Senandika Chika

Aku lumpuh oleh keindahan kata-kata. Bunyi yang sangat lembut menetes dari mulutku yang tak terkendali ini: “Tulisan dia kawaii pisan, ya Allah.” Dia, lelaki yang aku maksud—yang dalam tiga tahun terakhir ini membuatku menjadi sesosok pemuja rahasia—pernah menulis seperti ini:

Nonsens untuk Mbak Manis

Aku ingin menghapus warna langit dengan menguras air Iaut. Apakah perbuatan itu sia-sia? Tentu saja, sebab mencari seorang gadis tanpa nama yang dulu tak sempat aku ajak kenalan juga omong kosong belaka. Seandainya penyesalan bisa ditukar dengan uang, mungkin aku sekarang sudah menjadi miliarder. Namun, apalah guna banyak uang, jika aku tak mampu membeli masa lalu?

Aku ingin menghibur diri sendiri, melarikan diri dari kotaku yang padat ke suatu pantai sunyi, tapi sesampainya di sana aku tetap saja menemukan gedung. Pembangunan hotel dan apartemen di dekat laut merusak pemandanganku. Barangkali Jakarta telah menjadi bagian hidupku, dan aku tak akan pernah bisa melarikan diri dari konsep modern (jika makna modern itu berarti kota yang banyak malnya dan penuh dengan gedung bertingkat).

Kondisi tak bisa pergi dari rumah sejauh apa pun diriku mencoba kabur ini mirip dengan perasaanku terhadap gadis itu. Sebagaimana aku bersikeras melupakan sosoknya dengan membaca buku, menonton film, serta mengarang cerita, bahkan mencoba menyukai perempuan lain, tapi nyatanya bayangan tentangnya akan kembali hadir pada setiap malam menjelang tidur.

Aku rindu momen singkat kami. Saat mata kami saling bertabrakan secara tidak sengaja. Aku memuji betapa manisnya paras, lalu diam-diam bertanya sekaligus berdoa: Apakah suatu hari nanti kami bisa selaras?

Dalam setahun aku terus melakukan pencarian, hingga akhirnya menyerah karena tak ada sedikit pun petunjuk tentangnya. Aku tak tahu apakah diriku masih pantas disebut waras jika terus tergila-gila dengan imajinasi yang kuciptakan sendiri tentangnya.

Aku kira malam ini payungku semakin tak kuat menahan hujan rindu yang terlalu deras. Maka, kubiarkan tubuhku bermandikan kenangan. Sampai setiap hal tentangnya benar-benar membasahi kedua mata dan pipiku.

/2019

--





Aku sangat ingin disukai maupun dicintai selayaknya gadis di dalam tulisan itu. Aku kepengin suatu hari kelak dia berkata kepadaku, “Chika, aku sayang kamu.” Namun, aku tahu itu cuma khayalan bodohku, karena sampai detik ini aku tak pernah punya keberanian buat mendekatinya sebagai lawan jenis. Bukannya aku pengecut, melainkan aku tiba-tiba takut kalau kesendirianku ini justru berakhir. Aku sudah kadung nyaman dengan kesepian ini. Aku sedang malas patah hati.

Jatuh hati kepadanya mungkin takdir, tapi aku masih punya pilihan, bukan? Aku berusaha menjaga jarak, sebab aku tak yakin kalau diriku ini pantas bersanding dengannya. Aku ragu bisa membuatnya bahagia. Ah, apa jangan-jangan aku ini sebetulnya mirip dengannya, ya? Aku juga memiliki rasa inferior yang kelewat besar di dalam diriku?

Entahlah. Aku tak benar-benar tahu.

Yang aku tahu, seandainya boleh jujur, aku dulunya merupakan seorang pejuang cinta. Aku tak pernah peduli jika ada teman-teman yang meledekku sebagai perempuan agresif. Aku malah bingung mengapa sebagian dari mereka berkata bahwa perempuan itu kodratnya dipilih. Bukankah laki-laki maupun perempuan itu setara? Jadi, kenapa harus menunggu? Di kamus hidupku, tak ada salahnya menyatakan perasaan terlebih dahulu. 

Malangnya, semenjak aku mengenalnya, aku mendadak jadi seorang pengecut. Pejuang cinta di dalam diriku lenyap begitu saja. Ada banyak kecemasan di dalam diriku. Aku terus berpikir yang bukan-bukan semacam ini:

1. Aku takut sampai hari ini dia masih belum bisa melupakan Mbak Manis itu, sehingga mendekati lelaki ini berarti sia-sia.
2. Seandainya aku memulai langkah ini, bagaimana kalau hubungan kami nantinya tak pernah lebih dari sekadar teman?
3. Jika aku berterus terang kepadanya tentang segala kekaguman ini, tentang aku yang diam-diam selalu memperhatikan gerak-geriknya, mungkinkah dia berpikir aku punya kecenderungan psikopat?
4. Aku juga tak tahu apakah ini murni perasaan suka, kekaguman seorang penggemar kepada idolanya, ataukah obsesi semata?
5. Seumpama nantinya hubungan kami berjalan lancar, bahkan kami memilih bersama, adakah suatu jaminan kami ini akan selalu bareng-bareng, dan kami dapat berjanji tak akan berpisah sampai maut yang memisahkan?

