bidang tulis-menulis. Saya pun mendadak bingung, bagaimana caranya saya mengenalkan sekaligus menjual diri sendiri sebagaimana profil para penulis yang berada di halaman akhir buku?

Adakah cara bersiasat ketika saya sadar bahwa tak punya prestasi yang hebat di dunia kepenulisan ini? Saya pun memilih bercerita dengan sejujur-jujurnya mengenai diri sendiri yang terkait dengan blog dan tulis-menulis. Beginilah akhirnya yang dapat saya kisahkan tentang Yoga Akbar Sholihin–sebagaimana yang dapat kamu baca di halaman Tentang Saya:

Yoga Akbar S. lahir di Ponorogo, Jawa Timur, pada 24 Mei 1995. Ia kini tinggal di Jakarta Barat. Meskipun Yoga telah membuat blog sejak akhir 2012, ia merasa baru mulai menekuni bidang tulis-menulis pada awal 2015. Bermula dari memperhatikan kawan-kawan di sekitarnya yang memiliki kegemaran khusus di bidang fotografi, olahraga, serta musik, ia jadi bertanya-tanya: kegiatan apa yang sebenarnya menjadi hobinya? Selama ini ia hanya mencoba mengikuti aktivitas teman-temannya itu (memotret, futsal, badminton, karaoke, nge-band), tetapi merasa tidak ada satu pun yang cocok. Sewaktu mengalami krisis identitas pada usia 20 itulah, Yoga lantas terkenang perkataan salah seorang guru Bahasa Indonesia di SMP-nya, bahwa ia begitu menikmati saat-saat membaca buku cerita. Barangkali ia juga memiliki potensi di bidang tersebut. Maka, Yoga pun tertarik lagi untuk membaca berbagai buku cerita ataupun komik sebagaimana saat ia bocah hingga remaja. Efek dari membaca kisah-kisah asyik itu pun menantangnya buat menjajal dunia kepenulisan. Belakangan ini Yoga sedang giat berlatih menulis cerpen di blognya. Beberapa cerpennya dalam rentang 2015-2017 termuat di Loop (yang kini berubah menjadi ilmupedia). Yoga kini juga sedang coba-coba mengulik platform KaryaKarsa, bermaksud memfilter tulisan-tulisan terbaiknya dan memamerkan karya digitalnya. Barangkali saja lewat cara itu ada sebagian pembaca yang berkenan membeli karyanya atau memberikan tip kepadanya sebagai bentuk apresiasi agar hidup Yoga bisa lebih sejahtera.


 --

Tulisan ini merupakan draf tahun 2019 yang kini saya coba sunting kembali di beberapa bagian. Bagi yang mengikuti saya di media sosial, mereka pasti tahu kalau kolom biografi saya tentu sudah berubah dari yang sebelumnya sejak saya mengidolakan Roberto BolaƱo.


Gambar saya comot dari: https://www.picpedia.org

10 Comments

  1. Aku disebut penulis juga belum pede, kalau penulis terlihat udah profesional, sedangkan aku masih acak kadut :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ada orang lain yang menyebut, saya akan terima-terima aja, sih. Tapi berhubung itu aslinya draf 2019, kadang sekarang pengin juga sok menganggap diri ini seorang penulis. Siapa tau jadi semacam doa. :D

      Delete
  2. Iya, sih kadang juga kesulitan menceritakan tentang diri sendiri. Ironis memang, penulis tapi tak bisa menuliskan tentang diri sendiri. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin saking banyaknya yang mau diceritakan, makanya jadi bingung.

      Delete
  3. Istilah "penulis" kesannya orang beken yg udah bikin buku, jadi menjauhi sebutan itu. Jarang juga nyebut diri sebagai blogger, apalagi sekarang skenanya udah ya itu tadi.

    Selama ini masih pake pekerja teks aja, biar kesannya lebih merakyat. Pernah jadi pembicara di posternya ditulis sebagai esais, mau minta revisi tapi kasian desainernya jadi ya udah lah.

    Kemarin baru dapet ide istilah sih: "sellsword". Biasanya di film atau game abad pertengahan itu profesi ahli pedang bayaran serabutan. Kalau dipelintir bagus juga bisa berarti menjual kata alias pekerja teks tadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pekerja teks tanpa ada embel-embel 'komersial', Rif? Sebagian teman saya ada yang pakai itu soalnya. Haha.

      Waduh, esais, memang berat itu mah. Sebetulnya ganti kata begitu doang sepele, sih. Tapi karena pengalaman desain ala kadarnya aja capek jika mesti revisi hal-hal remeh, suka malas juga. Apalagi bukan kesalahan fatal. Jadi coba memaklumi aja, ya.

      Itu istilah awalnya dari gim yang lu mainin dan profesinya penjual pedang gitu kan, ya? Kayaknya saya sempat lihat foto itu. Asyik juga, sih, dipelesetin jadi penjual kata. Haha.

      Delete
  4. Dulu tahun 2008an awal-awal ngeblog, masuk komunitas yang isinya blogger 'matre'. tapi akunya tetap kekeuh ngeblog secara personal, sesuai kodrat blog hahahha..

    Kalau aku tetap menggunakan kata blogger bang, karena menurutku, paling ngena. Mungkin karena lingkunganku belum mencemari kata-kata blogger wkwkwk. Tapi sekarang orang-orang lebih sering bilang dirinya influencer/vlogger si ya.. Jadi yg blogger agak ketutupan dibawah radar, jarang diomongin.

    Oiya, aku sering bilang diriku penulis kode bang. karna emang tepat wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Zaman 2008 saya masih jadi remaja warnet yang doyan main gim, boro-boro paham blog. XD Keren berarti tahun segitu udah gabung komunitas.

      Alhamdulillah kalau begitu, Bang. Itu sebetulnya saya menyebut pencerita karena memang doyan bikin cerita di mana aja, sekalipun mediumnya bukan blog lagi.

      Benar, Bang. Mereka lebih tertarik akan video dan visual, jadi kalah jauh ini dunia teks.

      Mantaplah!

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.