Gadis Berparas Oriental

Hendra punya ketertarikan khusus dengan perempuan asal Jepang. Tentu yang dia maksud adalah perempuan berkulit putih dan berparas jelita, yang pesonanya bikin dia refleks mengucap kawaii di dalam hati. Hendra mungkin baru terlihat menggandrungi gadis berwajah oriental dalam dua tahun terakhir lewat tingkahnya di media sosial yang gemar meretwit maupun menekan tombol hati pada foto-foto selebritas asal Jepang, tapi sebetulnya rasa suka terhadap cewek Negeri Sakura ini sudah muncul sejak kelas tiga SMK. Hendra tak perlu munafik bahwa fetis ini bermula dari JAV alias film Jepang khusus dewasa alias bokep. 

Terlepas dari ketololan masa remaja tersebut, Hendra waktu itu cuma merasa tidak adil jika perempuan semanis mereka asyik-asyikan sama pria yang tampang dan congornya kayak beruk. Belum lagi tingkah aneh dalam perannya itu yang bisa-bisanya memperlakukan perempuan aduhai seperti budak. Mending sama aku, ujar Hendra saat itu. Pasti cewek itu akan aku perlakukan sebaik mungkin.

Sebagaimana remaja normal pada umumnya, Hendra pun sempat berfantasi agar bisa berpacaran dengan salah satu dari mereka, hingga memutuskan menikah, dan akhirnya dapat menikmati tubuh mulusnya seraya mendengar bisikan lembut nan menggairahkan berupa: ikeh-ikeh kimochi. Khayalan zaman SMK barusan membuat Hendra ingin mengutuk diri sendiri. Bagaimana mungkin Hendra berani mencari pasangan orang sana, jika saat baru mengajak Ria—teman kuliahnya yang berwajah oriental—ke rumahnya, lantas orang tuanya langsung panik bukan main dan mempertanyakan apa agamanya, padahal hubungan mereka juga cuma sebatas teman.

Sekalipun Ria beragama Katolik, Hendra berusaha berkawan dengan siapa saja tanpa pandang bulu, dan Ria mampir ke rumahnya juga karena mereka habis janjian datang ke acara bazar buku, lalu ujungnya berniat meminjam salah satu koleksi buku pengembangan diri milik Hendra. Tak ada hubungan yang mengarah ke pacaran. Begitulah yang Hendra coba jelaskan kepada orang tuanya.

Di luar dari permasalahan itu, sewaktu zaman SMK Hendra sempat punya teman sekolah yang mukanya mirip orang Jepang. Dia bernama Chika, kelas 12 (berarti sepantaran) Jurusan Administrasi Perkantoran 1.




Sebagaimana yang kita ketahui tentang alur kehidupan, kenyataan yang Hendra hadapi juga tidak pernah berjalan mulus sesuai kemauannya. Ketika dia mulai gemar memperhatikan Chika, kemudian mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang gadis itu, pada jam pulang sekolah dia malah melihat Chika dijemput oleh laki-laki dari sekolah lain—yang dia duga sebagai pacarnya. Hendra pun terpaksa membuang keinginan memiliki pacar berwajah oriental pada masa sekolah. Pada semester berikutnya Hendra bahkan berpacaran dengan seorang gadis dari kelas lain, yakni Indri kelas Administrasi Perkantoran 2, yang tampangnya sangat pribumi.

Saat itu Hendra sebetulnya belum menyerah, sebab selagi dia mampir sekalian main ke kelas Indri, dia rupanya diam-diam masih suka memperhatikan kelas sebelah. Berharap Chika keluar kelas dan nongkrong seperti anak-anak lainnya di depan ruang kelas. Hendra bermaksud mengaguminya dari kejauhan. Sayangnya, harapan itu tak pernah terwujud. Chika teramat betah di kelas. Barangkali dia terlalu fokus belajar lantaran sebentar lagi Ujian Nasional. Hendra akhirnya telanjur menyayangi Indri dan berusaha bersikap setia sampai hari kelulusan dan hari-hari setelahnya. Dengan ini, secara tak langsung segala hal tentang Chika pun mulai memudar dari benaknya.

Ingatan tentang gadis berwajah oriental pada masa sekolah itu baru muncul lagi semalam, tepatnya saat Hendra sedang membereskan lemari dan iseng membuka Buku Tahunan Sekolah (BTS). Dia mendapati foto gadis jelita yang bernama lengkap: Chika Junistira. Hendra tiba-tiba merasakan gejolak itu lagi, padahal masa sekolah juga sudah jauh berlalu.

Empat setengah tahun telah terlewati dan banyak hal yang terjadi pada hidupnya. Hendra saat ini telah dinyatakan lulus kuliah dan tinggal menunggu jadwal wisuda. Dia juga sudah putus sama Indri dari dua tahun silam. Dia belum memiliki pacar lagi, apalagi kegiatannya sejak putus cuma menggandrungi gadis-gadis Jepang (baik dengan menonton konser idol group via Youtube, dorama, bahkan JAV) sambil berkhayal bisa mempunyai pacar baru berwajah oriental.