Pekikan puitis (atau ini sebetulnya ketololan?) perlahan-lahan menguasai jiwaku sampai bisa mengoceh begini. Berbagai penderitaan yang tak terlihat masih akan terus membara di dalam diriku. Tapi rasanya aku tak sanggup lagi melawan siksaan ini sendirian. Bolehkah aku berbagi kisahku kepadanya? Ingin sekali kukatakan bahwa aku sudah lama tersesat ke dalam tatapan mautnya, aku terperangkap di antara puisi dan prosa melankolisnya, serta aku terjebak ke dalam dosa favorit setiap manusia: dusta.

Aku sudah terlalu lama membohongi diriku. Terus saja menyangkal ini dan itu setiap kali memikirkannya. Aku tak pernah kuat melihat dia bersama perempuan lain, tapi berupaya sok tegar dan berpura-pura tak peduli. Aku juga akhirnya mencoba menjalin hubungan dengan lelaki lain demi melupakannya. Namun, yang terjadi lagi-lagi selalu sama: kegagalan. Apakah ini isyarat bahwa aku memang ditakdirkan untuknya?

Sekarang, aku ingin memperjelasnya bahwa aku benar-benar menyukainya. Aku juga ingin memberi tahu tentang kata-kata miliknya yang kerap dia anggap busuk, bahkan yang selalu dibencinya itu, sesungguhnya sangat indah, harum, dan bisa membuat seseorang begitu terpukau. Setidaknya, itulah yang terjadi kepadaku.

Aku sebenarnya tak tahu sejak tadi sedang menulis apa di diari ini. Aku bagaikan remaja yang baru mengenal kasmaran, padahal dua bulan lagi usiaku menyentuh 24. Sosok yang kuceritakan juga terlihat amat rahasia, seakan-akan aku tak mau ada orang lain yang tanpa sengaja membaca teks ini, kemudian mengetahui segala kejujuranku.

Hm, jadi beginikah kisah epik penuh tipu daya yang diberikan oleh kehidupan dan sering disebut-sebut kebanyakan manusia sebagai cinta? Virus merah jambu ini bisa menyerang siapa pun tanpa pandang bulu, dan aku rasanya baru saja kalah telak.

--

Sumber gambar: shoujo-paradise.tumblr.com

4 Comments

  1. Waahh menyukai itu wajar. Tapi kalo sampai membawa ke pengaruh kehidupan pribadi, berpengaruh terhadap akal dan jiwa sendiri, haduh saya rasa itu sudah menuju luar batas dari rasa suka. Lebih kayak terobsesi. Apalagi dalam cerita ini tokoh utama si perempuan. Haduh sebagai sesama perempuan ingin bilang, gak perlu begitu mbak, kalau suka sewajarnya saja, kalau cinta ya sama laki-laki yang mau berkorban dan menyeriusi kita. Gak perlu ngoyo hati seperti itu. Lelah sendiri jadinya.

    Memang standart perempuan dan laki itu sama. Sama-sama bisa menyukai lebih dulu, sama-sama bisa berjuang. Tetapi kenapa perempuan tidak perlu berjuang terus-menerus.. Karena kemungkinan bisa berhasil dan gagal itu 50%-50%. Sementara laki-laki bila berjuang terus, kemungkinan berhasil 95% dan 5%nya tidak ada lol.

    Lho malah jadi komentarin atay kasih saran ke peran utama saya tuh, bukan ke si penulisnya wkwk. Tolong sampaikan ya.. Anggaplah saya lagi berkomentar sambil blogwalking yoga hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hei, ini labelnya kan fiksi, Na. Jangan serius-serius amat gitulah. XD

      Tapi biar bagaimanapun, makasih buat nasihatnya. Siapa tahu si karakter bisa berpikir ulang tentang perasaannya itu. Haha.

      Saya cuma ingin membantah, perjuangan lelaki yang kamu bilang 95% itu rasanya enggak tepat. Tak ada persentase pasti dalam memperjuangkan atau berusaha mendapatkan cinta. Manusia itu rumit, kan. Karena ada juga yang tak perlu berusaha bisa mendapatkannya begitu aja. :p

      Delete
  2. gue kira ini beneran
    karena, kayaknya dulu sempet baca tulisan lu yang naksir sama cewe yang belum dikenal. tapi, setelah baca komenan lu, ternyata ini fiksi ya

    kayaknya, masih banyak banget cowo yangk kayak gini
    naksir sama seseorang yang dibuatnya sendiri di imajinasinya sendiri
    tapi, kayaknya buang-buang waktu dengan yg ga pasti ga sih? kalo naksir, ya ungkapin, klo ditolak yaudah cari lagi

    hahah
    tapi kayaknya ga semudah itu prakteknya ya

    cewe yang agresif, dikomentarin juga sama cewe-cewe yang lain
    yah, makanya emansipasi wanita susah banget terwujudnya. gitu ga sih?
    emansipasi tapi milih-milih temen juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenyataan bisa difiksikan, Zi. Begitu juga sebaliknya. Bisa juga dicampur-campur biar pada bingung. Haha.

      Satu-satunya yang pasti bukannya ketidakpastian itu sendiri? XD Ya, bisa dibilang yang semacam itu mendekati mustahil, dan mendingan cari yang lebih meyakinkan lagi untuk bersama. Tapi, perasaan kan cukup sulit dijelaskan oleh logika, terus kadang-kadang sebagian orang lebih suka memendamnya ketimbang mempraktikan dengan ungkapin rasa itu, lalu jika gagal cari lagi. Ada juga kan yang setelah ditolak masih penasaran. Haha.

      Ya, mau gimana lagi? Beberapa perempuan masih tetap mendukung patriarki.

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.