Sajak Cinta yang Dungu

Saat Afeksi Menyengat


Duduklah di sebelahku, lalu pandangilah sekeliling kita.
Kau bebas melihat ke mana pun yang kau suka, kecuali mataku.
Biarlah kebisuan ini menjadi isyarat.

Sudikah kau mendongeng
tentang hal-hal yang lebih kuat dari maut?
Tentang tubuh kita yang saling berdekapan,
yang selalu kita anggap sebagai masa depan,
padahal tak lebih dari sekadar harapan.

Kau bilang, saat afeksi menyengat,
semut-semut akan mendekat,
sebab di kepala dan hati kita
kadar glukosanya terus meningkat.
 
Tapi, mengapa hanya aku yang kesemutan sendirian?
Apakah karena aku duduk terlalu lama, cuma bisa berkhayal,
dan menanti sosok perempuan manis yang tak pernah datang?
/2020




Gagal Panen

Puisi-puisi yang kaukirimkan telah kuhapus,
tapi huruf-huruf itu berusaha menyusun dirinya kembali.
Ingin terus bergema di kepalaku.

Bagaimana garis tawa bisa menghentikan laju waktu?
Mengapa senyumanmu bergentayangan saban tengah malam,
seakan-akan menjadi sesosok hantu?
Barangkali kau memang hantu,
karena aku bergeming sewaktu menatap parasmu
secara lebih dekat dan jelas.

Jika kau tak sudi disebut hantu,
apakah kau malaikat, atau peri, atau bidadari,
atau cuma gadis manis yang menebarkan pesona
demi menutupi kesedihan hatinya?

Berhentilah bersedih, Sayangku.
Lupakanlah nestapa dan kepedihan. 
Bukan karena aku akan membahagiakanmu,
melainkan karena kita sadar aku bukanlah milikmu,
dan kau bukan milikku pula.
Kita bahkan tak saling mengenal.

Aku memilih pergi dengan tenang,
dan kau akan pergi meninggalkan kenang.

Bukankah sejak awal kita juga saling mengerti?
Kau J. K. Rowling dan aku Osamu Dazai.
Jika kau berpaling, aku justru berteriak banzai.

Kehadiranmu tidak permanen,
tapi di kepalaku kau tetap menjadi segumpal kenangan.
Kau jelmaan dewi panen,
sedangkan aku hanyalah petani
yang menanam bibit-bibit kehilangan.

/2020


Cinta Tai Anjing

Aku suka caramu mencintaiku: menjadikanku pelarian.
Kau menjadi sepatu yang terus melangkah,
dan aku rumput yang tak boleh diinjak.
Tak akan ada yang tahu tentang kejahatanmu. 

Cuma penyanyi aneh yang iseng bertanya
pada rumput yang bergoyang ataupun
pada langit yang tak mendengar,
apalagi pada bintang-bintang tentang arti kita.
Tak akan pernah ada kita dalam mimpi yang sempurna.

Apa kau yakin bahwa afeksi yang telah kauhadiahkan kepadaku itu nyata?
Bukan kepalsuan dan kelakar? Berhentilah bermain-main, Sayangku,
sebab cinta macam apa yang tega mengotori rumput hijau menjadi cokelat?
Kau adalah sepatu yang menginjak tai anjing.
 
Jadi, untukmu yang gemar mengobral kata maupun senyuman manis,
kini akan kubalas perbuatanmu dengan kalimat Ucok Homicide:
Persetan dengan cintamu, lebok tah anjing!

/2020

--

Gambar saya comot dari Pixabay.

4 Comments

  1. Ketahuan nggak sih jadulku kalau aku bilang ada kayak lirik lagu Peterpan di sana? Haha. Just like usual, nggak tahu mau komen apa tentang puisi, cuman bisa jadi penikmat aja 😇

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang yang bahas penyanyi aneh itu menyinggung lagu Peterpan, kok. Tapi di sajak itu menolak mimpi yang sempurna.

      Delete
  2. Teruntuk kawan seprofesi petani bibit kehilangan, kita bisa rapatkan barisan, membuat sebuah organisasi misalnya. Atau lebih besar sedikit, partai, partai patah hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Ya, boleh aja dibuat. Gue jadi tim hore aja tapi ya. Kalau partai semacam itu betulan ada, nanti kaum patah hati sedunia langsung banyak yang bergabung.

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.