Berhubung saat ini Hendra sedang melajang, terbesitlah keinginan untuk mencari tahu sosok Chika pada masa kini. Apakah dia masih tetap manis sebagaimana dulu? Apakah dia belum menikah? Dan yang terpenting: Apakah kali ini orang tuanya bisa mendukung? Sekalipun berparas oriental, Chika jelas berbeda dengan Ria, karena agama Chika sama dengan Hendra. Itu berarti aman di mata orang tuanya sekiranya Hendra berhasil mendapatkan perempuan itu.

Sialnya, nomor Chika yang tertera di BTS adalah Esia. Itu jelas sudah tidak aktif, sehingga Hendra pun segera mencari cara lain dengan mengetik nama lengkapnya di Google. Tapi lagi-lagi Hendra bernasib apes, sebab perempuan-perempuan yang muncul di daftar pencarian itu tak ada yang cocok. Bisa dibilang upaya pencariannya telah gagal. Meski begitu Hendra tak langsung menyerah. Dia tetap mencari akun Twitter, Facebook, dan Instagram Chika, bahkan lewat salah satu akun kawan sekelas Chika yang dia kenal, lalu mencari namanya di daftar teman.

Seperti yang sudah-sudah, hasilnya tetaplah nihil. Saking frustrasinya, Hendra pun sampai menjerit kencang sekali dan mengeluh tentang betapa sulitnya dia mencari seseorang yang pernah berkesan di dalam memorinya lewat cuitan.

“Hal paling tolol dalam hidupku adalah membuang-buang waktu buat mencari cewek zaman SMK yang pernah kutaksir, tapi tak ada satu pun jejak digitalnya yang bisa kutemukan. Bangsatlah.”

Kala itulah ada notifikasi pesan masuk di ponselnya dari Andi, teman sebangkunya saat SMK: Siapa cewek yang kau maksud, Hen? Lalu Hendra segera membalas pesan itu dan menceritakannya. Singkat cerita, Andi rupanya tahu kabar tentang Chika dan memberi tahu akun Instagram-nya: @chikajnstr. Chika kini bekerja sebagai teller di Bank Sejahtera.

“Kau tahu dari mana, Ndi?”

“Apa kau lupa? Pacarku kan masih Farah, dia dulu sekelas sama Chika, dan sekarang mereka satu kantor.”

Hendra spontan tertawa sembari membatin, Kenapa aku enggak kepikiran sejak tadi, ya? Setelahnya Hendra mencoba bertanya kepada Andi lewat telepon dan berusaha memastikan bahwa Chika masih lajang.

“Setahuku, sih, masih,” ujarnya. Andi bercerita saat dia menjemput Farah di kantor, si Chika pulangnya selalu naik ojek. Andi belum pernah melihat dia pergi bareng cowok dalam setahun terakhir. Di Instagram juga enggak pernah memajang foto berdua sama cowok. Tapi mungkin saja dia enggak mau mengumbar pasangannya. “Coba kau cari tahu sendirilah, Hen,” kata Andi menutup pembicaraan mereka.

Hendra lantas mengucapkan terima kasih dan memulai aksinya.

--

PS: Tulisan ini dan yang sebelumnya—Senandika Chika—sebetulnya adalah draf-draf lawas yang sudah tersimpan hampir setahun di catatan ponsel saya. Waktu itu, ketika saya merasa frustrasi kenapa tak pernah bisa menulis kisah romansa dengan asyik dan lancar, saya tiba-tiba tergoda buat melahap kisah-kisah percintaan dalam bentuk film, novel, manga ataupun anime, bahkan manhwa 18+. Sialnya, referensi semacam itu masih belum membantu saya supaya bisa menggarap cerita dengan luwes. Di kepala saya, adegan-adegan yang muncul entah kenapa selalu terasa norak. Sementara keinginan saya, tentu saja bisa menuliskan kisah romansa yang elegan. Namun, jika begitu melulu, saya tahu saya tak akan pernah bisa menulis satu kalimat sampai kapan pun. Lantas, pada saat saya benar-benar butuh kepercayaan diri, muncul suara begini di kepala saya: Udahlah, cuek aja saat menulis. Cinta-cintaan itu emang sering norak, kok.

Baiklah, mungkin satu-satunya cara untuk berlatih ini dengan menuliskan segala ide di kepalamu dan terapkan sikap bodo amat. Adakalanya berhasil menyelesaikan satu per satu kepingan yang masih abstrak dan belum tuntas itu terasa lebih baik ketimbang cuma dokumen kosong. Jadi, biarkanlah saya menaruh potongan-potongan cerita yang ide awalnya berbentuk kisah cinta segi empat ini. Hendra menyukai Chika, lalu Chika menyukai seorang laki-laki yang masih dia rahasiakan sosoknya, terus lelaki itu menyukai perempuan misterius, dan perempuan itu ternyata justru menyukai Hendra. Apakah idenya sungguh norak?

Saya sendiri tak bisa menjawabnya. Saya hanya ingin menampilkan tulisan ini sebagai pengingat. Barangkali suatu waktu saya akan melanjutkan ceritanya, atau syukur-syukur ada fragmen yang mungkin bisa berguna.

Perempuan yang menjadi ilustrasi tulisan ini adalah Kanna Hashimoto. Saya mencomotnya dari akun Twitter: kan9923na.

0 Comments